CEO Is Obsessed Marry Me

CEO Is Obsessed Marry Me
Part 23



[Don't Copy My Story!]


Real my imagination!


Jangan Lupa Like, Vote, Rate, and Coment.


~ Happy Reading ~


*****


Sinar matahari menembus tajam melewati curtains – Tirai yang menggantung indah menutupi kaca jendela. Membangunkan seorang wanita yang terlelap dalam tidurnya. Kicauan burung yang bersiul dipagi hari pada pagar balkon kamar, benar – benar menjadi alarm terindah yang memanjakan pendengarannya pada pagi yang cerah. Cyla mengerjapkan mata beberapa kali – Mencoba mengumpulkan nyawanya yang baru saja kembali dari menjelajahi dunia mimpi. Bangun dari tidurnya dengan sedikit ringisan saat rasa pusing menyerangnya. Menatap sekeliling – Sangat damai seperti sebelum dia tinggalkan kedalam dunia mimpi. Perbedaannya hanya selimut yang telah terkulai lembut di pangkuannya, dan melirik kearah ponselnya yang tengah dalam keadaan pengisian daya. Sudah dipastikan, Rega muncul. Pria yang mengakui Cyla sebagai miliknya kembali semalam. Berpikir seperti itu membuat mata Cyla sontak mulai berpencar – Mencari keberadaan sosok yang sudah dua nantikan dalam tangis malam.


Hening!


Pendengarannya tidak menangkap satupun suara kecuali suara dari gerakan yang Cyla hasilkan dalam gerakan gelisah diatas ranjang. Matanya mengerjap panik ketika sadar tidak mendapati kehadiran dari sosok Rega. Tanpa ada suara dari arah dalam kamar mandi. Cyla sangat terdiam hingga bulir air kembali berhasil lolos dari sudut matanya. Menarik kedua lutunya – Menekuk. Menenggelamkan wajahnya didalam lutunya, berharap suara isak tangisnya bisa teredam dan tidak terlalu terdengar memilukan tengilanya. Mengabaikan semua ingatan tentang segala aktivitas hari ini. Kelasnya, skripsi, perpustakaan, hingga jadwal temu dengan dosen pembimbing terlupakan. Air matanya terlalu menghayati perasaan hatinya. Tenggelam dalam isak tangis tanpa ada keinginan untuk berhenti. Hingga suara decitan pintu terbuka memaksanya untuk menatap penasaran siapa yang datang.


Sungguh saat ini hatinya penuh dengan harapan kalau Rega yang datang menghampirinya. Namun, harapannya seketika pupus saat lirikan matanya menangkap sosok wanita muda dengan setelan jas hitam dan kemeja putih melekat pas di tubuhnya. Earphone terpasang cantik ditelinga kirinya, layaknya perhiasan telinga. Sepatu hak sedang berwarna hitam menghias kaki jenjangnya. Rambut terikat rapi. Menelisik dari atas bawah hingga keatas – Tinggi. Cyla yakin lebih tinggi.


Mengangkat perlahan wajahnya, mengabaikan kondisi dirinya yang pasti terlihat berantakan. Cyla lebih penasaran siapa yang berani berdiri tegap di hadapannya. Seolah paham jika Cyla penasaran. Wanita tersebut langsung menunduk sebentar dan kembali mengangkat kepalanya, membalas tatapan Cyla denfan wajah tegas dan datar. Sungguh membuat kesadaran Cyla sepenuhnya melamun.


“Saya, Gladis Diana. Mulai saat ini saya akan menjadi pengawal anda, nona.” Ucap wanita muda tersebut yang memperkenalkan dirinya sebegai – Gladis Diana.


“Aku tidak membutuhkan mu. Kau bisa pergi sekarang.” Balas Cyla dingin, kembali membaringkan tubuhnya malas diatas ranjang dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya hingga sebatas dada. Memunggungi wanita yang mengaku namanya Gladis.


