
Pekerjaan tentang besek-besek tersebut usai bersamaan dengan selesainya nasi box, dengan segera diangkat menuju mobil pick up untuk diantar sampai tujuan. Waktunya berbenah, membersihkan ruang kerja yang telah digunakan. Tak sulit, namun bagian yang paling malas adalah berbenah, sebab tubuh sudah lelah untuk melakukannya. Tak apa, semakin cepat semakin baik, toh tak sulit, hanya mengembalikan alat-alat yang telah digunakan lalu mengelap meja kerja, menyapu lantai dan mengepel. Apa susahnya?
Satu hari usai, tak terlalu melelahkan, atau mungkin tubuh yang sudah beradaptasi dengan lingkungan. Yona meninggalkan ruangan kerja, kurang beberapa menit untuk pulang, Ia ingin merebahkan dirinya di atas kasur dengan AC menyala.
Yona berjalan menuju pintu keluar, tak peduli lagi dengan orang-orang yang masih berada di dalam ruangan, toh mereka juga sedang duduk-duduk saja, sama. Yona duduk untuk melepaskan sepatu, Ia memakai sepatu yang sangat sulit untuk dilepaskan, harus membuka tali satu-persatu. Tak lama Mas Pam menyusul, Dia selalu menjadi yang pertama keluar dari ruang kerja, entah untuk pulang, ataupun istirahat. Seperti biasa, wajah lelah itu selalu ditunjukkan, atau mungkin Ia sedang lelah, siapa yang tahu?
Mas Pam menuju parkiran motor, meraih sesuatu dari motornya, tak tahu apa itu, mungkin jaket, dan menuju ruang istirahat pria, sebelah ruang istirahat wanita.
"Kau kemarin dari mana?" Mas Pam seketika bertanya.
"Dari mana? Maksudnya?" Pertanyaan aneh, tiba-tiba bertanya tidak jelas, mengapa bertanya seperti itu, aneh sekali.
"Kau keluar bersama Edo, bukan?" Tanpa basa-basi lagi.
"Hah? Kau tahu dari mana?" Apakah pria ini mata-mata? Mengapa tidak bertanya sejak tadi? Mengapa baru ditanyakan saat akan pulang? Menyebalkan sekali.
"Jujur saja, Kau pergi berkencan dengan Edo, bukan? Berjalan kaki, romantis sekali. Hahaha." Lantas tertawa, mengapa sangat ingin tahu sekali? Bahkan Mas Pam berhenti sejenak, berdiri di hadapan Yona hanya untuk menanyakan hal seperti itu.
"Apa Kau melihat kami? Tapi dimana? Aku tak melihatmu?" Yona masih tak percaya jika ada yang melihatnya.
"Hahaha, tak perlu mengalihkan pertanyaan, lucu sekali. Kau cocok dengannya." Sembari memegang sesuatu, entah apa itu, mungkin jaket, atau hoodie.
"Aku hanya penasaran, kami berjalan sangat jauh kemarin, namun tak melihatmu, dan secara tiba tiba kau bertanya seperti ini, mengejutkanku." Yona menjelaskan.
"Ternyata Kau berkencan dengan si tampan itu, si tampan dan pemberani. Cocok sekali." Lantas pergi begitu saja memasuki ruang istirahat. Meninggalkan Yona yang tertegun kebingungan, aneh sekali. Untuk beberapa saat yang lalu bisa sangat acuh tak acuh, lalu menjadi penuh pertanyaan seakan akan peduli, dan sekarang? Apa ini? Tak tahu cara menjelaskannya.
Yona termenung, berusaha mengingat kembali lamat lamat, dimana? Karena mereka berjalan sangat jauh bahkan sampai memasuki hutan-hutan, menyebrangi jembatan kayu, dan tak lupa Edo menggoyang-goyangkan jembatan sembari tertawa saat Yona menyebrang. Titik pemberhentian adalah minimarket untuk beristirahat, apa mungkin Mas Pam melihatnya disitu? Namun mengapa tidak menyapa? Aneh sekali.
Tak peduli, Yona pun juga memasuki ruangan istirahat, menyalakan AC, terlihat salah seorang karyawan telah tertidur lelap, hari ini mereka lembur jam tiga pagi, pastinya tubuh mereka sangat lelah, terlebih sedang berpuasa. Karyawan hebat.
