Black Opium

Black Opium
Awal Mula...



    Esok harinya, hari menjadi minggu. Pemindahan divisi kerja berganti tiap minggu. Tujuan dari pergantian rutin adalah agar siswa magang dapat mempelajari semua bidang dengan baik, walaupun tak sampai mendalami hingga ahli, namun, setidaknya pernah.


    Tugas yang harus dilakukan tidaklah sebegitu berat seperti di 'Butcher Sayur' hanya saja membutuhkan ketelitian dan kehati-hatian lebih untuk melakukannya. Jika tidak, kegagalan yang terjadi bisa sangat fatal. Terlebih, pekerjaan dituntut tinggi dengan nirmala, manusia gudangnya kesalahan kini merangkap bagaikan dewa, nirmala.


    "Apa yang harus Aku lakukan?" Seluruh divisi mempunyai orang-orang yang bertanggung jawab penuh di masing-masing divisi. Tugas anak magang dan casual hanyalah membantu, untuk hal-hal yang memiliki resiko tinggi tetaplah dilakukan oleh penanggung jawab. Sehingga tak ada kebebasan dan rasa percaya yang bisa dilakukan anak magang seperti di tempat magang sebelumnya.


*


Tempat magang Yona sebelumnya adalah restoran cepat saji yang berada satu kota di tempat Ia bersekolah. Di sana, setelah beberapa hari mendalami sebuah divisi, anak magang akan dilepas secara penuh untuk menguji kemampuan mereka di bidang tersebut. Dan jika terjadi kesalahan, para pegawai yang akan mendapatkan teguran.


Seluruh pegawai di tempat sebelumnya sangatlah terbuka dan aktif mengajak anak magang untuk membangun hubungan pertemanan. Tuntutan pekerjaan di sana sangatlah tinggi, dan beberapa hal terkadang tidak masuk di akal. Namun dengan para karyawan yang terus bekerja sama, membuat pekerjaan tidak sebegitu berat untuk dilalui.


*


    "Buatkan dadaran, seluruh bahan sudah siap, kau hanya perlu memasaknya." Pria berlogat Surabaya itu bersuara sangat pelan, mas Dazin. Dengan kondisi ruangan yang sangat bising, tidak bisakah Ia mengeraskan suaranya sedikit saja?


    "Baik." Tak ada basa-basi ataupun gurauan, tak ada cukup tenaga untuk melakukan hal tersebut. Lembaran demi lembaran dadaran pun jadi, waktu pun semakin panas, kondisi didalam ruangan semakin menjadi-jadi.


    "Kalau sudah, masukkan bumbu B, tepung panir, dan dskgfhbdhcgf ke dalam adonan." Dan pergi begitu saja tanpa memastikan Yona telah paham sepenuhnya. Sungguh, pria itu memberikan intruksi dengan sangat lirih, Yona bahkan hampir tidak bisa mengetahui apa saja yang diucapkan pria tersebut. Lantas Yona memasukkan bumbu-bumbu yang ia ingat dan dengar ke dalam adonan.


    "Sudah kukatakan untuk memasukkan bumbu A, lantas mengapa kau masukkan bumbu B?" Mas Dazin datang dari arah berlawanan saat Ia pergi. Sungguh, jelas-jelas dengan jelas Ia mengatakan bumbu B, dan mengapa kini berubah menjadi bumbu A, tak sedikitpun unsur 'bumbu A' terdengar ditelingan Yona. Apa mungkin sang Undagi tersebut salah memberikan intruksi? Namun mengapa Yona yang tertuduh? Tak ada yang bisa dijelaskan, anak baru selalu menjadi kambing hitam.


    "Bukankah tadi mas Dazin mengatakan bumbu B?"


    "Kapan aku mengatakan hal tersebut? Tak usah mengarang cerita." Mas Dazin seolah tak ingin mendengar penjelasan lagi, Ia hanya menegurku dengan pelan, namun menusuk hati. Sikapnya memang dari awal seperti tak menyukai Yona, apa mungkin karena Yona gemuk? Tapi sungguh, itu menyakitkan. Tak ada orang lain yang mendengarnya, sebab suaranya sangatlah lirih. Perdebatan hanya akan memakan banyak waktu, begitu banyak yang harus Ia lakukan, tak apa, Ia tak akan kalah dengan keadaan, semua ini resiko atas pilihannya, mau tak mau semua harus dijalankan. Tak apa, akan ada harga atas semua usaha. Tak apa, semua ini hanyalah permulaan dan lihat siapa yang akan menang. Tak apa, Ia tak sendirian, semua orang di ruangan ini mengalami hal yang sama dan Ia hanya perlu waktu untuk beradaptasi. Tak apa, ini tak akan lama, semua akan segera usai.


