
[Don't Copy My Story!]
Real my imagination...
~ Happy Reading ~
*****
2 bulan kemudian,
Hubungan Rega dan Cyla yang dilandasi kertas mulai memiliki kemajuan atas paksaan dan rencana Rega diam-diam. Rega secara terang-terangan menunjukan ke publik dan media tentang hubungannya. Hal tersebut membuat Cyla menjadi bulan-bulanan awak media dan jangan lupakan para haters yang langsung menyerang IG nya. Yang biasanya Rega mengantar jemput Cyla didepan gerbang kampus dengan tetap diam didalam mobil. Sekarang, Rega mulai menunjukan dirinya dengan keluar dari dalam mobil sekedar membukakan pintu mobil untuk Cyla saat mengantar, atau menunggu Cyla dengan duduk diatas kap mobilnya saat menjemput Cyla. Sontak saja hal tersebut membuat heboh dan geger penghuni kampus. Membuat Cyla seketika memiliki banyak musuh didalam kampus akibat ulah Rega. Terkadang atau sering lebih tepatnya, mengajak Cyla ke perusahaannya untuk menemaninya. Bahkan saat rapat dewan direksi sekali setiap bulan, Rega memaksa Cyla untuk ikut masuk ke meeting room. Membuat Cyla hilang muka didepan anggota dewan direksi diperusahaan R Croup. Dalam ruangan, Cyla hanya bisa diam memainkan ponsel disamping Rega.
Benar – benar membuat Cyla lelah dan jengah dengan semua sikap Rega. Setiap kali Cyla ingin protes, maka Rega akan mengancam dengan membawa – bawa surat perjanjian mereka.
Seperti saat ini, Cyla hampir mati kebosanan. Tapi, Cyla tidak bisa apa-apa. Duduk dipangkuan Rega dengan posisi membelakangi di kursi kebesaran CEO. Cyla sibuk bermain game sniper yang terdapat didalam ponsel Rega. Sedangkan sang empunya sibuk dengan laptop dan segala urusan dokumen, dengan meletakan dagunya dibahu Cyla. Kelakuan yang sebenarnya sudah mulai tidak asing lagi untuk Cyla. Namun, tetap saja Cyla merasa sebal dengan tingkah Rega yang terlewat mengekang pergerakannya. Bahkan akhir – akhir ini pertemuannya dengan sahabatanya di luar area kampus mulai bisa terhitung jari. Rega jarang memberinya izin dengan alasan tidak mau menyakiti Cyla dalam bercinta karena termakan rasa cemburu. Alasan yang sangat menyebalkan ditelinga Cyla.
“Aku lapar.” Rengek Cyla tanpa mengalihkan pandangan dari gamenya.
Tanpa menunggu lama, Rega langsung menekan wireless intercom yang menghubungkan ruangannya dengan meja sekretaris didepan ruangannya.
“Keruangan ku sekarang.” Ucap Rega ke wireless intercom tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop.
“Baik, sir.” Sahut Pram langsung mematuhi perintah.
Tidak lama kemudian Pram masuk kedalam CEO Room. Tubuh tegap, rahang kokoh, membuat Pram tidak kalah tampan dari Rega.
“Apa ada masalah, sir?” tanya Pram penasaran. Mencoba mengabaikan posisi duduk atasannya dengan wanitanya. Pandangan yang sudah tidak asing lagi selama dua bulan terakhir ini.
“Aku ingin kau pesankan makan siang untuk kami. Sebagai gantinya, aku akan menambahkan jam makan siang mu menjadi 1 jam kedepan. Kau mengerti?” jawab Rega tegas, suara khas seorang pemimpin.
“Saya mengerti, sir. Kalau begitu anda ingin saya pesankan menu apa untuk makan siang?” tanya Pram kembali, dengan sikap tegap menunggu jawaban dari atasannya.
“Kau ingin pesan apa, sayang?” tanya Rega mengubah nada suaranya menjadi lembut, menundukkan kepala agar dapat melihat wajah wanitanya.
“Pesan disatu tempat, sayang. Jangan menyusahkan Pram.” Ucap Rega kembali memperingatkan wanitanya.
“Menyebalkan! Padahal yang merepotkan Pram dirinya bukan aku.” Balas Cyla mendengus kesal. Sirna sudah bayangan makanan yang ingin dia makan.
