Badboy Husband

Badboy Husband
9 - GARA-GARA BAKSO!



"Lo beneran hamilin anak orang?"


Gamma menghela nafas berat mendengar tuduhan dari Delta. Cowok itu memejamkan mata nya erat, kalau sudah seperti ini mau tak mau ia harus berterus terang kepada mereka daripada masalah menjadi semakin rumit. Ingin marah rasa nya pun percuma, itu juga salah nya karena tidak bisa menjaga ucapan nya.


"Gam?" tegur Ardhan ikut-ikutan, wajah nya tegang menantikan jawaban yang keluar dari bibir Gamma.


Keheningan melanda kelima cowok yang larut dalam pikiran masing-masing, melihat nya Mahen pun tertawa sinis. "Udah? gak mau cerita? fine, ternyata bener kalau lo gak nganggep kita sebagai sahabat." Cowok itu bangkit dari duduk nya seakan hendak meninggalkan rooftop namun celana abu nya lebih dulu ditarik kasar oleh Gamma, raut wajah nya terlihat lelah.


"Lo tetep disini kalau gak mau pulang cuma nama," ancam Gamma. "Gue bakal cerita sama kalian."


Semua nya diam, Mahen sudah duduk di posisi nya semula bahkan Jeno yang notabene nya tidak suka ikut campur pun ikut mematikan ponsel sambil bersandar di dada Ardhan dengan tenang.


"Gue..." menatap teman-teman nya, Gamma memejamkan mata sejenak, "udah nikah siri sama Altheya." Cowok itu melanjutkan cerita nya saat bertemu pertama kali dengan Altheya hingga hari ini tanpa ada yang menyela. Baik Delta, Ardhan dan Mahen yang dikenal sebagai trio rusuh itu pun terlihat serius menyimak sesekali terkejut mendengar aksi gila Altheya yang hendak bunuh diri dari cerita Gamma.


"Tapi bukan lo yang hamilin tuh cewek, kan?" tanya Ardhan hati-hati.


Gamma menggeleng sebagai jawaban. "Gue juga masih tau batasan kali, tapi kalau udah nikah kek sekarang kenapa gak? hahaha."


"Otak lo!" Delta mendengus kesal. "Gue heran, sebenarnya lo anggap kita apa, sih? sampai masalah sebesar ini lo pendem sendiri."


Gamma bungkam, ia tidak bisa berkata-kata hingga tubuh Jeno terasa memeluknya dari samping sambil menepuk pelan punggung tegap nya. "We are not friends but family." Jeno menyodorkan tangan nya ke depan meminta tos yang disusul Mahen, Delta dan Ardhan yang ikut menumpuk tangan di atas nya.


"Kalah lo sama bocil, pangkat doang gede jadi ketua suka ngasih solusi buat anggota tapi masalah sendiri di telan sendiri juga," sindir Ardhan.


Kedua sudut bibir Gamma tertarik ke atas, benar apa yang dikatakan Jeno. Mereka bukan lagi seorang teman melainkan keluarga, Akberios akan selalu merangkul nya meski berada dalam masa sulit. Lantas cowok itu ikut meletakkan tangan di bagian paling bawah dan bagian atas sebagai leader.


"Akberios?"


"Families!" sahut mereka bersamaan.


Jeno tertawa lepas, kedua tangan nya bertepuk tangan heboh seperti anak kecil. "Jadi Altheya punya kita?" tanya nya polos.


"Apa-apaan maksud lo?!"


"Kan Delta pernah bilang kalau apa aja yang kita punya berarti punya kita semua juga."


Delta tersedak ludah, cowok itu mendelik horor ke arah Jeno yang kini menatap nya polos sambil mencari tempat untuk tidur. Sedangkan disisi lain bulu kuduk nya terasa meremang merasakan hawa tak sedap dari sebelah nya.


Mahen menahan tawa. "SCTV?"


"Satu untuk semua," imbuh Delta lirih yang seketika mendelik melihat Gamma yang memasang ancang-ancang. Tanpa pikir panjang Delta pun berlari menuruni rooftop dengan gerakan kilat hingga mereka dibuat tertawa mendengar teriakan cowok itu dari lantai tiga.


