Black Opium

Black Opium
15 Menit



Yona terkagum melihat pengaduk yang begitu besar bak dayung perahu, namun kali ini berbeda, digunakan untuk mengaduk sambal. Saat proses pematangan, sambal harus terus diaduk agar bagian bawah tidak gosong. Sambal terus diaduk dengan api kecil sampai terpisah antara minyak dan sambalnya. Sambal yang matang, akan lebih tahan lama untuk dikonsumsi. 15 menit pertama mengaduk tak begitu melelahkan, Yona hanya perlu memastikan Ia menggapai bagian bawah yang paling dekat dengan api kompor terus-menerus.


    "Eeehh.." Yona seketika tersadar Ia hampir menggulingkan wajan yang sangat besar itu. Mas Nasa melihatnya, seraya paham jika Yona telah lelah. Dengan cepat Yona membenahi posisi berdirinya kembali dan terus mengaduk dengan benar.


    "Biar kulanjutkan." Tangan Mas Nasa menyentuh pengaduk kayu, seolah memaksa untuk merebut.


    "Tidak, Aku ingin melakukan ini. Biarkan Aku saja yang melakukannya, mas." Yona bersikeras mengaduk wajan besar itu, walaupun Ia paham betul tengah kelelahan, namun bukankah semua orang di ruangan ini merasakan lelah? Jika Ia tidak keras pada dirinya hari ini, besok Ia akan sengsara karena harus menahan lebih keras. Biarkan diri ini kesakitan hari ini, agar terbiasa kedepannya.


    "Tak apa, Kau terlihat hampir pingsan, Kau bahkan baru 30 menit mengaduk." Mas Nasa sekali lagi merebut paksa pengaduk yang dipegang Yona.


    "Aku tadi hanya kepeleset, lantainya begitu licin. Justru itu, biarkan Aku yang mengaduknya, sebab ini baru 30 menit. Apa masalahnya?" Yona merebut kembali pengaduk yang telah direbut. Salah seorang karyawan casual lain melihat pertengkaran kecil itu.


    "Mengapa harus bertengkar? Banyak pekerjaan yang bisa dilakukan, lebih baik mengalah salah satu dan mengerjakan pekerjaan lain agar cepat selesai." Ucap seorang karyawan casual untuk menengahi mereka.


    "Nah, dengarkan kata-kata itu, Aku tidak tahu banyak hal, maka biarkan Aku saja yang mengaduk. Kau karyawan tetap di sini, Kau tentu lebih paham banyak hal dibanding dengan diriku." Yona memanfaatkan kesempatan yang ada.


    "Baik, namun hanya 15 menit, setelah itu Kau kupas bawang saja." Mas Nasa pun kembali ke tugas yang sempat terpotong. Disisi lain, Natasha dan Irma terlihat terus bersama walaupun mereka memegang divisi yang berbeda, suara berisik mereka menghantui seluruh ruangan, mengalahkan suara mesin yang menyala walaupun mulut mereka tertutup masker.


Walaupun 15 menit telah berlalu, Yona tetap bersikukuh dengan tugasnya saat ini, Ia paham betul banyak tugas yang harus dilakukan Mas Nasa, mengapa mengabaikan tugas lain demi mengaduk sambal yang jelas-jelas bisa dilakukan orang lain? Yona tak akan berhenti hingga sambal matang dengan sempurna.


    15 menit lagi pun berlalu, minyak dan sambal mulai memisahkan diri, tekstur sambal masih lumayan cair, menandakan belum matang dengan sempurna. Sisi baik dari terus mengaduk ialah untuk melatih otot tangan dan lengan. Semakin lama mengaduk membuat tangan terasa semakin kuat, tak ada rasa pegal, yang ada seperti sedang berolah raga atau nge-gym.


    15 menit terakhir, dengan api yang sama, kini sambal dan minyak benar-benar telah memisahkan diri. Tekstur sambal menjadi sangat kental dengan warna yang sedikit lebih gelap dibanding sebelumnya, minyak yang terpisah lumayan banyak. Sempurna.


    "Apakah ini sudah?"


    "Ya, akan kumatikan apinya, tolong geser sedikit tubuhmu." Mas Nasa membungkukkan diri untuk mematikan kompor tungku, ada dua tuas yang keduanya tak Ia pahami.


