Beloved Sir

Beloved Sir
episode 15



Setelah satu luncuran anak panah, kini didusul dengan panah lainnya yang terus menghujani mereka. anak panah itu diselimuti dengan api. kini tempat itu terbakar bagaikan neraka. asap bertebaran menyelimuti gelapnya malam. bagaikan guntur dimalam hari, para pendekar pedang bersusah payah menangkis semua serangan panah yang jatuh dari langit itu. dengan banyaknya api dan asap yang terus bertambah membuat mereka kesusahan mencari udara dan melihat jalan keluar. Tak sampai disitu, pasukan Li zuanfeng pun bermunculan menyerang para pendekar pedang zhixiren.


Para pendekar pedang terus berusaha kabur dari tempat mengerikan itu sambil menangkis semua panah berapi itu, ditambah lagi dengan banyak nya pasukan Li zuanfeng yang menyerbu mereka.


"𝙈𝙪𝙣𝙙𝙪𝙧! 𝙥𝙚𝙧𝙜𝙞! 𝙥𝙚𝙧𝙜𝙞"


"𝙠𝙚𝙡𝙪𝙖𝙧 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙨𝙞𝙣𝙞!!! "


"𝙘𝙚𝙥𝙖𝙩 𝙥𝙚𝙧𝙜𝙞"


para pendekar pedang tak Habis-habisnya memberikan teriakan untuk segera pergi dari kuil itu. Tempat itu kini diporak-porandakan oleh Li zuanfeng. para pendekar pedang dibuat kucar-kacir oleh nya. mereka bagaikan semut yang disiram api.


"Hahaha! " dengan seringai penuh dan tawa yang lepas, Li zuanfeng merasa bangga atas perbuatannya. Dia sama sekali tak menyesali perbuatannya itu. bagaimana ia mau merasa kasihan terhadap mereka, sedangkan mereka juga berniat membunuhnya.


...----------------...


Setelah beberapa jam berlalu, kini tempat itu kosong. hanya disisai oleh puing-puing api bekas kebakaran. dengan usaha para pendekar pedang yang cukup giat menghadapi jebakan itu, Li zuanfeng tak berhasil menghabisi mereka. Kini para pendekar pedang yang berjatuhan telah dievakuasi di rumah petani, dimana markas mereka saat ini.Tentunya Li zuanfeng merasa cukup kesal karena tak bisa melenyapkan mereka dalam satu malam. meski begitu baginya bukanlah masalah besar, karena masih ada kesempatan di lain waktu.


Rumah petani....


"cepat bawa airnya" seru Mo ding menyuruh seorang pendekar pedang untuk mengambil air kompresan.


rumah petani itu dikelilingi dengan banyaknya pendekar pedang yang terluka. ada yang terluka ringan dan juga ada yang cukup berat.


Kini Lao huo si gendut itu terbaring lemas tak berdaya diatas papan kayu rumah petani. dia menahan panah untuk temannya sehingga beberapa anak panah menembus punggungnya. tampaknya ajalnya sudah dekat. Mo ding dan zhunchang terus berusaha mengobatinya dan mengompres lao huo lagi dan lagi.Mereka tak menyerah untuk menyembuhkan Lao huo. Banyak pendekar pedang lainnya yang berdukacita melihat keadaan Lao huo saat ini. Meski begitu dia tetap sadarkan diri dengan nafas yang masih tersengal-sengal. Tentunya dia tak kuasa menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Di tengah ajalnya, dia masih sempat memberikan beberapa patah kata atau pengungkapkan rasa bersalah dan penyesalannya terhadap zhunchang.


"zhunchang.... " panggilnya dengan tatapan sayu dan suara yang bergetar. jelas dia tak lagi memiliki daya untuk berbicara.


zhunchang dan yang lainnya menoleh memandang Lao huo, mencoba mendengarkan kata-kata terakhirnya.


"Aku ingin mengaku. saat masih kecil.... aku biasa menunggu di hutan diluar gubukmu. dan saat kau keluar... aku akan melemparkan batu padamu. lalu sembunyi. "seluruh pendekar mendengarkannya dengan seksama. mereka tak kuasa menahan tangis akibat ungkapan yang sedang dikatakan Lao huo. mereka tersenyum hangat setiap mendengar kata yang keluar dari mulutnya dan diiringi dengan air mata yang terus bercu-curan.Bagaimana bisa mereka menahan jeritan kepedihan sang sahabat.