“Aku dengar, sayang.” Sahut Rega menaikan sebelah alisnya.
“Baguslah, aku sengaja.” Sahut Cyla acuh.
“Aku ingin pizza capricciosa, pizza quattro stagioni. Sama pasta fusilli dan lasagna. Sedangkan dessert, aku ingin budino dan tartufo. Untuk minum, aku mau granita. Kalau Rega, kau ingin espresso atau macchiato?” jelas Cyla mengatakan menu makanan yang dia inginkan dengan akhir kalimat pertanyaan untuk Rega.
“Aku ingin macchiato. Kau bisa pesan di Italia Restaurant yang biasa kami kunjungi.” Sambung Rega jelas kearah Pram.
“Baik, sir.” Jawab Pram, langsung melangkah keluar dari CEO Room.
“Kau yakin bisa menghabiskan semuanya?” tanya Rega menatal cemas kearah Cyla. Sudah dua hari belakangan Cyla mengeluh perutnya merasa mual. Membelai pipi Cyla lembut.
“Hmm. Tiba – tiba aku ingin makan itu semua. Lagi pula kalau tidak habis, kan ada dirimu.” Jawab Cyla santai, kembali fokus dengan gamenya.
“Sayang, kau yakin kalau kau tidak hamil?” tanya Rega sedikit ragu. Sudah dua hari belakangan Cyla mengeluh perutnya merasa mual. Membelai pipi Cyla lembut.
Sontak saja pertanyaan Rega membuat Cyla menatap tajam kearahnya.
“Tentu saja tidak. Aku tidak pernah telat meminum pil kontrasepsi. Lagi pula ingat, tidak boleh ada bayi diantara kita.” Jawab Cyla kesal, berdiri dari pangkuan Rega dan melangkah duduk di sofa rungan Rega.
‘Semoga saja memang begitu.’ Gumam Cyla dalam hati, berdo’a penuh harap.
~
Cyla yang tengah terlelap dalam pelukan Rega mengerjapkan kedua matanya berkali – kali saat mendengar ponselnya bergetar. Mengambil dan melihat layar ponsel. Tertera nama ‘Ibu’ di layar ponsel. Seketika Cyla membulatkan kedua matanya. Menyingkirkan tangan Rega perlahan dari pinggangnya. Meraih bathrobes dengan warna merah padam yang tergeletak dilantai. Melangkah keluar diam – diam memastikan Rega tidak terbangun. Menutup pintu kamar perlahan. Berjalan kearah dapur, menghubungi balik Ibunya yang langsung terjawab.
“Halo, bu.” Sapa Cyla pelan.
“Hm. Kenapa baru mengangkat panggilan Ibu?” tanya Ibunya Cyla. Lyly Melati. Tanpa basa basi.
“Ibu kan tahu. Itu karena Cyla sibuk, bu.” Jawab Cyla sopan, dengan nada pelan atau terdengar bisik – bisik. Namun, giginya sibuk menggigiti ujung kuku jarinya. Mencoba mengatur perasaan gelisahnya.
“Ibu berfikir setelah berita itu muncul. Putri Ibu sendiri akan langsung menghubungi Ibu. Menjelaskan apa yang semuanya sedang terjadi. Tapi, Ibu benar – benar tidak bisa menahan diri. Ini sudah lebih satu bulan. Namun, putri Ibu tidak ada tanda – tanda akan menghubungi Ibu. Ibu harus bagamaina, Cyla?” jelas Lyly dengan nada mengomel, ciri khas seorang ibu – ibu.
“Bukan begitu, Bu. Cyla hanya...” ucap Cyla terpotong.
“Hanya apa? Mencoba melindungi Rega?” sahut Lyly kesal.
“Siapa yang mau melindungi Rega, bu? Cyla tidak ada niat seperti itu.” Balas Cyla tidak mengerti maksud perkataan Ibunya.
“Lalu kenapa Ibu harus mendengar penjelasannya dari Rega sendiri?” tanya Lyly bingung.
“Rega menjelaskan sendiri? Ibu bertemu dengan Rega? Kapan?” tanya Cyla berurutan.
“Satu minggu yang lalu. Nak Rega menemui Ibu di rumah.” Jawab Lyly, mengerutkan kening bingung, kenapa putrinya bisa tidak tahu.
