
[Don't Copy My Story!]
Real my imagination....
~ Happy Reading ~
*****
Cyla mengerjapkan kedua matanya perlahan. Mengernyitkan dahi bingung mendapati wanita paruh baya tengah berdiri disamping dirinya yang masih berbaring diatas ranjang tidur setelah lelah berteriak dan menangis akibat ulah Rega yang kembali mengurungnya dikamar. Cyla bangun dari tidurnya dan duduk menyadar pada kepala ranjang tidur. Memandang penasaran kearah wanita paruh baya yang mana terdapat senyum ramah di wajahnya.
“Saya madam Leura, nyonya Rahendra. Saya kepala pelayang disini. Dan, saya yang akan membantu menyiapkan segala kebutuhan anda, nyonya. Jika anda memerlukan sesuatu, anda bisa memanggil saya langsung atau lewat intercom. Semoga anda betah disini, nyonya.” Ucap madam Leura memperkenalkan diri dengan senyum ramah dan nada lembit. Membungkuk hormat sekilas di akhir kalimatnya.
“Apa? Anda tidak perlu melakukan hal tersebut madam Leura, saya bisa mengurus diri saya sendiri.” Balas Cyla cepat dan terkesan terkjut. Menurunkan kedua kakinya dari atas ranjang, menggeleng untuk semakin terlihat meyakinkan.
“Apa itu artinya secara tidak langsung, anda memecat saya nyonya?” tanya madam Leura masih setia dengan nada lembut dan senyum ramah menghiasi wajahnya.
Sontak mendengar pernyataan wanita paruh baya yang mengenalkan dirinya bernama madam Leura, membuat Cyla menggelengkan kepala kuat. Lalu berdiri dihadapan madam Leura dengan tangab mengibaskan kedepan memiliki arti tidak.
“Bukan. Bukan seperti itu. Aduh, maksud saya. Saya tidak ingin merepotkan anda.” Jelas Cyla cepat dengan perasaan terkejut akibat pertanyaan frontal dari kepala pelayan di depannya.
“Merepotkan saya termasuk dalam sebagian dari tugas saya, nyonya. Jika anda tidak ingin merepotkan saya. Itu artinya separuh dari tugas saya hilang, nyonya Rahendra.” Balas madam Leura dengan sikap tenangnya.
“Sungguh? Kalau begitu, kedepannya saya mungkin akan lebih merepotkan anda, madam. Jadi jangan mengeluh.” Ucap Cyla dengan terselip nada candq dalam lantaran perkataannya.
“Saya sangat menantikannya, nyonya.” Balas madam Leura singkat dan ikut berkedip canda kearah nyonya barunya.
“Kalau begitu, apa tugas pertama anda? Itupun kalau saya boleh tahu.” Tanya Cyla dengan senyum mania di wajahnya, merasa sedikit lega setidaknya ada manusia yang mungkin bisa dia ajak bicara dalam keseharian Cyla dikurung oleh Rega. Dikurung dalam rumah mewah nan megah, dan seribu sayang sangat indah di mata Cyla. Membuat Cyla dilanda penyesalan jika mengingat kejadian beberapa jam yang lalu.
“Tentu nyonya. Tugas pertama saya adalah sebuah permintaan.” Jawab madam Leura tenang, lalu melangkah kearah ranjang tidur untuk merapikan kembali kasur tersebut.
“Permintaan?” gumam Cyla bingung, mengamati setiap gerakan anggun dan terjaga madam Leura dalam membereskan kembali ranjang yang memang sedikit atau mungkin banyak berantakan akibat emosi Cyla yang tumpah dari dalam kendalinya.
“Iya, permintaan. Yaitu meminta kepada nyonya Rahendra secara hormat agar berhenti berbicara formal kepada saya, nyonya. Ini termasuk salah satu tugas yang diberikan oleh tuan Rahendra secara langsung. Saya sangat berharap pengertian anda nyonya.” Jelas madam Leura menunduk kepala memohon agar mengabulkan permintaan pertamanya.
