Black Opium

Black Opium
Pelajaran Baru



Minggu Pertama


Tanah rantauan, ibu kota, dan tempat kerja. Malam terus berganti dengan tenang namun tidak dengan mata yang terus membanjiri pipi. Ya atau tidak, ingin atau tidak ingin, fisik serta mental harus segera beradaptasi di lingkungan yang baru. Memang benar, ketika seseorang berada di tempat baru, ia akan bertemu orang baru, kegiatan baru, pemikiran baru, dan pengalaman baru. Ada harga yang harus di bayar untuk mendapatkan itu semua, dan itu tak akan pernah mudah.


Yona tiba pukul 07.45 yang mana secara teori ia tiba 15 menit lebih awal, dengan segera memasuki ruang kerja. Menurut perjanjian, jam kerja selama bulan puasa lebih pendek daripada hari biasa, dengan dua hari libur selama sepekan.


    Ia melewati divisi-divisi dan menuju tempat yang paling ujung, Butcher Sayur, orang-orang terlihat sudah mengerjakan tugasnya sebanyak 50% dan bahkan jam belum menunjukkan jam masuk. Terlalu banyak pertanyaan dalam benaknya, namun terlalu banyak pekerjaan yang menguras tenaga, Yona tak ingin membuang-buang banyak tenaga lagi. Hanya ada seorang pria yang bertugas di divisi ini, tengah sibuk kesana-kemari mengambil banyak bahan.


    "Apa yang harus aku kerjakan, mas?" Ia paham begitu banyak pekerjaan yang harus dilakukan, bertanya hanyalah formalitas dan untuk meminimalisir kesalahan.


    "Mungkin kau bisa mengupas kentangnya." Mas Gik menggeser ember yang cukup besar berisikan air sebagai wadah untuk kentang yang telah dikupas ke arah dekat dengan kursi pendek.


    "Semuanya?" Yona melihat dua karung besar kentang diatas timbangan sayur.


    "Ya, Aku akan memotongnya setelah kau mengupasnya." Tak ada jawaban lagi yang keluar dari keduanya, hari masih pagi, buka puasa masih sangat lama, Yona tak ingin membuat mulutnya cepat kering dengan pembicaraan yang panjang. Sesekali ia melihat orang-orang yang sibuk pada tugasnya masing-masing, tak ada yang ingin memulai pertemanan dengannya, tak apa, sedikit menyakitkan, namun, sungguh tak mengapa. Sesekali Yona mengangkat kepala keatas untuk mengurangi rasa pegal, dan berkali-kali mengganti sarung tangan yang terus robek karena alat pengupas. Pekerjaan berlanjut dengan memotong wortel, buncis, kacang panjang, dan sayuran lainnya.


Detik menjadi menit, menit menjadi jam pun berlalu berulang-ulang, rasa lemas sudah berada pada titik puncaknya, setelah divisinya selesai, karena perusahaan ini bersistem kekeluargaan, maka harus membantu tugas dari divisi lain yang belum selesai. Semua bagian dikerjakan oleh banyak orang, hingga mata Yona tertuju pada divisi yang paling ujung dari divisinya.


    "Ada yang bisa aku kerjakan, mas?' Tatapan lemah Yona menatap seorang pria yang tengah bergelut dengan sebuah wajan besar, Ia tak mengerti apa yang pria itu kerjakan, bahkan ia pun tak tahu siapa nama pria tersebut.


    "Bagianmu sudah selesai, kah?" Pria tersebut menjawab dengan tenang, dan seperti paham membaca gerak tubuh Yona yang terlihat sangat lelah.


    "Sudah."


    "Kau bantu yang ringan saja, kupas bawang putih di sana." Pria itu menunjuk dengan tatapan mata, terlihat sebuah kursi kosong dengan satu plastik bawang putih sudah ada di sana. Sungguh kenikmatan sesaat. Sebab dengan cara inilah Yona bisa duduk setelah berdiri selama berjam-jam.


    "Oh, ya. Kalau boleh tahu, nama mas siapa?"


    "Nasa, namaku Nasa." Begitu sulit untuk mengingat orang-orang yang ada di sini. Setiap bagian belum tentu diisi oleh orang yang sama terus menerus.


    "Baiklah, terimakasih, mas Nasa." Yona segera pergi untuk duduk, dengan jarak dekat dengan pintu, Ia bisa menikmati angin yang sejuk memasuki ruangan ini.