‘Satu minggu yang lalu? Itu berarti saat Rega pergi dua hari karena ada proyek di luar kota. Tapi, bukannya Bali melainkan Bandung. Jadi, Rega pergi ke Bandung untuk menemui Ibu tanpa sepengetahuan ku? Lalu kenapa saat pulang Rega tidak bicara apapun kepada ku?’ gumam Cyla dalam hati.
“Cyla. Kau masih disitu, nak?” tanya Lyly, saat Cyla diam saja. Sontak suara Lyly membuyarkan pikiran Cyla.
“Iya, bu. Cyla mendengarkan ibu. Rega tidak mengatakan apapun kepada ku. Memangnya, Rega mengatakan apa saja kepada Ibu?” jawab Cyla berakhir pertanyaan.
“Oh, itu. Rega bilang kalian kembali bersama. Rega juga meminta maaf atas kejadian yang dulu. Rega bilang Ayah pasti tidak akan meninggal jika bukan karena ulahnya.” Jelas Lyly terjeda.
“Itu memang benar salahnya, bu.” Sahut Cyla sinis.
“Itu tidak benar nak. Sesama makhluk hidup, kita harus saling memaafkan.” Ucap Lyly lembut, mencoba membuat Cyla mengerti.
“Jadi, Ibu memaafkannya?” tanya Cyla.
“Tentu saja. Ibu sudah ikhlas Ayah pergi, nak. Itu artinya, Ibu juga harus ikhlas dalam memaafkan sumbernya, nak. Kau juga harus seperti itu.” Jawab Lyly masih dengan nada lembut khas seorang Ibu.
“Tapi, Bu. Cyla tidak bisa melupakannya.” Ucap Cyla lirih.
“Tidak harus buru – buru melupakannya, nak. Pelan – pelan saja, yang terpenting hati mu harus ikhlas dalam memaafkannya. Ingat apa yang pernah Ayah ajarkan, segala sesuatu harus dilakukan dengan ikhlas. Pasti akan membuahkan hasil yang baik. Jangan mencoba melupakan ajaran Ayah mu, hanya karena perasaan marah mu, nak. Itu tidak baik.” Ucap Lyly kembali mencoba memberi pengertian kepada putrinya.
“Baiklah, bu. Cyla akan coba lakukan.” Ucap Cyla lirih dengan perasaan ragu.
“Apa? Kenapa?” ucap Cyla terkejut.
“Nak, ingat perusahaan Ayah bukan bangkrut. Tapi, kita menjualnya untuk pengobatan adik mu, Malik. Ibu selalu merasa bersalah padamu. Karen ibu membuatmu harus bekerja disaat kau sibuk dengan kuliah mu. Ibu tidak bisa bahkan tidak mampu membeli kembali perusahaan Ayah. Ibu terkadang merasa gagal menjadi seorang Ibu.” Jelas Lyly.
“Ibu, bagi Cyla. Ibu adalah Ibu terbaik didunia ini. Cyla mencintai Ibu. Dan akan selalu menjadi wanita nomor satu dihati Cyla.” Sahut Cyla cepat.
“Terima kasih, nak. Ibu juga mencintai Cyla.” Balas Lyly tersenyum, hatinya menghangat.
“Jadi bagaimana keadaan Malik sekarang, Bu?” tanya Cyla.
“Masalah Malik. Nak Rega berniat mengirim Malik ke Amerika. Nak Rega bilang ke Ibu ingin agar Malik diobati dan dirawat di John Hopkins Hospital. Ibu awalnya menolak, nak. Tapi ternyata nak Rega sudah mendaftarkan Malik. Jadi, Ibu tidak tega jika harus menolaknya. Lagi pula Malik juga senang, dan semangat hidupnya kembali. Semuanya juga demi kebaikan Malik. Tapi, meski begitu Ibu juga perlu persetujuan darimu.” Jawab Lyly panjang lebar.
Seketika suasana hening sesaat, hanya deru nafas yang terdengar dari ponsel Lyly dan Cyla. Hingga Lyly mendengar Cyla menghela nafas.
“Kapan Ibu dan Malik pergi?” tanya Cyla memecahkan keheningan, meski ragu apa harus setuju atau tidak.
“Besok, nak. Jam 10 pagi. Nak Rega juga membelikan apartemen disana untuk tempat tinggal Ibu dan Malik selama pengobatan Malik, nak.” Jawab Lyly kembali menceritakan.
