Becoming Empress

Becoming Empress
BECOMING EMPRESS BAB 38. Eksekusi





Lapangan Eksekusi•


Semua rakyat pagi ini sudah berkumpul memenuhi lapangan di mana para tersangka akan di eksekusi gantung. Bukan hanya para rakyat saja yang datang, namun semua anggota Istana dan para mentri beserta para pejabat hadir atas undangan dari Kaisar sendiri.


Karna Kaisar Jun ingin memperlihat'kan pada semua rakyatnya, bahwa ini adalah hukuman untuk orang yang berkhianat pada nya. Dan berharap jika kedepan nya tidak akan ada yang berpikir untuk bersekongkol melawan dirinya.


Di atas sana ... sudah terdapat enam tali gantung dengan pondasi kokoh dan penjagaan yang ketat. Di sebelah kiri sudah ada Kaisar Jun dan Permaisuri An Xia yang duduk di singgah sana nya menantikan para tersangka datang.


Tak berapa lama ... datang Ibu Suri dengan antek-antek nya di seret paksa dengan kepala di tutup kain hitam, serta tali di sekujur tubuh mereka agar tidak melarikan diri.


Satu persatu para penghianat itu di hukum gantung termasuk Ibu Suri yang awalnya sempat memberontak. Namun karna Alexsa yang sudah tidak sabar meminta para algojo untuk menebas kepala Ibu Suri.


Semua orang begitu terkejut, dulu wanita yang duduk di atas sana hanya seorang gadis lemah dan selalu di kucilkan oleh keluarga dan masyarakat. Tapi lihat sekarang, dia menjelma menjadi pemberani dan sedikit kejam.


Sedangkan Alexsa yang melihat kepala Ibu Suri menggelinding ke bawah, ia tersenyum senang dan merasa puas. Lalu pandangan nya tidak sengaja melihat ke arah Nona LingLiang yang tengah ketakutan dengan apa yang barusan dia lihat.


Sungguh, melihat raut wajah Nona LingLiang yang ketakutan membuat Alexsa puas dan ingin berlama-lama bermain dengan Nona LingLiang. ''Wait your turn dear. (Tunggu giliran mu sayang) Gumam Alexsa dalam hati.''



Hari telah berlalu begitu cepat, ketenangan di Istana semakin terasa oleh semua orang termasuk para rakyat yang sudah tidak tercekik lagi oleh pajak yang mahal akibat para mentri Istana banyak yang korupsi.


Rakyat kini makmur, damai, tidak ada lagi yang namanya kaya semakin kaya ... yang miskin menjadi miskin, semua sekarang sama di bawah kendali Kaisar Jun yang memimpin.


Bahkan kejahatan dan pembunuhan kini mulai terdengar jarang terlapor.






Kini Alexsa tengah duduk di tepi kolam di temani Dayang Mei yang sudah sembuh total dari luka. Alexsa tengah memandangi dirinya sendiri di pantulan air sambil bertanya tanya dalam hati.


''Kapan aku pulang ke duniaku? bukan'kah semua masalah sudah selesai?" Gumam Alexsa dalam hati, lalu menoleh ke arah Dayang Mei.


''Ada apa yang Mulia Permaisuri?''


''Mei ... apa yang kurang di Istana ini? ehh ... maksudku, kira kira apa ada yang kurang di Istana ini hingga harus menjadi sempurna?''


Dayang Mei tersenyum. ''Semua sudah damai dan sempurna Yang Mulia Permaisuri, namun hanya ada satu yang kurang.''


''Apa itu?''


''Istana ini akan sempurna jika sudah ada tangisan seorang bayi.''


''Jadi maksudmu aku harus ...''


''Memiliki pangeran Mahkota Yang Mulia.'' jawab Dayang Mei dengan cepat.


Alexsa terdiam, ''Aah ... iya juga yaaa, tapi jika membuatnya aku sudah sering dengan Jun dan hampir setiap malam.'' Ucap Alexsa tanpa di filter.


Dayang Mei, yang mendengar penuturan Jun-jungan nya merasa malu ... hingga tak berapa lama, datang rombongan Kaisar Jun menghampiri Alexsa.


''Permaisuri.'' Panggil Kaisar Jun.


