Black Opium

Black Opium
Menguras Mental



Berada di tanah rantau dengan lingkungan kerja baru yang berbeda jauh dari dunia sekolah, ditambah lingkungan pertemanan yang bermasalah sangat menguras mental. Hari demi hari dilalui dengan berusaha untuk tidak menahan tangis, orang tidak akan sadar jika perilakunya merundung orang lain. Perlahan tapi pasti, Natasha dan Irma mulai memperkuat pengaruhnya untuk menghasuk anak magang dari kabupaten sebelah. Seminggu pertama masuk kerja magang, kedua teman perempuan baru Yona yang juga merupakan anak magang cukup dekat dan sesekali berbagi cerita. Hingga pada minggu ke tiga, mereka dengan terang-terangan mulai menjauhi Yona. Entah apa yang salah.


    Jika orang tersebut telah benci, mau sebaik apapun orang lain, dia akan tetap membencinya. Fakta yang menyakitkan.


Ruang istirahat lengang, beberapa karyawan belum usai dengan pekerjaanya, hanya ada Yona, Zulfa, dan Ika rekan magang dari kabupaten sebelah. Minggu ke tiga, semua sedikit berbeda setelah Yona kembali dari rumah neneknya. Kini Ia sendirian lagi, tak ada harapan untuk memiliki teman baru.


    "Hey, Zul. Kau ingin membeli sesuatu untuk makan siang?" Yona memulai percakapan setelah kecanggungan yang aneh, mereka tampak berbisik satu sama lain, tak menghiraukan pertanyaan Yona.


    "Nanti." Hanya keluar satu kata dari mulut Zulfa, bahkan Ia tak melihat tatapan Yona dan terus menatap layar ponselnya. Bahkan kini jarak duduk mereka sangat berjauhan. Tanpa sadar, Zulfa melakukan penghinaan besar dengan tidak menghiraukan Yona, tidak beretika!


    "Aku mau membeli roti dan minuman, apa Kau ingin ikut?" Yona dengan rendah hati bertanya lagi, harap harap akan berubah pikiran dan hatinya.


    "Engga." Satu kata lagi yang keluar dari mulut yang sama, tak melihat, tak menghiraukan pula. Mengintimidasi secara tidak langsung, menguras mental dan membuat overthinking. Ika sibuk menatap dirinya di kaca, sesekali menatap Yona dan Zulfa sembari berupura pura memperbaiki hijabnya. Bak seolah-olah telah direncanakan, mereka kompak menjauhi Yona.


    "Atau titip? Kau ingin menitip sesuatu?" Rendah sekali harga dirimu Yona, terus mempedulikan orang yang benar-benar tak menghargainya.


    "Engga."


    "Kenapa?" Yona bingung, biasanya selalu keluar bersama untuk membeli makanan, mengapa ini tidak?


    "Gapapa." Menyebalkan sekali, tak bisa menghargai orang lain, entah apa yang telah dikatakan Irma dan Natasha, kejam sekali hingga menghasut kedua rekan lainnya. Hari ini dua orang telah sejalan dengan mereka, mungkin besok-besok akan lebih parah.


    Yona tak ingin merayu dan berbasa basi lagi, mungkin telah menjadi nasibnya untuk hancur di tanah orang, mirisnya, esok lusa mereka tak akan ingat hal ini, namun kenangan pahit ini akan terus membekas di hati.


    Siang hari sangat panas, beberapa karyawan pria tengah makan di kantin depan, sesekali berteriak karena kalah main slot, aroma rokok sangat tercium hingga jalan seberang, sekali dua kali berteriak karena tak sesuai yang mereka harapkan. Makanan di sana cukup ramah di kantong, namun permasalahannya adalah, Mas Bowo, seorang pria yang menyebalkan. Bab selanjutnya akan membahas tentang pria tersebut, untuk bab ini, dibuat khusus untuk Ika dan Zulfa. Mirisnya, setelah satu tahun program magang ini selesai, mereka bahkan tak ingat dengan tindakan yang telah mereka lakukan. Perundung tak akan sadar jika dirinya pernah merundung. Menyedihkan.


    Beberapa suara memanggil Yona, mengajak untuk makan bersama.


    "Yon, sini, akan ku traktir dirimu."


    "Kau ingin kemana?"


    "Panas-panas jangan pergi terlalu jauh."


    Semua ucapan itu hanya dibalas dengan satu kata, "Ya." tak lebih tak kurang. Ibu Kota sanggup membakar kulit dalam waktu sekejap jika membalas ucapan-ucapan para karyawan itu. Toh akan berjumpa lagi saat bekerja.