    "Lantas apa yang harus dilakukan dengan sambal ini?"


    "Kita akan mengemasinya ke dalam botol, namun biarkan suhunya menjadi suhu ruang. Kau bisa pergi membantu yang lain." Mas Nasa terlihat tengah sibuk meracik ramuan yang tak dimengerti.


    "Tapi Aku ingin membantu divisi ini."


    "Kau sungguh ingin membantu?" Mas Nasa meyakinkan sekali lagi.


    "Baiklah, tolong ambilkan bawang merah dan masukkan ke dalam plastik ini. Lalu Kau bisa mengupasnya." Mas Nasa menyerahkan sebuah plastik berukuran besar, mungkin cukup untuk tiga kilo bawang merah, atau mungkin kurang. Yona pergi menuju ruang gudang kering, melewati Mas Dazin yang tengah mengoleskan telur pada puff pastry.


    "Mba, Aku izin mengambil bawang merah, ya?" Teman kedua Yona, penjaga gudang kering, baik hati dan senang memuji, berwajah seperti orang Turkiye dengan hidung mancung, cantik sekali.


    "Iyaaa, ambil saja." Wanita itu tengah sibuk melipat kardus nasi box sembari menonton tayangan youtube.


    "Makasih, mba." Yona pergi meninggalkan ruangan dengan satu plastik bawang merah ditangannya. Kembali menuju divisi yang paling ujung. Melewati orang-orang yang tengah sibuk bekerja. Entah drama apa yang dibuat oleh Natasha dan Irma, mereka sangat berisik, berusaha bergurau dengan salah satu karyawan, namun sang karyawan itu terlihat lelah meladeni kedua gadis itu.


    "Ini, Mas. Sudah."


    "Ya, Kau ada pisau?" Mas Nasa menawarkan bantuan.


    "Ada, tapi entah dimana." Ya sebenarnya Yona baru saja kehilangan sebuah pisau kecil miliknya, pertama kali Ia beli saat tiba di Ibu Kota, tak tahu ternyata harus membawa pisau pribadi.


    "Kalau begitu, gunakan saja pisau ini, lebih enak." Mas Nasa terkenal ahli dalam bidang per-pisau-an. Ia memiliki banyak sekali pisau, dari yang sangat kecil, sedang, besar, hingga sangat besar sekalipun. Seluruh pisaunya lancip, tak ada yang tumpul. Dan kualitas pisau-pisau yang dimiliki bukan pisau biasa yang dimiliki Yona.


    "Oke, terimakasih." Dengan cepat Yona meraih kursi pendek yang berada di dekat pintu, mengambil satu kantong kresek untuk tempat sampah, dan kemudian duduk. Nikmat sekali, akhirnya bisa duduk setelah berdiri selama beberapa jam. Sebuah ketenangan ditengah keramaian. Yona menyalakan lagu dari ponselnya, tak peduli dengan suara mesin atau suara Natasha yang seperti sedang adu suara, Ia hanya menginginkan ketenangan. Nikmat sekali.


    Yona akan mengupas bawang hingga jam istirahat.


    Tenang.


    Sedikit perih.


    Entah berapa banyak orang yang berlalu-lalang tanpa menyapa Yona, tak peduli, memangnya Ia siapa dan mengapa semua orang harus menyapanya? Biarkan kedamaian ini terus berlanjut, setidaknya hingga istirahat.


    Sekali-duakali terdengar suara bentakan yang keluar dari mulut Natasha, entah apa Dia memang tengah marah atau tidak, memang selalu seperti itu, membentak orang lain dan berteriak, tak ingin kalah.


    Sesekali Edo lewat dan menyapa, Yona tak mengindahkan sapaan Edo dan pura-pura tak mendengarkan, untuk apa? Edo sangat menyebalkan disaat jam kosong, meninggalkan Yona seorang diri sedangkan Ia sibuk bergurau dengan kedua temannya yang lain, bukankah itu sudah cukup melihat siapa teman yang sebenarnya?


    Waktu terus berjalan, percayalah, jumlah bawang yang dikupas tidaklah sedikit. Terkadang Yona harus menyeka air matanya karena rasa perih. Dan sesekali harus mengganti sarung tangannya karena sobek. Ya, sebenarnya tidak terlalu ampuh, sebab rasa panas di tangan telah masuk sejak sarung tangannya sobek.