
Tatapan mata Mahen tak henti-henti nya menghunus ke arah Gamma yang baru saja menginjakkan kaki di lantai markas. Cowok itu nampak tertawa melihat kesengsaraan nya yang mirip seperti seorang Ayah sedang mengupaskan anak nya buah, sang pelaku malah terlihat tenang sambil menonton film melalui ponsel.
"Buka mulut lo!" cuek Mahen yang di laksanakan oleh Altheya, gadis itu membuka mulut nya lebar-lebar menerima suapan buah yang sudah bersih dari kulit nya. "Cewek siapa nempel nya sama siapa," sindir Mahen.
"Gak ikhlas lo?"
"Ikhlas, tapi aneh aja lihat lo yang biasanya jejeritan kalau di dempet cewek tiba-tiba dateng bawa ni bocah ke markas."
"Tau tuh, gue kira si Gamma malah nyaho sama si hazelnut," sahut Delta enteng, begitu menoleh ke samping cowok itu tersedak melihat tatapan Arsen seolah menguliti nya hidup-hidup. "E-ekhem, hubungan lo sama nih cewek apaan?"
Gamma tertawa geli, ia mencomot apel yang digigit Altheya dan memasukan nya ke dalam mulut. "Cuma pacar."
"Yakin?" selidik Mahen, cowok itu merasa ada yang janggal. "Sejak kapan?"
"Dua bulan lalu."
"Kok bisa?"
"Bisa lah orang gue ganteng."
"Sombonggg!!" seru Ardhan melempari Gamma dengan kulit kacang, sang korban hanya bisa mendengus pelan.
Sedangkan Altheya, wanita itu masih terlihat terkejut karena Gamma memakan sisa buah gigitan nya tanpa jijik. Namun setelah mendengar jawaban Gamma yang mengakui nya sebagai pacar mampu membuat Altheya mendapatkan ide gila.
"Sayang," panggil Altheya, wanita itu menahan diri agar tidak tertawa melihat tubuh Gamma yang mulai menegang. "Aku kayak nya ngidam lagi deh, pengen makan sate ayam. Boleh?"
Keadaan markas yang semula riuh ricuh mendadak hening. Beberapa dari mereka menatap Gamma penuh selidik membuat cowok itu salah tingkah, sedangkan sang pelaku terlihat tersenyum puas sambil menyandarkan punggung di sofa dekat Ardhan.
"Gue gak percaya kalau lo buntingin anak orang, Gam." Delta berkata dramatis membuat sebelah sudut bibir Gamma tertarik ke atas.
Tak sempat membaca situasi, wanita itu melotot saat Gamma berdiri dan menunduk di depan nya. "GAMMA!" pekik Altheya nyaring saat cowok itu mengangkat tubuh nya seperti bayi koala, reflek ia mengalungkan kedua tangan nya pada tengkuk Gamma erat tak ingin jatuh.
"Kapan gue buntingin lo, hmm?" kata Gamma serak membuat wanita itu meneguk saliva nya susah. "Atau lo mau gue buat kembung sembilan bulan?"
"G-gue bercanda," lirih Altheya.
"Tapi gue gak suka bercanda," balas Gamma enteng sambil membawa tubuh Altheya ke dalam kamar pribadi nya, wanita itu memberontak sekuat tenaga namun Gamma mengunci pergerakan nya dengan mudah.
"Woi, Gam, anak orang mau lo apain coy?!"
Mengabaikan godaan dari teman-teman nya justru Gamma masuk ke dalam kamar dan mengunci nya dari dalam. Lelaki itu menurunkan tubuh Altheya di atas ranjang dengan pelan kemudian menindihnya.
"Gam," panggil Altheya resah, hembusan nafas cowok itu terasa menerpa kulit leher hingga membuat nya merinding.
Gamma mengambil kedua tangan Altheya dengan satu tangan dan mengunci nya di atas kepala, cowok itu bertumpu pada lutut agar tidak sepenuhnya menindih perut Altheya yang berisi sebuah janin. "Kenapa? takut? bukan nya lo tadi udah berani godain gue?"
"G-gue gak godain lo," ujar Altheya gagap, sesuatu yang mengeras dibawah sana terasa menyenggol paha nya. "Itu lo aja yang baperan di goda dikit udah bangun."
Gamma terkekeh lagi karena kalimat frontal dari bibir istri nya, ia semakin semangat untuk menggoda. "Tidurin lagi gih, kan udah sah."
