CEO Is Obsessed Marry Me

CEO Is Obsessed Marry Me
Part 19



[Don't Copy My Story!]


Real my imagination...


~ Happy Reading ~


*****


Kekesalan dan emosi yang Cyla rasakan, dia tumpahkan dengan pergi ke Perpustakaan Umum untuk membaca. Setelah sempat berdebat dengan Sera yang keras kepala ingin ikut. Cyla akhirnya bisa lepas dari kekeras kepala Sera dengan kabur saat Sera berniat akan mengganti pakaiannya. Cyla tahu, buku adalah hal paling menyiksa untuk seorang Sera. Dan Cyla sangat tidak suka jika membawa Sera ke Perpustakaan bersamanya. Baru masuk – Melangkah kedalam perpustakaan selama sepuluh menit, Sera dengan tidak tahu dirinya akan langsung meminta pergi keluar dari perpustakaan. Sedangkan Nadia, dia sedang pergi berkencan dengan kekasih yang menjadikan dia simpanannya. Dan tentang Rega, Cyla sangat kesal dengan makhluk tampan satu ini. Bisa – bisanya pria hilang akal itu tidak menghubungi Cyla sama sekali sedari Cyla meninggalkan dirinya sendiri di apartement sampai sore ini. Jika Rega mengharapkan kata ‘maaf’ darinya atas perkataannya yang cukup kasar. Bermimpi saja, sampai ujung dunia pun Cyla tidak akan mau mengatakannya.


Cyla berjalan perlahan melewati kumpulan rak buku yabg tersusun rapi di perpustakaan. Matanya langsung berbinar saat menangkap buku dengan judul yang sangat dia sukai. Buku asing yang sudah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia, dengan halaman yang sangat tebal. Senyum merekah tersungging di bibirnya. Menarik buku tersebut dari rak buku, berbalik berniat melangkah kearah meja baca. Namun, langkahnya terhenti. Tersentak terkejut, mendapati pria tampan bak dewa dengan senyum tersungging disudut bibirnya. Cyla menaikan sebelah alisnya, memberi tanda seolah bertanya ‘apa ada yang salah?’. Seolah paham maksud dari raut wajah Cyla, pria tersebut langsung mengulurkan tangan kanannya – Memperkenalkan diri.


“Cain Halvor. My name.” Ucap pria tersebut, yang langsung disambut ramah uluran tangannya.


“Secyla Jellyn.” Balas Cyla tersenyum ramah. Langsung menarik tangannya, terkejut saat merasakan pria bernama Cain meremas lembut jemarinya.


“Sorry. Kau suka novel itu?” tanya Cain lembut menampilkan senyum manis disudut bibirnya. Matanya menatap dalam penuh makna tepat dimanik mata Cyla.


“Maksud mu Twilight? My favorite Novel.” Jawab Cyla menunjukan judul buku novel yang sedang di pegangnya.


_Twilight Saga : New Moon_


“Hm, Vampire. Aku berniat meminjamnya.” Ucap Cain menganggukan kepala.


“Sungguh? Kalau begitu kau bisa memilikinya. Ini.” Ucap Cyla mengulurkan Novel tersebut.


“Tidak masalah, yang pertama bisa mendapatkannya.” Ucap Cain, menolak lembut – Mendorong kembali uluran buku tersebut.


“Sungguh? Aku juga tidak masalah.” Balas Cyla merasa tidak enak dengan raut wajah bersalah.


“Sungguh. Kau bisa memilikinya.” Sahut Cain cepat, benar – benar tidak masalah jika dirinya tidak mendapatkan buku tersebut.


“Kalau begitu, terima kasih.” Ucap Cyla tersenyum tulus, mencoba menunjukan senyuman semanis mungkin. Membuat Cain tertegun sejenak.


“Hm. Tentu.” Gumam Cain ikut membalas tersenyum tulus. Semakin tidak dapat mengalihkan pandangannya dari wajah mempesona milik Cyla.


Hingga tidak terasa suasana tiba – tiba terasa hening. Mereka berdua berdiri dengan canggung. Hingga kalimat yang dilontarkan Cain tiba – tiba mampu membuat Cyla terkejut bingung.


“Aku hanya tidak bisa hidup didunia dimana kau tidak ada di dalamnya.” Ucap Cain lembut memecahkan keheningan diantara dirinya dan Cyla – Menatap Cyla dalam penuh makna.


“Maaf?” sahut Cyla terkejut bingung, sebelah alisnya terangkat naik tidak mengerti. Namun, debaran jantungnya tiba – tiba meningkat.


“Salah satu dari sekian banyak kalimat Edward Cullen dalam serial buku Twilight.” Ucap Cain menjelaskan. Siapa yang menyangka bibirnya berucap tanpa sadar.


“Oh, yeah. Salah satu kalimat favorite ku.” Balas Cyla paham. Mengalihkan pandangannya, mencoba untuk tidak bersikap salah tingkah. Senyum kaku terpatri di wajahnya.


“Aku tidak pernah berfikir mengenai caraku untuk mati. Namun, mati tepat ditempat orang yang ku cintai. Itu lebih baik.” Sambung Cyla tersenyum, bersikap biasa untuk menghilangkan rasa canggungnya. Kembali melanjutkan langkahnya kearah meja baca ditengah – tengah perpustakaan, diikuti Cain yang berjalan disampinya.


