Black Opium

Black Opium
Berusaha Berdamai



Pintu tertutup, suara pembicaraan seketika menjadi redup samar-samar. Dilepaskannya masker, pakaian, dan hijab yang menempel. Dengan segera menyalakan kipas kecil ke arah tubuhnya. Ini ibu kota, panas. Baiklah, kini ketenangan yang tersisa, lampu tak dinyalakan, membiarkan cahaya sore memasuki celah-celah langit beratapkan asbes itu. Dengan sebuah bendera diikatkan pada kayu yang menopang asbes, dan keadaan kamar yang berserakan. Bukankah ini yang selalu diimpikan semua orang? Merantau ke kota besar. Mengapa tidak menerima segalanya dan berdamai? Toh keputusan ini pilihan hati dengan kesadaran penuh. Tak ada lagi alasan untuk merengek, jika tidak seperti ini, bagaimana cara belajar dewasa?


    "Astagfirullah, aku belum solat!!!" Yona memukul dirinya sendiri dan melempar ponselnya ke atas kasur setelah berbaring diatas lantai cukup lama. Jam menunjukkan pukul 17.00. Bagaimana bisa Ia berbaring selama ini? Dengan segera Yona berwudhu, tak ada penawaran lagi. Mukena dan sajadah diambil dari atas koper, segera dilebarkan dan dipakai. Masih ada sisa waktu untuk membaca dzikir petang, hampir terlambat.


    Waktu berbuka puasa di sini sedikit lebih lambat dibandingkan dengan kota kelahirannya, dengan segera Yona mengambil beberapa piring dan wadah untuk menyajikan menu berbuka puasa yang telah Ia beli. Sedikit merepotkan, terlalu banyak menu untuk sedikit ruang di perut. Semuanya tersaji diatas lantai, seperti tradisi yang biasa dilakukan oleh keluarga Yona saat berbuka puasa.


    "Selamat berbuka puasa." Tak ada siapapun, hanya Yona berkata pada dirinya sendiri untuk mengatasi keheningan. Ia sudah cukup terbiasa dengan melakukan segalanya sendirian. Memang sedikit kesepian, namun setidaknya Ia lebih tenang daripada harus berbuka puasa dengan teman-temannya. Semakin lama rasa jenuh pun muncul, Ia menatap makanan ini seorang diri, membayangkan jika Yona sedang berbuka bersama keluarganya di rumah, sudah pasti akan saling berebut dengan saudaranya. Namun kini tak ada yang saling berebut, hanya Ia sendiri. Sebuah ketenangan atau kesepian?


Setelah solat taraweh, Yona membuka al-Qur'an dan melanjutkan yang telah Ia baca sebelum berangkat bekerja. Hampir tak ada harapan, sungguh, ini berat. Dengan segala permasalahan yang ada, dicurahkannya pada lantunan ayat suci al-Qur'an. Tak ada tempat mengadu terbaik selain kepada Sang Pencipta.


*Suara ponsel berdering.* Yona segera meraih ponsel yang sedang mengisi daya dan mengangkat panggilan video yang masuk.


    "Halo, yah. Kenapa?" Sembari merapihkan barang-barang yang berserakan. Diraihnya pakaian yang berada di atas kasur.


    "Halo, halo. Ucapkan Assalamu'alaikum." Ayah mengoreksi putrinya tersebut.


    "He em. Kenapa?" Tak ingin berlarut dalam basa-basi, Yona mengambil sampah plastik dan membuangnya pada tempat sampah depan kamar.


    "Biasa, rutinitas tiap malam. Memeriksa keadaan putri Ayah yang sedang merantau." Ayah terlihat tengah berbaring dengan Mamah disampingnya.


    "Ya seperti ini, tidak ada yang istimewa." Yona tak mengatakan hal yang sebenarnya terjadi. Untuk apa? Itu hanya akan membebani pikiran orang tua yang khawatir tentang kondisi anaknya.


    "Kau berbuka dengan apa hari ini." Pertanyaan yang selalu sama tiap harinya, dilakukannya agar dapat memulai pembicaraan dengan putrinya yang sedikit tertutup padanya.


    "Aku membeli beberapa hal, es buah, nasi kucing, dan beberapa lauk, dan saat ini aku sangat kenyang sekali."


