
Yona tengah berkutik dengan ratusan bawang yang harus dikupas, tak lupa masih ada beberapa karung cabai yang menunggu disampingnya. Untuk kesekian kalinya, Edo tak bersikap menyebalkan, untuk beberapa waktu dia selalu memihak kedua gadis itu. Namun kini, Ia sedikit membuka pikirannya untuk berteman dengan Yona, walaupun hanya 5%. Setidaknya itu kemajuan yang signifikan.
Terlebih gosip terus beredar sepanjang hari, entah siapa ratu yang mulai menyebarkannya, dan itu benar-benar tidak sesuai fakta. Namun apa boleh perbuat? Jika lawan tandingnya adalah si pencari muka? Akan selalu ada saja hal untuk diputar balikan, mengerikan.
Setiap waktu Yona menceritakan keluh kesahnya pada Edo, hanya satu jawaban yang terus berulang-ulang, "Mungkin kau perlu melihat dirimu seperti apa, sesekali berhentilah menyalahkan orang lain!" Menyakitkan. Pertikaian ini sangat mengganggu mental, dan bahkan seorang ketua kelompok yang seharusnya menjadi penengah malah menyudutkan? Sangat menusuk hati.
Tak hanya itu, seluruh karyawan selalu menanyakan apa yang terjadi, begitu rumit untuk menjelaskan kepada orang yang tak mengalaminya. Sebagian besar hanya berkata, "Kau harus lebih sabar jika berurusan dengannya." atau sebagian lain pun berkata, "Yang waras mengalah." Sedikit kontra dengan pendapat tersebut, jika benar demikian, betapa dunia akan dikuasai oleh orang-orang gila. Atau mungkin, memang dunia ini sudah gila, tak ada ruang bagi orang yang benar dan waras.
"Kau baik-baik saja? Kau terlihat sedang kesal." Yona menatap wajah berkulit sawo matang itu, dengan tatapan mata tajam yang berfokus hanya pada satu titik, dipetiknya tangkai-tangkai cabai dengan sarung tangan. Tak ada raut wajah yang terpancar dibalik masker yang hanya terpasang di satu telinga. Terlihat Edo sangat grusa-grusu dalam bekerja, menandakan Ia sedang tidak enak hati.
"Kau tak tahu apapun, jangan cepat menyimpulkan sesuatu." Jawaban ketus yang keluar itu hampir menjadi makanan sehari-hari yang diperoleh Yona dari rekan-rekannya, memang menyakitkan, tak apa, semua akan terbalaskan, tugas orang waras hanyalah terus bersikap baik.
"Baiklah, tetapi jika kau merasakan hal yang tak mengenakkan, katakan padaku, mungkin aku bisa membantumu, atau tidak." Jawaban yang manis setelah kepahitan yang Ia terima.
"Hm." Bahkan Edo tak menoleh sedikitpun pada Yona yang duduk disampingnya. Apakah gadis ini tak memiliki harga diri sedikitpun? Atau memang kebencian telah mendarah daging karena ucapan Natasha? Saat ini, untuk beberapa waktu, kau memang menang Natasha, selamat.
"Namun, Do. Apakah kau paham yang dimaksud oleh pesan yang dikirim oleh Manager di dalam grup?" Yona memancing pembicaraan kembali. Sesekali pisau yang digunakan untuk mengupas bawang menyentuh jari-jari putih Yona, menyebabkan robeknya sarung tangan plastik yang Ia kenakan. Seluruh ruangan bising, hanya Ia dan Edo yang tenang.
"Aku tak tahu." Pembohong, jelas-jelas Ia mengetahui segalanya, mengapa terus menutup-nutupi? Mengapa terus terkesan melindungi teman-teman yang lainnya itu? Sungguh tak habis pikir.
"Baiklah, kau seperti tak ingin berbicara denganku, tak apa, Aku telah berusaha, mungkin memang benar, kau lebih cocok bersama mereka." Yona membenahi posisi duduknya dengan sedikit menjauhi Edo yang berada disamping kanannya. Memang selalu seperti ini setiap hari, namun siapa yang tahan jika diperlakukan seperti ini terus-menerus? Sudah tak ada tenaga untuk memaksa orang lain berteman dengannya, ayolah, ini bukanlah dunia anak-anak lagi. Dewasalah, berhenti mengharapkan orang lain, jangan mengemis!