"aku tau itu ulahmu..... aku bisa melihat perutmu yang mencuat dari balik pepohonan. "ucap zhunchang dengan senyum hangat diwajahnya. Begitu juga tetesan air mata yang terus membasahi pipinya.


...***...


Zhunchang menghampiri Mo ding yang duduk sendirian diluar rumah


"harusnya aku bertindak saat tuan besar Mo mati. harusnya amarah kita langsung memuncak. meski kita gagal..... kita akan mati terhormat."ucapnya Mo ding. hatinya hampa setiap kali mengeluarkan kata penyesalannya itu. dia berpikir bahwa semua itu adalah akhir baginya maupun pendekar pedang. Zhunchang yang memiliki tekad yang kuat tentunya tak bisa mendengarkan itu dan memberikan beberapa kata yang dapat mendorong kembali gairah Mo ding


" kau itu pendekar pedang, Mo ding. kita masih punya pedang dan keuntunga dari kejutan. Li zuanfeng mengira kita sudah menjadi hantu. kita bisa menggunakannya, mengubahnya menjadi keuntungan.Dia takkan pernah mengharapkan kita.Kita masih bisa melanjutkan niat kita. "ucap zhunchang.


Mo ding memahaminya dengan dalam. hatinya sedikit tenang setelah mendengar kata-kata itu. dia mulai berpikir jernih untuk kembali bangkit dari kehampaannya. Tapi, untuk saat ini, dia lebih memilih untuk menstabilkan kondisi zhixiren sambil menunggu kesempatan datang kepada mereka untuk segera membunuh Li zuanfeng.


Tanpa mereka sadari sebenarnya Li zuanfeng sangat antusias menunggu mereka untuk segera jatuh ke dalam genggamannya. karena dia tahu bahwa pendekar pedang itu belum hilang dari bumi.


...----------------...


rRang Li zuanfeng...


"Li zuanfeng! kau menghabisi para pendekar zhixiren?!!! " ucap Mo linyi yang mencengkram kuat kerah baju Li zuanfeng. dia sedikit mengjinjit untuk menyamakan tingginya dengan Li zuanfeng.


"cepat sekali kabarmu itu, tuan muda Mo" ucap Li zuanfeng dengan datar


"kenapa, apa kau tak suka! jawab aku sekarang!!! apa itu benar! apa kau menghabisi mereka? mengapa kau menghabisi mereka Li zuanfeng?!!! " tanya Mo linyi dengan amarah yang memuncak. dia tak dapat mengendalikan emosinya setelah mendengar kabar bahwa Li zuanfeng ke kuil bukan untuk berdoa melainkan untuk melenyapkan seluruh pendekar yang sudah seperti keluarganya itu. matanya menyipit, alisnya mengernyit, ingin sekali rasanya dia melayangkan satu pukulam kewajah licik Li zuanfeng. Entah darimana dia mendengar kabar itu. Tapi bagi Li zuanfeng, pertanyaan Mo linyi itu tak penting untuk ditanggapi. Dia hanya memberikan jawaban sesuka hati yang menurutnya menarik.


"kalau begitu... sebagaimana kabar yang kau dengar, maka begitulah kebenarannya" ucap Li zuanfeng sambil menyeringai


BUGH!


satu pukulan akhirnya melayang kewajah Li zuanfeng. Mo linyi menundukkan pandangannya. tangannya terkepal kuat, matanya memerah. Mo linyi berpikir dirinya akan berhasil bekerja sama dengan Mo ding, Zhunchang, dan para pendekar pedang lainnya. ternyata semua itu khayalan nya untuk segera lepas dari Li zuanfeng.


air matanya tampak menetes membasahi pipinya yang sedang menunduk. rasa sakit di hatinya tak dapat dilukiskan bagaimana rasa sakit yang menyerangnya itu. yang jelas, dadanya seperti ditusuk pisau belati berkali-kali. bagaimana tidak, Mo ding, Zhunchang dan aliansi zhixiren adalah andalan dan orang terdekatnya selama ini. tanpa diduga mereka lenyap dalam satu malam. Mo linyi menangis ssesegukan tanpa mengeluarkan suara .karena baginya itu akan membuatnya lebih rendah dimata Li zuanfeng .