Black Opium

Black Opium
Awalnya Sudah Berakhir



Mungkin bagi Yona permasalahan telah usai, atau mungkin tak akan ada kelanjutan dari apa yang terjadi diantara mereka. Namun, kejadian sekecil itu akan menghantui Yona hingga tiga bulan selanjutnya. Menghancurkan mental, menjatuhkan harga diri. Gadis itu, kau sakit, mengapa tidak pergi pada psikolog? Kau yang sakit, mengapa harus Yona yang menderita?


    Esok paginya, masih di kota yang sama dengan tempat mereka bersekolah, hari ini adalah hari terakhir mereka melakukan program magang. Entah mengapa hari terakhir terasa sangat bersemangat, Yona bahkan datang 45 menit lebih awal demi bisa menikmati tugas terakhirnya dengan leluasa. Pukul 07.00 Ia telah menyelesaikan seluruh persiapan di divisinya sebelum resto itu buka, renjana yang tak ingin diulang kembali. Lingkungan yang menyenangkan, kebebasan melakukan tugas sesuai SOP, tak ada yang saling mengadu, canda gurauan yang menyenangkan, sungguh momen-momen harsa.


    Semua kegembiraan hati seketika sirna ketika Natasha tiba, Ia selalu tiba satu menit sebelum jam masuk, seluruh karyawan telah menegurnya, dan selalu batu kepalanya. Tak ada yang ditutupi dalam kisah ini, semua berdasarkan fakta, dan pendapat banyak orang, tidak ada yang main-main.


    "Klotak, klotak, klotak, klotak, klotak,......." Derapan sepatu vantovel yang tak terpasang dengan benar selalu membuat risak. Teriakan sudah dimulai ketika gadis itu memasuki pintu dapur, entah apa yang dipermasalahkannya, suara mesin bahkan kalah dengan suaranya. Terlebih para karyawan yang usil pun juga menggoda gadis itu. Kebisingan akan dimulai tanpa henti, bahkan dihari terakhir ini. Menyedihkan.


    "Do, bagaimana kelanjutan yang semalam?" Yona mendekati Edo yang tengah sibuk berkutik dengan buah-buahan, dalam sebulan terakhir, Ia mendapat bagian divisi Salad, sedangkan Yona memegang Bar. Terlebih karena Divisi Yona dan Natasha berdekatan, tak ada yang tahan dengan suara bising itu, maka Yona memutuskan menjauh. Walaupun di dapur sekecil ini, semuanya terdengar.


    "Entah, Natasha memutuskan untuk membeli di RM ABJ." Edo menjawab tanpa melihat lawan bicaranya itu, tetap bergelut memotong buah-buahan dengan tangan kidalnya itu.


    "Benarkah? Bukankah itu sangat mahal?"


    "Itu semua keinginan temanmu itu, Aku kalah suara dengannya."


    "Dia bukan temanku lagi, aku hanya bertahan untuk berteman dengannya selama ini, aku tak ingin menghancurkan momen indah masa magang ini dengan bermusuhan, tidak, tidak akan."


    "Kau seorang pria, jadilah pria." Pembicaraan terhenti karena banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Hari ini hari libur, resto akan sangat ramai, sehingga harus mempersiapkan banyak hal.


    Natasha memasang wajah kesal setiap kali berpapasan dengan Yona, dan selalu mengeluarkan kata-kata sindiran dengan teriakan. Tak bisakah Ia berbicara dengan tenang? Mengapa harus selalu berteriak. Sungguh tak beradab. Baiklah, hari terakhir magang berjalan sedikit menyebalkan karena perilaku gadis aneh itu, merusak segala rencana yang sudah dibuat. Tak apa, setidaknya kami diberikan pizza secara cuma-cuma.


    "Kita diberi jatah dua pizza reguler dengan toping bebas. Kau bersama Natasha, dan Aku dengan Ugik." Ugik, teman lain yang sejak awal belum diceritakan, tak ada sesuatu yang menonjol, Ia sangat tak acuh selagi orang lain tak menganggunya. Ugik pria yang baik, ramah, walau terkadang mudah marah, tapi Ia selalu tak ingin mengambil pusing pada hal-hal sepele. Itu mengapa Yona ingin memakan pizza bersamanya.


    "Aku ingin pizza monsta X, bagaimana denganmu?" Ugik menawarkan idenya.


    "Kau lebih lama berada di divisi yang berkaitan dengan pizza, aku sadrah padamu." Yona tak ingin memperumit, Ia paham betul karakter Ugik, tak ada yang harus dipermasalahkan. Mereka berlanjut mendiskusikan minuman yang akan dipilih, tak ingin ikut campur urusan Natasha dan Edo, tak penting, hanya akan menambah beban pikiran dan rasa sakit hati. Wanita yang tidak tahu malu, bahkan Ia berteriak didepan banyak pelanggan.