“Apa? Besok? Dan apartemen? Ibu itu akan membuat Cyla terbebani jika kita menerima sebanyak itu. Masalah apartemen biar Cyla yang belikan. Bagamaina Cyla bisa menggantinya?” keluh Cyla terkejut mendengar kelakuan Rega dibelakangnya.
“Kenapa harus diganti. Nak Rega bilang kalian berencana ingin menikah.” Sahut Lyly bingung dengan kata – kata Cyla.
“menikah? Kami? Itu tidak benar Bu.” Ucap Cyla kembali terkejut.
“iya, menikah. Rega yang bilang pada Ibu kalau kalian sedang bertengkar, dan kau berniat membatalkan rencana pernikahan. Nak, itu tidak baik. Kalau bertengkar, ya coba di bicarakan baik – baik. Pesan Ibu Cuma itu saja. Ya sudah ya, ini juga sudah malam. Sudah jam 12 malam. Lebih baik kau tidur.” Sahut Lyly kembali.
“Baiklah bu. Cyla rasa otak Cyla memang butuh istirahat. Besok, pagi – pagi Cyla akan ke Bandung.” Balas Cyla lirih, mulai lelah dengan rasa terkejutnya karena mendengar cerita Ibunya.
“Tidak perlu, nak. Rega besok akan mengirim Pram untuk mengantar kami. Lagi pula besok Ibu dan Malik pergi lewat helikopter milik Rega.” Sela Lyly cepat, tidak ingin Cyla menghabiskan waktu ke Bandung.
“Tapi, bu...” ucap Cyla terpotong.
“Ibu dan Malik baik – baik saja. Sebaiknya kau fokus dengan skripsi mu. Juga, bertengkar terlalu lama dengan nak Rega. Dia sudah sangat baik.” Sela Lyly kembali, tanpa negosiasi.
“Baiklah, Ibu dan Malik baik – baik saja disana. Kalau ada apa – apa hubungi Cyla.” Balas Cyla menyerah.
“Iya. Kau juga, baik – baik di situ. Ibu tutup. Selamat malam.” Ucap Lyly menutup panggilan.
“Malam.” Sambung Cyla lirih, menatal nanar kearah ponselnya.
‘Sebenarnya apa yang Rega lakukan? Dan apa tadi, bertengkar? Jelas – jelas setelah makan malam tadi, Rega langsung menyerangnya tanpa ampun. Aku saja masih merasa sedikit perih disekitar kewanitaan ku. Si brengsek Rega, benar – benar sudah hilang akal.” Gumam Cyla dalam hati, merutuki semua kelakuan Rega dibelakangnya.
“Kenapa bisik – bisik jika yang menghubungi mu adalah Ibu?” Ucal Rega berdiri di ambang pintu dapur apartemen dengan hanya mengenakan boxer di pinggangnya.
Cyla sontak terkejut, hampir menjatuhkan ponsel di genggamannya. Mendapati Rega tengah berdiri dengan kedua lengannya di lipat di depan dada bidangnya. Mengernyitkan dahi menunggu jawaban dari Cyla.
“Sejak kapan kau berdiri disana?” tanya Cyla gelisah.
“Sejak awal hingga akhir.” Jawab Rega datar.
“Jadi, kau mendengar semuanya?” tanya Cyla kembali, menggigit ujung kuku nya.
“Hm.” Jawab Rega dengan dehaman singkat, memicingkan mata kearah bibir bengkak Cyla.
“Kenapa diam saja?” tanya Cyla lagi.
“Penasaran, siapa tahu kai bicara dengan pria lain di belakang ku.” Jawab Rega enteng. Menggedikan bahu acuh.
“Lalu, bagaimana?” tanya Cyla mulai jengah saat tahu Rega menguping karena curiga dirinya akan berselingkuh.
“Ternyata Ibu mu. Aku kan hanya penasaran siapa yang menghubungi mu tengah malam seperti ini, sayang. Apa lagi kau sampai mengendap diam – diam keluar kamar. Seolah khawatir kalau aku sampai terbangun. Jadi, menurut ku, aku tidak bersalah. Iya kan?” jawab Rega dengan nada merajuk tidak ingin disalahkan atas perasaan curiganya. Terutama saat melihat perubahan raut wajah Cyla.