Yona merebahkan tubuhnya disamping karyawan itu, Bu Susi, karyawan paling senior di bagian produksi, mungkin dua atau tiga tahun lagi akan pensiun, ada bagian tersendiri tentangnya, biarkan bab ini terfokus pada pria yang aneh itu.
Waktu berjalan sangat cepat jika sedang rebahan bermain ponsel, beberapa karyawan lain datang untuk beristirahat sejenak, beberapa yang lain hanya mengambil tas dan segera pulang, Yona mungkin ingin beristirahat untuk lima belas menit, suhu saat ini panas sekali, tentunya juga akan lebih panas berada di dalam kos dengan atap asbes itu.
Enam puluh detik berlalu tanpa terasa.
Tak mewanti-wanti namun pas secara kebetulan, terlebih juga karena telah banyak karyawan yang berada di ruangan ini, ibu-ibu, membahas keseruan mereka semasa casual memasak, memang menyenangkan, masalahnya, energi Yona telah habis jika harus bersosialisasi kembali. Lantas dengan segera Ia meraih tas dan menuju pintu. Di depan pintu, Yona duduk untuk memasang sepatu, sepatu keamanan dengan rapat, sedikit membutuhkan waktu untuk memasangnya.
Terdengar suara pintu terbuka, diiringi langkahan kaki, Yona menoleh kebelakang dengan maksud tak ingin menghalangi jika sumber suara itu dari ruangan dibelakangnya. Tak ada siapapun, teras depan ruang istirahat pria dan wanita diberi sekat berupa almari loker tempat penyimpanan barang. Yona menduga pasti suara itu dari ruang sebelah.
Langkah kaki yang dingin, seperti sedang memakai sandal, pria itu menuruni satu dari dua anak tangga, berdiri sejenak sembari meregangkan tubuhnya. Yona memandangi tubuh itu, pria itu lagi? Bagaimana bisa keluar disaat yang bersamaan? Mas Pam masih belum tersadar jika Yona berada di sebelahnya, Ia membelakanginya. Dengan tanpa sadar Yona mempercepat ikatan tali sepatunya yang justru malah sedikit mengacaukannya, dan harus melepaskan ikatan itu kembali, memulai dari awal.
Mas Pam memiringkan tubuhnya ke kiri dan kanan, saat menghadap kanan Ia pun menyadari Yona tengah duduk di bawah. Wajah itu datar tanpa ekspresi, bak mengungkapkan 'gadis ini lagi'.
Diulanginya kembali perkataan-perkataan aneh, "Ciee yang kemarin habis keluar dengan Edo." berulang-ulang, "Di kantor tak saling sapa, di luar kantor saling berjumpa." terus-menerus.
"Apasih, mas. Kita hanya teman, salahkah jika keluar bersama?" Rasa kesal mulai tumbuh, Yona memang senang akhirnya dapat teman di kantor ini, namun jika terus menerus seperti ini, siapa yang tidak kesal.
"Tak ada yang salah, yang salah adalah mengapa harus berdua? Bukankah Kau memiliki dua orang teman yang lain?" Jawaban yang keluar seperti tak ada rasa salah, mengapa dengan entengnya Mas Pam memutuskan orang lain boleh atau tidak keluar dengan orang lain?
"Memangnya apakah mereka temanku?" Yona membalas lebih kesal, tatapan mata yang sadis. Menatap dari atas ke bawah dan atas lagi. Mengintimidasi lawan tanpa sadar.
"Wuih mengerikan." Mas Pam seperti ingin menyudahi, padahal Dia yang memulainya. Tanpa ucapan lagi Ia meninggalkan Yona, menuju kendaraan yang terparkir, hanya lima hingga enam langkah didepannya. Dan tanpa sepatah kata lagi Ia melewati Yona, pergi begitu saja.
Apa-apaan ini, tidak jelas. Tanpa sadar pria itu pun mengintimidasi Yona dengan seribu diamnya, membuat otak berpikir dengan gelisah.
'Apakah Aku salah berkata seperti itu?'
'Apakah kalimatku menyakitinya?'
'Mengapa Dia diam saja dan tidak membalasnya?'
'Apakah Dia marah?'
'Mengapa Aku menjadi sangat gelisah dan takut?'
'Akankah Aku menambah jumlah musuh?'
Pertanyaan yang terus menerus terlintas saat menuju perjalanan pulang, aaakhhh, kini Yona yang balik terintimidasi. Mungkin Ia harus belajar pada sang ahli.