
Dan benar, setelah pintu tertutup, langkah kaki menjadi lebih ringan tiada beban. Hanya ada api semangat yang membara. Lorong gelap terasa sangat terang bak disoraki supporter, sebagian karyawan telah pulang, sebagian masih beristirahat. 'Hari ini dan seterusnya akan lebih baik, mulai saat ini tak akan kubiarkan orang lain menjatuhkan diriku.' Ditanamkan kalimat itu dalam diri Yona, terus menerus dilafalkan dalam hati.
"Loh, Mbak Ati belum pulang?" Memasuki ruang istirahat untuk mengambil tas.
"Belum, Aku telah mencarimu ke seluruh ruangan, Kau habis dari mana? Aku menunggumu." Mbak Ati sedang merebahkan tubuhnya di atas kasur sembari bermain ponsel yang terhubung dengan pengisi daya.
"Aku berada di ruangan Pak Ammar sejak tadi, mengapa Kau menungguku?" Diambilkannya beberapa peralatan seperti pengisi daya, botol minum, parfum yang berserakan ke dalam tas.
"Tentu saja Aku menunggumu, hilang entah kemana, ku kira Kau telah pulang sebab hilang begitu lama, namun barang barangmu masih ada di sini, oleh sebab itu Aku menunggumu." Kini Mba Ati pun juga merapikan peralatannya bersiap untuk pulang.
"Ya ampun, mengapa tidak bilang, yasudah, mau pulang sekarang atau nanti?"
"Sekarang saja, Aku lelah ingin segera tidur, Kau kuantar sampai depan kos ya?" Penawaran yang hampir setiap hari dilontarkan oleh Mba Ati.
"Tidak usah mba, sampai depan gang saja, Aku ingin berjalan kaki, setidaknya sedikit menyehatkan tubuh." Yona menolak tawaran dengan halus, bukan karena apa-apa, namun rasa sungkan itu ada, terlebih Mba Ati sudah hampir sepuluh tahun di perusahaan ini, toh jalan raya sangat ramai saat jam pulang kerja, sulit untuk menyebrang.
"La kenapa? Kau ingin mampir membeli es?"
"Entah, Aku belum tahu, kalau Aku ingin, Aku akan membelinya."
"Yaudah, Kau duluan saja menuju pos untuk absen, akan ku susul dengan motor."
"Baiklah, selamat tinggal mbak."
"Ya. Tapi tunggu Aku di pos jaga, jangan tinggalkan aku." Mba Ati mempercepat gerakannya untuk berbenah.
"Iya, mbak." Pintu tertutup, setelah memasang sepatu, berjalan menuju pos jaga, beberapa orang tengah sibuk mengangkut makanan, beberapa sibuk mengangkut peralatan, entah apa namanya.
"Permisi, mas, pak." Sekumpulan pria itu entah berapa jumlahnya, sedang duduk beristirahat, atau mungkin menunggu untuk bersiap, entah kemana.
"Ya." Semua serontak menjawab walau sebagian fokus pada layar ponselnya.
"Loh, adek sudah pulang? Mau mas anter?" Dengan entengnya pertanyaan itu keluar dari mulut Mas Bowo.
"Cie, gebetan barunya Mas Bowo nih." Salah seorang penjaga terkejut dengan tingkah Mas Bowo, yang lain terkejut, berani sekali pria itu menggoda anak magang.
Yona acuh, sadar Ia telah membuat masalah, ya ampun. Mengambil kartu absen dan memasukkan dalam pencetak waktu, hanya butuh dua detik, usai, berjalan keluar menjauh.
"Loh, kok tidak dijawab? Mas bisa mengantarmu jika Kau mau, bahaya jalan sendirian." Sangat frontal dan tidak tahu malu.
"Engga." Yona segera mempercepat langkahnya, meninggalkan Mba Ati yang baru saja tiba di pos, takut sekali.
"Mengapa tidak mau? Dek? DEK?!" Pria bermulut wanita, tidak punya adab dan rasa malu. Membuat rumor tersebar dengan cepat. Ya ampun, satu saja belum usai, kini, Yona harus bersiap untuk hari esok menghadapi rumor yang akan beredar tentang dirinya, cepat atau lambat, pasti akan tersebar. Dasar Si Pencari Masalah.
"Yon, tunggu, mengapa Kau tinggalkan Aku?" Mba Ati mempercepat pula gerakannya, segera menuju motor untuk menyusul Yona. Yona sama acuhnya, tak menghiraukan. Di belakang, beberapa orang telah bersorak bak memberi dukungan pada Mas Bowo. Tidak tahu malu. Tidak berkelas. Dan tidak beretika.
Entah apa yang membuat Mba Ati cukup lama, Yona tak peduli, Ia kesal, marah, malas, entah sudah berapa kali berhadapan dengan pria macam Mas Bowo.
Menuju jalan raya, sulit untuk menyebrang, Ibu Kota, tak ada kehidupan yang lembek di sini, semua serba keras, besok-besok, katakan pada anak cucu agar tidak merantau di Ibu Kota untuk selamanya, jangan, merantaulah untuk belajar, belajar bertahan hidup, belajar melatih mental, belajar sistem bagaimana dunia bekerja. Untuk tinggal selamanya? Tidak! Jangan buat hidup selamanya menderita tinggal di Ibu Kota.
Keramaian di depan mata, suara kendaraan tak ada hentinya. Yang sunyi adalah pikiran, tidak sunyi, hanya berusaha untuk tetap sunyi. Menjaga kewarasan jiwa agar tetap bertahan. Oh Ibu Kota, disini semuanya dipelajari.