    "Gik, apakah aku beraroma tak sedap?" Yona memulai pembicaraan disaat kedua temannya yang lain masih bergelut memilih toping pizza, entahlah, terdengar sangat bising, suara gadis itu lebih mendominasi. Yona dan Ugik telah siap duduk di meja makan menikmati detik-detik terakhir hari mereka sembari bermain ponsel.


    "Tentu tidak, mengapa kau bertanya seperti itu?' Ugik paham betul ajun yang dikatakan Yona.


    "Tapi aku mencium aroma tak sedap, dan itu selalu disekelilingku, jangan berbohong. Katakan yang sebenarnya" Sungguh, aroma itu ada dimanapun Yona berada.


    "Kau ingin tahu yang sebenarnya? Temanmu lah yang beraroma tidak sedap itu, sungguh, seluruh karyawan mengatakan hal itu padaku, jangan salahkan dirimu, kau sangat wangi."


    "Ya, jangan berbohong padaku, kau tentu juga mengetahuinya, kau hanya takut jika kau salah bicara." Pria yang tegas, jujur, dan tak berbasa-basi.


    "Tentu, aku tak ingin menyakitinya. Tapi entahlah, dia pandai memanipulasi sehingga seolah-olah orang lain yang bersalah, aku bahkan tak tahu apa yang ada di dalam pikirannya. Gadis yang malang."


    "Jika kau terus memiliki sifat seperti itu, kau akan kalah. Dunia tak akan lunak padamu hanya jika kau lunak pada dunia, tidak, bukan seperti itu cara sistem ini bekerja. Pelajarilah itu." Ugik bahkan tak berkedip sedikitpun. Mungkin Ia benar, entahlah, menghadapi satu sumber masalah saja sudah memusingkan, syukur-syukur hari ini adalah hari terakhir, setelah ini semuanya akan kembali seperti biasa. Atau mungkin lebih buruk.


    "Kau benar. Atau mungkin temanmu membutuhkan bantuan?"


    "Kau tidak bisa selalu membantu orang lain, Yona. Bantulah dirimu sendiri, biarkan orang lain sembuh dengan caranya. Kasihanilah dirimu." Memang benar yang diucapkan pria berkumis tipis itu, Mengapa harus mengasihani orang yang tidak punya rasa kasihan pada orang lain? Mengapa harus menyakiti diri sendiri dengan berkorban untuk orang lain? Pembicaraan berakhir karena suara tanda-tanda kedua teman yang lain akan datang, Natasha terus bersikap tak acuh pada Yona dan Ugik, gadis pembenci.


    Makanan pun tiba, Yona tak peduli dengan sikap Natasha yang penuh cari perhatian, teriakan, dan makian. Ini harus usai, tak ada lagi toleransi.


    "Kalian telah melayani perusahaan ini selama tiga bulan, kini tiba saatnya saya melayani kalian. Makanlah." Manager yang duduk disamping Ugik menuangkan minuman ke dalam gelas kami.


    "Mengapa tidak makan bersama saja?" Edo merasa sungkan.


    "Tak apa, kalian akan pergi, sudah seharusnya kalian diistimewakan. Jangan khawatir." Seraya memberi senyum ramah. Kami semua bersedih, sangat. Harus dengan alasan apalagi untuk kembali kesini? Karyawan-karyawan yang berbaik hati, ini yang terbaik, menurut Yona. Terakhir, mereka berfoto bersama dengan para karyawan, menyedihkan, tak apa, akan selalu ada cara untuk bertemu, atau mungkin tidak.


    Ugik dan Natasha pulang lebih dulu, seperti biasanya, tidak ada hubungan yang kuat antara mereka dan para karyawan. Atau mungkin Yona yang terlalu membanggakan diri? Entah, Ia tak peduli lagi. Ini telah berakhir, semua akan kembali normal. Edo dan Yona berbincang di tempat istirahat, cuaca seketika mendung, suasana yang tepat untuk bercerita. Mereka bercerita tentang perasaan mereka selama di tempat ini, bahagia, sedih, kecewa, puas, takut, bangga, semua menjadi satu. Seketika hujan turun dengan deras, tak terkejut, akhir-akhir ini selalu seperti itu. Menjadi alasan Edo dan Yona untuk tinggal lebih lama.


*


Renjana            : Rindu


Harsa                : Kegembiraan


Risak                 : Mengusik atau mengganggu


Derap                : Bunyi kaki orang berjalan cepat, derap :  langkah


Sadrah              : Berserah, pasrah


Ajun                   : Maksud