Black Opium

Black Opium
Jalang



Yona menutup pintu rapat rapat dengan maksud tidak ingin diganggu, hanya ada salah seorang karyawan pria tengah sibuk sendirian menunggu adonan minumannya untuk dingin.


    "Mas, Kau sedang apa?" Yona mendatangi pria itu, bernama Mas Sad, berperawakan bak Pak Ammar, sebagian orang menyebutnya dengan sebutan 'Pak Ammar KW', lucu sekali panggilan kasih sayang yang dibuat oleh orang orang disini.


    "Ini, menunggu agar hingga suhu ruang." Mas Sad sedikit menurunkan tangannya yang sedang bermain ponsel, Ia duduk sendirian di atas kontainer kayu, dengan beberapa kontainer lainnya telah disiapkan untuk adonan minuman yang telah diisikan ke dalam botol.


    "Kau butuh bantuan?" Dengan senang hati Yona menawarkan bantuan, toh pekerjaan yang akan Ia lakukan tidak begitu berat.


    "Aku dapat melakukan ini sendiri, namun jika Kau ingin membantu, kemari ambil kursi untuk duduk." Jawaban hangat yang sangat 'welcome'.


    "Oke, Aku membantu apa?" Digeserkannya kursi yang tidak terlalu berat ke arah depan Mas Sad, duduk diam menunggu adonan minuman itu.


    "Nanti Kau tutup botol itu dengan tutupnya, hingga rapat ya? Kau pernah melakukan ini, bukan?" Tangannya tetap menggeserkan layar ponsel, begitu pula matanya, tetap menatap layar ponsel.


    "Baiklah." Tak ada basa basi, mungkin belum, karyawan ini selalu melawak setiap harinya, toh Ia juga sedang sibuk dengan ponselnya, entah apa yang sedang Ia perhatikan, mungkin menu untuk esok atau perubahan jam lembur, siapa yang tahu?


    "Kau tak apa hanya menutup botol? Aku bisa melakukannya sendiri sebenarnya."


    "Justru itu, Aku mencari pekerjaan yang ringan ringan saja, hehehe. Tak masalah kan, mas?" Tak lupa senyum rayuan di akhir untuk memantapkan keinginannya.


    "Iya, iya -_- Kau dapat melakukannya di sini." Dilanjut dengan wajah sinis yang memang wajahnya sinis, entah sedang dibuat buat atau Ia tak bermaksud seperti itu, mata sipitnya menambah kesan sinis.


Lengang sejenak diruangan ini, karyawan lain sedang melakukan pekerjaanya di ruang luar, entah apa, sesekali terdengar suara Natasha berteriak, sesekali ada suara alat yang dihentakkan, sesekali terdengar suara keresek, sisanya begitu banyak orang berlalu lalang.


    Justru ini yang diinginkan Yona, tak ada drama, hanya berdiam diri sejenak, melelahkan sekali untuk terus menerus berinteraksi walaupun Ia menyukainya. Entah mengapa suara Natasha semakin mengeras tak terus berteriak pada orang orang tanpa henti,  hingga satu detik kemudian Ia memasuki ruang DSB, entah apa tujuannya.


    "Mas, biarkan Aku yang menutup botol itu." Seolah sengaja merebut pekerjaan yang dikerjakan Yona secara terang terangan.


    "Oh ya, ambil kursi dan duduk di sebelahnya." Tak ada penolakan seperti awalnya pada Yona, jawaban yang keluar dari mulut karyawan itu bak seolah sangat setuju, berbanding terbalik. Bahkan antusias terlihat jelas terpampang di wajahnya. Dasar pria.


    "Dimana? Disini?" Dengan sengaja pula duduk mendekati Yona, hanya ada mereka bertiga di ruangan itu, mencoba mengintimidasi Yona dengan nada tingginya dan sifat sesukanya, menaruh kursi dengan kasar tepat disebelah Yona, menariknya sedikit agar tidak terlalu berdekatan, berisik sekali.


    "Sama seperti Yona, tutup saja botol ini dengan tutupnya. Kau tentunya sudah bisa, bukan?"


    "Kau jelas si paling bisa, ampun suhu." Tawa menggema diruangan ini, ramai sekali hanya Yona yang diam sendirian tak ikut berdiskusi. hanya fokus menunggu pemberian botol minuman untuk ditutup.


