Badboy Husband

Badboy Husband
8 - KECEPLOSAN



Menghela nafas berat, tangan Altheya terangkat untuk mengelus rambut Gamma dengan gerakan seringan kapas. Ia sudah membulatkan tekad untuk pergi dari apartemen Gamma, ia sudah banyak merepotkan lelaki itu.


Di saat tengah malam digunakan orang lain untuk istirahat, Altheya justru terjaga menunggu Gamma tertidur dengan pulas. Wanita itu mulai menurunkan tangan yang melingkar pada pinggang nya lalu disusul kedua kaki nya yang ikut turun dari atas ranjang tanpa suara.


Dingin nya ubin lantai menyapa telapak kaki Altheya, wanita itu menoleh ke arah Gamma sekali lagi. Kedua mata lentik itu terlihat tenang tanpa ada aba-aba untuk bangun. Perlahan namun pasti, Altheya mengusap rahang tegas Gamma sambil tersenyum kecil.


"Thanks, lo terlalu berharga buat dapetin barang rusak. Seandainya lo gak ketemu gue, mungkin masa depan lo lebih indah dari sekarang. Nice dream, Gamma" bisik Altheya tanpa suara.


Wanita itu menunduk untuk mengecup sekilas pelipis Gamma sebelum melangkah mengendap keluar kamar. Beruntung Gamma jarang mengunci pintu hingga wanita itu bisa keluar kamar dengan mudah.


Altheya mengedarkan pandangan nya, ada sedikit perasaan tidak rela saat ia harus meninggalkan bangunan yang baru ditinggali beberapa hari itu, entah suasana nya yang tenang atau perilaku Gamma yang membuat nya nyaman. Altheya menggelengkan kepala, ia harus segera pergi dari sini bagaimana pun cara nya sebelum kembali bimbang. Ia harus merasa cukup tau diri.


"Semoga kita bertemu di kehidupan selanjutnya."


Hap!


Tubuh Altheya membeku saat sebuah tangan besar menahan pergelangan tangan nya yang hendak menarik handle pintu. Tak sampai di sana rasa terkejut Altheya, tangan besar yang lain terasa melingkari perut rata nya.


"Emang kenapa sama kehidupan yang sekarang, hmm?"


Sial, Altheya kembali tertangkap basah.


"L-lo udah bangun?"


"Belum sempat tidur lebih tepat nya," suara serak Gamma menyapa indra pendengar Altheya, wanita itu diputar seratus delapan puluh derajat hingga menatap nya dengan jelas. "Lo pikir dengan pintu yang gak ke kunci bakal mudah buat kabur?"


"Gue gak kabur!" sanggah Altheya, ia menelan saliva nya susah merasakan hembusan nafas Gamma menerpa kulit leher nya dengan hangat.


"Lalu?"


"G-gue..." Gamma mengangkat sebelah alis nya menunggu alasan dari Altheya, rambut lembut yang terlihat acak-acakan itu semakin membuat tubuh Altheya terasa tremor.


Gamma mengambil kedua tangan Altheya dan menyimpan nya di atas kepala, wanita itu terlihat memberontak namun Gamma kembali mengunci pergerakan nya dengan kedua kaki. Cowok itu mulai memperkikis jarak hingga berhadapan langsung dengan kulit putih mulus milik Altheya.


"Gak bisa jawab, hmm?"


"Gamma, shh–" Altheya memejamkan kedua mata nya merasakan lidah Gamma menyapu kulit dada nya dengan lembut, cowok itu menghisap kecil hingga meninggalkan bekas merah keunguan yang sangat kontras pada kulit nya yang putih.


"Alasan apa lagi yang bakal lo pakai kali ini? lo nyusahin? lo murahan? lo gak pantes hidup?"


Gamma menaikkan pandang hingga netra tajam nya bertubrukan dengan netra sayu Altheya. "Alasan basi!" ia menyentuh beberapa kissmark yang berhasil dibuat hingga mengakibatkan Altheya mendesis lirih.


"Ini cuma permulaan, sekali lo berani kabur lagi bakal gue buntingin lo berkali-kali."


Detik kemudian suara teriakan dari Altheya menggema di seluruh apartemen saat Gamma menggendong nya menuju kamar dengan paksa.


••••


"Jadi Hazelnut kek nya setiap hari senin serasa ngurusin bocil, ribet banget aturan nya anak kelas satu kalau dia yang jaga," gumam Mahen, cowok itu mengintip dari pembatas rooftop yang terhalang oleh pohon mangga. Ya, Arsen adalah satu-satunya anggota Akberios yang menumpuk tanggungjawab sebagai wakil ketua osis, cowok itu juga yang sering menegur teman-teman nya meskipun sia-sia.


"Resiko jadi ganteng. Coba kalau lo yang jaga bukan nya tertib malah mabok yang ada. Tuh ciwi-ciwi similikitiw bakal bangkotan sampe kejengkang denger pantun diluar nalar lo."


"Halah, kek lo ganteng aja."


Delta mengerutkan dahi. "Lah, lo nggak sadar apa bagaimana kalau punya temen cakep? Tuhan cuma gak mau gue di dempet cewek yang harga nya lima ratus dapet tiga."


"Gaya lo kek preman nawar ******," sahut Ardhan, cowok itu sewot sendiri mendengar Delta dengan seribu percaya diri nya.


"Lo buyut nya mas limbad."


"Lo cucu nya sugiono!"


"Mata lo kek mimi peri."


Gamma hanya bisa menghela nafas mendengar perdebatan dari sahabat nya, cowok itu sedang tidak mood hingga memilih tiduran sambil menutup mata dengan tangan. Disebelah nya ada Jeno yang asik menonton kartun dan juga Ardhan yang sedang mematikan ujung rokok, hanya dia yang peka dengan kegiatan Gamma.


"Lo juga kenapa Gam? diem bae kek dukun kecolok menyan," sahut nya kelewat santuy.


Gamma mengusap wajah nya jengkel, tau jika ending nya akan seperti ini ia lebih memilih tidur di UKS saja. "Ngantuk," jawab nya seadanya.


"Tumben, emang tadi malem lagi balapan?"


Cowok itu menggeleng. "Gak."


"Kobam?"


"Gila lo."


"Terus apaan monyet!" seloroh Ardhan kesal, kesabaran selalu habis jika sudah bertemu dengan anggota Akberios.


"Lo ngatain gue monyet terus lo sendiri apaan? beruk?"


"Bekatan jantan."


Delta tertawa geli, ia ikut bergabung di sebelah Ardhan setelah menginjak putung rokok yang masih tersisa setengah. "Sesama binatang gak boleh saling ngejek, ntar jadi malin kundang lo."


"Gak ada hubungan nya blok!" Ardhan menempeleng kepala Delta dari belakang. "Elo Gam, ditanya apaan jawab apaan. Kurang tidur kenapa lo?"


Gamma berdecak. "Pusing gue, dari kemarin si Altheya main kabur-kaburan mulu dari apartemen bikin gue takut sama janin nya–" nafas Gamma tersangkut di tenggorokan.


Bibirnya kelu saat sadar mendapatkan tatapan tajam dari Delta, Mahen dan Ardhan seakan menuntut jawaban. Bahkan, Jeno yang sedari tadi fokus pada kartun itu pun ikut menoleh dengan wajah polos membuat Gamma mengusap wajah nya dengan kasar. "Sialan, bisa-bisa nya gue keceplosan!"