Cyla sangat geram dengan Rega. Merasa kesal dan marah. Apa tidak cukup dengan mengurung Cyla, sekarang sampai Cyla memiliki pengawal sendiri. Benar – benar terkekang. Rega sungguh sangat melewati batasnya. Dan yang menyedihkan, Cyla bahkan sudah tidak memiliki tenaga untuk memberontak dengan apapun yang dilakukan Rega.


“Anda membutuhkan saya, nona. Mr. Rega Rahendra yakin akan itu.” Ucap Gladis kembali – Melangkah mendekati jajaran curtains yang masih menutupi jendela – Tepat dihadapan Cyla. Menyibaknya dengan lantang. Sinar matahari langsung masuk menembus kaca jendela kamar tersebut, menjadikan kamar yang tadinya temaram sekarang sudah menjadi terang benderang. Membuat mata Cyla langsung menutup sekejap. Diam – Mencoba membuat tubuhnya beradaptasi setelah dirinya dikurung dalam kegelapan.


Gladis mulai melakuan tugas pertamanya dengan mengaitkan ujung curtains pada tali disetiap sudut. Membuka kuncu pintu jendela dengan lebar di depannya. Udara segar pagi hari seketika masuk menerpa wajahnya dari arah balkon di depannya. Membalikan tubuh menghadap nona barunya – Cyla yang tengah berbaring terpejam.


“Anda ingin mandi air dingin atau air hangat, nona? Akan saya siapkan.” Ucap Gladis tenang namun mampu membuat Cyla kembali membuka matanya. Menatap datar kearahnya.


“Asisten atau Pengawal Pribadi!” ucap Cyla dengan nada sinis yang masih dapat didengar dengan jelas oleh Gladis. Namun, Gladis hanya terdiam tanpa ada niatan untuk menanggapi ucapan nona barunya – Cyla Jellyn.


Cyla yang melihat Gladis diam tak berkutik menunggu jawabannya. Membuat Cyla menghela nafas lelah. Kembali bangun – Duduk diatas ranjang.


“Aku tidak memiliki uang untuk membayar mu sebagai asisten ku.” Jawab Cyla dengan nada datar tanpa menatap Gladis. Memberi tahukan secara tidak langsung kepada Gladis, agar wanita tersebut bertindak layaknya sebagai seorang pengawal pribadi tidak lebih dari itu. Bersikap sesuai perintah dari Rega Rahendra.


“Anda seharusnya tidak perlu mengkhawatirkan sesuatu yang tidak perlu anda khawatirkan, nona.” Balas Gladis tersenyum tipis. Kedua matanya maaih setia untuk terus mengawasi setiap gerakan dari nona barunya.


“Hal yang tidak harus di khawatirkan lah yang terkadang menjadi bumerang dalam hidup. Itu sebabnya setiap langkah harus diputuskan dengan hati – hati. Apakah harus melangkah dengan kaki kanan terlebih dahulu atau kaki kiri terlebih dulu?” Ucap Cyla yang mulai menggunakan bahasa perumpamaan. Matanya masih hanya menatap lurus kedepan – Menerawang. Keputusan yang Cyla ambil kembali adalah keputusan yang salah, dengan membiarkan Rega menguasai hidupnya lagi.


“Anda melupakan satu hal, nona. Baik kaki kiri atau kaki kanan. Keduanya tidak bisa melangkah berlawanan arah. Setiap langkahnya hanya untuk satu tujuan.”jawab Gladis semakin melebar senyum indah di wajahnya. Benar – benar merasa senang dengan kata yang diucapkan oleh nona Cyla.


“Satu tujuan untuk satu kesalahan yang sama.” Kembali Cyla berucap singkat. Melangkah turun dari atas ranjang menuju kamar mandi. Namun, langkahnya terhenti tepat diambang pintu kamar mandi saat mendengar Gladis kembali berucap.


“Nona, tidak peduli sejauh apapun anda melangkah. Anda pasti akan tetap kembali ke tempat yang sama. Tempat yang sama itulah yang anda sebut kesalahan, bukankah itu artinya rumah anda. Saya yakin anda tahu, jika tidak ada yang lebih baik untuk tempat kembali selain rumah.” Ucap Gladis kembali dengan nada yang sedikit melembut. Menatap senang kearah Cyla yang terdiam diambang pintu kamar mandi.