    Jarak minimarket dengan kantor tidak terlalu jauh, hanya saja jalanan yang menggunung ke atas cukup menguras energi, hanya lima puluh meter, namun membuat tubuh berkeringat. Hari ini Yona sedang tak berpuasa, seingatnya, Zulfa dan Ika pun juga sedang tidak berpuasa. Namun jawaban yang diberikan oleh mereka sangat menggores hati, atau mungkin mereka sedang sensi, atau mungkin sedang tidak ingin, entahlah, yang terpenting Yona sadar, mereka memusuhinya.


    Ibarat ada Dajjal, dan ada Natasha. Bisa jadi Natasha yang menang, soal berpura-pura.


    Terlalu memikirkan perilaku Ika dan Zulfa menambah beban batin yang ada, baiklah, kini Yona tak punya teman, Ia hanya sendirian, gadis yang malang. Tak sampai lima menit pun Yona telah berada di ruang istirahat, Ia tak ingin kehilangan kesempatan untuk tidur walaupun hanya sebentar, tubuhnya lelah dan mengantuk. Ia pun tidur di belakang beralaskan lantai selepas makan sebuah roti yang biasa Ia beli.


    Sejak tadi semuanya telah berubah, yang biasanya mereka sering berbincang bersama kini Ika dan Zulfa lebih akrab bersama Irma dan Natasha. Edo? Jangan ditanya, Dia selalu pandai meraih hati orang lain dengan gurauan dan celotehannya itu, dan tentu Ia lebih memilih berteman dengan mereka dibanding Yona. Kata-kata yang selalu keluar dari mulutnya ialah, "Mungkin Kau harus intropeksi dirimu dan pahami letak kesalahanmu." terus menerus tiap kali Yona curhat padanya. Aneh, mengapa tidak Dia saja yang memberitahu dimana letak kurangnya? Atau mereka yang memang tak menyukainya. Jelas sekali.


    Siang yang indah, bersama dengan tiga karyawan wanita lainnya, dua anak magang dari kabupaten sebelah, dan sepuluh ibu-ibu casual, berbaring dan tidur di ruangan ber AC dengan ukuran 3 x 3 meter. Tak peduli saling berdesakan, semua tidur dengan pulas.


    Pekerjaan usai pukul 14.00, sedangkan jam kerja usai tiga puluh menit lagi, satu per satu dari anak magang yang baru dipanggil oleh Pak Ammar, manajer dari bagian produksi. Namun Irma dan Natasha, bak lem yang saling mengikat, mereka selalu bersama. Entah apa yang mereka bicarakan, bahkan suara Natasha menembus ruangan yang hampir kedap suara itu. Kini saatnya Yona yang memasuki ruangan tersebut setelah Edo keluar.


    "Selamat siang, pak. Ada apa ya, pak?" Yona tak ingin berbasa basi.


    "Oh, ya. Silahkan masuk." Pak Ammar fokus pada ponselnya. Membuat keheningan untuk beberapa lama, sesekali Ia tersenyum melihat konten lucu pada ponselnya. Hal ini wajar terjadi, sebab adalah permainan kekuatan untuk membuat orang lain menunggu. Secara tak langsung mempertegas posisinya sebagai pemimpin. Cara klasik kuno yang masih berjaya digunakan. Namun tak efisien dan tidak menghargai orang lain.


    Satu menit...


    Dua menit...


    Tiga menit... Terasa lama ketika harus berada di ruangan yang sama dengan orang lain dan menunggunya bermain ponsel.


    "Ya, jadi gini. Apa tugasmu telah usai?" Entah menit keberapa, Pak Ammar menyudahi bermain ponselnya.


    "Sudah." Tak ada basa basi.


    "Hari ini Kau membantu siapa?" Pak Ammar bak berusaha memecah kecanggungan.


    "Divisi Sup."


    "Kau baik-baik saja hari ini? Dapat tidur dengan nyenyak? Atau Kau merindukan keluargamu?" Pertanyaan yang sangat spesifik.


    "Alhamdulillah baik, pak. Hal yang normal jika merindukan keluarga." Yona membalasnya tanpa pikir panjang.


    "Jadi, Ini adalah parfum, dapat digunakan di kulit dan pakaian, kuberikan ini untukmu." Pak Ammar secara cuma-cuma memberikan parfum miliknya.


    "Ha? Kenapa, pak?" Mengapa secara tiba-tiba seorang manajer memberi parfum pada anak magang, apa tujuan dari pemberian ini?