    "Iya, dong, perempuan itu harus serba bisa, aktif, bukannya pasif diam saja." Entah apa maksud dari kalimat itu, jelas jelas menyerang Yona yang duduk disebelahnya, mengapa harus berteriak? Hanya ada tiga orang di ruangan yang sunyi ini, suara dari luar tentu kedap suara setelah Ia menutup pintunya. Tak bisakah bicara dengan pelan tanpa mengangkat tangan sembari menunjuk nunjuk, bukannya apa apa, hanya saja aroma yang tak sedap itu sangat kuat menembus masker.


Kembali lengang sejenak, sunyi, tak ada jawaban lanjutan dari karyawan yang berada dihadapan Yona. Mereka kembali sibuk mengerjakan tugasnya masing masing. Sekali dua kali terlihat raut wajah karyawan itu bak menahan senyum.


    Satu menit terlewati, masih tak ada pembicaraan yang dimulai, hanya saling diam menatap botol botol dan entah perilaku Natasha yang tentunya berisik tidak bisa diam. Mas Sad masih menahan mulutnya dari memulai pembicaraan, aneh sekali, tak biasanya Ia seperti ini diam begitu saja.


    "Mas, percepat gerakanmu, lama sekali, yang mengisi minuman satu orang, yang menutupnya dua orang, bukankah terlalu banyak orang." Sekali lagi Natasha memulai pembicaraan pada Mas Sad, tak sedikitpun mengajak Yona untuk ikut bergabung pada pembicaraan mereka, ada namun dianggap tak ada, kosong sekali dikebisingan antara mereka.


    "Ini sudah cepat, tanganku hanya dua, sedangkan terdapat empat tangan yang menutup botolnya, jelas sekali aku kalah cepat." Mas Sad membalas dengan senyum manis bak menahan tawa, entah apa yang sedang dipikirkannya, menyebalkan sekali.


    "Lagian kenapa banyak sekali orang yang menutup botol botol ini, ya." Tidak sadar diri, ****** itu yang baru tiba, ****** ini yang ingin ikut ikutan, dan kini ****** ini yang menyalahkan orang lain. Dasar ******.


    "Kau yang mengapa ikut membantu? Jelas jelas aku dan Yona yang akan mengerjakannya, kau tiba dan ingin ikut terlibat, siapa yang salah?" Mas Sad membela, entah siapa yang Ia bela, atau mungkin hanya untuk tetap melanjutkan pembicaraan.


    "Mereka menyuruhku ke sini, salahkan mereka yang menyuruhku ke sini, mengapa harus aku?" Kembali pada nada tinggi dan teriakan yang tak ingin kalah, selalu mengeraskan nada bicara jika disalahkan, dan tangan menunjuk nunjuk yang selalu mengikuti.


    "Siapa suruh kau mau, berarti kau yang salah."


    "Aku kan hanya anak magang, aku hanya menuruti perintah karyawan, bisa bisanya kau menyalahkan aku. Enak saja!" Entah jawaban gurauan atau beneran, nada dan pemilihan kata yang Natasha gunakan tak sedikitpun menunjukkan candaan. Hanya Yona seorang duduk diam mendengarkan pembicaraan mereka yang sekali dua kali menyindirnya, aneh sekali, bukan?


    "Stt... Terserah kau mau jawab apa, bodoamat, aku tak peduli, kau hanya bisa menjawab." Mas Sad kesal, entah sungguhan atau gurauan, dalam dunia kerja keduanya tak bisa dibedakan. Teman atau lawan, tak ada yang tahu, hanya perlu berhati hati.


    "Aku tidak salah mengapa kau menyalahkanku? Aku tidak terima, ya." Terus berlanjut, tak ada hentinya perdebatan antara mereka.


*Suara kursi bergeser* cukup keras untuk menghentikan pembicaraan mereka\, Yona berdiri\, meletakkan botol yang telah Ia tutup\, masih ada puluhan botol yang belum usai\, Yona sudah tak tahan.


    "Aku mau minum." Tak butuh tiga detik untuk meninggalkan ruangan itu, bahkan Yona tak menunggu jawaban dari Mas Sad, Ia tidak kuat lagi, bising sekali.