Sedang Cyla terdiam membeku. Mencerna setiap ucapan kata yang di lontarkan oleh Gladis dalam diam.


‘Rega adalah rumah tempat ku kembali?’ tanya Cyla dalam hati. Tersenyum sinis, bedecih tidak suka.


“Yang benar saja!” Ucap Cyla sedikit meninggikan suaranya dengan nada sinis. Masuk dan menutup pintu kamar mandi dengan kasar. Menimbulkan suara dentuman keras yang sayangnya tidak mengejutkan untuk Gladis.


~


Cyla menurunkan kaca jendela mobil yang dia tumpangi. Segera setelah dirinya selesai berpakaian, Gladis – Wanita yang baru saja menjadi pengawalnya langsung menuntun dengan sedikit paksaan agar dirinya masuk kedalam mobil tanpa tahu apa yang terjadi. Cyla benar – benar sudah lelah untuk memberontak. Menyerah pasrah kemanapun Gladis akan membawanya. Cyla hanya terdiam, duduk manis dibangku penumpang belakang. Dengan Gladis yang mengemudikan mobilnya.


Sedikit menjulurkan wajahnya keluar dengan menyandarkan dagunya diatas tangannya yang melipat pada ambang kaca jendela mobil. Memejamkan mata, merasakan semilir angin yang menenangkan. Saat ini tepat pukul 8 pagi, saat menghidupkan ponselnya beberapa saat lalu. Cyla menghela nafas lelah mendapatkan banyak panggilan dan pesan dari Nadia dan Sera sahabatnya. Bukannya membalas, Cyla lebih memilih me non – aktifkan ponselnya kembali. Mengabaikan segalanya. Jam 8 pagi saat ini, merupakan masih jam kantor. Semua masih sibuk ditempat mereka bekerja. Membuat jalanan kota Semarang sepi tanpa macet. Berpengaruh pada udara jalanan yang sedikit lebih segar. Menarik sedikit bibirnya – Membentuk senyum manis di wajahnya. Menikmati dalam diam hembusan angin yang meneroa dengan sejuk di wajahnya, terpaan yang membuat beberapa helaian rambutnya berterbangan – Mengayun dengan begitu anggun dan indah disekitar wajah dan kepalanya.


“Sebenarnya kau akan membawa ku kemana? Kita akan pergi kemana?” tanya Cyla dengan nada yang terkesan terlalu tenang, dirinya sangat menikmati perjalanan yang terasa melayang.


“Kita akan ke Surakarta sekarang, nona.” Jawab Gladis datar tanpa mengalihkan tatapannya dari jalanan damai kota Semarang di depannya.


Mendengar jawaban yang di lontarkan oleh Gladis. Cyla langsung mengerjapkan mata beberapa kali – Terkejut. Menarik wajahnya kembali kedalam mobil dari ambang kaca jendela – tanpa menutup kaca mobil di sampingnya. Membuat Cyla benar – benar merasakan sapuan lembut udara di wajahnya.


“Bukankah acaranya nanti malam? Aku sudah membacanya. Dan aku sangat yakin kalau aku tidak salah mengingat. Aku juga tahu, kalau aku terlalu pintat untuk melupakan sesuatu hal.” Balas Cyla sedikit terkejut, namun juga masih sempat untuk menyombongkan sedikit tentang dirinya. Hal tersebut membuat Gladis hampir saja tersedak air ludahnya sendiri. Gladis merasa lebih terkejut melihat kepribadian nonanya yang baru saja dia lihat. Sangat berbeda dan terlalu percaya diri. Bersyukurlah Gladis menahan segala umpatan yang hampir saja terlontar dari bibirnya.


“Anda memang tidak lupa, nona. Tapi, tuan Rega yang menyuruh agar anda pergi terlebih dahulu. Tuan akan menyusul setelah menyelesaikan pekerjaannya di kantor.” Jawab Gladis tenang dalam artian menjelaskan. Masih tidak menatap atau sekedar melirik kearah nonanya.