    Dadaran yang telah dibuat diletakkan diatas plastik wrap dan tambahkan adonan yang telah dibuat tadi, lalu gulung beserta plastik hingga berbentuk tabung yang padat. Tusuk-tusuk agar udara didalam bisa keluar, dan kukus hingga matang. Setelah matang, goreng hingga kecoklatan tanpa telur, Angkat lalu tiriskan.


    Terdapat 5kg telur rebus siap dikupas, waktu sudah menunjukkan waktu pulang, untuk mengisi waktu selagi yang lain masih mengerjakan tugasnya masing-masing, mas Dazin meminta Yona membantunya mengupas seluruh telur tersebut, ya, benar, seluruhnya. Tak ada yang salah dengan permintaan mas Dazin, ini perusahaan besar, sudah sewajarnya seperti ini, hanya saja, Yona masih terlalu kecil.


    Edo, teman magang Yona dari sekolah yang sama, pria bertubuh atletis itu ditunjuk oleh guru pembimbing untuk menjadi ketua grup, yang mana jelas karena Yona tidak akur dengan kedua temannya yang lain. Edo, pria bertutur kata lembut yang terkadang bisa sangat menyakitkan jika sedang tidak enak hati. Tak ada yang salah dengannya, hanya saja Ia lebih pro kepada dua teman magangnya itu, temannya, bukan teman Yona.


    "Apa yang kau lakukan, Edo?" Yona menatap Edo menggulung-gulungkan telur hingga cangkangnya retak berkeping-keping menjadi sangat kecil.


    "Apakah ada yang salah?" Membalas tanpa melihat Yona sedikitpun. Memang hal yang dilakukannya tidaklah salah, hanya saja terlihat sangatlah aneh. Menambah beban kerja dan tidak efisien waktu.


    "Justru teknik ini mempermudah dan mempercepat proses mengupas cangkang telur." Benarkah? Yona tak melihat cara tersebut semakin menjadi lebih mudah, dan Yona bisa mengupas dua buah telur disaat Edo baru mengupas sebuah telur.


    "Cara yang kau lakukan sangatlah unik, namun mengotori banyak tempat."


    "Kau tidak akan paham." Edo menjawab dengan ketus. Selama berada di rantauan, Edo tidak terlihat antusias berteman dengan Yona, Ia lebih mempedulikan kedua temannya yang lain, duduk berkumpul bersama saat istirahat, bergurau bersama, dan yang menyakitkan, terasa seperti Edo ikut memusuhi Yona seperti kedua temannya yang lain.


    Irma dan Natasha, tak ada nama samaran untuk mereka, biarkan semua orang tahu tentang mereka, mereka sudah cukup menjatuhkan Yona dihadapan para karyawan, kini, nama mereka akan diabadikan dalam kisah ini.


*


    Masih tentang tempat magang sebelumnya, restoran cepat saji di kota asal mereka. Natasha, gadis cantik dengan bau badan yang menyengat. Tak ada yang salah dengan bau badan, namun untuk berada di ruangan kecil dan panas bersamanya, cukup untuk membuat napas sesak. Yona, Edo, dan Natasha sebelumnya melakukan magang di tempat yang sama, Irma hanya orang baru, Ia sama sekali tak tahu apapun, kecuali takut kehilangan teman.


    Natasha selalu melampiaskan segala kesalahannya pada Yona. Bahkan di hari pertama kerja, disaat Ia melakukan kesalahan dihadapan seorang karyawan yang perfeksionis, Natasha bahkan tak mengakuinya dan berteriak kencang "Bukan saya, itu perbuatan Yona." yang jelas-jelas itu perbuatannya. Jika ada Dajjal dengan dirinya, mungkin Dajjar akan berguru padanya, sungguh.


    Emosi yang selalu meledak-ledak jika tak sesuai keinginannya menjadi makanan sehari-hari Yona. Mungkin tanpa Natasha, program magang pertama Yona akan terasa sangat menyenangkan, namun Tuhan berkata lain. Mari berlanjut pada permasalahan utama antara Yona dan Natasha, sangat sederhana, namun Natasha selalu membenci orang-orang yang tidak setuju padanya.


