
"Loh, mengapa Kau tidak mengingatkannya sejak tadi, kupikir semuanya telah selesai." Selalu ada jawaban dari pria itu, tubuh pria dengan mulut wanita, tak ada hentinya berbicara.
"Aku tidak mengurusi sendok sejak tadi, jadi itu bukan salahku."
"Tapi setidaknya Kau bisa mengingatkanku tentang hal ini. Entah di sebelah mana, semua telah tercampur, kini Aku harus mengeceknya satu per satu." Mulut itu terus mengoceh tanpa henti, sebagian menggunakan bahasa yang tak dipahami. Menyalahkan orang lain sesuka hatinya.
"Aku telah mengingatkan." Yona tak peduli lagi, Ia ingin segera menyelesaikan tugasnya ini dan pergi seperti karyawan lainnya.
"Namun terlambat,..." Dan entah apa yang keluar dari mulutnya, menyebalkan, tak ada hentinya berbicara. Namun tetap kesana kemari membawa nasi box ke dalam mobil.
"Wo, Bowo... Tak bisakah Kau diam sebentar saja? Pusing kepalaku mendengarkan ocehanmu." Karyawan lain menyahut bak setuju dengan Yona.
"Mengapa Aku yang disalahkan? Bukankah ini tugasnya para tukang masak? Dan lihat saat ini mereka berada di mana? Sibuk bersembunyi dan melimpahkan tugasnya pada bagian lain?"
"Kau dulu juga bagian produksi, apa salahnya membantu." Karyawan itu tetap tak ingin kalah. Dan seperti biasa, Mas Bowo pun lebih tak ingin kalah.
"Aku dulu juga bagian produksi, dek. Namun perusahaan membutuhkan driver baru, maka Aku yang dipindah." Mas Bowo berusaha mendekati Yona, memperlambat gerakannya agar bisa lebih lama disampingnya.
"Oh, dulu divisi apa?" Yona berusaha basa basi. Namun benaknya ingin teriak, 'masalah baru apa lagi ini? mengapa terus berkelanjutan tanpa henti, menyebalkan'.
"Butcher Daging, jadi menurutku pekerjaan seperti ini biasa aja tak ada apa-apanya. Dan yang lainnya malah telah bersembunyi melimpahkan tugas mereka pada orang lain. Tidak bertanggung jawab." Terus mengoceh tanpa henti. Bak Natasha versi pria. Mungkin mereka cocok jika bersanding bersama.
"Oh, iya." Pusing jika harus terus berbicara, Yona hanya ingin pekerjaannya cepat selesai.
"Mengapa logatmu berbeda? Apa Kau bukan dari Jawa?" Mas Bowo berusaha tetap melanjutkan percakapan, ughhh cobaan macam apa lagi ini.
"Dia itu orang mana mana, Wo. Jangan Kau tanya terus, bisa-bisa Kau suka padanya nanti." Karyawan lain menyaut.
"Diam Kau, jangan ikut campur urusanku." Terus mengoceh lagi dan lagi. Tak ada jawaban lain dari Yona, hanya sibuk membungkus box box terakhir.
"Ayahnya seorang tentara, tak akan mampu Kau bersanding dengannya, sadarlah diri." Entah gurauan macam apa yang diberikan oleh karyawan lain, menyebalkan. Seolah lebih tau tentangnya dibanding dirinya sendiri.
"Mengerikan. Aku tentu beda derajat dengannya." Sungguh tak sopan, membicarakan orang lain dihadapan orang lain tersebut. Mungkin dengan niat hati bergurau, tapi sungguh, tak beretika. Mungkin mulutnya tak pernah disekolahkan.
Lengang sejenak. Yona terdiam sejenak. Melihat pekerjaannya telah usai, terdapat perasaan gembira telah menyelesaikan tugasnya. Setidaknya Ia telah bertahan. Box box terakhir telah diangkut menggunakan troli, entah siapa yang mengangkutnya, Yona tak mengenali.
"Kau memiliki akun instagram?" Dengan berani Mas Bowo menanyakan itu, berharap dapat kenal lebih lanjut.
"Punya."
"Apa nama akun instagrammu?" Mas Bowo menyodorkan ponselnya, meminta Yona mengisikan namanya. Yona tak ambil pusing, toh lumayan untuk menambah pengikut.
"Ini." Kini gilirannya yang menyodorkan kembali ponsel milik Mas Bowo itu setelah menuliskan akun instagramnya.