“Apa kau selingkuhannya?”tanya Cyla dengan nada sinis. Tidak suka mendengar jawaban dari Gladis. Memicingkan mata tajam seolah ingin melubangi kepala Gladis.


“Maaf?” tanya Gladis tidak paham, langsung melirik sekilas kearah Cyla dari kaca spion dalam mobil.


“Kenapa Rega lebih memilih memberi tahu mu, dari pada aku? Kau sudah pernah tidur dengan Rega?” Tanya Cyla kembali semakin sinis. Mendengus kesal kearah Gladis tidak perduli wanita yang mengaku menjadi pengawalnya itu melihat atau tidak sama sekali. Cyla hanya butuh klasifikasi, dia tidak peduli dengan perasaan Gladis yang mungkin sedikit menyinggung. Persetan dengan menyinggung, Cyla sungguh butuh jawaban.


“Apa? Nonw ini tidak seperti yang anda pikirkan. Lagi pula yang memberi tahu ku juga bukan tuan Rega. Yang mengabari hal tersebut tuan Pram. Sekretaris tuan Rega. Saya harap anda tidak salah paham lagi, nona.” Jawab Gladis kelabakan. Dirinya benar – benar panik saat nonanya menuduh tanpa berpikir jika dia adalah selingkuhan tuan Rega. Itu hal yanh mustahil. Disaat Gladis sendiri tidak pernah bertemu dengan tuan Rega. Ya, Gladis hanya mendapatkan perintah dari tuan Rega dengan Pram sebagai perantara. Sungguh dirinya tidak pernah bertatap muka secara langsung dengan tuan besar Rega Rahendra. Jadi, nonanya itu menuduhnya dengan tuduhan tidak berdasar.


“Entah kenapa, tiba – tiba aku merasa hak asasi ku sebagai manusia dan warga negara Indonesia seketika hilang begitu saja. Menyedihkan!” Gumam Cyla lirih mencoba mengalihkan pembicaraan – Menggerutu lebih tepatnya. Namun tanpa sadar dirinya meninggikan suara diakhir kalimat dengan nada kesal.


“Maaf?” tanya Gladis kembali saat telinganya menangkap kata ‘Menyedihkan!’ keluar dari mulut Cyla. Penasaran apakah nonanya itu masih salah paham, atau sedang memakinya? Melirik kearah kaca spion dalam, mendapati wajah nona Cyla dalam keadaan yang terlihat jelas tengah kesal.


“Aku bilang hidupku sekarang menyedihkan.” Jawab Cyla kesal melipat kedua tangannya didepan dada. Menyandarkan kepalanya, lalu memejamkan mata. Mengatir nafas, mencoba meredam perasaan kesalnya. Menikmati semilir angin yang masih bersedia menyejukan wajahnya.


“Bangunkan aku jika sudah sampai. Dan jangan menganggu tidurku jika itu tidak penting. Kau mengerti?” tambah Cyla berucap dengan nada memerintahnya. Masih dengan mata terpejam.


“Baik nona.” Balas Gladis menunduk kepala singkat sambil melirik nonanya yang terlihat tenang dari arah kaca spion dalam. Bersyukurlah karena saat Gladis melirik cukup lama kearah nonanya, lampu lalu lintas dalam keadaan merah menyala. Memaksanya menginjak rem untuk berhenti mengemudi.


~


Sesuai dengan yang Cyla perintahkan, Gladis hanya membangunkan dirinya ketika mereka sudah sampai dihotel yang dia dan Rega akan menginap. Salah satu cabang hotel milik mendiang Ayahnya yang sudah bukan lagi miliknya. Ingin menolak namun, mungkin akan berakhir sia – sia. Seperti saat ini, dirinya tengah duduk di sofa lobi hotel. Menunggu Gladis yang tengah mengurus kunci kamar yang memang sudah dipesankan Pram atas nama Rega Rahendra dimeja administrasi. Namun matanya membelalak – Membulat sempurna terkejut. Spontan dirinya langsung berdiri saat matanya menangkap sosok pria paruh baya yang sudah lama tidak dia temui, atau mungkin lebih tepatnya tidak dia kunjungi.


