
"Mengapa Kau selalu menggunkan masker? Bukankah pandemi telah usai?" Sekali lagi Mas Pam mengajak pembicaraan, ditengah keramaian dan gurauan yang ada, Yona menjadi yang paling diam, tak ada yang mengajaknya berbicara. Hal-hal seperti ini sangat menyentuh hati. Tak ada yang sungguh-sungguh bertanya pada Yona selain tentang pekerjaan.
"Tidak, pandemi belum usai." Yona menjawab tanpa menatap wajah sang penanya.
"Namun, apakah tidak terasa panas? Sebab berada di ruangan ini saja sudah cukup panas?" Mas Pam terus bertanya. Bukankah seharusnya Ia mengerti? Rasa tidak percaya diri ini menghantui Yona sepanjang waktu, jerawat, kulit kusam, berminyak, bertekstur, berpori? Bukankah itu sudah cukup sebagai alasan? Namun sayangnya wajah itu tertutupi masker, tak akan ada yang tahu.
"Ya." Yona menyudahi perbincangan, untuk apa berbagi rasa tak percaya diri? Hanya akan membebani pikiran lebih lanjut. Pekerjaan dilanjutkan. Ada ratusan mendekati ribuan nasi box, tentu membutuhkan waktu yang lama untuk berfokus di suatu bidang saja, meskipun dikerjakan oleh banyak orang. Hari ini, pukul 13.00 setelah istirahat, minggu ke-tiga mendekati lebaran, dirasakannya hidup walau sesaat setelah kematian panjang yang mendalam. Menyedihkan bukan? Hanya karena bermasalah dengan seseorang, depresi menghantui berkepanjangan. Hari ini, terlihat harapan kecil untuk terus bertahan, terimakasih.
Menyedihkan bahwa orang selalu mengutamakan fisik diatas segalanya, ibarat "Lu punya fisik bagus, Lu punya kuasa", jangan berdebat, itulah kenyataan yang ada. Jangan bohongi diri sendiri dan orang lain dengan kalimat "Tapi bagi gue engga, sob." terlalu munafik jika tak ada yang jatuh cinta tentang fisik. Seberapa buruk sifat orang itu, jika memiliki fisik yang bagus, ya akan dipuja-puji. Menyedihkan.
Kembali pada minggu ke-dua.
*
"Apa yang harus kubantu?" Yona mendatangi Mas Dazin yang tengah sibuk mengaduk-aduk wajan dan menambahkan beberapa bumbu dengan tiga kompor tungku menyala. Seperti biasa, pekerjaan telah dimulai sebelum jam masuk, Yona tiba sesuai jam masuk.
"Ambilkan cetakan-cetakan rolade yang ada di atas loyang tersebut, ada di tempat yang paling atas." Mas Dazin menunjuk ke arah ujung. Yona sibuk memakai apron dengan fokus mata ke arah bibir mas Dazin, suara yang begitu lirih dan dengan logat bicara yang berbeda, mungkin bagi sebagian orang perbedaan logat bukanlah masalah, namun dengan orang yang harus mempelajari dua logat sekaligus disaat yang bersamaa, percayalah, sangat menyulitkan. Terlebih logat ibu kota selalu paling berbeda.
Tanpa banyak bertanya lagi, diraihnya cetakan loyang yang berada di rak atas, hampir terjatuh, sebab lantai licin karena air berceceran. Pagi ini, Yona paham Ia salah menggunakan sepatu, sepatu safety yang Ia kenakan menjadi sangat licin jika terkena air. Yona meletakkan cetakan di atas meja kerja.
"Sudah." Dipandangnya pria itu yang tengah sibuk kesana-kemari.
"Olesi bagian dalamnya dengan margarine, gunakan kuas yang ada di sana. Lalu ambil plastik satu kilo gunting menjadi empat, masukkan ke dalam cetakan." Tanpa mencontohkan dan hanya memberi aba-aba. Yona bahkan tak tahu letak kuas yang dimaksud, tak apa, protes hanya akan semakin membuang tenaga di pagi hari.
Dilakukannya perintah yang diberi, beberapa menit berlalu, pekerjaan telah selesai. Menunggu perintah kembali. Namun Mas Dazin entah pergi kemana, selalu saja seperti itu, meninggalkan Yona yang tak tahu harus melakukan apalagi.
