Black Opium

Black Opium
Tangisan Yang Kesekian Kalinya



"Aku tak tahu, namun Pak Ammar mengatakan langsung padaku tentangmu, Yona." Irma selalu punya seribu alasan untuk membenci.


    "Do, jujur, saat ini apa Kau mencium aroma tak sedap disekitar ku?" Pernyataan Irma sekali lagi bak membuat petir dalam hati, seketika meledak, rasa malu tentunya. Ingin segera pergi dari sekitar, mengapa tak ada orang yang menegurnya selama ini? Dan orang lain terlihat nyaman saja berada di dekat Yona. Mengapa pernyataan Irma sangat bertolak belakang? Duarrr.


    "Makanya, besok besok Kau gunakan deodoran agar orang lain tak terganggu dengan aromamu, permasalahan ini sangat intim maka dari itu tak ada yang menegurmu." Natasha ikut campur dan tentunya menjatuhkan mental dengan nada tingginya dan tangannya yang selalu menunjuk orang.


    "Ya." Yona segera pergi menuju ruang istirahat. Menahan tangis. Aneh sekali, orang lain terlihat biasa saja jika disampingnya, namun mengapa Pak Ammar mengatakan ini pada Irma, apa mungkin pemberian parfum tadi menjadi pertanda? Namun mengapa Ia tak jujur sejak awal. Menyakitkan sekali.


    Mbak Ati terlihat sedang berbaring di bagian belakang-tempat solat, merasa aneh melihat Yona duduk menjauh yang biasanya selalu berdekatan.


    "Sini, Yon. Mengapa jauh sekali dudukmu?" Mbak Ati heran, tak biasa Yona bertingkah seperti ini."


    "Enggak, mbak. Aku di sini saja." Yona tak ingin membuat orang lain merasa tak nyaman dengan bau badannya, itu yang ada di benaknya. Berulang kali Ia mencium ketiaknya, tak ada aroma apapun selain wewangian dengan alkohol. Sedih sekali, sekali lagi, Yona merasa jatuh sejatuh jatuhnya. Mengapa ini sangat bertubi-tubi?


    Tangannya bergetar berusaha menenangkan diri dengan membuka ponselnya, mencari video lucu dari instagram.


    Sepuluh detik...


    Dua puluh detik...


    Tiga puluh detik...


    Tess... Air mata tak mampu ditahan lagi. Video video lucu itu tak mempan menahan air matanya.


    Putus asa. Karyawan lain mulai memasuki ruangan. Yona dengan segera menutupi wajahnya menggunakan masker pergi keluar, tanpa arah, cepat, cepat, berpikir cepat, Ia harus menyelesaikan permasalahan ini dengan segera. Langkah kaki terasa aneh berjalan menuju ruang Pak Ammar, entahlah, pikirannya sangat kacau, tak ada harapan, Ia harus menyelesaikan ini, sekarang juga.


    Tok.. Tok... "Permisi..."


    "Ya, silahkan masuk." Pak Ammar mendangak, terkejut kedatangan tamu tak diundang.


    "Pak, saya ingin berbicara." Yona segera duduk, tak peduli keformalan atau etika lain, Ia hanya ingin duduk. Tangan melipat, tubuhnya disenderkan.


    "Kau ingin berbicara apa?" Suasana membuat Pak Ammar paham ada sesuatu yang aneh terjadi, gerak gerik seperti orang sedang kesal jelas sekali mudah dibaca olehnya.


    "Pak, kata Pak Ammar yang bau badan Natasha, tadi Irma bilang padaku jika Aku yang bau badan. Mana yang harus kupercaya?" Tak ada basa basi.


    "Hah? Apa? Bisa ulangi yang Kau katakan?" Pak Ammar tersedak seketika.


    "Apa Aku bau badan?! Mengapa Kau tidak mengatakannya langsung padaku tadi siang? Mengapa harus Irma yang mengatakan tentang ini padaku?" Yona menjelaskan sekali lagi dengan nada tegas namun tenang.


    "Tapi Irma mengatakan itu padaku, dengan jelas. Lantas siapa yang benar?" Yona tetep kekeh, ekspresi wajah kesalnya tak dapat ditutupi lagi.


    "Aku tak mengatakan seperti itu padanya, sungguh, untuk apa Aku berbohong? Bukankah bau badan telah menjadi rahasia umum di kantor ini?" Penjelasan yang masuk akal, membuat lawannya diam tak berkutik.