''Kenapa kau bermain di sini? ayo ikut aku, ada sesuatu yang harus kita bahas.''


Alexsa berdiri di bantu Kaisar Jun, kini mereka berdua tengah berjalan ber'iringan dengan tangan saling memegang. ''Jun, apa yang kau ingin bicarakan?''


''Aahh, kita di undangan oleh dari kerajaan Han.''


''Undangan pernikahan?''


''Tidak, Kaisar Han Seri berulang tahun dan mengadakan pesta besar besaran.''


''Apakah aku harus ikut?"


"Tentu sana Xia'er, karna kau Permaisuri ku. Tidak mungkin aku berkunjung ke Kerajaan orang lain tidak di dampingi mu.''


''Kapan kita akan berangkat ke Kerajaan, Han?''


''Besok kita akan pergi, bersiap siaplah."


''Ahh baiklah, emm ... tapi sebelum itu ayo ikut aku.'' Alexsa menarik tangan Kaisar Jun.


''Kau ingin mengajak ku kemana?''


Alexsa menghentikan langkahnya, lalu tersenyum pada Jun penuh akan minat. ''Ayo kita buat pangeran Mahkota.'' Bisik Alexsa, lalu menyeret Kaisar Jun ke kamar mereka.


Para pelayan, dayang, kasim, serta pengawal saling pandang lalu membalik'kan tubuh mereka dan membubarkan diri masing-masing ... mereka tau apa yang akan terjadi selanjutnya, jadi lebih baik mengaman'kan telinga mereka di banding'kan telinga mereka ternodai oleh suara-suara ambigu yang bisa membangkitkan gairah.



Sedangkan di dalam kamar•


Alexsa dengan tergesa-gesa melepaskan hanfu Kaisar Jun dan melemparkan hanfu itu ke sembarang arah, mendorong tubuh kekar nan kuat itu kebelakang ... kedua bola mata mereka saling pandang, dengan senyum dan rasa akan minat masing-masing.


Alexsa melangkah mendekati Kaisar Jun, jari jemarinya mengusap rahang yang tegas dengan wajah yang begitu tampan dengan tatapan sayu. Alexsa benar-benar terbuai akan ketampanan di luar logika manusia, Junda bagaikan Dewa matahari yang senan tiasa menyinari hatinya yang kelam.


Kaisar Jun mengecup bibir Alexsa dengan lembut, tatapan mata mereka tidak lepas bersama deru nafas bagaikan delusi saling menerpa hangat di kulit.


Alexsa yang memang berani, langsung menarik tengkuk Kaisar Jun dan menempelkan bibir mereka dalam rasa yang berbeda, ada gairah dan hasrat yang menggebu di dalam diri mereka yang ingin segera di tuntaskan.


Kaisar Jun yang sudah terpancing, ia tidak ingin melepaskan pergulatan bibirnya hingga kecupan itu saling menuntut berdecak hangat penuh damba. Seolah mereka tengah meneguk air tak kasat mata yang menyejuk'kan raga mereka yang sedang terbakar.


Kedua nya saling membelai satu sama lain, memojok'kan punggung ke sisi dinding dengan segala belaian yang membuat sang birahi membuka diri.


Dengan cepat, Kaisar Jun melucuti hanfu yang Alexsa pakai dan menampak'kan hanfu itu ke lantai, bersamaan hanfu dirinya yang sudah terlepas kusut di bawah sana.


Kaisar Jun membawa Alexsa ke atas peraduan tanpa melepaskan pergulatan nya, mendorongnya hingga Alexsa dengan suka rela membiarkan dirinya di sentuh di mana pun sesuka hatinya.


(Touch wherever you want)


Mata mereka saling bertatap, menyelami samudra lautan biru dengan keringat membasahi tubuh mereka akibat guncangan ombak dan badai yang dahsyat.


Keduanya terus bergerak, mendayuh dengan satu irama hingga mereka tak bisa menahan daksa suara yang membuat kedua api semakin berkobar ... hingga Kaisar Jun menggeram dan mendesaah dengan bisikan kata.


''Aku mencintaimu.''


Nafas kedua nya tidak beraturan, bulir keringat menjadi saksi atas pergulatan mereka di atas peraduan yang menggairah'kan.


...•••••...


...LIKE.KOMEN.VOTE ...