"ARGHHHH, RABIES GUE LO GIGIT GAM!" lolong nya penuh penderitaan.


•••


Bisikan-bisikan negatif kembali memenuhi isi pikiran Altheya, tatapan wanita itu terlihat kosong memandang isi apartemen dengan nyalang. Malam tadi ia kembali kepergok Gamma sedang membuat barcode di dalam kamar mandi membuat cowok itu gelap mata.


"Setelah cutter gue buang, lo masih bisa nyakitin diri pakai benang?" marah nya sebelum membuang seluruh properti yang dianggap bahaya bagi Gamma, termasuk cermin dan juga bungkus makanan ringan yang memiliki sudut tajam. Tak habis akal karena tidak bisa menyakiti lengan, Altheya membuat luka baru dengan mengelupas kulit bibir hingga berdarah.


"Laper," gumam nya pelan menepuk pelan perut rata yang terlihat mulai membuncit, bibir nya mengerucut lucu memandang bahan masakan di dapur tanpa berani menyalakan kompor. Altheya tidak bisa memasak.


Benda pipih disebelah nya bergetar mampu mengagetkan wanita hamil itu, dengan kening berkerut tangan nya menggeser tombol berwarna hijau setelah memastikan sang pelaku.


"Lo kemana aja sampai gak bisa angkat telepon gue–" Altheya menjauhkan ponsel nya sambil meringis, suara keras yang terdengar berat dengan nada panik dari seberang sana membuat telinga nya berdengung.


"Altheya?! lo masih di sana kan?!"


"Astaga, masih!" sahut Altheya kesal, tak ada jawaban lagi hingga Gamma mengubah panggilan suara nya menjadi panggilan video.


"Angkat!"


"G-gak mau, gue lagi di kamar mandi," elak Altheya, jika Gamma melihat bibir nya lelaki itu pasti marah besar.


Terdengar decakan dari seberang sana. "Angkat atau pulang nanti gue gempur sampai pagi!"


"Buset si bos brutal amat."


Altheya menutupi wajah nya dengan kedua tangan mendengar godaan dari teman Gamma. Setelah menetralkan ekspresi, wanita itu pun mengangkat panggilan Gamma dengan menampilkan setengah wajah nya saja. "Udah, apa?"


"Lihatin tangan lo!" perintah Gamma, wanita itu menurut kemudian memperlihatkan tangan kiri nya yang masih dihiasi oleh perban, kepala Delta yang muncul tiba-tiba di kamera membuat Altheya berjengkit.


"Bu bos kalau dari dekat ternyata lebih cantik, ya."


"Minta mati lo?!"


Altheya hanya bisa tertawa melihat interaksi kedua nya yang terlihat konyol, namun hal itu tak bertahan lama saat Altheya melotot karena suara perut nya mampu di dengar Gamma dari seberang sana.


"Lo belum makan? di rumah masih ada ayam gak?" Gamma melihat Altheya mengangguk ragu. "Terus?"


"G-gue gak bisa masak," cicit Altheya lirih disambut tawa oleh Ardhan dan yang lain membuat wanita itu menunduk malu. Terlihat Gamma memperingati para anggota nya hingga mereka kompak diam.


"Kenapa gak bilang? gue udah sediain uang cash di nakas malam tadi."


Altheya mengangguk. "Iya, boleh beli bakso?"


"Boleh, tapi order."


"Gue mau beli ditempat nya langsung."


Diseberang sana terlihat Gamma turun dari kursi panjang membuat kening Altheya berkerut. "Mau apa?"


"Pulang, anterin lo beli bakso."


Kedua mata Altheya membulat. "Eh? gak usah, gue bisa beli sendiri Gamma."


"Gue gak mau lo kenapa-kenapa."


"Gue gak bakal kenapa-kenapa, nanti berangkat naik taksi. Gue cuma mau izin aja kok," ujar Altheya cepat, ia sudah berjanji untuk tidak terlalu merepotkan Gamma.


