Becoming Empress

Becoming Empress
BECOMING EMPRESS BAB 22. Menyamar.



Semua prajurit khusus yang di pimpin oleh Kaisar Jun dan pengawal Yue sudah mengepung markas penculikan anak kecil di desa Shoxing.


Tepatnya di dalam hutan, dimana ada Kuil yang sudah terbengkalai dan di romorkan berhantu. Kini menjadi markas para penjahat itu, bahkan kuil yang awalnya terbuka kini bangunan itu tertutup dengan rapat.


Kaisar Jun, memberikan isyarat tangan dan lirikkan pada prajurit khusus yang dia latih sendiri untuk bersiap, sejak dia masih menjadi Pangeran Mahkota di Kekaisaran ini ... Kaisar Jun sudah memiliki prajurit tersembunyi.


Para prajurit yang sudah siap dengan sentaja tombak, pedang, dan belati di tangan mereka. Hanya butuh isyarat dari Kaisar agar mereka bergerak dengan cepat, walau ada penjagaan yang ketat di setiap sudut oleh orang yang berbadan kekar dan garang.


Tak membuat para prajurit takut dan menciut..


Kaisar Jun mendengar suara gemuruh dan gelak tawa dari dalam bangunan, mendengar tangisan anak-anak yang tengah ketakutan dan meminta tolong.


“Sekarang!”


“Serangggg ...”


Semua prajurit yang sudah mengepung, keluar dari persembunyian mereka dan mulai menyerang para penjaga dan menghabisi mereka satu persatu.


Brugh!!


Salah satu pengawal yang menjaga Kuil di tendang dan menubruk pintu hingga rusak, membuat semua orang yang ada di dalam sedang berpesta terkejut dan langsung berdiri menarik pedang mereka.


Mereka ingin melangkah ke luar, namun di kejutkan dengan kedatangan para prajurit berseragam besi yang sudah mengepung tempat ini.


Apa lagi sang ketua kelompok terdiam melihat para prajurit berdiri rapih di depanya. siapa yang tidak tau prajurit di depannya dengan pakaian mereka, tentu saja sang ketua kelompok tau jika prajurit dari istana.


“Siapa kalian?” Tanya sang ketua, walau dirinya sudah mengetahui.


Tak ada yang menjawab, semua diam hingga barisan prajurit membelah menjadi dua barisan dan memberikan jalan untuk Kaisar Jun.


Kini keduanya saling pandang dengan dalam, bertatap penuh dengan aura dingin dan mencekam.


“Prajurit! kumpulkan semua anak anak dan bawa keluar!” Titah sang Kaisar.


“Kau! jangan ikut campur!” Bentak sang ketua.


“Lancang!” Teriak Yue tak terima jika Kaisar nya di bentak oleh orang lain, ''Apa kau tau, siapa orang yang ada di depan mu!''


“Tidak perduli! jika kalian ikut campur, maka kalian harus mati di tanganku!” Pria itu berlari, mengacungkan pedang pada Kaisar Jun.


Membuat semua prajurit mengacungkan senjata mereka, namun Kaisar Jun memberi isyarat dengan tangannya agar mereka diam di tempat.


Kaisar Jun berdiri dengan tenang, mana mungkin dia takut dengan gertakkan nya. Dia adalah seorang Kaisar yang tidak takut dengan apapun.


Ketika ketua kelompok itu sudah mendenkat dan mengacungkan pedangnya, Kaisar Jun dengan cepat menendang dada ketua kelompok itu hingga mundur kebelakang dan membentur tembok.


Bruugh!!


...Argh!!...


“Ketua!!”


Tendangan itu membuat sang ketua kelompok kesakitan, karna rongga dadanya langsung patah hingga ia batuk berdarah.


Kaisar Jun melangkah kedepan ketua kelompok, lalu mengeluarkan pedangnya dan ...


Craaasshh ...


...Aaahhkk ......


Ketua kelompok itu berteriak kesakitan, karna kaki sebelah kirinya di tebas begitu saja hingga darah bercucuran layaknya air yang tengah mengalir deras.


Tak sampai di situ, Kaisar Jun menebas kaki yang satunya lagi, hingga sang ketua kelompok menjerit kesakitan hingga meminta ampun.


“Kalian sudah berani mengacau di wilayah kekuasaan Zhèn! maka Zhèn sebagai Kaisar menghukum kalian semua untuk di bakar hidup hidup tanpa ada yang tersisa.”


