
*
Kembali pada minggu ke tiga.
Jika bisa dilakukan, Yona memilih selamanya menutupi seluruh tubuhnya, entahlah, hanya ada rasa tidak percaya diri atas segalanya, wajah, kulit, tubuh, otak, segalanya. Memang pengap harus terus menutupi separuh wajahnya dengan masker, berada diruangan yang panas dengan bergelut pada hal-hal panas seperti kompor, oven, dan kukusan. Namun ada harga yang terbayarkan, setidaknya orang-orang tak akan mengomentari wajah Yona, biarkan orang-orang terus mengomentari fisik saja, tak apa, tak ingin menambah beban pikiran, biarkan saja tertutupi.
Mbak Ati dan Mbak Rani bergurau bak merencanakan sesuatu untuk pergi kemana, Mas Pam dan salah seorang karyawan pria yang lain sibuk mencetak nasi, Yona tetap fokus membungkus nasi, lama-lama tangannya menjadi fasih walaupun terkadang sesekali melakukan kesalahan kecil, tak sulit, hanya perlu melakukannya minimal dua puluh kali dan tangan perlahan terbiasa. Kecepatan tangan Yona dan kedua karyawan wanita itu tak beda jauh, namun permasalahannya, Yona masih harus fokus melihat nasi-nasi yang dibungkusnya, sedangkan Mbak Ati dan Mbak Rani bisa melakukannya tanpa melihat sekalipun, mengesankan.
"Kalian tidak adakah yang berniat membantuku, salah satu saja." Seketika Pak Manajer menghentikan pembicaraan, membuat hening seketika. Untuk sepuluh detik tak ada yang menjawabnya, hanya menatap lamat-lamat Pak Manajer yang berada didepan mereka, saling berhadapan.
Dua puluh detik, tak ada jawaban yang keluar dari rekan kerjanya, mengapa? Mengherankan, Pak Manajer harus mengurus puluhan besek sendirian, tak akan sulit membantunya. Namun tak ada yang mengajukan diri untuk membantu, heran.
"Aku ingin membantu." Yona menawarkan diri. Terheran-heran pada orang-orang yang berada di sampingnya, tak ada yang ingin membantu. Mengapa?
"Kau ingin membantu apa?" Pak Manajer dengan wajah manis ramah senyum itu menjawab, jelas-jelas banyak sekali yang dapat Ia suruh, mengapa harus bertanya balik?
"Membantu yang bapak kerjakan."
"Baiklah, kalau begitu, sini." Wajah itu terlihat senang, namun memang seperti itu wajahnya. Yona pergi menuju Pak Manajer, sebenarnya berada di hadapannya, namun terdapat meja kerja dan tembok yang membatasi, sehingga Ia harus putar balik. Tak jauh, hanya membutuhkan waktu delapan detik untuk tiba di samping Pak Manajer.
"Aku membantu apa?" Kata-kata yang selalu diucapkan.
"Kau pernah melakukan ini?" Pak Manajer antusias bertanya.
"Melakukan apa?" Yona bingung dengan kata 'ini' terlihat banyak sekali yang harus dilakukan dan Pak Manajer hanya berkata 'ini'?
"Seperti ini." Tangan itu mengambil beberapa parsley basah yang tengah direndam, dikebak-kebakkannya agar air yang menyangkut segera turun, dengan hati-hati diletakkan ke sela-sela ayam di dalam besek, ditatanya dengan rapi dan teliti agar terlihat menarik, wow, kreatif, terlihat menggiurkan. Tak lupa pula beberapa potongan timun dan wortel yang telah diukir menjadi bentuk bunga, indah sekali. Dalam sekejap hidangan terlihat menjadi penuh dan cantik, perpaduan warna cokelat dari ayam goreng, hijau tua dari daun parsley atau peterseli, hijau muda dari timun, dan oranye dari wortel. Ditambah merah gelap dari sambal. Tahan, puasa. Terakhir, taburan laos yang telah digoreng membuat kesan penuh dan banyak, wow.
"Kalau begitu, lakukanlah. Saya akan membantu sebelah sana." Entah dimana maksud dari kata 'sana' yang pasti tak jauh-jauh dari sini. Lalu pergi begitu saja.
Pertama kali sangat sulit memasukkan daun parsley ke sela-sela ayam, takut tak rapi, takut mengacaukan, takut tak sesuai, takut kelebihan, takut kurang, banyak takutnya. Ingin bertanya namun juga takut, takut banyak tanya dan takut tak paham. Wah, memang, sungguh.