“Terserah, aku lelah. Aku mengantuk.” Jawab Cyla memutar bola mata malas. Melangkahkan kaki kearah kamar, melewati Rega yang masih bersandar diambang pintu dapur.
“Aku juga, sayang.” Balas Rega memeluk Cyla dari belakang. Membuat Cyla tersentak terkejut, namun kembali melangkahkan kaki dengan Rega memeluknya dari belakang.
Reaksi yang diam saja. Membuat Rega tersenyum bahagia. Mengecup singkat tengkuk leher Cyla.
“Sayang, satu ronde lagi bagamaina. Hm?” bisik Rega di telinga kanan Cyla. Bertepatan dengan Cyla baru saja mengunci pintu kamar.
“Tadi kan sudah.” Balas Cyla malas, mencoba melepaskan tangan Rega yang melingkar di sekitar pinggangnya.
“Aku tahu. Tapi, aku ingin lagi. Hm?” rayu Rega mengecup singkat pipi Cyla.
“Rega aku sangat lelah. Besok kan masih ada waktu, lagi pula besokan hari weekend.” Balas Cyla lagi, masih mencoba melepaskan dekapan erat tangan Rega.
“Akan aku lepaskan. Asalkan kau mau bilang ‘iya’ sayang.” Sahut Rega mengeratkan pelukannya, mulai menggesekan juniornya di belahan pantat Cyla yang hanya tertutup piyama bathrobes.
“Unghh... jangan macam – macam Rega.” Ancam Cyla melenguh, terutama saat salah satu buah dadanya diremas keras oleh tangan nakal Rega. Belum lagi saat Cyla merasakan ada sesuatu yang mengeras diantara belahan pantatnya.
“Aku tidak macam – macam, sayang. Aku hanya minta satu macam.” Bisik Rega menjilat daun telinga kanan Cyla. Gerakan erotic yang Rega tahu bisa meluluhkan Cyla.
“Aku tidak percaya kalau hanya satu ronde.” Gumam Cyla, mencengkram erat lengan berotot Rega. Mencoba menahan gejolak gairahnya.
“Aku berjanji, sayang. Hanya satu ronde.” Bisik Rega dengan nada dibuat mendesah. Sungguh membuat Cyla menggila.
“Bohong.” Cicit Cyla, mulai merasa kesadarannya hampir hilang ditelan rasa gairah.
“Aku tidak berbohong. Aku akan membuat mu menikmatinya. Seperti sore tadi, sayang.” Ucap Rega kembali meluncurkan kata – kata rayuan mencoba meracuni pikiran Cyla agar terpengaruh.
Saat Cyla hendak membalas ucapan Rega. Rega sudah terlebih dulu menarik Cyla agar menghadap kearahnya. Meraih tengkuk Cyla, dan mencium Cyla dengan terburu – buru. Sangat liar, tidak tertahan. Itu yang sedang Rega rasakan dalam tubuhnya. Cyla yang sudah terpengaruh langsung membuka bibirnya, menyambut ciuman Rega yang menggebu – gebu. Bibir Rega menyesal kuat bibir bawah Cyla, semakin membuat bengkak bibir Cyla. Membuat bunyi decapan panas saat Cyla ikut menciumnya. Mengangkat tubuh Cyla dalam gendongannya tanpa melepas ciuman panas mereka. Membaringkan Cyla perlahan diatas ranjang kamar, dan melepaskan ciumannya saat Cyla memukul dada bidang Rega tanda kehabisan nafas. Menatap Cyla yang terbaring pasrah di bawahnya dengan tatapan sayu. Menarik tali bathrobes dalam sekali tarik. Menunjukan tubuh indah Cyla tanpa penghalang. Menenggelamkan wajahnya diantara buah dada Cyla. Menikmati keindahan yang ada didepan matanya. Hal tersebut sontak membuat Cyla melenguh tertahan, melarikan jemarinya ke sela – sela rambut Rega. Menekan kepala Rega lebih dalam, seolah meminta lebih dari pada itu. Namun, sayangnya Rega tidak ingin terburu – buru. Rega ingin berlama – lama diantara buah favoritnya. Rega tidak ada niat ingin keluar cepat. Rega berencana membuat satu ronde yang dia maksud adalah satu ronde dengan kenikmatan yang panjang dan menggila.
*****
To be continue,
See you again ~~~~
Don't forget your vote and coment,
Typo coment guyss.