"Yeah, terimakasih. Jangan lupa nanti ikuti aku kembali, ya." Girang sekali wajah pria berusia tiga puluh tahun itu, hampir dua kali usia Yona.
"Ehm." Yona pergi, tak peduli.
Entah apa yang dikatakan Mas Bowo terhadap karyawan itu, wajah malu-malunya sangat terlihat jelas. Bak mendapatkan target baru. Lihat saja, apakah Yona akan luluh semudah itu?
Yona melewati pos pos tiap divisi, menuju pintu keluar. Untuk jarak beberapa langkah Ia mendengar teriakan dari gadis itu lagi, ya ampun, kapan selesainya?
"Yon, kemari sebentar." Edo memanggil, menyegatnya yang ingin lurus. Natasha tengah duduk diatas lemari pendek, disusul dengan Irma yang selalu disampingnya. Wajah kedua gadis itu mulai terlihat kesal dengan kedatangan Yona.
"Ada apa?" Ia berhenti.
"Hanya ingin melanjutkan permasalahanmu dengan Natahsa, bagaimana Kau ingin menyelesaikannya?"
"Bagaimana? Aku pun juga tak tahu."
"Begini, Aku tak mengerti apa yang terjadi diantara kalian namun permasalahan kalian telah menjadi buah bibir di kantor ini, tak baik juga untuk pekerjaan kalian selama magang di tempat ini." Edo berusaha menengahi, dia satu-satunya pria di kelompok kami.
Hening.
Sepuluh detik.
Dua Puluh Detik. Tatapan sinis dari kedua gadis itu mengintimidasi Yona.
"Begini saja, jika Aku memiliki salah padamu dan jika kamu tak menyukaiku, Aku meminta maaf, Aku lelah jika harus terus menerus bertengkar." Yona menjulurkan tangannya, merendahkan dirinya serendah rendahnya. Menghilangkan rasa gengsi demi wanita gila itu.
"Lagian Kau yang memulai permasalahannya, Aku tak akan marah jika Kau tak memulainya. Aku tak akan menyenggol dirimu jika Kau tak menyenggolku lebih dulu. Kau seharusnya mengurus permasalahanmu sendiri, mengapa ikut campur dengan masalah kami? Hah? Kau berlagak sok baik dihadapan kami tapi Kau sangat busuk, Kau pikir Aku mudah terhasut dengan sifat sok baikmu itu?" Tak jarang makian juga keluar dari mulut Natasha, nada tinggi dan tunjuk menunjuk itu berusaha menjatuhkan mental lawannya. Ayolah dewasa sedikit saja, Yona hanya berjarak dua langkah didepannya, mengapa harus berteriak? Apakah agar seluruh karyawan mengetahuinya?
"Ya, Aku akui Aku salah. Itulah mengapa Aku meminta maaf."
"Kau memang pantas merasa salah karna memang Kau yang salah, esok-esok Kau harus sadar untuk tidak ikut campur permasalahan orang lain." Natasha terus mengoceh tiada henti. Irma menunjukkan ekspresi wajah bak setuju dengan tuannya itu. Dasar pesuruh.
"Yaudah, kalem, jangan terus ngoceh sana sini tanpa henti. Irma, Kau lanjutkan yang dikatakan pak Ammar itu tentang Yona." Edo menengahi, emosi Natasha terus meledak-ledak tanpa henti.
"Aku tak ingin mengatakannya." Irma malu malu.
"Katakan saja, Kau yang diberikan amanah oleh Pak Ammar, Kau harus bertanggung jawab." Edo ingin cepat selesai. Kini Ia menundukkan wajahnya.
"Jadi, orang yang dimaksud oleh Pak Ammar mengenai bau badan itu adalah Yona. Ia mengatakan itu langsung padaku sebelum istirahat." Irma menempel pada Natasha. Hah? Bukankah jelas jelas siapa yang tercium bau badannya saat ini? Mengapa Yona yang tertuduh? Dan mengapa tidak Pak Ammar yang mengatakan tentang ini lansung? Apa? Mengapa pusing sekali?
"Hah? Aku yang bau badan? Apa Kau tidak salah informasi?"
"Sudah, mungkin kebetulan saat itu Kau memang bau badan, namun Aku tak mencium bau apapun darimu selain wewangian yang Kau gunakan, harum menyengat." Edo jelas jelas mengerti siapa yang bau badan.