Black Opium

Black Opium
Sedikit Menyakitkan



Sebagian besar karyawan sedang berkumpul di ruang DSB, menyisakan para anak magang yang belum akrab dengan karyawan di sini. Sebenarnya terdapat anak magang dari sekolah lain di kabupaten tetangga, dan mereka berjumlah lebih banyak, sebanyak enam orang, dengan dua perempuan dan empat lelaki. Mereka saling bergurau satu sama lain di dekat tangga, tak mengerti apa yang mereka bicarakan, tapi sungguh, bahasa jawa timur dan jawa tengah sangat berbeda jika diperhatikan.


    Entah berada dimana ketiga teman Yona yang lainnya, tetapi suara gadis itu menggema di seluruh ruangan yang sepi ini, semua orang menanti jam pulang, ruangan telah dibersihkan. Sedikit menyakitkan untuk sendirian di keramaian, menyaksikan orang lain bercengkrama sedangkan tak ada yang mengajak Yona untuk berbicara, mungkin sudah waktunya untuk belajar sendiri, toh semuanya akan berakhir sendiri.


    Keenam anak magang dari kabupaten sebelah dipanggil oleh Manager ke dalam ruangannya, dengan segera mereka memasuki ruang tersebut, entahlah, seketika suara sedikit lebih senyap, menyisakan Yona sendirian di ruangan sebesar ini, tak ada siapapun, menyedihkan.


    Jam telah menunjukkan waktu pulang, 15.00, tak ada satupun karyawan yang keluar dari ruang DSB, entahlah, mungkin mereka telah memiliki janji khusus untuk berdiskusi, atau apalah itu, tak ada suara apapun yang terdengar dari luar, hanya terlihat samar-samar canda tawa antara mereka.


    Kini pria dengan wewangian black opium keluar pertama kali, memasang raut wajah lelah tanpa ekspresi sedikitpun. Mengapa Ia selalu melakukan hal itu? Bukankah semua orang bercanda gurau di dalam ruangan DSB? Mengapa Ia bahkan tak melihat seorang gadis yang tengah duduk sendiri ini? Mengapa Ia selalu bergegas pulang? Apa yang terjadi? Terlalu banyak pertanyaan yang terlintas, terlalu banyak diam untuk tindakannya, pemikir.


    Satu-persatu karyawan lain menyusul, tak ada tegur sapa pada Yona, berpikir jernih, mungkin mereka tak melihatnya. Yona pun ikut keluar menuju tempat istirahat, mengambil tas yang ada di sana, terdengar suara berisik Natasha melewati ruang istirahat menuju pos penjaga, disusul dengan Irma dan Edo yang berjalan bersama. Yona menunggu waktu beberapa saat agar tak berpapasan dengan mereka, berisik.


    Lima menit berlalu, pasti ketiga teman Yona telah berjarak cukup jauh, pikir Yona, hanya perlu waktu satu detik untuk absensi di pos penjaga, secara logika mereka tak akan saling berpapasan jika tak ada rintangan yang lain. Yona segera keluar tanpa berbicara sepatah kata, memakai sepatu, dan berjalan menuju pos penjaga. Bahkan belum melihat pos, sudah terdengar suara bising yang dikeluarkan oleh gadis itu, bukankah seharusnya mereka telah jauh? Mengapa masih berada di sini? Menyebalkan harus bertemu dengannya. Aroma tak sedap mulai tercium, menyebalkan.


    Tak ada tegur sapa antara Yona dengan orang-orang yang ada di ini, begitu banyak orang yang bekerja di perusahaan ini, tak mudah untuk mengingat seluruhnya. Ketiga teman itu pergi setelah Yona memasuki pos penjaga, sulit untuk mengulur waktu agar terjarak dengan mereka, mau tak mau Yona pun melangkahkan kakinya meninggalkan tempat kerja.


    Sedikit menyakitkan, melihat mereka bergurau satu dengan lainnya selama berjalan pulang. Mereka tentu paham Yona berada tepat dibelakang mereka, tak ada tegur sapa atau bahkan melihat ke belakang. Mengapa mereka melakukan ini? Menyiksa mental seorang gadis yang pertama kali merantau. Bukankah Yona juga memerlukan teman? Terlalu banyak pertanyaan, terlalu banyak rasa benci.


    Sedikit menyakitkan, berjuang sendiri tanpa ada orang lain.


    Sedikit menyakitkan, mengalami segalanya sendirian tanpa tempat pulang.


    Sedikit menyakitkan, dibuat seolah menjadi pelaku walaupun Ia seorang korban.


