
Kini Mas Bowo telah memiliki rutinitas baru setiap pagi dan sore. Rela berangkat pagi pagi sekali dari jam kerjanya hanya untuk menyapa, menggoda, dan menarik perhatian gebetan barunya. Juga sama, rela tidak segera pulang saat sore demi melakukan hal yang sama. Mungkin menurutnya itu hal yang romantis, tapi sungguh, itu menjijikan dan rendahan.
Sekali dua kali dalam sehari, Ia mencari Yona, mendekatinya, dan berbincang dengan karyawan yang sedang Yona bantu. Tak butuh waktu seminggu, berita tersebar dengan cepat, menyakitkan sekali. Sekali dua kali pula Mas Bowo menghina Yona dengan kalimat kalimat yang Ia pikir itu lucu. Tidak sama sekali!
Pagi hari, pukul setengah delapan pagi, Natasha, Irma, dan Edo selalu datang telat. Entah berada dimana Ika dan Zulfa, Yona tidak peduli. Karyawan tengah beristirahat setelah lembur pagi pukul satu malam. Sudah menjadi rutinitas untuk selalu lembur malam. Tidak rutin, namun dalam sebulan bisa di hitung dengan jari kapan waktu tidak lemburnya, sisanya di luar jari? Selalu lembur.
Seperti biasa, sembari menunggu arahan dari karyawan yang tengah beristirahat atau tidur, Yona duduk di ruang DSB, dengan AC yang terus menyala, cukup sejuk saat tak ada orang. Memberikan ketenangan dalam menonton drama korea sejenak sebelum Edo tiba, ditambah Irma dan Natasha, selalu berisik bahkan saat baru tiba. Selalu ada drama. Namun untuk saat ini, biarkan Yona menikmati ketenangan ini, walau hanya sesaat, tak apa, Ia akan menghargai setiap detiknya sembari menonton oppa kesayangannya.
Suara nyanyian menggema ke seluruh ruangan, tak perlu menduga, Ia paham itu suara siapa. Berjalan berkeliling sembari melihat satu per satu ruangan. Dan tentunya tak lupa ruang DSB, setelah melihat dengan jelas Yona tengah duduk bermain ponsel dari balik pintu kaca transparan.
"Hayo, sedang apa Kau di sini?" Mas Bowo membuka pintu, suara berisik, Ia memaksakan pintu terbuka sangat lebar.
"Hm." Tak ada jawaban lain, Yona tahu pria seperti apa Mas Bowo, semakin diladenin akan semakin tak sadar diri, berpikir lawan jenisnya akan menyukainya.
"Loh, kok sendirian?" Tubuh tinggi bungkuk dengan perut buncit itu menutupi jalan.
Tak ada jawaban lagi, hanya Yona yang sesekali mengarahkan pandangannya pada pria yang mengajaknya bicara, lantas melanjutkan kegiatan menonton drama kesukaannya.
"Korea, Korea, dasar perempuan senangnya dengan drama Korea." Mas Bowo berusaha sekali lagi untuk mendapatkan perhatian Yona. Mungkin bisa saja jika Yona menjawab pertanyaan itu, yang ada justru hanya membuat Mas Bowo semakin mengejar-ngejarnya dan tidak pergi meninggalkan ruangan ini.
"Kok masnya dicuekin begitu saja?" "Cuek banget kayak artis" "Dek, Aku sedang berbicara padamu." "Ternyata cewe jika telah menonton drama Korea benar benar cuek pada yang lain, ya." "Dasar perempuan." "Duduk duduk saja, tambah gendut nanti." "Udah makan belum, dek?" "Apa kita beli makan dulu, ya?" "Dek, diam saja apa bisu?" "Eh, gajadi, jangan beli makan, nanti adek tambah besar badannya." Selalu ada hinaan, namun tetap melanjutkan usahanya untuk mendekati Yona. Dasar pria bermulut lemes. 11 12 dengan Natasha.