    Saat itu, dua hari sebelum kontrak magang usai. Menurut peraturan tidak tertulis, akan ada acara kecil-kecilan untuk yang akan pergi, biasanya dalam bentuk makanan. Mereka berencana membeli makanan untuk para karyawan, selalu tak menemukan titik temu, hingga berlanjut pada diskusi di malam harinya.


    "Bagaimana? Aku dan Edo telah berencana membeli Ayam Goreng Laos yang biasa mereka makan." Yona memulai pembicaraan di telpon.


    "AYAM GORENG LAOS?!! Apa kau yakin itu makanan yang pantas diberikan pada mereka? Mereka bahkan bisa membelinya sendiri, tentu jelas bukan makanan itu yang mereka harapkan." Seperti biasa, Natasha dengan nada tinggi berusaha mendominasikan dirinya sebagai orang penting yang sangat dibutuhkan.


    "Bukankah semua makanan sama saja? Mengapa harus memberikan yang sangat istimewa, toh kita ini pemberi, kita memiliki hak untuk memberikan apapun yang kita inginkan. Tak ada yang melarang." Yona ugem pada pendapatnya, karena, sungguh, mengikuti segala keinginan Natasha tak akan pernah usai.


    "Kau tak akan pernah paham, mengapa sangat sulit bagimu untuk mengerti, mengapa begitu sulit untuk setuju denganku, aku memiliki tetangga, Ia sanggup memasakkan makanan yang jauh lebih enak daripada pilihanmu dan Edo." Sungguh benawat.


    "Benarkah, mengapa tak sekali saja kau menghargai keinginanku? Mengapa harus selalu keinginanmu yang dituruti?" Yona sungguh telah lelah menghadapi orang yang tak bernuraga.


    "KARENA AKU TAK MENYUKAI PILIHANMU. Jika ada pilihan terbaik, tentu harus memilih yang terbaik." Nada tinggi, penekanan pada akhir kalimat, dan selalu ada jawaban. Sungguh tak ingin kalah.


    "Kau merasa pilihanmu menjadi yang terbaik?" Yona berhasil memancing Natasha, sudah tiga bulan Ia selalu menuruti keinginan gadis gila itu, kini masa magang akan segera berakhir, sudah tak ada alasan lagi untuk takut.


    "Ya, dan aku telah menghubungi tetanggaku, dan dia sanggup melakukan yang aku inginkan." Bahkan telpon belum dimatikan, bagaimana Ia bisa menghubungi tetangganya secepat itu? Benar-benar pembohong.


    "Aku hanya memilihi budget untuk menu seperti yang aku pilih, jika lebih dari itu, aku tidak akan sanggup." Muak dengan kisah akhir yang selalu sama, tak ada pilihan lain selain memberi gadis gila itu pelajaran agar mengerti.


    "Ayahmu adalah seorang tentara, tak mungkin jika kau tidak memiliki uang yang banyak, kau hanya perlu meminta dan keinginanmu akan selalu terpenuhi, mengapa kau mempersulit segalanya?"


    "Kau bukan bagian dari keluargaku, lebih baik kau diam karena kau tak mengerti apapun, bukankah kau sangat kaya? Mengapa tidak kau dan Edo saja yang membayar segalanya?" Yona membalas perkataan Natasha yang menyakitkan itu. Yona bahkan tak pernah menceritakan tentang kehidupannya pada gadis gila itu, mengapa Ia dengan entengnya bisa memutuskan apa yang ada dan tidak ada dalam kehidupan Yona. Tragis.


    "Jadi kau sungguh tak setuju denganku? Baiklah, akan kulakukan ini dengan Edo."


    "Baiklah. Lakukan yang menurutmu terbaik." Yona segera mematikan panggilan mereka, percuma, hanya akan ada amarah jika dilanjutkan, yang terpenting Ia telah terbebas dari beban yang harus ditanggung.


Nirmala        : Tanpa cacat, sempurna.


Lirih              : Lembut (tentang suara), pelan-pelan, tidak keras.


Undagi         : Tenaga ahli


Ugem           : Memegang teguh


Benawat       : Sombong.


Nuraga         : Simpati


Bersambung...