~
Cyla menuruni anakan tangga dengan Gladis dan June yang setia di belakangnya. Mengikutinya. Membuat Cyla mendengus kesal dan memutar bola mata jengah. Memilih mengabaikan dan mengamati sekelilingnya dalam setiap langkah. Tidak lebih besar dan megah dari Manssion Rahendra di Italia yang ditempati kedua orang tua Rega saat ini. Namun tetap saja rumah ini sangat cantik dan anggun. Sangat elegan. Yang semakin membuat Cyla terkesima adalah hampir tidak adanya dinding untuk sekat setiap ruangan lantai satu. Bahkan saat Cyla berdiri di anakan tangga terakhir lantai satu, Cyla dapat melihat semua ruangan beserta ornamennya. Ruang keluarga atau bersantai dengan TV LED 4 inc tepat di pojok kanan belakang dari arah tangga. Ruang tamu dengan sofa mewah dan segala vas bunga mawar putih mengelilinginya. Untuk yang kedua kalinya, sangat cantik. Terlalu indah hanya sekedar ruang tamu. Mengalihkan tatapannya kearah kiri pojok depan, perpustakaan mini dengan ayunan bambu dengan beralas duduk empuk dan halus, serta bantal ayunan. Sungguh dilihat terlalu nyaman untuk menjadi sebuah perpustakaan. Dan ruang terakhir, ruang makan. Melirik sekilas kearah ruang makan yang berdampingan dengan dapur dimana Rega sudah duduk tenang dikursi makan. Meja makan yang sangat minimalis, dimana hanya terdapat enam kursi. Namun dengan warna putih tulang, membuat meja dan kursi tersebut terlihat elegan, mewah, dan menenangkan. Menghela nafas pelan, bergidik ngeri melihat hampir tidqk ada dinding dilantai satu yang diganti dengan dinding kaca. Membuat Cyla bisa melihat pemandangan diluar. Kegelapan malam dan keheningan rimbunya pohon pinus membuat sekujur tubuh Cyla bergetar merinding ketakutan. Benar – benar berbeda dengan kota. Dan lagi pula ini juga tidak bisa disebut Desa. Sangat mirip hutan. Astaga! Dalam setiap langkah Cyla menuju meja makan, isi kepala Cyla mulai berfantasi yang tidak – tidak. Vampire, were wolf, witch, dan shadow hunter. Baiklah, Cyla merasa kehilangan akal. Dirinya mulai terbawa suasana dengan novel maupun movie yang sudah dia baca dan tonton. Maka Cyla berjanji dalam benaknya kalau dia harus berhenti berhubungan dengan dunia fantasi yang hanya bisa disebut dongeng semata. Jika tidak, otaknya benar – benar akan kacau dan bermasalah.
Cyla memilih untuk duduk dikursi tunggal tepat di seberang Rega. Dimana memang, piring, gelas, serta sanak saudaranya makan malam tersaji diatas meja. Berdeham pelan saat mendapati sedari tadi ternyata Rega tengah mengamatinya. Benar – benar dibuat salah tingkah hanya karena tatapan mata seorang Rega Rahendra. Baru saja ingin mengucapkan kata sapaan entah sekadar ucapan ‘malam’ atau ‘selamat makan’. Namun, bibirnya kembali terkatup melihat kedatangan madam Leura yang membawa dan meletakkan Panna Cotta.
Dessert yang berbahan dasar cream, milk, sugar, dan gelatin ini mempunyai bentuk seperti puding. Disajikan diatas piring putih yang sudah dicetak dan diberi toping irisan strawberry lengkap dengan sausnya yang manis.
Madam Leura melirik sekilas kearah nyonya rumah baru dengan senyuman ramah di wajahnya. Mengucapkan ‘selamat menikmati’ tanpa suara. Yang dibalas Cyla ‘thank u’ juga dengan tanpa suara. Tersenyum lembut, melihat punggung madam Leura yang menghilang dibalik pintu belakang yang terletak di dapur. Menatap sekeliling, dan baru sadar kalau kedua bodyguard nya. Gladis dan June sudah tidak ada diruang yang sama dengannya. Dilantai satu, tepatnya di meja makan hanya terdapat dirinya dan Rega. Mengalihkan pandangannya keatas meja, menatap sajian makan malam yang dibuat madam Leura. Makan malam dengan menu khas negara yang memiliki ikon menara Pisa. Terdapat sajian pasta, sup, polanta, dan juga contorno atau hidangan berisi sayuran. Sangat banyak untuk hidangan makan malam yang hanya disantap dua orang.
“Apa ada yang tidak kau suka?” tanya Rega tiba – tiba, memecahkan keheningan. Membuat Cyla tersentak terkejut dan langsung mengalihkan tatapannya kearah dirinya.
“Italian Food? Aku suka.” Jawab Cyla singkat dan tenang, tersenyum canggung.
“Sangat gelap. Aku tidak suka.” Tambah Moana dengan, mengangkat bahu acuh ketika Rega menatap dirinya dengan kerutan di dahinya.
“Gelap?” tanya Rega, mengernyit dahi bingung dengan suara yang hampir seperti gumaman.
