
"Lantas bukan itu yang kutakutkan, pak." Mengambil napas dengan suara pilek.
"Lantas apa?" Pak Ammar antusias, ingin tahu lebih lanjut tentang Irma.
"Pak Ammar tak tahu sifat Irma seperti apa, Aku kesal saja. Mulutnya itu, penyebar fitnah." Yona mendengus, kesal, napasnya dibuang paksa.
"Memang apa masalahnya dengan itu?"
"Masalahnya adalah, Irma telah salah memahami perkataan bapak, dan mulutnya bisa saja menyebarkan itu ke semua orang di kantor ini, pasti mereka akan berpikir yang tidak tidak tentangku, pak. Aku kesal. Bak tiada hentinya mempunyai masalah dengan mereka. Dan bagaimana jika Irma terlanjur mengatakan itu pada semua orang? Aku akan sangat malu, apalagi beberapa orang adalah sumber gosip, yasudah, akan selamanya melekat." Menghela napas. Alis itu dikerutkan, entah sedih atau marah, kedua rasa itu bercampur satu.
"Benar, sebenarnya sejak awal interview dengan kalian, Aku telah memahami karakter masing masing dari kalian, tak ada yang salah dengan karakter itu, hanya menjadi pembelajaran untuk diriku sendiri. Namun apa Kau tahu? Kau seharusnya tidak usah khawatir jika Kau tidak melakukannya." Pak Ammar membenahi posisi duduknya lagi, mengkretekkan kepalanya sekali dua kali.
"Hah, maksud bapak?"
"Ya, jika Kau khawatir dengan apa yang orang bicarakan, brarti menandakan apa yang mereka bicarakan itu benar. Bukankah orang lain akan terus membicarakan kita? Jika Kau merasa tidak bau badan, dan seluruh ruangan menjadi terdoktrin karena Irma mengatakan Kau bau badan. Ya jangan didengarkan. Toh hukum alam akan mengatakan yang sebenarnya. Dan jika Kau memang tidak bau badan, orang-orang akan tahu meskipun ada ribuan Irma yang mengatakan kalau Kau bau badan." Pria itu mengatakan dengan tenang dan tanpa pikir panjang, bak seolah kata-kata mengalir begitu saja dari otak ke mulutnya. Entah berapa banyak asam garam dalam hidup yang telah Ia lewati. Sedikit bingung, tapi kata-kata itu telah yang paling sederhana.
Tak ada balasan yang keluar dari mulut Yona, hanya mencerna kembali kata-kata itu. Mengingat kata yang pernah di kutip Robert T. Kiyosaki dalam buku Cashflow Quadrant, "Satu kata bisa membangkitkan semangat tipe orang tertentu, dan pada saat yang sama bisa sepenuhnya mematikan semangat orang lain." Dan itu benar adanya. Pemimpin terbaik dari yang terbaik. Entah berapa banyak manusia yang benci padanya, Yona tak melihat sedikitpun sifat sewenang-wenang dari dirinya. Selalu pulang paling akhir saat kerja, dan tak sungkan membantu orang lain. Pemimpin yang sesungguhnya.
"Kenapa diam saja? Apa pernyataanku menyakitimu?" Mata besar itu menatap penuh mata Yona tanpa teralihkan objek lain. Fokus bak memancarkan aura penyemangat. Berharap Yona paham yang dimaksud.
Lengang sejenak. Menghela napas. Senyum tipis dan mengganti objek pandangannya.
"Dengar, salah satu proses untuk tumbuh adalah sakit. Kau tak akan bisa menang jika selalu memikirkan rasa sakit itu. Biarkan saja, dan rasa sakit itu hanya ada jika kita memikirkannya, mempermasalahkannya. Hak mereka untuk berkata apapun yang mereka inginkan, tak ada salahnya, lantas mengapa Kau ikut pusing memikirkan mereka? Buktikan Kau bisa menang walaupun mereka menjatuhkanmu seribu kali. Buktikan siapa pemenangnya. Kau tak akan kalah hanya dari omongan Irma, kan? Aku tahu Kau tak selemah itu."
Deg. hanya kini bak busa yang menyerap air, bak tumbuhan yang disinari cahaya matahari, bak kupu-kupu terbang bermain di sekitar bunga. Kini harapan itu tumbuh lagi. Harapan setelah jatuh ke jurang depresi selama berminggu-minggu. Harapan yang dikira akan lupus selamanya. Tidak, kalimat kalimat itu memenangkan jiwa gadis ini. Kembali hidup diambang kematian jiwa.