Mas Dazin kembali sembari mendorong troli dengan beberapa barang diatasnya, melihat dengan seksama hasil kerja Yona, terlihat berantakan.
"Masukkan adonan daging ini ke dalam cetakan hingga batas tutup, usahakan jangan sampai tumpah, dan letakkan di atas loyang ini saja. Aku yang akan mengukusnya nanti."
"Ya." Sama seperti sebelumnya, tak ada pembicaraan diluar pekerjaan. Sedikit sulit melakukan tugas yang kedua ini, sekali adonan mengenai plastik, akan menempel dan sedikit susah diratakan, beberapa adonan keluar sebab tutup bagian bawa yang kurang kencang, bukan salah Yona, memang cetakannya saja yang tidak rapat. Dihentak-hentakkannya agar udara didalam adonan keluar, dan itu sedikit menjadi masalah baru, karena adonan pun ikut keluar melalui rongga udara, maka proses melakukannya harus cepat. Beberapa menit berlalu, cetakan kosong menyisakan satu, adonan daging telah habis tak tersisa, solep pun diraih untuk mengambil sisa-sisa yang tak terjamah oleh sendok, kini cetakan terakhir telah pas habis.
"Sudah kulakukan, lantas bagaimana cara menyalakan kukusan ini?" Kukusan yang dimaksud bukanlah kukusan biasa dengan kompor dan air, kukusan ini berbentuk seperti lemari dua pintu, dengan tinggi setara dengan pria normal. Bahan bakar utamanya menggunakan gas, dengan beberapa selang dari kukusan yang terpasang ke beberapa sumber. Mudah saja jika kukusan telah menyala, hanya perlu membuka pintu, memasukkan loyang, dan menguncinya. Kunci bagian terakhir macet, menandakan ada sesuatu yang tidak pas.
"Kau masukkan saja ke dalam kukusan, biar Aku yang menyalakannya nanti." Ujar Mas Dazin yang sedang mencicipi masakannya. Kompor pertama berisikan Sambal Goreng Ati, dan kompor-kompor selanjutnya berisi makanan-makanan yang tidak Yona ketahui namanya. Tak ada inisiatif untuk bertanya, tak ada energi untuk bersosialisasi.
"Lantas apa yang harus kulakukan saat ini?" Yona terdiam, mundur satu langkah menjauhi kukusan setelah Mas Dazin melihatnya kesulitan menutup pintu, yang berarti Mas Dazin harus mengecek ulang pekerjaan Yona, menambah beban tugasnya.
"Kau bisa pergi membantu yang lain, pekerjaan yang tersisa tidak terlalu banyak, Aku bisa melakukannya sendiri." Secara halus mengusir gadis yang mungkin merepotkannya. Yona meninggalkan Mas Dazin dan pekerjaannya, melihat setiap divisi yang terlihat sibuk bertempur dengan tugasnya, beberapa telah dibantu oleh anak-anak magang, sehingga Yona tak menarik untuk membantunya. Namun sebagian besar anak magang dari kabupaten sebelah berkumpul di ruang DSB, yang jelas-jelas tak semua mendapat tugas di ruangan tersebut. Padahal orang yang seharusnya mereka bantu terlihat sangat membutuhkan bantuan.
Yona melangkahkan kaki menuju ujung, tempat kesukaanya, dan pekerjaannya tidak terlalu rumit. Menawarkan diri dengan senang hati berharap Ia bisa duduk sembari mengerjakan tugasnya, mungkin mengupas bawang atau memetik tangkai cabai, menyenangkan.
"Mas Nasa, apakah ada yang bisa kubantu?" Yona antusias setiap kali membantu pria didepannya, tak banyak bicara, senang bergurau, santai, dan tak senang berkomentar tentang orang lain. Sangat menenangkan jika harus membantunya. Terlebih lokasinya yang berada di ujung, sedikit jauh dari siapa-siapa.
"Kau sanggup mengaduk ini?" Didepannya ada dua wajan besar, yang mungkin berkali-kali lipat lebih besar dari wajan-wajan yang ada di rumah, bahkan pertama kali Yona melihat ada wajan sebesar ini. Mungkin cukup untuk berendam didalamnya.
"Akan kucoba." Yona sedikit kecewa sebab impiannya hanya duduk mengupas bawang, Ia ingin duduk walau hanya sesaat. Tak apa, ini hanya mengaduk. Apa susahnya?