
Tiga puluh detik...
Satu menit...
Dua Menit... Masih tidak menjawab setelah memandang dengan tatapan menyebalkan.
Tiga Menit... Terus bergelut melakukan sesuatu pada masakan.
Empat Menit... Mungkin Ia lupa menjawab, baiklah, untuk apa protes? Toh karakter orang berbeda-beda.
"Kau keluarkan rolade yang tadi kau buat dari dalam kukusan." Suara lirih, tanpa melihat, dan tetap sibuk mengaduk-aduk dengan sendok kayu. Yona segera menuruti permintaannya, tanpa komentar apapun untuk membalas perkataan Mas Dazin, "Aaaww.. Panas!" Asap uap keluar dari pintu kukusan yang baru saja dibuka setelah terjebak lama didalam lemari pengukus itu. Hanya bergumam sendiri, tak peduli pada siapapun, dan siapapun tak ada yang peduli. "Kenapa harus kena tangan sih." "Panas banget!" Terus kesal dan memarahi diri sendiri. Yona lantas segera mengambil serbet lalu mengambil loyang yang sedikit sulit dikeluarkan, dan diletakkannya di atas meja kerja.
"Keluarkan isian rolade dengan hati-hati, itu sangat lengket, jangan sampai pecah." Dengan entengnya menyuruh, bukankah itu mustahil? ada beberapa rolade yang menempel pada cetakan, jelas akan sangat sulit untuk mengeluarkannya tanpa cacat, sungguh, tak tau harus berkata apalagi.
Dengan hati-hati membuka penutup cetakan, bagian atas dan bawah sama aja, yang menjadi permasalahan ialah pada bagian penutup tidak diberikan plastik, sehingga adonan menempel pada cetakan, tak mungkin mengeluarkannya tanpa merusak rolade, memang harus rusak jika caranya seperti ini.
Apa boleh perbuat? Yona lantas membuka paksa tutup bagian atas cetakan yang sangat sulit dibuka, membelah sebagian kecil rolade, harusnya tak masalah, selanjutnya dilakukan hal yang sama pada tutup cetakan bagian bawah dengan hasil yang sama tidak beda jauh.
Langkah selanjutnya, bagian tengah, dilapisinya plastik sebelum adonan ialah agar membuat rolade tidak menempel pada cetakan sehingga mudah dikeluarkan. Namun praktek tidak selalu berjalan sesuai teori, ada saja hal-hal diluar teori yang terjadi saat praktek. Beberapa plastik berada tidak pada tempatnya, entah kesalahan saat memasukkan adonan, atau karena uap, atau mungkin pula karena getaran-getaran dan gerakan yang tidak disengaja, sekali lagi, praktek tidak selalu berjalan sesuai praktek.
Dimasukkannya pisau kecil ke selipan-selipan cetakan untuk memisahkan rolade dan cetakan agar mudah dikeluarkan. Sempurna, dihentakkan sedikit dan rolade pun keluar. Bangga sekali. Satu dari sekian belas rolade telah keluar dengan sedikit sempurna, berkurang sedikit. Hanya perlu dilakukan hal yang sama selama belasan kali dan, yeaayy, selesai. Butuh waktu dua puluh menit untuk menyelesaikan tugas ini, lambat sekali.
"Bagaimana? Bisa?" Entah sungguhan bertanya atau sekedar basa-basi, namun harusnya dengan menggunakan salah satu indra yang dimiliki berkat pemberian Tuhan, seharusnya bisa mengerti, seharusnya. Mas Dazin mendekat untuk mengoreksi pekerjaan.
"Ya, lumayan." Jawabnya dengan santai tanpa melihat. Sibuk berkonsentrasi, sebab masih panas dan mudah hancur.
"Nah, itu, bagus sekali. Kau melakukannya dengan benar." Suara lirih itu terdengar jelas di telinga sebab Mas Dazin berdiri di samping Yona.
"Ehem..." Hanya tersenyum, jarang-jarang pria ini memberi pujian, tabiatnya seketika menjadi aneh.
"Cuci cetakannya setelah Kau keluarkan seluruh roladenya." Oh ternyata, manisnya hanya sebentar.
"Ya." Diikuti dengan suara napas yang sedikit kesal.
Seluruh rolade telah keluar dari dalam cetakan, beberapa retak sedikit, beberapa patah, Yona tak dimarahi, memang sangat sulit, mungkin chef paling terkemuka pun juga akan melakukan kesalahan yang sama. Suhu cetakan menurun drastis setelah rolade dikeluarkan. Dengan cepat menyusut ke suhu ruang. Rolade-rolade kemudian didinginkan dihadapan kipas angin.
Lantas Yona melakukan pekerjaan selanjutnya yang diminta. Percayalah, bagian tersulitnya dari memasak adalah mencuci peralatan dan berkemas, seketika tenaga habis tak tersisa untuk bersih-bersih. Rolade yang menempel pada cetakan sangat sulit dicuci, terlebih menggunakan busa pencuci piring. Harus menggunakan busa kawat, namun yang menjadi permasalahan ialah busa kawat yang terlalu besar sehingga sulit untuk memasukkannya ke dalam cetakan :')
Mencuci cetakan menjadi bagian terlama, ada belasan cetakan atau mungkin puluhan jika digabung dengan peralatan yang lain, mungkin itu salah satu rencana Mas Dazin agar bisa menjauh dari Yona, atau mungkin tidak. Mas Dazin beberapa kali melakukan kegiatan disamping Yona, di westafel sebelah, apapun itu, bahkan menjadi lebih sering mencuci tangan, aneh.