"Tapi... Tapi Aku hanya lelah, pak. Mereka terus menerus merusak mentalku. Aku hanya sendirian di sini. Aku hanya lelah dengan sikap mereka, semua jauh dari yang kubayangkan sebelumnya, lebih parah. Aku hanya anak kecil yang bahkan belum berusia 17 tahun. Kini, masa magangku hancur begitu saja, hanya ada kenangan buruk yang akan menghantuiku. Menyakitkan sekali. Sungguh." Bendungan air mata pecah membanjiri pipi, kini bukan lagi drama, hanya seorang anak mencurahkan perasaannya pada seorang pendengar, pendengar yang benar benar pendengar tanpa menghakimi. Seorang pemimpin yang sempurna. Terus basah mengenai masker yang dikenakan. Dilepaskannya masker itu sejenak, menghirup udara ruangan ber AC yang cukup membuat tubuh menggigil. Bahkan air mata terasa dingin saat menyentuh kulit.
Pak Ammar semakin panik. Untuk orang setenang dirinya, untuk pertama kalinya Yona melihat kepanikan dalam diri Pak Ammar. Bahkan tugas tugas berat dan rumit sekalipun tak membuatnya panik, pembawaan dirinya adalah tenang. Menunggu Yona menenangkan dirinya sejenak.
"Apa Kau masih membutuhkan waktu untuk menangis atau Aku boleh berbicara?"
"Kau tahu? Ini adalah bagian menuju kedewasaan. Dengan ini mentalmu terbentuk. Kau seharusnya bersyukur telah mengalami hal ini sejak dini, membuat dirimu secara mental tangguh lebih awal. Dan daripada terus menyesali segalanya, mengapa tidak Kau jadikan ini sebagai pembelajaran hidup? Sebagai motivasi untuk terus menyemangati diri. Dunia kerja memanglah seperti ini, Kau mengalaminya lebih dulu dibandingkan kami kami semua, Kau hebat telah mengalaminya untuk anak seusiamu yang dimana masih bersenang senang tanpa memiliki masalah. Kalaupun iya memiliki masalah, selalu ada orang tua mereka yang membela. Kau kini paham betapa kerasnya hidup, bukan? Tak ada yang mudah. Hanya saja, Aku bangga padamu telah mengalami masa ini."
Sunyi. Lengang. Hening.
Entah apa yang telah dialami pria ini, pasti telah mengalami hal yang sangat berat. Bagaimana bisa ada orang dengan pandangan seluas dirinya. Bagaimana bisa ada orang yang begitu bijak tentang kehidupan. Bagaimana bisa ada orang sekuat dirinya.
"Kau diam lagi, apa yang Kau pikirkan?"
"Ah, tidak, hanya sedang memahami kalimat yang bapak ucapkan."
"Apa ada yang tidak Kau pahami?"
"Tidak ada."
"Bagus, sekarang, belajarlah untuk tidak ambil pusing pada hal-hal semacam itu. Tidak ada manfaatnya untuk dirimu. Justru semakin merusak dirimu. Paham? Nanti, saat Kau keluar dari pintu ini, Kau akan menjadi pribadi yang baru, Kau akan lebih tangguh, lebih kuat, dan tidak akan membiarkan siapapun menjatuhkan dirimu. Kau tidak selemah itu, bukan? Dengan tubuh sebesar itu, Kau pasti juga sangat kuat."
"Hahaha, Aku juga bingung mengapa bisa sampai sebesar ini." Tertawa geli.
"Hahaha, tak apa, Aku juga sama besarnya, Aku ingin diet." Pak Ammar juga tertawa.
"Baik, pak. Sudah waktunya jam pulang, Saya ijin keluar ya, pak."
"Iya, tapi ingat, setelah keluar dari ruangan ini, dirimu yang dulu akan tinggal di ruangan ini. Selanjutnya, dirimu yang baru akan datang lebih kuat. Berjanji?" Pak Ammar menatap penuh semangat.
"Iya, pak. InsyaAllah saya berjanji. Saya ijin keluar ya, pak. Permisi." Tubuh Yona benar benar berbeda. Bak energi yang terisi hingga penuh untuk pertama kalinya. Kembali bersemangat menghadapi dunia.
"Ya, silakan."