Kini hanya ada ketenangan dikeramaian ruangan ini, sesekali Edo perlu ditampar. Jumlah bawang terus berkurang setiap menitnya, tak butuh waktu lama untuk menyelesaikan pekerjaan ini. Untuk cabai tentulah bukan menjadi urusan Yona, biarkan Edo bergelut dengan cabai dan panas yang menyentuh kulit arinya, masih ada dua karung besar yang harus diurus, namun Yona sama sekali tak berminat membantunya.
Beberapa karyawan tengah berkumpul di sebuah divisi, tampak ramai karena candaan dan gurauan, untuk pertama kalinya, Yona memperhatikan pria dengan wewangian Black Opium itu dari dekat. Dilangkahkan kakinya berdiri disamping pria tersebut. Memperhatikan pekerjaan yang dilakukan. Mereka tampak sesekali tertawa, entah apa yang dibahasnya. Sekali lagi, meskipun sesama bahasa Jawa, namun bahasa Jawa Tengah dengan bahasa Jawa Timur sangat berbeda, terlebih di ibu kota. Sedikit sulit beradaptasi.
"Aku ingin membantu." Yona seketika berkata ditengah gurauan antara mereka. Terdapat dua orang karyawan perempuan muda. Mbak Ati dan Mbak Rani. Keduanya wanita tangguh. Terkadang ada rasa iri ingin seperti mereka. Tahan banting disegala kondisi. Membanggakan.
Pria dengan wewangian black opium itu adalah Mas Pam, menggeser tubuhnya ke arah kedua teman mudanya. Menyisakan sedikit jarak dengan Yona. Mereka tengah membungkus nasi, ya terdengar sepele, namun bayangkan jika harus membungkus ratusan porsi? Mungkin bisa sedikit mengubah cara pandang orang lain, sebab tak ada pekerjaan yang mudah.
"Oh ya, silahkan, kau ingin membantu apa?" Mbak Rani mengikuti logat bicara Yona yang kental daerah Jawa Barat.
"Karena yang membungkus sudah banyak, apa aku perlu mencetak nasi saja?" Diraihnya sarung tangan untuk mencetak nasi agar tidak kepanasan. Dimasukkan beberapa sendok nasi ke dalam cetakan. Sedikit sulit, sebab tuntutan untuk serba cepat.
"Sedikit lebih ditekan, agar nasi tidak mudah hancur." Sekali lagi Mbak Rani meniru cara bicara Yona, entah maksud untuk menghina atau tidak, namun Yona benar-benar memiliki logat yang sangat berbeda.
"Seperti ini?" Lantas Yona meletakkan cetakan nasi diatas kertas nasi. Tugas mereka kemudian membungkusnya.
"Ya, namun kau perlu menekan lebih keras lagi. Tak apa, coba lagi." Kini saatnya Mas Pam yang menyemangati, untuk pertama kalinya, semua terasa sangat normal. Tak ada kalimat-kalimat sindiran seperti yang biasa dilakukan Natasha. Semuanya terasa seperti di tempat magang sebelumnya.
"Mungkin aku tak bisa." Setelah beberapa kali percobaan, nasi yang dicetak selalu hancur saat dipindahkah. Memang benar, melakukan hal sesederhana itu tak semudah yang dilihat. Terlebih ada tiga orang yang menunggu nasi untuk dibungkus. Tak ingin merepotkan lebih lanjut Yona memilih untuk bertukar tempat dengan Mas Pam.
"Kau ingin bertukar posisi denganku?" Mas Pam bertanya dengan baik, mungkin inikah titik terang? Atau mungkinkah saat itu Ia hanya lelah? Namun mengapa baru saat ini Yona menyaksikan kelembutan dari Mas Pam? Ada apa dengan topeng tak berekspresi yang selalu Ia tunjukkan itu?
"Ya, tentu." Pekerjaan kembali normal setelah pergantian posisi itu, mungkin itu yang dirasakan oleh Mbak Rani dan Mbak Ati. Mereka kembali melanjutkan candaan mereka, entah apa dan siapa yang dibahas, Yona sungguh tak tahu apa-apa. Dan walaupun hanya membungkus nasi, nyatanya, Yona masih kalah jauh dengan kedua wanita disampingnya.