
"Tak ada apa-apa, hanya ingin memberi saja, memangnya salah?" Pak Ammar tetap tenang dan tanpa ekspresi, mungkin baginya ini hal yang biasa. Tidak bagi Yona.
"Maksud saya, mengapa secara tiba-tiba pak Ammar memberikan saya sebuah parfum? Apa karna saya bau badan?" Yona tak ingin basa-basi, Ia ingin terus terang. Sebab pesan yang dikirim Pak Ammar sejak awal masuk magang, dua minggu kemarin, yang sangat mengganggu pikirannya. Pesan itu dikirim di grup yang berisikan seluruh anak magang. Dua kali pesan itu dikirimkan dengan jarak waktu satu hari. Cukup panjang yang berisikan, "Selamat malam teman-teman, dimohon untuk membawa pisau saat bekerja, dan jangan lupa untuk sahur agar tidak sakit dan lelah saat bekerja, dan untuk yang sedang sakit, diharapkan untuk beristirahat dan minum obat. Yang terakhir, yang merasa memiliki bau badan berlebih saat berkeringat, tolong untuk menggunakan deodoran."
Cukup jelas pesan tersebut ditujukan untuk siapa, selalu ada saja drama yang dibuat oleh Natasha dan Irma, dan selalu ada alasan agar tidak mendapat bagian yang berat saat bekerja. Bahkan dalam seminggu, mungkin hanya sehari dua hari mereka berpuasa, entah apapun alasannya, sakit gigi, maagh, harus minum obat, diare, muntah, apapun itu yang penting mereka tak puasa dan mendapatkan tugas yang ringan.
Pak Ammar tertawa tanpa henti, lengang sejenak. Sedikit canggung kembali. Pak Ammar menggeleng kepala, menggeser kursinya sedikit miring ke arah Yona yang duduk berjarakkan satu meter darinya.
"Aku tak paham pertanyanmu, mengapa sangat transparan tidak disaring?" Sekali lagi tertawa.
"Maksud saya, jika pesan pak Ammar kirim saat itu dimaksudkan untuk saya, saya intropeksi diri, pak. Tak perlu memberikan saya parfum, dan seharusnya bapak menegur saya sejak hari pertama. Bukankah sejak hari pertama saya selalu menemani bapak?"
"Oh, tidak, tidak. Intinya adalah bukan dirimu yang bau badan melainkan temanmu. Namun saya tidak bisa mengatakannya dengan kau, terlalu merendahkan harga dirinya. Tentangmu? Kau tidak bau badan, justru parfum yang kau gunakan terlalu wangi, menusuk hidungku dan membuat kepalaku pusing, Aku tak kuat dengan aroma parfummu. Apa namanya?" Kini hanya senyum lebar yang terpasang diwajahnya, bak sedang berpikir, mengapa salah tangkap?
"Angel Woman, pemberian tanteku. Jika boleh jujur, sejak Pak Ammar mengirim pesan itu, membuatku berpikir 'Apa mungkin Aku yang bau badan?' sehingga membuat saya memakai parfum lebih banyak lagi. Mungkin itu alasan bapak tak kuat dengan aromanya." Yona menjelaskan dengan polosnya. Pak Ammar justru menepuk dahinya, benar-benar tak habis pikir dengan apa yang dilakukan anak magangnya.
"Justru itu, akhir-akhir ini Saya semakin tak kuat dengan aroma parfummu, terlalu menyengat. Dan untuk temanmu itu, sejak interview di hari pertama Saya telah merasakannya, bahkan para karyawan pun juga berkata pada saya tak hanya satu dua namun hampir semuanya, meminta Saya untuk menegur temanmu, namun bingung harus mengatakan apa."
"Katakan saja, apa masalahnya? Toh memang benar kenyataannya seperti itu, dan ini demi kebaikan kita bersama juga. Siapa yang betah jika memiliki rekan kerja seperti itu?" Kata-kata yang bijak dengan maksud mengompori.
"Aku telah mengatakan padanya sebelum berbincang denganmu, mungkin mereka akan sadar diri, mungkin." Bahkan Pak Ammar pun tak yakin dengan anak magangnya itu.
"Baik, pak. Kalau sudah, apakah saya dapat kembali? Sebab saya mengantuk ingin tidur."
"Ya, tentu. Selamat istirahat. Namun jangan lupa untuk membawa parfum dari Saya."
