
Menggigit bibir bawah nya dengan gugup, Altheya memilih beberapa dress cantik yang ada di walk in closet untuk menghadiri undangan makan malam dari Gamma. Cukup lama berfikir, pilihan nya jatuh kepada setelan rok tutu sepanjang lutut dan juga sweater rajut model sabrina yang mampu menyembunyikan perut nya.
Sore tadi Gamma mengirimi nya pesan jika tidak bisa kembali ke apartemen dan sebagai gantinya ingin melakukan makan malam berdua di salah satu resto yang ternyata di kelola cowok itu.
Senang? sudah tentu, padahal Altheya sempat mengira jika Gamma sedang marah namun terjawab setelah cowok itu menjelaskan bahwa sedang mengalami trouble dengan pimpinan Coldos.
"Ini kemana, mbak?"
Lamunan Altheya buyar saat sadar telah memasuki sebuah taksi online yang baru saja di pesan, buru-buru ia menyebutkan alamat resto milik Gamma sambil menatap penampilan nya sekali ke arah kaca.
Tak butuh waktu lama, taksi yang ia tumpangi terhenti di tujuan membuat Altheya turun tanpa lupa membayar ongkos.
"Terimakasih, Pak!" ujar Altheya setelah menutup pintu taksi dengan benar, tangan nya melambai kecil hingga kedatangan seseorang secara tiba-tiba membuat nya terkejut.
"Lo ngintilin gue?"
"Astaga!" pekik Altheya kaget, kedua mata nya terpejam mencoba menetralkan detak jantung yang sempat menggila karena terkejut, sedangkan sang pelaku terlihat tertawa geli sambil menghembuskan asap rokok ke belakang.
"Lo belum jawab pertanyaan gue, lagi kepoin gue?"
"Gak minat," sahut Altheya acuh, ia pun memilih untuk melanjutkan jalan nya tanpa menghiraukan makhluk yang sedang mengikuti langkah nya dari belakang.
"Gak minat atau gak minat?"
Langkah Altheya terhenti, wanita itu mencoba mengambil nafas kemudian menoleh. "Gue udah gak peduli sama apapun yang terjadi sama lo, Gal. Kita udah selesai, gue istri kembaran lo dan gue harap lo jangan ganggu gue."
Galaksi mengangguk santai. "Udah tau kali kalau lo istri abang gue."
"Terus kenapa lo selalu muncul di hidup gue bangsat!" maki Altheya kasar, dirinya sudah cukup lelah mencoba menerima bayi hasil zina mereka namun seakan belum puas, Galaksi selalu datang menghantui pikiran nya.
"Karena gue ayah dari anak yang lo kandung," jawab Galaksi lembut, tangan nya hendak menggapai perut Altheya namun wanita itu lebih dulu menghindar sambil tertawa sinis.
"Ayah?" Altheya menunjuk dada Galaksi tak habis pikir dengan telunjuknya. "Ayah mana yang tega hampir bunuh anaknya sendiri dengan cara ngeracunin ibu nya? kalau lo lupa, lo pernah nyekokin gue jus nanas muda sama sprite sampai muntah!"
"Tapi lo juga hampir bunuh mereka." Galaksi mengangkat sudut bibir nya membentuk sebuah senyum miring. "Anak gue ada dua, kan?"
"Bangsat!" maki Altheya.
Suara tamparan itu terdengar nyaring di kegelapan malam membuat beberapa asistensi beberapa pengguna jalan menoleh acuh. Kepala Galaksi menoleh ke kiri merasakan kebas pada pipi kiri nya lalu tertegun melihat bayangan seseorang yang memiliki postur sama dengan nya, cowok itu memejamkan mata melihat apa yang ia khawatirkan beberapa menit yang lalu benar-benar terjadi.
"Lo udah denger semua nya, kan?" tanya Galaksi pasrah.
Tubuh Altheya ikut membeku, dengan gerakan kaku ia menoleh ke belakang dan merasa tubuh nya lemas melihat Gamma beserta empat inti Akberios berdiri di belakang nya dengan pandangan kecewa.
"K-kenapa lo lari dari masalah?"
Nafas Galaksi tercekat, ini adalah kali pertama ia merasa terintimidasi karena tatapan kakak kembarnya sendiri. "Gue belum siap punya anak–"
"Bukan belum siap, tapi lo bajingan!" sela Gamma, nada suara nya terdengar tenang namun terasa sangat menusuk di setiap kata-kata nya. "Papa selalu banggain lo, Papa selalu cerita kalau lo bukan seperti gue."
Galaksi mengusap wajah nya kasar. "Lo gak bakal tau."
"Apa yang nggak gue tau, hmm?" Gamma menggelengkan kepala menatap kecewa ke arah Altheya yang sedang di tahan Delta dan juga Ardhan agar tidak dapat mendekati nya. "Bukan cuma gue, tapi Papa juga bakal lebih kecewa setelah tau kalau orang yang ngehamilin dia ternyata anak kesayangan nya sendiri."
Bibir Galaksi terbuka hendak menjawab kalimat nya namun Gamma lebih dulu menyangkal. "Kalau lo mikir gue bakal ngaduin masalah ini ke Papa, lo salah." Gamma memejamkan mata sambil mengambil nafas panjang.
"Gam, gak usah dilanjutin kalau lo lagi gini!" tegur Delta, jujur saja jika empat anggota inti tanpa Jeno itu merasa khawatir dengan nya.
Gamma tak menggubris, mata setajam elang nya ia alihkan ke arah lain agar tidak menatap mata Altheya maupun Galaksi. "Gue bakal ceraiin dia setelah anak nya lahir dan gue minta sama lo buat tanggungjawab penuh sama mereka."
"Gamma, gue nggak mau!" raung Altheya, kedua pipi nya basah dengan air mata namun tak bisa berbuat apa-apa karena pergerakan nya ditahan oleh Mahen.
Gamma menatap nya dengan pandangan yang sulit di artikan. "Gue kira lo kasihan, ternyata gue yang perlu dikasihanin."
Setetes air mata kembar jatuh, Galaksi dan Gamma sama-sama menangis dalam diam tanpa ada yang menyadari, Gamma sebelah kanan dan Galaksi sebelah kiri. Tubuh Galaksi membeku merasakan tangan besar Gamma mendekap nya dengan erat.
"Gimana pun keadaannya, gue tetep kakak buat lo. Gue gak suka lo jadi pengecut, tanggungjawab setelah gue lepasin dia. Oke?" bisik Gamma lirih.
Galaksi hanya bisa mengamati kepergian Gamma dalam diam tanpa bisa bersuara, tubuh nya terasa kaku, bibir nya kelu, hanya kedua indra pendengaran nya yang berfungsi mendengar teriakan Altheya yang sedang menyerukan nama Gamma dengan pilu.
"Seandainya lo tau kalau gue adalah salah satu faktor penyebab hidup lo menderita, Gam."