Black Opium

Black Opium
Terlihat Jelas Kalau Tidak Suka



Jam menunjukkan pukul 11.30, waktunya istirahat. Satu-persatu karyawan berjalan menuju pintu keluar sembari melepas topi dan apron yang dipakainya, beberapa masih sibuk memasak karena deadline dan pekerjaan yang menumpuk. Menunggu agak sepi sambil sekalian menghabiskan bawang yang dikupas. Natasha, Irma, dan Edo telah menghilang, entahlah mungkin pulang menuju kos, mereka merasa tidak nyaman beristirahat di ruang istirahat.


    "Kau segera tuntaskan pekerjaanmu dan pergilah beristirahat." Mas Nasa merapikan beberapa peralatan dan menutup sebagian makanan yang sudah jadi.


    "Ya, ini tak akan lama." Yona mempercepat gerakan tangannya, tinggal sebiji-duabiji yang belum dikupas, tak butuh watu satu menit untuk menyelesaikannya. Mas Nasa entah sudah menghilang kemana.


    Satu menit berlalu, bawang yang dikupas sudah selesai lebih dari 20 detik yang lalu, Ia hanya sengaja mengulur waktu sembari menunggu waktu solat agar tidak bolak-balik mengambil air wudhu walaupun memang harus bolak-balik. Yona berdiri mengambil sampah kulit bawang merah, beberapa berserakan keluar dari plastik, sambil menuju arah keluar, tak lupa dibuangnya sampah itu.


    Berdiri di depan pintu, memperhatikan lingkungan, wah, semua orang sudah menghilang, beberapa telah berada dalam posisi tidur dengan mata yang ditutupi dengan topi atau kardus, beberapa pula sedang bermain ponsel dengan raut wajah serius. Suasana hening, tak terdengar suara pembicaraan darimanapun. Cuaca hari ini sangat panas seperti biasanya, jangan salah, ini Ibu Kota, beruntung terdapat AC dan kasur di ruang istirahat, walaupun terkadang para karyawan senior tak kuat dengan dingin dan harus berebut remot untuk mengatur suhu AC, namun setidaknya tidak kepanasan.


    Hari ini banyak sekali motor yang terparkir di depan ruang istirahat, mungkin jalan disamping dipakai untuk parkiran truk sehingga tidak muat. Yona melepas sepatu dan kaoskaki yang dikenakan, berjalan menuju keran untuk berwudhu, hanya ada satu-dua yang segera bergegas untuk mengambil air wudhu pula. Tak ada diskusi atau sapaan, sudah lelah, kehabisan kata-kata untuk didiskusikan.


    Memasuki ruang istirahat, terlihat beberapa orang telah memejamkan matanya pula, beberapa tidur diatas kasur, beberapa diatas karpet, hanya satu-dua yang berada dilantai, seperti telah memiliki lokasi tidurnya sendiri. Sedikit sulit untuk lewat dan sesekali tak sengaja menyenggol kaki karyawan, keduanya sama-sama tak ambil pusing, tetap melanjutkan kegiatannya, tertidur dan persiapan solat.


    Selepas solat, diperhatikannya ponsel sejenak, menenangkan pikiran dengan melihat postingan-postingan yang ada di Instagram. Sebenarnya ada banyak pesan masuk melalui whatsapp, namun Yona sudah tak memiliki tenaga lagi untuk berinteraksi dengan orang lain di dunia nyata maupun maya. Biarkan tubuh ini beristirahat sejenak. Tak lama kemudian, Ia tertidur, tidur yang nikmat ketika sedang lelah, berapa lama waktunya akan terasa sangat cepat. Terasa baru beberapa menit Ia tertidur, sesekali terbangun karena suara ponsel orang lain yang berisik, dilanjutkannya tidur dengan menutup telinganya dengan mukena. Mimpi indah berlanjut.