“Ya. Diluar terlihat gelap, akan lebih bagus jika tidak terlihat.” Jawab Cyla enteng, mulai memakan hidangan makan malamnya dengan diawali sup.
“Aku pikir kau suka dengan gaya rumah seperti ini, sayang. Twilight. Cullen Home.” Balas Rega dengan nada menggoda. Ikut memulai makan malam dengan hidangan pasta sebagai makanan pembuka.
“Uhh, just in my imagination only. Not, and should not be real.” Ucap Cyla dengan nada jengah dan memutar bola mata malas. Astaga! Cyla memang suka segala sesuatu yang berbaur ‘twilight’. Dari novel hingga filmnya. Namun, dirinya tidak percaya jika Rega akan membangun rumah yang hampir bernuansa sama dengan filmnya. Sekalipun jika harus memilih, Cyla lebih suka rumah kediaman Charlie dan Bella, ketimbang kediaman keluarga Cullen. Terkesan horor, menakutkan dan mengerikan dimalam hari. Cyla lebih suka dinding dengan tembok kokoh dari pada kaca yang tembus pandang seperti ini.
“Kau tahu kan aku tidak suka sesuatu yang berbaur malam. Entah itu gelap, dingin malam ataupun angin malam yang berhembus kencang. Aku tidak mengerti kenapa kau membuat sesuatu yang sangat berbanding terbalik dengan apa yang aku suka. Tuan tidak masuk akal.” Oceh Cyla dengan nada yang kentara sekali kesal. Setidaknya, Cyla berharap dalam benaknya jika makan malam yang mungkin saja memakan waktu panjang ini bisakah dipindahkan ke lantai dua saja, dimana semua dinding penuh dengan tembok kokoh. Bukan tembok kaca.
“Aku senang sayang kau kembali seperti semula setelah marah – marah dan semua tangisan mu.” Balas Rega tenang dengan senyum lrmbut terpancar di wajahnya. Yang terjeda akibat sahutan Cyla.
“Jangan mencoba mengalihkan pembicaraan, tuan Rega Rahendra. Jangan membuat ku jengkel dengan semua tingkah mu yang mengesalkan itu.” Sahut Cyla kesal dengan wajah cemberut. Tidak suka sikap Rega yang terkesan mengacuhkan perkataannya.
“Oke, fine honey. Kalau begitu biarkan aku bertanya. Kenapa kau berpikir kalau aku membangun rumah ini karena dirimu?” tanya Rega terkekeh geli melihat raut cemberut Cyla. Wanita tercintanya.
“Kalau begitu, biar aku ingatkan lagi. Sore tadi seorang pria pemaksa memintaku agar mulai saat ini untuk menetap dan tinggal disini. Maka, secara tidak langsung aku mengartikan jika rumah ini rumah yang harus aku anggap seperti rumah sendiri. Dan secara langsung, aku mengklaim kalau rumah ini merupakan rumahku.” Jelas Cyla enteng, menyuapkan puding Panna Cotta kedalam mulutnya dengan menatap kearah Rega dengan tatapan menantang.
“Rumah mu?” gumam Rega yang terdengar jelas ditelinga Cyla. Mengatupkan bibirnya. Bukan marah, namun menahan senyuman yang menjerumus hampir menertawakan pikiran konyol Cyla. Meskipun sebenarnya tidak konyol, sebab rumah ini. ‘Gala Home’ sungguh beratas namakan Secyla Jellyn. Dan tanpa ada niat memberi tahu Cyla kecuali jika Cyla bertanya kepadanya. Maka secara tidak langsung Rega lah yang menumpang di rumah Cyla. Rumah ini sudah berdiri, sejak tiga tahun yang lalu. Rega berniat memberikan rumah ini sebagai salah satu mahar untuk pernikahan mereka dulu. Yang sayangnya tidak terwujud.
‘Pernikahan? Sebuah kata yang harus bersabar untuk menunggu lebih lama lagi.’ Gumam Rega dalam hati. Senang dengan kata pernikahan diantara dirinya dan Cyla.
“Juga.” Balas Cyla singkat, mengalihkan pandangannya salah tingkah. Lebih memilih menikmati Panna Cotta di depannya.
“Juga?” tanya Rega semakin tidak bisa menahan senyum gelinya. Astaga! Cyla terlihat sangat menggemaskan saat ini di matanya.
“Maksudku. Aku menganggap rumah mu, rumah ku juga. Tidak bisakah kau berhenti menatap ku seperti itu. Itu terasa menjengkelkan untuk ku.” Jawab Cyla dengan nada yang sangat – sangat kesal. Membalas tatapan geli Rega dengan memicingkan mata tidak suka.