    "Baguslah, apa cukup untukmu memakan nasi kucing? Bukankah porsinya begitu kecil?" Ayah bahkan mengerti hal sedetil itu.


    "Ya, namun aku juga membeli beberapa lauk lainnya. Untuk porsi nasi sudah cukup buatku, sebab aku membeli dua es dengan porsi besar. Bahkan masih sisa sedikit."


    "Awalnya aku berniat melakukannya, namun sudah tak ada tenaga yang tersisa untuk menuju ke sana, lagi pula jaraknya lumayan jauh untuk berjalan kaki."


    "Bukankah terdapat aplikasi ojek online? Mengapa tidak kau gunakan saja aplikasi tersebut." Sekali lagi Ayah memberikan saran yang memang bagus menurutnya, namun tidak untuk dompet.


    "Tidak, harga jasanya akan setara dengan harga makanan yang dipesan, sama saja dengan aku membeli dua porsi. Lebih baik kubelikan makanan lain untuk esok." Yona memang diberikan uang yang lebih dari cukup oleh Ayah, namun bukan berarti Ia bisa bersikap seenaknya karena merasa terjamin, bukan seperti itu cara bertahan hidup.


    "Tak masalah, akan Ayah kirimkan uang lagi, setidaknya kau bisa makan dengan benar." Sekali lagi, inilah Ayah, pria yang selalu menomor duakan dirinya demi keluarganya, selalu berusaha terlihat baik-baik saja dan kuat, entah apa yang terjadi didalamnya, namun Ayah, selalu menjadi yang terbaik.


    "Tak perlu, uang yang kau kirimkan padaku masih tersisa banyak, tak usah mengirim lagi, lebih baik untuk keluarga di rumah saja." Selalu terjadi perdebatan, namun naluri seorang ayah tak akan tega pada anak perempuannya.


    "Tak usah kau pikirkan hal seperti itu, nikmatilah kehidupanmu di sana, kuatkan mental, jika kau tidak tahan berada di sana, Ayah akan berbicara dengan gurumu." Padahal tak terbelit sedikitpun pembahasan mengenai keadaan di tempat magang, entah bagaimana Ayah secara tiba-tiba mengatakan hal tersebut.


    "Aku akan baik-baik saja, jangan khawatir." Yona membaringkan diri diatas kasur, Perkataan Ayah akan menambah beban pikirannya menjelang tidur.


    "Baiklah, kau istirahat saja, besok jangan lupa sahur." Ayah pun mematikan panggilan sesaat setelah Yona membalasnya, Ayah yang baik.


    "Ya, tentu. Aku lelah, dan aku akan tidur." Yona memasang wajah senyum manis.


Tak ada pertanda petir maupun angin, hujan seketika turun dengan derasnya. Membasahi sepatu yang terpajang jelas di rak depan kos. Dengan segera Yona meraih sepatu-sepatunya dan memindahkannya di dalam kamar. Asbes nya dihantam oleh tetesan-tetesan air, membuat bising keadaan sekitar. Yona menatap ke atas, menikmati setiap suara suara yang jatuh, dan kini suara petir pun menyusul dengan baik.


    Aaahhh menenangkan pikiran.


    Setidaknya Ia tak harus mendengarkan suara-suara yang muncul dipikirannya, semua telah tertutupi oleh suara hujan. Malam ini, untuk pertama kalinya Yona tidur dengan nyenyak, mematikan lampu, membiarkan cahaya dari depan memasuki celah-celah ventilasi udara. Tak jarang cahaya petir ikut menemani dan cuaca menjadi terasa sejuk untuk ibukota. Ini yang diimpikan, Ia tak harus tidur kepanasan malam ini. Untuk pertama kalinya pula, Ia tidur menghadap tembok.


    Malam yang tenang untuk pikiran. Sendirian, dan suara hujan. Memikirkan tentang urusan diri sendiri. Ternyata senikmat itu, namun sayangnya, tak semua orang menyadari betapa berharganya hal ini. Banyak orang sibuk melakukan hal-hal yang menurutnya lebih 'penting', namun lihatlah yang dilakukan orang-orang yang dianggap 'penting'. Hanya sibuk berkumpul dengan orang terdekat dan menikmati urusannya sendiri.