    Sedikit menyakitkan, menghadapi orang dengan penyakit mental.


    Sedikit menyakitkan, meninggalkan teman terkasih.


    Sedikit menyakitkan, berada jauh dari keluarga.


Terkadang hanya ada tamparan, atas segala pilihan yang telah dipilih. Bukankah segalanya memiliki resiko? Bukankah segalanya telah dipikirkan dengan matang? Mengapa harus menyesalinya? Tak ada bisa disesali, semua telah terjadi, ini tak akan lama, percayalah, seperempat tahun waktu yang cepat, segalanya akan berdamai. Tak ada gunanya meyalahkan diri ataupun orang lain. Bertanggungjawab saja atas pilihan. Selesaikan apa yang telah dimulai.


    Satu hari lagi telah berkurang, bukankah itu hal bagus? Itu berarti semakin cepat Ia akan kembali. Terimakasih telah bertahan, terimakasih telah kuat, terimakasih tetap tegar walaupun hancur.


Pedagang telah mulai menjajakan dagangannya sebagai takjil. Sudah menjadi tradisi di negara tercinta ini. Tradisi yang patut dilestarikan. Tak lupa Yona membeli minuman yang menyegarkan, entah apa namanya, terdapat beberapa macam, seluruhnya menggiurkan.


    "Baik." Penjual yang tak banyak cakap itu fokus melakukan pekerjaanya.


    "Berapa totalnya, mas?"


    "Delapan ribu." Yona mengeluarkan uang pas, dan pergi setelah mengucapkan terimakasih.


    "Terimakasih."


Hal yang tersulit adalah menyebrang di kota besar, ya, percayalah, salah satu hal yang membuat terkejut para perantau adalah betapa sulitnya menyebrangi jalan, bahkan jalan yang tidak terlalu lebar. Pagi hari disaat jam berangkat kerja, dan sore hari disaat jam pulang kerja. Kendaraan berlalu lalang hampir tak ada hentinya. Jika tidak ahli, akan sangat sulit untuk menyebrang, tak akan ada yang memberi rasa empati, hanya tentang siapa yang lebih dulu lewat.


    Setelah menunggu beberapa saat, Yona berhasil menyebrangi jalan yang selalu ramai itu. Kosnya berada tak jauh dari lokasinya bekerja, hanya berjarak 300 meter, dan berada di dalam gang. Gang ini penuh dengan banyak kos dan mahasiswa, sebab letaknya tak begitu jauh dari salah satu universitas swasta terkenal di kota ini. Yona berjalan hingga tiba di jalan paling ujung, terlihat ibu kos tengah sibuk mengolah kelapa bersama suami dan anaknya.


    "Anak gadis ibu telah pulang." Ibu kos yang ramah memulai pembicaraan.


    "Eh, iya bu." Yona hanya tersenyum malu. Sembari membuka kunci pintu, dan duduk untuk membuka sepatu. Menatap kegiatan yang sedang dikerjakan. Bapak kos entah tengah sibuk dengan gerobaknya, banyak sekali Ia memukul-mukul dengan palu. Begitu sederhana, namun harapan dan kebahagiaan tertampang jelas dalam raut wajah mereka.


    Anak mereka sibuk membelah kelapa menggunakan golok, sedangkan ibu kos mengerok daging kelapa. Terlihat jelas apa yang sedang mereka lakukan, memproduksi es kelapa muda, atau yang biasa disebut es degan oleh orang jawa.


    "Ini untuk apa ya, bu?" Yona bertanya bingung, mengapa memproduksi banyak sekali? Apakah akan ada acara besar? Namun jika iya, mengapa tak ada yang membantu?


    "Selama bulan puasa, ibu dan bapak berjualan es degan di daerah sana." Ibu kos menunjuk ke arah luar gang. Sana? Sana sebelah mana?


    "Oh, iya kah? Mengapa aku baru mengetahuinya?" Yona terkejut, Ia jelas tak mengetahui hal ini, bahkan setelah seminggu berada di tempat ini.


    "Sebab ibu dan bapak selalu berangkat sebelum kau pulang. Kau ingin membelinya?" Ibu kos menawari dagangannya.


    "Oh iya bu, tapi nanti saja setelah isya, aku berencana berbuka puasa dengan temanku hari ini diluar." Tentu jelas kebohongan.


    "Baiklah, kau istirahat saja, terlihat lelah." Bapak kos menyaut.


    "Terimakasih, akan ku tutup pintu ini, permisi semuanya."


    "Iya." Ketiga orang itu menjawab secara bersamaan.