"Ya, pak. Terimakasih atas parfumnya." Pembicaraan selesai, pintu ruangan tertutup. Kesejukan ruangan ber-AC pun sirna dengan cuaca Ibu Kota yang panas memasuki celah-celah pintu yang terbuka. Lengang sejenak. Berjalan melewati lorong-lorong dengan berbagai macam peralatan memasak. Tiba di dapur utama, kosong, hening, pekerjaan usai sejenak. Satu dua karyawan lain lewat memasang kertas pada dinding. Oh Ibu Kota, dapatkah waktu berjalan cepat? Fisik dan mental sangat terkuras, drama-drama yang dibuat Natasha terus bertambah tanpa henti. Membuat seluruh ruangan berpikir buruk tentangnya. Apakah harus sekeras ini? Apakah harus bertubi-tubi?
Siang yang indah, setidaknya untuk satu jam kedepan tak ada suara teriakan dari Natasha dan tawa Irma yang mengganggu. Penggangu. Tak apa. Kedamaian dalam satu jam, siapa yang tak menginginkannya?
"Ya, Aku baru saja kembali dari ruang Pak Ammar." Terduduk, meletakkan satu dua pasang mukena entah milik siapa untuk dijadikan bantal, mencari posisi yang pas walaupun kaki tak bisa lurus. Tak apa, setidaknya setelah empat jam berdiri, kaki bisa beristirahat.
"Ngapain? Mengapa hanya kamu? Temanmu yang lain tidak dipanggil."
"Entah, mungkin karena Aku yang bermasalah, makanya Pak Ammar hanya memanggilku."
"Menurutku justru kedua temanmu yang sakit, tak penting, lebih baik tidur, Kau tidak lelah?" Mbak Ati meletakkan ponselnya, bersiap untuk tidur.
"Lelah mbak, Aku akan tidur sebentar lagi."
"Baiklah, Aku tidur duluan ya." Dalam sedetik kedua mata pun tertutup, tak lebih dari dua menit sudah tertidur lelap, jelas sekali, pekerjaan yang penuh otot tentunya melelahkan. Tidur sebentar ibarat menemukan berlian di dasar samudra.
"Ya, mbak." Tak ada basa basi, tak butuh waktu lama. Mata terasa berat, kemudian ikut terlelap bersama lima belas karyawan lain diruangan ini. Saling berbagi tempat, terkadang bertukar cerita jika masih ada tenaga sisa. Namun hari ini entah mengapa waktu berjalan sangat lambat, pekerjaan bak tiada hentinya. Terkadang malu untuk mengeluh sebab hanya anak magang, para karyawan di sini lebih banyak merasakan asam garam. Toh dunia ini memang tempatnya capek, jika tidak, ya silahkan menyerah.
Siang yang hening, mari menenangkan diri walaupun hanya sejenak, yang seketika sirna karena suara langkah kaki yang diseret. Ya, siapa lagi? Si biang masalah dengan pesuruhnya itu. Terasa baru lima menit memejamkan mata, tak disangka satu jam terlewati. Sebagian karyawan telah meninggalkan ruangan ini, sebagian tengah solat.
Kepala terasa sangat pening untuk sesaat, dipaksakannya untuk fokus melihat ponsel. Terlambat lima belas menit! Tak masalah, toh karyawan laki-laki juga sering terlambat masuk ke ruang kerja.
Ika dan Zulfa, entah apa yang telah mereka dengar, perlahan tapi pasti mulai menjauhi Yona. Tak ada komunikasi lagi diantara mereka, baiklah, dunia tak akan kiamat jika dimusuhi. Mengapa harus khawatir? Benaknya untuk terus menguatkan diri. Tak dipungkiri rasa sakit itu tetap ada, sakit yang mendalam. Entah manusia macam apa mereka.
Kembali pada pekerjaan, ratusan nasi box mulai dikemas. Kini Yona telah memahami cara kerja di perusahaan ini, terus berlanjut, ratusan nasi box telah siap dan diantar, namun masih ada ratusan nasi box yang harus di kemas lagi dan lagi. Entah sudah kali ke berapa, waktu setelah istirahat digunakan untuk membungkus nasi box dan beberapa tampahan. Pukul 14.00 sisa 20% pekerjaan. Hanya perlu menunggu satu-dua menu yang kurang, yang lain sibuk berbenah pada divisi masing-masing. Sebagian telah bersembunyi di ruang DSB untuk mendapatkan AC.
Sisa dua puluh nasi box yang harus ditutup dan dimasukkan ke dalam plastik, namun karyawan lain telah lepas tangan, wajar saja, tugas mereka telah usai.
"Coba buka lagi, seingatku bagian sana belum diberi sendok." Yona mengingatkan pada Mas Bowo. Ia seorang driver yang sering membantu mengemas makanan. Tubuh tinggi dengan postur tubuh bungkuk dan kulit yang gelap. Yang menjadi ciri khasnya adalah logat bicaranya, sangat asli Ibu Kota.