Black Opium

Black Opium
Kedua Jalang



Sepuluh menit pas, Yona telah menyelesaikan bagiannya mengupas bawang. Sedangkan Edo masih tersisa setengah. Seperti biasa, Yona segera membersihkan meja kerja yang telah Ia gunakan, sesekali sampah terjatuh ke lantai saat sedang diangkat, tak masalah, hanya perlu mengambilnya dan membuang ke tempat sampah. Belajar untuk mulai tidak mempermasalahkan hal sepele. Yona pergi, sekali lagi, meninggalkan Edo sendirian.


    "Mas, biarkan Aku membantu." Yona memprioritaskan divisinya saat ini, mendatangi salah seorang karyawan pria dengan tubuh besar tinggi putih, cukup putih, bahkan Yona kalah putihnya.


    "Eh, sebentar, Aku sedang melihat apa saja yang harus dibuat hari ini." Pria itu membaca kertas berisikan resep dan menu yang harus dibuat.


    "Mas, Aku sedikit lelah hari ini, bisakah Kau berikan tugas yang sedikit ringan, tubuhku lemas." Tak ada kebohongan, memang benar adanya, beberapa hari pekerjaan sangat banyak, ditambah datangnya datang bulan, bak energi yang disedot habis habisan. Bahkan hari ini Ia bangun kesiangan, tak sempat sarapan dan segera menuju tempat kerja.


    "Masalahnya adalah, tidak ada tugas yang harus Kau kerjakan, tugasku telah selesai." Selalu diiringi senyum ramah di akhir kalimat. Pria yang sangat ramah dan selalu menghargai sesama.


    "Loh, lantas Aku harus membantu siapa?" Ungkap Yona dengan kecewa, Ia lelah, divisi ini tidak mempunyai pekerjaan yang terlalu berat, itu alasan Ia antusias membantunya.


    "Kau dapat membantu yang lain." Jawab karyawan itu dengan enteng.


    "Berikanlah Aku tugas di sini, Aku ingin berada di divisi ini saja." Sekali lagi memohon.


    "Sungguh, jika ada, akan kuminta Kau untuk membantuku, namun permasalahannya, memang sedang tidak ada, hanya pekerjaan ringan yang dapat kulaksanakan sendiri, yang lain terlihat membutuhkan bantuan, mengapa tidak Kau membantu mereka? Jika Kau lelah sedang malas membantu, mungkin mengupas bawang atau menuangkan sambal ke dalam cup? Pekerjaan yang ringan, bukan?" Jawaban yang bijak tanpa menghakimi, entah berapa banyak hal yang telah Ia alami, bak Pak Ammar versi ke dua. Sangat bijak.


    "Baiklah, akan kubantu mereka, namun jika Kau membutuhkan bantuan, segera panggil Aku, ya?"


    "Tenang saja, jangan khawatir."


Yona membalikkan tubuhnya membelakangi karyawan itu, melangkahkan kakinya menuju tempat paling ujung, tempat Ia mengistirahatkan tubuhnya dengan pekerjaan ringan, toh Mas Nassa juga tak mempermasalahkan hal ini.


    "Mas Nassa, Aku disuruh untuk membantu dirimu."


    "Oh ya? Lantas Kau ingin membantu apa?" Tangan Mas Nassa tetap cekatan memotong cabai untuk membuat sambal matah.


    "Apapun itu, asalkan tidak berat pekerjaanya." Yona menawar dengan langsung.


    "Mengiris bawang merah mau atau tidak? Untuk sambal matah."


    "Tentu, mana bawang merahnya?"


    "Nah itu permasalahannya, bawang merahnya belum di kupas. Jadiiii Kau harus mengupasnya, hehehe." Tertawa kejam. Pintar juga kata kata yang digunakannya.


    "Tak masalah, Aku senang melakukan itu, ambil berapa banyak bawangnya, mas?"


    "Sekitar satu kilo saja, jangan banyak banyak. Ambil di gudang kering, ya."


    "Permisi mbak, Aku izin ingin mengambil bawang merah satu plastik, ya." Tak lupa mengetuk pintu agar tidak mengejutkan karyawan yang menjaga sambil melipat kardus.


    "Iya, ambil saja." Matanya terus berfokus pada video youtube yang sedang Ia tonton, sesekali tertawa karena lucu.