Pria paruh baya tersebut yang juga menangkap pergerakan spontan Cyla dari sudut matanya. Pria paruh baya yang tengah berbincang dengan manager dan kepala staf hotel sambil berjalan langsung terhenti langkahnya. Hal tersebut membuat manager dan kepala staf ikut menghentikan langkah mereka, menatap bingung pria paruh baya tersebut. Yang tidak lain adalah Dimas Mahesa. Ayah dari Adam Jaya Mahesa. Dimas langsung saja melangkahkan kakinya dalam diam, mendekat kearah Cyla.


“Romo Dimas?” gumam Cyla terkejut. Tubuhnya dalam keadaan membeku, akibat syok yang menyerangnya. Sepertinya dirinya melupakan satu hal, Surakarta masih termasuk dalam daerah kekuasaan Dimas Mahesa. Tidak mungkin dirinya tidak bertemu dengan Romo Dimas, meski sebenarnya itu termasuk dalam kemungkinan kecil.


Dimas menghentikan langkahnya tepat dihadapan putri dari mendiang sahabatnya. Putri yang sudah dia anggap seperti anaknya sendiri. Putri yang sedang dia perjuangankan segala hak kebutuhan hidupnya. Sedangkan manager dan kepala staf mengerutkan dahi bingung menatap wanita muda yang dihampiri oleh tuan Dimas Mahesa. Yang mereka ingat, tuan Dimas hanya memiliki putra tunggal yaitu Adam Jaya Mahesa. Seorang putra bukan seorang putri. Hal yang mengejutkan juga berlaku pada asisten pribadi Dimas – Pak Wahyu. Pak Wahyu juga terkejut melihat nona Cyla tengah berdiri di hadapannya. Bertanya dalam diam, apa yang membuat nona Cyla berada di Surakarta?


“Kenapa kamu ada disini?” tanya Dimas datar. Meski hatinya penuh dengan pertanyaan yang sama seperti pak Wahyu.


“Romo, terima salam Cyla.” Ucap Cyla penuh lemah lembut mengulurkan tangan untuk mencium punggung tangan Dimas. Yang disambut hangat oleh Dimas


“Tentu, nak. Kamu sedang apa disini?” Balas Dimas kembali bertanya – Mengelus lembut penuh kasih sayang ke kepala Cyla. Senyum kerinduan akan putrinya terpancar jelas di wajahnya.


“Cyla mendapatkan undangan pernikahan dari putri pertama Perdana Menteri Adiaksa, Romo. Itu sebabnya Cyla berada di Surakarta.” Jawab Cyla ramah dengan senyum lembut terpatri indah di wajahnya. Melarikan pandangannya kearah pak Wahyu – Asisten Pribadi dari Romo Dimas. Menyapa dalam diam lewat sinyal mata dan senyum ramah dari Cyla. Menundukan kepala sekilas, menghormati yang lebih tua. dan ikut dibalas pak Wahyu dengan menunduk kepala singkat dan tersenyum lembut juga.


“Jangan katakan pada Romo kalau kamu dihotel ini untuk menginap.” Ucap Dimas berharap asumsinya itu tidak benar. Namun, sepertinya hal tersebut benar adanya. Melihat reaksi Cyla yang terdiam dan melebarkan senyuman di bibirnya.


“Bagaimana reaksi Eyang Kakung dan Eyang Putri kalau tahu cucu perempuannya lebih memilih menginap dihotel dari pada tinggal di kediamannya.” Tanya Dimas menyindir telak, namun dengan tatapan yang dibuat sesendu mungkin.


“Kalau begitu Romo jangan memberi tahu Eyang, ya? Cyla mohon Romo.” Jawab Cyla dengan nada memelas, langsung melarikan tubuhnya masuk kedalam pelukan Romo Dimas.


“Kamu kan tahu, nak. Romo tidak mungkin diam saja saat tahu yang sebenarnya.” Balas Dimas lembut, ikut memeluk putrinya. Mengecup singkat kepala Cyla dengan lembut.


