
Alexsa sungguh tidak menyangka jika Dayang Mei akan mengalami nasib memperihatinkan seperti ini ... bagaimana tidak. Seluruh tubuh Dayang Mei penuh luka cambuk dan bernanah karna mungkin lukanya infeksi.
Alexsa pun menyuruh Kasim Ji membawa Dayang Mei untuk berobat di Aula tabib JinJiuli, karna ia sungguh tidak tega melihat keadaan Dayang Mei.
Semua pelayan pun membawa Dayang Mei pergi.
Sedangkan Alexsa berjalan menuju ruang kerja sang Ayah, karna Jendral An sedang tidak bertugas menjaga perbatasan.
Ia sudah lama tidak melihat Ayah dari pemilik tubuh ini, dan Alexsa ingin memastikan jika keadaan nya baik baik saja.
Setelah sampai di depan pintu ruangan sang Ayah, langkah nya terhenti ketika indra pendengaran nya mendengar percakapan antara sang Ayah dan An Rumi.
"Ayah akan meminta dia untuk menjadikan mu Selir di Istana, kau tenang saja putriku."
''Benarkah Ayah? Terima kasih Ayah ... kau memang Ayah yang paling hebat.'' Puji An Rumi memeluk Jendral An dengan manja.
Di luar ... Alexsa tersenyum aneh lalu melangkah ke dalam, membuat An Rumi dan Jendral An sedikit terkejut dengan kedatangan An Xia.
''Salam, Ayah.'' Alexsa sedikit membungkuk'kan kepalanya, karna ia menghormati Ayah pemilik tubuh yang dia tempati.
Namun apa ini ... tidak ada pelukan? tidak ada rasa rindu, atau menanyakan kabar pada putri pertamanya, yang mana membuat Alexsa menatap dengin pada dua orang di depan nya dan beberapa Selir baru sang Ayah.
''Baguslah kau masih di sini, Ayah ingin meminta sesuatu padamu.''
Alexsq menghela nafasnya.''Apa itu, Ayah?''
''Kau tau benar ... jika Ayah sudah membesarkan dirimu dari kecil hingga bisa menjadi Permaisuri sekarang ini, dan sekarang giliran mu untuk membalas jasa itu pada Ayah.''
Alexsa diam sambil mengerutkan keningnya. ''Membalas jasa?'' Gumam Alexsa dalam hati.
Jendral An bangun dari duduknya, berdiri di depan Alexsa dan menatapnya. ''Ayah ingin, kau membawa adik mu untuk menjadi Selir Kaisar dan memberinya gelar terhormat di Istana.''
Ingin sekali Alexsa tertawa sangat kencang dengan permintaan Ayah nya, namun ia tahan sebisa mungkin dan menampilkan wajah biasa saja.
''Baik Ayah, aku akan meminta Kaisar untuk menjadikan An Rumi sebagai Selir kesayangan Kaisar.'' Ucap Alexsa dengan senyuman devil melihat ke arah An Rumi yang sombong.
Lalu Alexsa melanjutkan perkataannya lagi, ''Maka dari itu ... persiapkan diri An Rumi dan jaga dia dengan baik malam ini.'' Ucap Alexsa lagi, namun ucapan ini seperti kode bagi An Rumi untuk berhati-hati.
Namun tanggapan An Rumi dan Jendral An keliru, mereka pikir Alexsa benar-benar akan menjadikan An Rumi sebagai Selir di Istana.
''Bagus, kau memang anak yang berbakti An Xia.'' ucap Jendral An, menepuk pundak Alexsa.
''Kalau begitu, anak yang berbakti ini undur diri Ayah.'' Alexsa sedikit membungkuk, lalu pergi dari kediaman Jendral An.
''Cih, ingin menjadi Selir? dalam mimpi pun kau tidak pantas menjadi Selir suamiku.'' Gumam Alexsa, lalu naik ke dalam kereta kuda.
•
•
•
Istana•
Di gazebo ... dimana Kaisar Jun tengah membaca beberapa buku dengan tenang, sambil menunggu kedatangan Permaisuri nya yang tidak kunjung datang dari kediaman An.
''Permaisuri di perjalanan menuju kemari, Yang Mulia.''
Kaisar Jun mengangguk, lalu menulis beberapa laporan untuk di berikan ke' Kediaman Militer Tang. Tanpa di sadari ... jika Nona LingLiang tengah memperhatikan Kaisar Jun dari jarak jauh penuh damba.
''Nona LingLiang.''
''Yaa.''
''Cemilan yang anda minta sudah tersedia.'' Ucap salah satu pelayan yang membawakan nampan berisi teh dan cemilan.
Nona LingLiang tersenyum senang, ''Ikut aku sekarang juga.'' Ujar Nona LingLiang melangkah ke arah Kaisar Jun.
Namun para pelayan yang ada di belakangnya saling pandang, mereka tidak menyangka jika cemilan yang mereka buat untuk Kaisar Jun.
''No-nona LingLiang, anda ingin pergi ke mana?'' tanya salah satu pelayan memberanikan diri untuk bertanya. ''Mohon, untuk tidak mengganggu Yang Mulia Kaisar."
Nona LingLiang menghentikan langkahnya, menoleh ke belakang dengan sinis. ''Kenapa? Apa aku tidak boleh menemui Kaisar? Aku ini akan menjadi Selirnya, dan Ibu Suri sudah merestuiku!'' Sentaknya dengan nada menekan.
Para pelayan itu terdiam tak bersuara, lalu mengikuti Nona LingLiang lagi.
''Salam Yang Mulia Kaisar Jun.''
Nona LingLiang membungkuk dengan anggun, namun Kaisar Jun tidak menoleh apa lagi menjawab salam dari Nona LingLiang.
Nona LingLiang merasa kikuk, namun ia sudah menebalkan muka untuk tidak menghiraukan kedinginan Kaisar Jun. ''Khem ... Yang Mulia, hamba membawakan cemilan untuk menemani anda.''
''Yue! Usir lalat pengganggu, dan jangan biarkan lalat itu dekat dengan Zhèn.'' Ucap Kaisar Jun, membuat Nona LingLiang memelototkan kedua matanya.
''Yang Mulia.'' Lirih Nona LingLiang.
''Yue!''
Yue pun mengusir paksa Nona LingLiang, dan menyeretnya untuk menjauh. ''Yang Mulia ... anda tidak bisa melakukan ini pada hamba! Hamba adalah calon Selir yang Mulia." Teriaknya yang tidak mendapatkan respon sama sekali.
Bruugh!!!
Yue mendorong Nona LingLiang hingga terjatuh, dan kebetulan tepat di kaki Alexsa yang baru saja sampai.
''Yang Mulia Permaisuri.'' Yue memberi salam.
Alexsa melihat Nona LingLiang yang masih bersujud di kakinya hanya tersenyum sombong mengangkat dagu, lalu mengibaskan hanfu miliknya hingga mengenai wajah Nona LingLiang.
''Cih! tak sadar diri." ledek Alexsa melangkah pergi, menghampiri Kaisar Jun yang sudah menunggunya.
''Kurang ajar!! awas kau!'' geram Nona LingLiang mengepalkan kedua tangannya.
•
...•••••...
...LIKE.KOMEN.VOTE.BUNGA ...