“Yang Mulia ampuni hamba.” para anak buah sang ketua kelompok meminta ampunan, namun Kaisar Jun langsung pergi.


“Bakar mereka dengan bangunan ini, jangan sampai ada yang lolos!” titahnya pada Yue.


“Baik yang Mulia.”





Di waktu yang bersamaan, di kediaman Fang•


Bangsawan Fang terkenal dengan julukan dermawan dan baik hati pada siapapun, Tuan Fang Yi memiliki Istri sah dan dua Selir dengan dua anak dari istri sah satu anak dari Selir, dan Selir ketiga belum memiliki anak.


Fang Jia Lu. Nona Pertama Fang, anak Selir.


Fang Jia Mee. Nona kedua Fang.


Ketiga sodara itu terlihat akur begitu pun Nyonya Fang dan Selirnya, namun sifat manusia tidak ada yang tau saat di belakang layar.


“Putriku.” Gumam Nyonya Fang, yang tengah terbaring lemah di atas peraduan.


“Tabib, bagaimana keadaan istriku?” tanya Tuang Fang.


“Ke'adaannya semakin lemah, mungkin efek dari rasa rindu pada Nona kedua.”


Di saat semua orang tengah bertanya pada tabib, seorang penjaga gerbang di kediaman Fang berteriak kencang hingga mereka menoleh secara bersamaan dan terheran.


“Nyonya ...”


“Nyonya ... Tuan.” Teriak penjaga, membuat kediaman Fang terkejut dengan teriakkan nya.


Braak!!


Penjaga itu masuk kedalam, dengan nafas tak beraturan.


“Ada apa denganmu? kenapa kau berteriak seperti melihat hantu.”


“Nyonya. Tuan, di gerbang ada ...”





Sedangkan di luar gerbang•


“Nona ... terimakasih karna anda telah sudi datang kemari, saya mendengar kabar bahwa Nyonya Fang sakit sakitan ketika ada rumor kami telah mati.”


“Tidak apa, aku hanya membantu.” Jawab Alexsa, dengan bibir menyunggingkan sebelah. Padahal dalam hati, dia bersyukur karna dia bisa menyamar menjadi Nona kedua di keluarga Bangsawan Fang.


“Aku tidak membawa uang banyak, aku juga tidak punya pilihan lain selain menyamar ... lagian, aku tidak akan ketahuan karna aku memakai kain penutup di wajahku.” Gumam Alexsa dalam hati.


Tak berapa lama, gerbang kediaman Fang terbuka lebar, menyuruh Alexsa dan Lieyu'er masuk.


Alexsa melihat lihat kediaman mewah ini, lalu netra matanya tak sengaja melihat sekumpulan orang berjalan dengan tergesa-gesa ke arahnya.


Alexsa melihat hanfu yang mereka pakai, dan menebak jika mereka adalah keluarga Fang. Alexsa pun berpura-pura tenang saat mereka semakin dekat ke arahnya.


“Putriku.” Tuan Fang langsung memeluk Alexsa


“Ayah ...” Ucap Alexsa dengan nada lemah dan gemulai.


“Syukurlah kalian pulang dengan selamat, mari masuk dan lihat Ibunda mu yang lemah.”


Alexsa mengangguk dan mengikuti Tuan Fang, kedua Kakaknya menyapa Alexsa dengan ramah.


“Aku tidak dosa, kan. Membohongi mereka semua?” Gumam Alexsa dalam hati. “Hahah- tentu saja tidak! aku tidak perduli juga, yang terpenting perut kenyang tidur pun tenang.” Gumamnya lagi.




“Selir Ran, kediaman kita kedatangan tamu.” Ucap Dayang setianya.


Selir Ran tersenyum. “Dayang ... kediaman kita sering kedatangan tamu, kenapa kau begitu heboh.”


“Nona ke dua Jia Mee sudah kembali.”


Selir Ran yang tengah menyulam langsung terhenti dan terdiam sejenak, lalu sedetik kemudian tersenyum.


“Baiklah, mari menemuinya.” Selir Ran menaruh sulamannya di atas meja, lalu berdiri menuju kediaman Nyonya Fang dimana Alexsa berada.


“Dayang, apa kau yakin itu dia?” Tanya Selir Ran.


“Sepertinya begitu Nyonya, di sampingnya ada Lieyu'er pelayan setianya.”


Selir Ran semakin terdiam, namun dia sangat tenang, entah apa yang ada di dalam pikirannya.


...••••...


...LIKE.KOMEN.VOTE.BUNGA...