“Ya, seperti itu. Seperti yang sedang kau lakukan sekarang.” Jawab Cyla semakin salah tingkah. Meminum air putih dalam sekali teguk.
“Baiklah. Tidak akan aku lakukan lagi. Jadi tenanglah. Dan tentang pernyataan mu barusan. Apa itu artinya kau menetap dan tinggal disini? Tanpa mendebat ku?” ucap Rega dengan nada serius. Melipat kedua tangannya didepan dada bidangnya. Dan bersandar pada punggung kursi, dengan menyilangkan kakinya dibawah meja makan. Benar – benar menunjukan kekuasaannya dalam berbicara. Dan jangan lupakan tatapan tajam tanpa negosiasi miliknya. Membuat lawan bicar terintimidasi saat itu juga.
“Ekhemm, kapan aku bilang kalau aku mau menetap disini?” tanya Cyla dengan nada suara yang hampir seperti cicitan ketakutan. Bahkan Cyla berucap tanpa berani menatap langsung mata dan wajah Rega.
“Saat kau mengatakan kalau kau menganggap rumah ini seperti rumah mu juga. Secyla Jellyn.” Jawab Rega tenang. Namun, raut wajahnya terkesan datar dan dingin.
“Apa jika aku setuju. Maka kau masih mengijinkan aku untuk pergi kuliah?” tanya Cyla dengan nada gugup. Hanya mampu melirik mata Rega tanpa berani benar – benar menatapnya.
“Masalah kuliah mu. Aku akan mengurusnya. Jadi, kau tidak perlu....” jawab Rega terjeda.
“Tidak. Itu kuliah ku, tidak bisakah kau biarkan aku mengurusnya sendiri. Aku ingin lulus dengan nilai sesuai dengan kerja keras ku sendiri. Jadi ku mohon biarkan, dan jangan ikut campur.” Sahut Cyla langsung menatap Rega dengan tatapan nyalang namun tersirat sebuah permohonan.
“Jarak dari sini ke Universitas Putri. Kira – kira memakan waktu 40 menit. Apa kau tidak masalah?” tanya Rega dengan nada tenang, setenang air dalam diamnya sebuah gelas.
“Tentu. Itu tidak masalah bagiku. Tapi, tunggu. 40 menit? Apa itu artinya kita masih dalam daerah Semarang?” sahut Cyla senang namun hanya sesaat. Saat kesadaran kembali menyerangnya. Dirinya tidak percaya jika dia sudah berada di kota Semarang. Seingatnya, Cyla tidak tahu jika ada hutan atau apapun namanya tempat ini di Semarang. Sukar di percaya. Padahal Cyla sudah merencanakan kabur dan meminta bantuan Adam. Setidaknya, Cyla berpikir kalau Adam Mahesa adalah satu – satunya yang bisa dia hubungi untuk diminta bantuan.
‘Tunggu dulu, hubungi? Astaga! Ponselku dimana?’ gumam Cyla dalam hati. Kembali tersadar jika sejak dia terbangun. Dirinya tidak menemukan ponselnya dimana pun. Padahal, niat awal Cylasetuju ikut makan malam bersama Rega adalah untuk menanyakan keberadaan ponselnya.
“Aku akan mengijinkan mu kalau begitu. Tapi semua dengan peraturan ku. Kau hanya...” jawab Rega kembali terjeda. Jawaban yang bukan jawaban tepat dari pertanyaan Cyla. Rega sengaja menulikan pendengarannya dari pertanyaan yang Cyla lontarkan.
“Tunggu dulu! Dimana ponsel ku?” sahut Cyla menyela ucapan Rega. Menatap dengan tatapan menuntut penjelasan.
“Kau hanya boleh meninggalkan rumah ini untuk kuliah. Selain itu, dilarang keras meninggalkan rumah ini.” Ucap Rega tegas, kembali mengabaikan pertanyaan yang keluar dari bibir mungil Cyla.
“Jangan menjawab pertanyaan ku dengan jawaban yang tidak aku tanyakan, Rega Rahendra. Dimana ponsel ku?” sahut Cyla kesal dengan nada yang sedikit meninggi dan nafas yang memburu. Berdiri lalu kedua tangannya secara tidak sadar menggebrak meja makan, membuat Rega terdiam seketika. Membalas tingkah laku Cyla dengan raut wajah datar dan mata tajamnya.