Kini tak sedikitpun Yona menggeser pandangannya, tetap terfokus pada ponsel sembari membesarkan volumenya. Tak menghiraukan sedikitpun ucapan ucapan Mas Bowo walaupun hinaannya masuk ke hati. Hanya hinaan yang masuk ke hati, sisanya tidak ada. Dan hanya rasa jijik pada pria itu.
Mas Bowo akhirnya menyerah, meninggalkan Yona tanpa menutup pintu ruang DSB, yang kini terbuka begitu saja. Tak berselang lama kini Edo tiba, datang menghampiri Yona hanya untuk duduk disampingnya, akhir akhir ini selalu begitu. Sayangnya, rasa peduli terhadap teman telah hilang dari diri Yona, tak ada sapaan, hanya diam saja fokus pada ponselnya masing masing, tak peduli apapun. Sekali dua kali Edo bertanya namun jawaban yang didapat hanya sepatah dua kata.
"Yon, Kau telah tiba daritadi? Kemana yang lainnya?" Sambil melemparkan celemek putih yang selalu Ia bawa pulang.
"La terus anak magang lain belum tiba?"
"Aku tak tahu." Dengan nada datar seakan tak peduli pada lawan bicaranya. Edo menyudahi pembicaraan, Ia tahu Yona sedang kesal padanya sejak beberapa hari terakhir. Hingga Ia diam dan duduk bermain ponsel sama seperti Yona. Tak peduli apapun, pagi ini, mood Edo telah rusak karena Yona. Sekali lagi, rasa sakit masih ada, dan akan selamanya membekas.
Cukup lama mereka menunggu, suara hening, entah berada dimana Irma dan Natasha. Tiga puluh menit kemudian, satu persatu karyawan mulai kembali, namun Yona masih menunggu karyawan yang Ia bantu minggu ini, wajah baru bangun itu itu terlihat jelas. Sepuluh menit tak kunjung datang, Yona mengambil satu plastik besar untuk diisikan bawang putih, daripada menganggur, benaknya.
Jalan melewati lorong besar dengan sebagian pekerja yang telah memulai pekerjaan, membaca tulisan tulisan yang tak Yona pahami, tak banyak tanya, Yona hanya berjalan hingga ujung dan duduk di tempat Ia biasa mengupas bawang. Sendirian, meninggalkan Edo yang sedang duduk sendirian di ruang DSB.
Satu plastik berisikan bawang itu cukup membuat Yona sibuk selama beberapa menit kedepan, toh hampir seluruh divisi membutuhkan bawang putih, berapapun jumlah yang dikupas pasti akan habis terpakai.
"Biarkan Aku membantu." Edo seketika datang dengan ekspresi wajah datar, jelas sekali Ia masih kesal pada Yona.
"Hm." Yona tak menjawab lain, hanya menggeser tempat duduknya untuk memberikan ruang pada Edo dan memberikan sebagian bawang padanya.
"Ini semua?" Edo mencoba keberuntungannya lagi mengajak Yona berdiskusi.
"Iya."
"Disuruh siapa mengupas seluruh bawang ini?" Edo antusias mengajaknya berbicara, tangan kidalnya sudah mulai bekerja mengupasi bawang. Untuk setiap satu bawang yang telah Edo kupas, Yona telah mengupas setidaknya dua hingga tiga bawang.
"Tak ada." Tak ada kontak mata, tak ada nada, tak ada respon gerak tubuh.
Edo menyerah kembali, tak melanjutkan pembicaraan, suasanya hening kembali hingga salah seorang karyawan menyalakan musik dengan keras hingga terdengar ke seluruh ruangan. Kembali canggung. Tak ada yang menyangka mereka dulu pernah sedekat apa sebagai sahabat, tapi masa lalu hanyalah masa lalu, keadaan saat ini sangat berbeda, dan Yona sendirian dihantam habis habisan oleh dunia.