"Bisa atau tidak Kau bersihkan itu?" Mas Dazin tak melihat, hanya sibuk membenahi selang yang putus.
"Tak apa, tak harus sempurna, akan kulanjutkan sisanya menjadi lebih sempurna." Apaaaa????? Kalimat itu keluar dari mulut seorang Mas Dazin? Tampar Yona untuk menyadarkan Ia tidak sedang bermimpi, sungguhan.
"Ha? Eh iya, Aku sedang berusaha membersihkan hingga sempurna, jangan lanjutkan pekerjaanku, lanjutkan saja pekerjaanmu." Yona masih tak paham, Ia tak ingin terlalu ge-er pada perhatian Mas Dazin. Pria aneh, beberapa hari kemarin menjadi sangat menyebalkan hingga beberapa jam yang lalu, tak mungkin jika berubah seketika menjadi perhatian, mencurigakan.
"Kau tak akur dengan kedua teman wanitamu itu, ya?" Membenahi selang telah usai, kini entah apa yang sedang dilakukan, mencuci, mencuci, dan mencuci, aneh, padahal seharusnya bukan tugasnya mencuci peralatan ini semua.
"Ya, Aku tak suka pada mereka."
"Kenapa?"
"Hanya tak suka, mereka aneh." Pelajaran pertama, jangan terlalu terbuka pada orang baru, mungkin saat ini mereka kawan, entah besok-besok mereka bisa berubah seketika, seperti hari ini.
"Kau rutin berolahraga?" Mengapa tiba-tiba pembicaraan menjadi seperti ini? Mas Dazin menatap tubuh Yona sekali lagi, menyebalkan sekali, tatapan itu, seperti ingin menusuk mata besarnya dengan benda tajam.
"Terkadang, mengapa? Apakah Aku segendut itu?" Yona tak basa-basi.
"Untuk gadis seumuranmu dan belum menikah? Ya, sangat, Kau tak seharusnya sebesar ini."
"Lantas harus seperti apa?" Yona memancing, menahan amarah dalam dadanya, kurang ajar, sedetik yang lalu menjadi sangat lembut dan sedetik kemudian menjadi sangat kasar.
"Kedua temanmu tidak sebesar dirimu, Kau belum menikah, Kau tidak bisa sebesar ini. Seharusnya Kau menjaga nafsu makanmu." Entah kini benda apalagi yang dicuci ditangannya.
"Aku memiliki maagh karena jarang makan, dan kini puasa, Aku makan dengan sedikit, Aku bahkan sering tidak sahur. Aku sedikit makan." Yona memberi pembelaan. Bahkan hari ini maagh itu masih kambuh, menyakitkan.
"Lalu apa Kau rutin berolahraga?" Pertanyaan-pertanyaan yang menyebalkan terus keluar dari mulut berbibir tebal itu.
"Tidak, hanya sesekali."
"Usahakan rutin berolahraga, jaga fisikmu, Kau bisa lakukan hal-hal yang bisa dimulai dari dalam kos, tak harus mendatangi gym. Kalau Kau telah menikah dan memiliki anak, beda lagi urusannya. Permasalahannya adalah Kau belum menikah dan memiliki anak, fisikmu sangat berpengaruh jika Kau bekerja nantinya. Sulit mendapatkan pekerjaan jika Kau mempunyai tubuh gendut, mumpung belum terlambat, diet dan berolahraga-lah. Jangan malas, Aku bahkan selalu berolahraga." Suara lirih itu sangat menusuk telinga hingga dada Yona, menyakitkan sekali, bagaimana bisa seorang pria mengatakan hal-hal seperti itu, dasar bedebah. Dengan entengnya menyuruh melakukan ini itu, bedebah gila.
"Ya, akan kucoba." Yona tak mengindahkannya lagi, hanya berfokus membersihkan cetakan yang sisa sebiji-dua biji.
"Aku mengatakan hal ini demi kebaikanmu, masa depanmu juga." Mas Dazin tanpa sadar terus mendekatkan tubuhnya pada Yona. Baru kali ini Ia menjadi sangat lembut dan perhatian.
"Ya, jangan khawatir." Yona mendengus, mempercepat gerakan tangan agar cepat selesai.
RED FLAG, memang benar perlu menjaga kesehatan tubuh, namun kata-kata menyakitkan itu? Bahkan membanding-bandingkan dengan dua musuhnya? Bukan seperti itu cara memberi motivasi. Toh Irma dan Natasha memang memiliki paras yang cantik dan tubuh kurus, namun mereka tidak punya etika, empati, dan akal yang benar. Lebih menyedihkan yang mana? Mungkin bagi Mas Dazin otak dan etika tidaklah penting selagi memiliki paras rupawan. Lihat dirinya? Tidak sadar diri, tubuh apiknya berguna untuk apa?