Ada sedikit perasaan gundah dan bersalah, sebab semua mata yang lewat selalu memperhatikan Yona yang tengah duduk, walaupun Ia juga bekerja. Entahlah, apa mungkin karena Ia duduk sedangkan yang lainnya sibuk kerja yang berat? Ataukah karena tubuh gemuk Yona? Terlalu dipikirkan, namun, berada di sini menguras pikiran.


    Terdengar suara keras dari sebelah kiri, ada seorang pria muda yang seketika meletakkan kursi besi disamping Yona,"Tttaakk..."  tak keluar sepatah kata pun, hanya tatapan tajam, wangi, dan menggeser kantong plastik berisi bawang putih itu ke arah nya.


    "Biarkan ku membantu." Bahkan pria itu tidak menatap Yona sedikitpun. Pria itu tak peduli walaupun Yona belum menjawabnya. Pikiran yang berisik di dalam otak Yona seketika hening karena aroma dari pria yang duduk disampingnya. Hanya ada kecanggungan, tanpa niat melakukan komunikasi. Apa mungkin seperti inikah sistem berteman di sini? Dan, wewangian apa yang digunakan pria ini?


Suasana lingkungan sangat ramai dan berisik, semua orang sibuk dengan tugas masing-masing divisi. Kecuali kami, tenang tanpa pembicaraan ditengah keramaian dalam ruangan ini. Yona ingin sekali memulai pembicaraan, namun pria itu terlihat seperti orang bersifat dingin dan tak peduli. Dan memang benar Ia.


    "Kamu kelas berapa?" Pria tersebut memulai pembicaraan tanpa kontak mata.


    "Sebelas, mas."


    "Ikut ekstrakulikuler Carving?"


    "Dulu, namun sekarang tidak."


    "Aku pun dulu ikut kegiatan itu."Kalimat yang tidak tahu harus di balas dengan apa, Yona hanya ikut beberapa kali, Ia bahkan tak kenal dengan guru pembimbing dan teman-teman pesertanya. Lantas apa yang harus Ia jawab? Yona mengeluarkan ponsel dari sakunya, menunjukkan grup itu pada pria disampingnya. Dan pria tersebut meraih ponsel Yona, membaca beberapa pesan dari guru pembimbing, dan melihat peserta grup.


    "Ini nomorku, namun jarang aktif." Wajah tanpa ekspresi itu tersirat banyak hal yang tak bisa dipahami. Karena tentu saja, Ia anak baru di tempat ini. Perlahan bawang dalam plastik terus berkurang hingga habis tak tersisa, lalu pria tersebut pergi ke dalam ruangan DSB tanpa mengucapkan sepatah kata dan menghilang setelah pintu tertutup. Sungguh pria yang aneh.


    Pria itu berjalan tertatih-tatih bak tanpa asa. Menggugah asmaraloka yang ada dalam jiwa. Namun, sikap nuraga yang besar itu menyadarkan Yona untuk tak hanyut dalam renjananya.


Hari ini cukup berat, tak seperti awal-awal berada disini, Yona cukup pintar untuk cepat menyesuaikan diri. Terlepas dari permasalahan yang terus membuat risak di dada, mengacaukan segala rencana indah yang telah dibuat sebelum merantau. Tak apa, hanya soal waktu semua akan terjawab. Tak, apa.


Ada konsekuensi untuk setiap tindakan, dan dibutuhkan pikiran untuk melakukan tindakan. Meninggalkan keluarga tidaklah mudah, hidup sendiri di tempat rantauan sangatlah sulit. Menjalani puasa sendirian tanpa keluarga sungguh menyakitkan. Tak mudah untuk diterima di sebuah tempat baru, terlebih dengan budaya kerja yang keras.


    Dan tahu apa yang paling menyakitkan? Bertengkar dengan teman magang, yang mana seharusnya menjadi tempat berbagi nasib, yang ada hanyalah saling bertukar rasa benci. Yang terpikir akan menjadi rumah kedua, menjadi neraka kedua. Merusak mental, menjatuhkan harga diri, menggiring opini yang tidak-tidak, dan menghancurkan jiwa. Tak mudah mendeskripsikan segalanya dalam kata-kata.


Gundah          : Sedih, bimbang, gelisah


Ruang DSB    : Dessert Salad Bakery


Asa                 : Harapan


Asmaraloka    : Dunia/alam cinta kasih


Nuraga            : Rasa simpati pada sesama


Renjana          : Rasa hati yang kuat


Risak               : Mengusik atau mengganggu


berlanjut...