Apapun yang terjadi, Yona tetap melakukan sesuai yang telah dicontohkan pada dua puluh besek lainnya, entah jika tidak rapi atau salah penempatan, urusan belakangan, yang penting Ia melakukan sama persis sesuai contoh yang ada. Cukup lama, walaupun enteng, namun benar-benar membutuhkan ketelitian dan kesabaran. Bahkan para karyawan yang sedang mencetak dan membungkus nasi didepan Yona telah usai, entah apa pekerjaan yang mereka lakukan lagi, tak terlihat pandangan mata. Mungkin berada di ruang DSB. Tak peduli, yang difokuskan saat ini adalah melakukan tugas yang Ia miliki dengan cepat, namun masalahnya, jam terbang juga mempengaruhi.
Pak Manajer entah berada dimana, kesana-kemari memastikan produk dengan baik dan tanpa kesalahan, pria yang bertanggungjawab. Pak Manajer itu bernama Pak Ammar, salah satu pria terbaik yang pernah ada. Terbaik dalam segala hal, bukan hanya tentang memasak. Mengesankan. Pria yang tak pernah menganggap dirinya lebih hebat dari orang lain walaupun Ia pria yang hebat dan menjadi pemimpin dari jantung perusahaan. Tak pernah merendahkan orang lain bahkan dengan kata-kata. Selalu menempatkan dirinya di posisi orang lain, walaupun Ia mungkin juga kesulitan. Tak pernah sedikitpun keluhan yang keluar dari mulutnya, bagaimana bisa? Tak banyak menuntut ataupun bicara, jika orang lain tak ingin melakukannya, maka Ia akan melakukannya, dengan mudah dan senang hati. Bahkan di bagian produksi, Ia merupakan satu-satunya orang yang selalu mengajak komunikasi Yona menggunakan bahasa Inggris, mengesankan. Terakhir, selalu tersenyum, entah apa yang ada didalam pikirannya, namun Ia selalu tersenyum apapun yang terjadi dan dengan siapapun. Pria terbaik!
Beberapa menit berlalu, entahlah, tak sempat menghitung sebab fokus bekerja. Pekerjaan ringan yang butuh ketelitian. Di perhatikannya dengan seksama setiap satu besek, tak boleh ada yang tertinggal atau lupa. Para karyawan yang sedang membungkus nasi didepan Yona entah pergi kemana, tak terlihat sejauh mata memandang, mungkin berada di arah sebaliknya, namun Yona enggan memutar balikkan tubuhnya hanya demi melihat mereka, untuk apa? Selesai sudah pekerjaan. Yona menghampiri Pak Ammar yang juga sedang menutup nasi box. Tak jauh, hanya berjarak lima meter darinya namun berada di meja kerja yang berbeda.
"Sudah pak, silahkan diperiksa."
"Eh, iya. Sebentar." Walapun mengucapkan kata itu, dengan segera Pak Ammar menghentikan kegiatannya dan berjalan memeriksa besek-besek di meja seberang.
"Bagaimana, pak? Apakah ada yang kurang?"
"Tidak ada, bagus. Tutup beseknya dengan penutup ini." Pak Ammar seraya memberi contoh, Ia sedikit kesulitan.
"Lantas Saya harus mengambil dimana kekurangannya?" Yona memilih untuk bertanya sekarang, Ia malas jika harus kesana-kemari hanya untuk bertanya.
"Gudang depan, rak bagian kanan." Sederhana, namun jelas.
"Oke, pak. Terimakasih." Yona segera mengambil kekurangan penutup besek, melewati kumpulan orang-orang yang sedang menyelesaikan nasi box, ada yang sedang menutup nasi box, memberi label atau kartu ucapan, ada pula yang masih mengisi makanan, bahkan ada juga yang sedang membungkusinya dengan kantong plastik. Semua bekerja dengan cepat saling bahu-membahu, satu-dua terlihat emosi, satu-dua senang, sisanya hanya bekerja. Ia telah menghitung jumlah tutup yang kurang, sehingga mengambilnya pun juga pas, tak ingin bolak-balik untuk mengembalikan.
Bagian tersulit adalah menutup, harus sangat rapat agar produk baik-baik saja, namun masalahnya, penutupnya terlalu rapat sehingga susah untuk ditutup. Bahkan memakan waktu lebih lama daripada menghiasnya dengan daun parsley dan teman-temannya untuk menutup satu buah besek. Wah. PR banget. PR untuk segera mengetahui trik menutup dengan cepat, dan membiasakan diri.