    Diam sejenak. Pak Ammar membiarkan Yona untuk meresapi kata-katanya dengan benar. Memperhatikan mata gadis itu dengan wajah tanpa ekspresi.


    Ttess... Setetes air jatuh membasahi pipi kiri.


    "Tidak mungkin Irma mengatakan hal tersebut jika tidak ada yang mengatakannya, tidak mungkin dia mengarang walaupun dia memang pandai mengarang." Yona menundukkan wajahnya, tak mampu menahan rasa sedih ini lagi, sudah bertubi-tubi, berat. Terlebih kata-kata itu keluar dari mulut musuhnya, orang yang tak Ia sukai, menyakitkan sekali. Oh tuhan. Suara menjadi sedikit lebih serak.


    Pak Ammar tersenyum menahan tawa. Menggelengkan kepalanya lagi. Kini ditambah Ia mengusap kepalanya. Tak habis pikir, mungkin itu yang ada dibenaknya saat ini. Ekspresi itu bak mengatakan seolah olah sulit sekali membuat gadis ini paham.


    "Begini, baik akan kuceritakan." Pak Ammar sembari membenahi posisi duduknya, menyerongkan kursinya ke arah Yona.


    "Ya." Sekali dua kali diusapkan air mata itu.


    "Memang, Saya telah memanggil mereka siang tadi. Hanya bertanya bagaimana keadaan mereka selama menjalankan magang, juga sesekali bertanya mengenai permasalahan antara dirimu dengan mereka. Natasha selalu tak mengakui apa yang terjadi, begitu pula dirimu, bak ada rahasia diantara kalian. Tak masalah, selagi tak mengganggu kinerja kalian selama bekerja di sini, namun mempersulit diriku untuk mendamaikan kalian." Pak Ammar menelan ludah.


    "Tapi Aku tak ingin berdamai." Tatapan wajah kesal dengan mata basah setelah menangis, tak ada air mata lagi yang jatuh.


    "Jawaban yang sama keluar dari mulut Natasha, di mata mereka, Kau adalah pelaku. Wajar saya, bukankah orang lain selalu menjadi tokoh antagonis dalam cerita mereka? Lanjut, setelah berbincang cukup lama mengenai keadaan mereka, Natasha pergi lebih dulu keluar dari ruangan saya, dan dengan segera saya memanggil Irma untuk memberi teguran kepada temannya itu." Sesekali Pak Ammar menatap ke arah luar atau benda lain, dan sesekali pula memainkan pena.


    Yona menarik napas dalam-dalam. Kini wajah penuh marah itu seperti tak ada harapan, sedih, entahlah, hanya sedih yang dialami. Sekali dua kali air mata itu menetes lagi.


    "Lap dulu dengan tisu air mata itu, namun jika Kau ingin menangis, menangis saja, tak ada yang melarang." Sembari menyodorkan tisu.


    "Aku tak ingin menangis." Kembali menundukkan kepalanya, malu, mengapa harus membuat drama dihadapan manajer.


    "Baik, Aku lanjutkan. Setelah menunggu Natasha pergi entah kemana, Irma menanyakan mengapa Saya menghentikannya. Lalu Saya mengatakan, 'Beritahu Edo untuk datang ke ruangan saya, dan beritahu temanmu yang satunya untuk menggunakan deodoran.' Hanya itu yang kukatakan padanya."


    "Itu permasalahannya, pak. Mengapa Pak Ammar tidak langsung menyebut nama, mengapa harus bermain kode-kode-an dengan dia, apalagi dia orangnya seperti itu, sekarang jadi salah paham, kan, jadinya?"


    "Mana ku tahu? Kukira Irma cukup pintar untuk memahami kalimat saya, bukan salah saya, kan?" Dengan polosnya membela diri.


    Diam sejenak, tak ada kata-kata untuk membalasnya lagi, memang benar, ini hanya salah paham, apalagi tentang Irma, sulit bicara dengannya. Orang aneh. Cukup lama diam menundukkan kepala, entahlah, hanya pusing, menyebalkan menambah drama baru. Irma dan Natasha. Pesuruh dan tuan putri. Sakit sekali bermusuhan dengan mereka. Sakit sekali penyakit mereka.