"SINTING!" pekik Altheya. "Gue nggak mau!"
"Harus mau!"
"Gue cuma bercanda," ujar nya berat. "Gue gak bakalan minta hak itu kalau lo gak mau. Cukup lo nurut sama gak berfikir buat bunuh diri lagi udah lebih dari cukup buat gue."
Cowok itu bangkit dan berjalan sedikit ngangkang menuju kamar mandi, meninggalkan Altheya yang masih membeku dengan perlakuan nya barusan. Suara gemercik air dan juga suara Gamma yang samar-samar mendsahkan nama nya membuat Altheya tersadar dengan pipi yang memerah malu.
Cowok itu benar-benar bisa membuat perut nya terasa seperti di hinggapi ribuan kupu-kupu.
•••
Malam senin jalanan ibu kota tetap padat meskipun kemarin adalah malam minggu. Gamma membuka bungkusan permen karet yang selalu ia simpan di dashboard kemudian memakan nya sembari menunggu giliran berjalan. Akhir-akhir ini cowok itu lebih sering membawa mobil daripada motor sejak kehadiran Altheya.
"Turun!" titah Gamma, cowok itu terlihat melepas seltbet setelah berhasil menepikan mobil di daerah pasar malam.
"Mau kemana?" tanya Altheya.
Gamma mengunyah permen karet nya sambil menunjuk salah satu pedagang sate yang terlihat disisi kiri. "Lo ngidam sate kan? gue beliin."
"G-gue cuma bercanda, Gamma." Kedua pipi Altheya memerah namun tidak disadari Gamma, cowok itu keluar dari mobil lebih dahulu kemudian berlari memutar dan membuka kan pintu untuk Altheya. Tangan nya terulur untuk menggenggam tangan mungil yang sudah dihiasi perban dari Mela.
"Mulai sekarang lo tanggungjawab gue, sebisa mungkin gue penuhi semua keinginan lo," ujar Gamma. "Mang, sate ayam nya dua porsi tapi dijadiin satu ya?"
"Siap atuh, ditunggu ya asep." Gamma hanya mengacungkan ibu jari sambil menarik tangan Altheya menuju stand yang di sediakan, cowok itu memilih duduk di bagian paling pojok dimana mereka bisa melihat keramaian pasar malam pada sore hari yang dihiasi banyak lampu.
"Lo mau apa lagi?"
Altheya menggeleng. "Udah."
"Yakin?" tanya Gamma dan di angguki oleh Altheya. Keadaan menjadi hening hingga sate yang dipesan Gamma sampai ke meja mereka.
"Selamat menikmati teteh, aa. Minum nya mau apa?"
"Air mineral aja mang, dua."
Penjual sate tersebut memberikan pesanan Gamma lalu pamit. Aroma daging bakar yang ditusuk itu mampu membuat perut Altheya terasa keroncongan, sejak pagi ia hanya mengisi perut dengan roti dan buah dari Ardhan karena belum sempat memakan nasi.
"Buka mulut!"
Altheya menggeleng. "Gue bisa makan sendiri–"
"Buka mulut!" kekeh Gamma, mau tak mau Altheya membuka mulut menerima suapan nasi dan juga sate dari cowok itu. Kedua sudut bibir Altheya terangkat tipis, wajah Gamma yang sedang serius memisahkan tusuk dari daging itu terlihat menggemaskan.
"Gue belum sempet minta restu ke orang tua lo," celetuk Gamma tiba-tiba, tangan nya kembali menyodorkan makanan yang di terima dengan baik oleh Altheya. "Gue mau ketemu sama mereka."
"Gak perlu," tolak Altheya lirih, tubuh nya membeku saat Gamma mengusap sudut bibir nya yang kotor menggunakan ibu jari.
"Gak, gue tetep pengen minta izin sama mereka. Gimana pun juga mereka udah ngebesarin wanita yang sekarang udah jadi istri gue."
Kedua tangan Altheya terkepal dibawah meja, jantung nya berdegup dengan kencang, bayangan saat Papa nya marah dan melayangkan tamparan keras itu masih teringat jelas pada otak nya.
"Kalau takut lo gak perlu ikut, biar gue sendiri yang kesana minta restu."
Menghela nafas berat, Altheya menyudahi suapan dari Gamma sambil memejamkan mata. "Gue ikut," ujar nya lirih.