“Kau menghafalnya?” tanya Cain menaikan sebelah alisnya penasaran.


“Tidak. Aku hanya mengingatnya.” Jawab Cyla santai, menarik kursi dan mendudukan dirinya dikursi tersebut.


“Kalau kau sudah mengingatnya kenapa kau membacanya lagi?” tanya Cain kembali – Penasaran. Ikut menarik kursi dan duduk disamping kiri Cyla.


“Hanya sedang ingin membacanya lagi saja. Aku bahkan lebih terkejut ada pria yang hafal dialognya. Aku tidak tahu kau sangat suka membaca novel romantis.” Jawab Cyla memiringkan kepalanya ke kiri, menyangganya dengan tangan kanan diatas meja.


“aku tidak pernah membacanya.” Jelas Cain ikut memiringkan dan menyangga kepalanya menghadal Cyla.


Sontak perkataan Cain membuat Cyla mengerutkan dahi bingung, menatap Cain tidak mengerti.


“jadi bukan karena kau menyukainya?” tanya Cyla kembali, tertarik masih diselimuti rasa penasaran.


“Tidak juga. Aku tidak bisa. Mengatakan aku tidak menyukainya, tapi bukan berarti aku juga menyukainya. Aku hanya salah satu penikmat film biasa.” Jawab Cain tersenyum, masih betah memandangi wajah Cyla.


“Bagaimana dengan Romeo and Juliet?” sambung Cain kembali – Bertanya, tidak ingin berhenti mendengar suara Cyla.


“Ha?” tanya Cyla balik, tidak mengerti.


“Apa kau juga menyukai romance versi mereka?” tanya Cain menjelaskan.


“Tidak. Aku tidak menyukai endingnya. Sad ending? Terlalu mainstrem untuk ku.” Jawab Cyla menggedikan bahu acuh, tidak suka mengingat akhir kisah Romeo dan Juliet.


“Kau tidak menyukai endingnya atau karena mereka bukan vampire?” tanya Cain dengan nada menggoda, masih tidak ingin berhenti membuat Cyla mengobrol. Mendengar perkataan Cain, Cyla hanya terkekeh pelan.


“Aku menyukai Edward Cullen bukan karena dia vampire, seperti Bella Swan. Tapi, aku menyukainya karena mustahil hal yang Edward rasakan bisa dilakukan di kehidupan nyata.” Jelas Cyla mematap dalam manik mata Cain. Tanpa sadar dirinya menarik senyum manis di bibirnya.


“Boleh aku tahu?” tanya Cain penasaran, terpaku sejenak saat kembali melihat Cyla menujukan senyumannya.


“Satu pria dan satu wanita. Hanya ada Edward dan Bella. Tanpa ada orang ketiga atau keempat. Tidak ada selingkuhan, tidak ada masa lalu dengan wanita atau pria lain. Itu mustahil. Hal yang sangat mustahil di kehidupan nyata.” Jelas Cyla semakin menatap dalam mata Cain. Tersenyum kaku, berpikir mungkin Cain akan mengira perkataannya omong kosong belaka.


“Kau benar. Aku melewatkan hal itu. Aku tidak tahu hal tersebut sangat penting untuk mu.” Ucap Cain setuju saat mengingat kembali kilasan film twilight yang dia tonton bersama adiknya.


“Sebenarnya tidak terlalu penting juga.” Sahut Cyla menggedikan bahu acuh, menegakkan duduknya.


“Lalu bagaiamana dengan mu?” tanya Cain penasaran, menatap penuh harap kearah Cyla.


“Apa?” tanya Cyla balik, bingung.


“Berapa banyak pria yang pernah ada dalam hidupmu?” tanya Cain memperjelas, sedikit mendekatkan wajahnya.


“Kau akan terkejut jika mendengarnya.” Jawab Cyla ambigu, tersenyum kaku. Hanya melirik sekilas kearah Cain. Merasa salah tingkah mendapati Cain terua menatapnya.


“Aku mengharapkan kejutan itu.” Sahut Cain tidak sabar mendengarkan jawaban Cyla.


“Satu.” Jawab Cyla singkat, mengalihkan pandangannya.


“Hanya satu?” tanya Cain semakin penasaran, berharap pendengarannya tidak salah.


“Hm. Hanya satu. Ku mohon jangan tanya lagi.” Jawab Cyla yakin, memandang Cain dengan tatapan memohon.


“Baiklah. Aku hanya ingin bilang, berarti kita sama.” Balas Cain mengangguk paham. Menegakkan duduknya. Tersenyum senang, jawaban yang dikatan Cyla membuatnya puas.


Ucapan Cain sontak membuat Cyla terdiam membeku, mengalihkan pandangannya kearah Cain. Menatapa Cain tidak percaya. Dahinya mengernyit heran melihat Cain menatap ke depan menerawang dengan senyum tulus di wajahnya.


*****


To be continue


See you again ~~~~


Don't forget your vote,


and coment if that typo guys.


WARNING!


FOLLOW MY ACOUNT.