"Janji beli bakso doang?" Altheya mengangguk, wajah diseberang sana terlihat mengintimidasi. "Kalau kabur konsekuensi nya apa?"


Wanita itu menelan ludah, Gamma terlihat menyeramkan jika seperti ini. "G-gue gak bakal kabur."


"Oke, kasih pap kalau udah sampai ditempat nya," putus Gamma sebelum panggilan berakhir.


Altheya menyimpan ponsel nya ke dalam tas slempang kecil tak lupa membawa beberapa lembar dari tumpukan uang cash yang ditinggalkan Gamma di laci nakas sebelum keluar dari apartemen menuju taksi online yang lebih dulu ia pesan.


Sejujurnya Altheya selalu bertanya-tanya, saat ingin beranjak tidur ia selalu berfikir darimana hasil kekayaan Gamma jika cowok itu sendiri mengatakan jarang meminta uang dari sang Papa. Apartemen mewah seperti ini tentu biaya perawatan nya tidak murah, ditambah lagi untuk makan sehari-hari dan mahar yang nominal nya disebutkan kala itu masih membuat Altheya shock berat. Seratus juta, untuk bocah yang baru menginjak bangku sekolah apakah itu wajar?


"Sudah sampai, non."


Altheya tersadar dari lamunan nya setelah taksi yang ditumpangi telah menepi di pinggir jalan, buru-buru Altheya mengulurkan beberapa uang kertas sambil mengecek bawaan nya.


"Kembalian nya, non."


Altheya tersenyum kecil. "Buat anak sama istri bapak di rumah."


"Beneran, non?" Altheya mengangguk membuat pria paruh baya itu berkaca-kaca. "Alhamdulillah, terimakasih semoga dibalas sama yang maha kuasa."


Wanita itu mengaminkan dalam hati kemudian beranjak turun untuk memesan bakso. Stan kecil yang berada di depan SMA Abdi itu membuat Altheya tersenyum kecil, ia teringat masa-masa pulang sekolah yang rela berlawan arah demi membeli bakso favoritnya.


"Mang Ujang, bakso kek biasanya satu porsi, ya." Pria yang sedang sibuk melayani penjual itu pun menoleh dengan kaget, bibir nya melengkung membentuk sebuah senyuman yang manis.


"Wah, ada pelanggan spesial ternyata. Apa kabar teh? udah lama mamang gak lihat teteh mampir."


Altheya tertawa kecil. "Ada masalah kecil mang, jadi gak bisa sesering dulu ke sini nya."


"Ya Allah teh, semoga cepat selesai masalah nya." Mang Ujang langsung membuat kan pesanan Altheya tanpa banyak bertanya, beliau cukup paham untuk tidak merusak privasi seseorang. "Di tunggu teh, duduk dulu."


Netra Altheya mengedar ke penjuru tempat yang terlihat sangat ramai. Tak ada tempat lagi, terpaksa Altheya berdiri menunggu pengunjung yang lain selesai dan mendapatkan kursi bersamaan dengan pesanan nya yang baru saja selesai di buatkan.


"Bakso spesial bonus gorengan istimewa buat teh Altheya."


Altheya hanya tertawa, ia menerima mangkok dari mang Ujang dan menuangkan sambal sebanyak mungkin. Selagi makan sendirian ia mengambil kesempatan, jika ada Gamma mungkin sambal itu sudah dibuang sejak awal. Ah, mengingat cowok itu membuat kedua pipi Altheya merona samar.


Wanita itu kembali memasukkan bola bakso ke dalam mulut sambil menatap suasana sekolah di depan nya. Menyadari ada sesuatu yang terlihat janggal, Altheya menghentikan kunyahannya.


Di sana terlihat dua murid berbeda gender sedang berusaha melompat dari pagar depan sambil tertawa lepas membuat nafsu makan Altheya mendadak hilang. Tepat setelah itu, sang murid laki-laki mendongak hingga tatapan mereka terkunci beberapa detik sebelum Altheya memutuskan pergi dari warung bakso mang Ujang.