“Jangan membentak ku, sayang.” Ucap Rega dengan nada dingin. Menatap tajam wajah Cyla yang memerah karena kesal. Dengan menekan kata ‘sayang’ pada ucapannya.
“Maka jawab pertanyaan ku dengan benar, tuan Rega Rahendra. Dimana ponsel ku?” balas Cyla tidak kalah tajam. Menekan semua perkataannya. Sedang, jemarinya sibuk mencengkram erat pinggiran meja makan.
“Sudah aku buang. Ah, salah. Lebih tepatnya sudah aku hancurkan dan aku bakar.” Jawab Rega sinis, kesal jika kembali mengingat pesan yang dia baca dari Adam dan tuan muda Uzzielsky yang diketik dengan nada manis. Itu menyulut emosi yang cenderung menjerumus pada perasaan cemburu yang menggila.
“Apa? Kau bilang apa?” tanya Cyla terkejut. Berharap pendengarannya yang bersalah.
“Aku bilang ponsel mu sudah aku hancurkan.” Jawab Rega lagi masih dengan nada sinis, tidak suka membahas ini.
“Hancur? Bakar? Astaga! Rega Rahendra. Apa kau benar – benar sudah hilang akal?” ucap Cyla frustasi. Terduduk kembali, tidak percaya akan pendengarannya yang seribu sayang tidak salah dengar.
“Itu bukan salah ku. Itu salah Adam dan tuan muda sialan itu yang berani mengirim pesan manis kepada mu. Kau tahu aku tidak suka itu. Lagi pula aku bisa membelikan ponsel mu yang baru. Jadi, berhenti membahas ini. Dan juga berhenti berdebat dengan ku, sayang.” Balas Rega dengan nada tinggi namun terkesan seperti nada merajuk. Nada suara anak kecil yang tidak suka jika mainan miliknya direbut oleh anak kecil lainnya.
“Aku juga lelah berdebat dengan mu. Tapi, masalahnya adalah tingkah laku mu yang memang perlu di debat dan di bicarakan. Rega Rahendra.” Sahut Cyla yang sudah tidak bisa menahan perasaan jengkelnya setengah mati itu.
“Dan sudah aku katakan salahkan Adam dan..” Ucap Rega kesal yang terjeda. Lagi, lagi, dan lagi terjedaa. Benar – benar membuat Rega menggeram kesal tertahan.
“Kalau kau membaca semua isi pesan ku. Seharusnya kau juga melihat respon dari balasan ku. Aku mengabaikannya, Rega.” Sahut Cyla yang sungguh dirinya hampir lepas dari kendali emosi.
“Jangan menyela ku, sayang! Biarkan aku menyelesaikan ucapan ku.” Sahut Rega berdiri, dengan nada suara yang lebih tinggi dari Cyla. Terkesan membentak di telinga Cyla. Semakin membuat Cyla memicingkan mata tidak suka.
“Duduk dan minta maaf!” perintah Cyla dengan nada tegas. Kembali menggebrak meja. Memaksa Rega melakukan sesuai perkataannya. Dan cyla tahu serta sadar kalau dirinya memiliki hak mendapatkan kata ‘maaf’ dari seorang Rega Rahendra atas perbuatan yang sudah Rega lakukan.
“Tidak mau. Yang salah mereka, bukan aku.” Ucap Rega menolak.
“Minta maaf atau aku lebih memilih dikurung dari pada tinggal secara sukarela disini?” balas Cyla kembali masih dengan sikap tegasnya.
“Curang!” sahut Rega protes.
Tidak suka dengan opsi pilihan yang diberikan Cyla. Karena jika Rega memilih opsi nomor dua. Maka akibatnya adalah Rega tidak bisa menyentuh Cyla. Yang merupakan sebuah perjanjian tidak tertulis diantara mereka. Itu sebabnya setiap kalia dia mengurung Cyla. Rega tidak berani menyentuh Cyla lebih dari sekedar sentuhan.
“Lakukan atau aku benar – benar akan memilih opsi kedua.” Ucap Cyla pelan namun menekan.
“Aku.... Aku minta maaf. Tidak janji, tapi akan aku usahakan tidak terulang kembali.” Ucap Rega pelan menundukan kepala. Menatap jemarinya yang saling bertautan dibawah meja. Astaga! Dirinya yang bagai singa, selalu dibuat tidak percaya tunduk pada mangsa buruannya. Secyla Jellyn, yang seperti kelinci putih di matanya.
*****
To be continue,
See you again ~~~~
Don't forget your like, vote and coment.
WARNING!
FOLLOW MY ACOUNT!