    "Udah, mbak. Terimakasih."


    "Sama sama cantikkkk." Sederhana, namun dapat mengubah mood. Baik sekali karyawan wanita itu, selalu memuji siapapun, setidaknya hal sepele seperti itu menjadikan hari orang lain menjadi lebih baik.


    Yona bergegas menuju tempat istimewa itu sebelum yang lain menempatinya, sangat istimewa, meskipun tempat untuk berlalu lalang, tak masalah, tempat itu sangat berbeda dari segi manapun. Pagi yang indah, Yona menghabiskan beberapa menit kemudian dengan mengupas bawang sembari mendengarkan lagu kesukaannya. Tak jarang satu dua orang karyawan singgah sebentar untuk bercakap cakap, tak jarang pula satu dua menawarkan bantuan, dan duduk di sebelah Yona. Tak masalah, toh sebanyak apapun bawang yang dikupas, akan selalu dibutuhkan di hampir seluruh divisi.


    "Ndut ini Kau kupas untuk siapa?" Salah seorang anak magang lainnya datang. Memanggil Yona dengan sebutan kasih sayangnya.


    "Mas Nassa, Kau ingin membantu?"


    "Ya, mengapa tidak? Apa seluruhnya di kupas?"


    "Kau mengirisi semua bawang merah ini, biarkan Aku yang mengupasnya. Deal?" Perjanjian yang menarik, Ia tak perlu kerja dua kali lipat dengan dua kali tangisan dari perihnya mata.


    "Enak di kamu." Tak lupa dengan tambahan ekspresi wajah cemberut -_- namun tetap saja lucu. Pelawak berkedok anak magang, atau mungkin sebaliknya. Orang yang pertama kali mengajak Yona untuk berteman, selalu mengikutsertakan Yona dalam kegiatan magang apapun disaat semuanya meninggalkannya, bak sambah, acuh, tak ada yang peduli, semua karena ucapan Irma dan Natasha.


    "Hehe, Kau bilang ingin membantu, pekerjaan yang ada hanyalah ini. Tak usah mengeluh, Kau selalu bersembunyi di ruangan sejuk DSB, yakan?" Yona sama cemberutnya dengan rekan magangnya itu, mengatakan fakta dibalut candaan, memang itu kenyataannya, mengapa harus takut mengungkapkan?


    "Hehe, di luar ruang DSB panas sekali, lebih baik menyejukkan diri di dalam ruangan itu, toh beberapa karyawan juga sesekali mengistirahatkan dirinya di sana, mengapa hanya Aku yang Kau marahi, tidak adil." Mata dan tangannya tetap fokus ke tugasnya mengirisi bawang merah, tak cepat namun tak lambat, hanya sedang, sesekali pula mengatakan hal hal yang tidak Yona pahami, berbeda budaya, beda bahasa  tentunya.


    "Kan sesekali, bukan setiap hari. Tak usah berdebat, Aku sedang malas."


    "Malas kenapa, Ndut. Kalau malas terus lama lama semakin gendut." Tak ada henti hentinya membuat kesal Yona.


    "Gapapa dong, yang penting kan tidak bau badan." Sindirnya dengan halus.


    "Siapa tuh yang bau badan, apakah ada?" Entah apa maksud dari pria itu, entah sungguh tak mengerti atau hanya berpura-pura, yang jelas, Ia menyebalkan.


    "Gatau, deh. Males. Males bahas orang yang ga ada faedahnya di hidupku, malah nambah hidupku sengsara aja." Yona berusaha menyudahi percakapan, Ia jelas jelas tidak bersemangat melanjutkan pembicaraan dengan pria yang tidak bisa diam, terus mengoceh, dan pelawak. Akan selalu ada jawaban, menyebalkan.


    "Ngopoto males, ki. Akur lah, jangan bertengkar terus menerus." Kali ini nada yang diucapkan sangat berbeda, tak seperti sebelumnya, kini bak menyindir dengan halus.


    "Aku? Berkawan dengannya? Untuk apa? Dengan orang sakit jiwa seperti mereka? Tak sudi!" Pas dengan bawang yang terakhir, Yona membersihkan sampahnya, menggeser kursi dengan maksud Ia tak ingin duduk di samping pria itu, Yona lantas pergi, memasuki ruang DSB.