“Ayolah, Romo. Cyla benar – benar tidak bisa untuk tidak menginap dihotel.” Ucap Cyla kembali dengan nada yang semakin memelas.


“Kalau begitu Romo juga akan bilang. Ayolah, nak. Romo benar – benar tidak bisa untuk tidak bilang pada Eyang mu.” Ucap Dimas dengan menirukan gaya bicara Cyla – Memelas, namun masih terselip sedikit candaan di dalamnya.


“Romo...” Rengek Cyla mulai pura – pura terisak. Tingkah laki yang membuat pak Wahyu dan kedua pegawai hotel menahan senyum terharu melihat interaksi didepan mereka.


“Cyla...” kembali Dimaa menirukan gaya bicara Cyla yang merengek seperti anak kecil.


“Menginaplah, nak. Memangnya kamu tidak merindukan Ibumu Ajeng?” tambah Dimas bertanya lembut, mengusap dengan sayang rambut Cyla.


“Tentu saja Cyla merindukan Ibu, Romo.” Jawab Cyla lirih, dengan nada lembut yang terkesan sendu. Hatinya terasa menghangat – Merindukan sosok seorang Ayah. Membuat Cyla semakin mengeratkan pelukannya.


“Ibumu itu selalu menanyakan dirimu. Kamu juga nak, dihubungi tidak bisa. Membuat Ibumu itu khawatir saja, Romo pun sama. Jadi Menginaplah, meski barang hanya satu malam saja. Sekedar melepas rindu.” Ucap Dimas ikut mengeratkan pelukannya. Paham jika putri dari mendiang sahabatnya ini sangat merindukan Ayahnya. Kembali mendaratkan kecupan singkat dipuncak kepala Cyla dengan penuh kasih sayang seorang Ayah.


“Tapi,,,,” Ucap Cyla lirih, terjeda dengan ragu dalam diam. Tidak mungkin dirinya mengatakan yang sebenarnya tentang Rega yang kembali. Romo Dimas sangat membenci Rega.


“Nak, apa begitu menyulitkan dirimu hanya untuk menginap beberapa malam di kediaman Romo?” tanya Dimas kembali dengan nada sendunya. Hal yang sontak membuat Cyla menengadahkan wajahnya keatas untuk menatap wajah Romo Dimas, lalu menggelengkan kepala.


“Kenapa Romo berbicara seperti itu? Tentu saja tidak, Romo. Baiklah. Baiklah, Cyla mengalah. Cyla akan menginap di kediaman Romo.” Putusan Cyla yang tidak suka melihat tatapan sendu dari Romo Dimas. Itu menyakiti hatinya juga. Bagaimanpun Romo Dimas sudah Cyla anggap seperti Ayahnya sendiri.


Mendengar jawaban dari Cyla. Dimas langsung tersenyum cerah. Melepaskan pelukannya. Daj meraih tangan kanan Cyla agar menggandeng dilengan kirinya.


“Jika saja kamu bilang seperti itu dari awal. Romo tidak perlu susah payah buat drama kecil hanya untuk merayu putri Romo sendiri, nak.” Ucap Dimas yang langsung mengubah gaya bicaranya dengan gaya sok keren dan berwibawa. Meski senyumannya semakin lebar di bibirnya. Sontak perkataan Dimas membuat kedua pegawai hotel dan pak Wahyu tertawa kecil, menggelengkan kepala tidak percaya melihat tingkah laku dari tuan Mahesa yang satu ini. Lucu – Sungguh diluar dugaan mereka.


“Romo!” Ucap Cyla datar begitupun dengan raut wajahnya yang ikutan datar sedatar tembok. Merasa tertipu dan terjebak oleh rayuan Romo Dimas. Sungguh menyedihkan. Melihat reaksi Cyla, Dimas hanya terkekeh geli dan mengusap gas rambut Cyla.


*****


To be continue,


See you again ~


Don't forget your vote, rate, like, and coment!


Typo coment guyss.


WARNING!


FOLLOW MY ACOUNT!