_Don't give up\, I won't give up_


_Don't give up\, no no no_


_I'm free to be the greatest\, I'm alive_


Lagu yang terus berputar sangat kencang dari ponsel seorang ibu-ibu karyawan casual. Untuk beberapa saat lagu itu menyatu dengan mimpi hingga Yona terbangun karena suara-suara lain.


    "Oalah bu, tak kira itu ada di mimpi saya." Gumam Yona dengan kesal, terbangun untuk kesekian-kian-kian kalinya. Diraihnya ponsel yang ada disamping tas yang dijadikan bantal, sedikit menyilaukan mata yang masih kabur pandangan. Pukul 13.45, telat 15 menit!!!! Dengan segera Yona melihat sekeliling, ya benar, beberapa orang telah kembali ke dalam kantor, yasudahlah, sudah terjadi, mau apa lagi? Yang terpenting Ia telah solat, toh masih ada beberapa karyawan yang berada di ruangan ini, juga belum kembali. Percayalah, memaksakan diri untuk bangun dari tidur siang itu sangat berat, melawan rasa kantuk yang memusingkan kepala. Seakan telah terbiasa dengan hal ini, rasa pusing tak pernah dihiraukan.


    Berhenti di suatu divisi, memperhatikan seorang pria tengah memasukkan beberapa ayam yang telah diberi bumbu kedalam oven, tak terhitung berapa kali Ia telah memasukkan dan mengeluarkan loyang yang berisi empat hingga lima ayam utuh. Sesekali Ia juga merubah posisi loyang-loyang di dalam oven agar matangnya merata, ilmu baru.


    Menyerah karena tak tertarik membantu orang lain, Yona kembali pada divisinya, kondisi meja masih tetap sama hanya ditambah beberapa bahan seperti susu, tepung, garam, gula di atas meja, mungkin Mas Dazin baru saja kembali dari gudang kering.


    "Apa yang harus kulakukan, mas?" Seperti biasa, tak terulang berapa kali Ia mengatakan hal itu terhadap semua orang. Mas Dazin tak menjawab bahkan tak melihat Yona yang berdiri tak jauh darinya. Beberapa detik sunyi, melihat Mas Dazin mengaduk-aduk masakannya dan berulang kali mencicipi, membenahi dan begitu terus hingga beberapa menit. Apa susahnya menjawab pertanyaan? Apakah Ia bisu? Telah dibantu tak sadar diri. Aroma parfum yang Ia kenakan kuat, entah apa namanya, namun tak sekuat dan se-menggoda milik Mas Pam, bahkan tercium hingga sini, walaupun berjarak sekitar sepuluh meter dan Ia berada di ruangan tertutup.


    Kini Mas Dazin melihat Yona, diperhatikannya dari bawah keatas dan kebawah lagi, ekspresi itu datar, tapi cukup menjelaskan semuanya. Terlihat jelas kalau tidak suka. Dipandangnya fisik yang menurutnya gendut itu tanpa mempertimbangkan keahlian yang dimiliki. Tak sekali-dua kali Mas Dazin melakukan ini, sejak awal pertama membantu pun juga sudah terlihat jelas kalau tidak suka. Dasar memandang fisik. Sebenarnya, Yona tidak sebesar yang dipikirkan, hanya saja tubuh bagian depan dan belakang sangat menonjol, terlebih dengan pakaian yang sedikit sempit membuat bentuk tubuh tidak sedap dipandang, bagi pria yang memandang fisik.


    Yang menyebalkan adalah ketika sang pemandang fisik tidak sadar bentuk fisiknya seperti apa, seolah-olah memiliki tubuh terindah di dunia, haha, menyedihkan. Menuntut orang lain untuk sesuai standartnya namun tak sadar bahwa Ia jauh dibawah standart orang lain.


    Materi.


    Pandangan.


    Karakter.


    Sikap.


    Isi Otak.


    Tujuan Hidup.


    Tak semua hanya tentang fisik.