Badboy Husband

Badboy Husband
13 - FAKE LEADER?



Beberapa kali bibir Gamma terdengar berdecak kesal saat kaki nya terasa nyeri. Cowok itu mengumpat kesal, karena Akbar dia harus menerima tiga jahitan sekaligus.


"Alay, gitu doang meringis lo." Delta melempar kulit kacang ke arah Gamma dengan tengil, disebelah nya ada Jeno yang duduk anteng sambil tak henti menatap wajah Sea yang terlihat ketakutan.


"Takut anak orang lo lihatin kek gitu, Jen!" kekeh Gamma.


Jeno memiringkan kepala nya ke arah Gamma, sudut bibir nya tertarik kecil. "Buat gue, ya?"


"Mau lo apain?" tanya Gamma curiga.


Delta sudah memasang ancang-ancang jika Jeno akan berbuat yang tidak-tidak pada tubuh Sea, nampak nya cowok itu masih trauma melihat Jeno yang suka menyakiti orang dengan pisau kecil nya.


"Lo jangan gila, tuh cewek masih dibawah umur mau lo apain?"


"Gak ada."


Delta berdecak. "Ya udah siniin pisau lo kalau mau bawa tuh cewek, gue sita dulu."


Jeno tersenyum manis, sangat mengerikan. "Kamu punya aku!" bisik nya lirih tepat ditelinga Sea membuat tubuh bocah SMP itu menegang sempurna.


Pintu kamar mandi ruangan terbuka menampilkan sosok Manu yang baru saja membersihkan diri, wajah nya sudah terlihat segar, tangan nya juga terbebas dari selang infus hingga membuat nya bisa bergerak leluasa.


"Kapan lo boleh pulang?" tanya Arsen, ia terlihat anteng dengan sebuah novel di tangan nya.


"Gue belom dibolehin pulang sama Widia," jawab Manu, ia mengambil duduk di sebelah Gamma.


Mahen terlihat nyinyir, sama seperti Delta yang telah memberikan bombastis side eyes nya kepada Manu.


"Ngomong aja lo betah berduaan disini sama Widia, monyet!"


Manu tertawa saja, cowok itu terdiam saat teringat sesuatu. "Gam, kek nya Zaka bukan leader Coldos yang asli."


"Maksud lo?" kening Gamma berkerut, asap rokok ia hembuskan ke atas membuat Ardhan menatap nya datar.


"Ini di rumah sakit, bukan di warteg bego. Bisa-bisa nya ngerokok disini," umpat Ardhan.


"Bacot," kesal Gamma. "Gimana tadi, Nu?"


Manu menggedikkan bahu acuh. "Perasaan gue aja ngomong gitu. Zaka gak pantes di sebut leader, menurut gue malah lebih pantes adik nya, si Akbar."


Semua mengangguk menyetujui membuat Gamma teringat perkataan Akbar beberapa jam lalu yang mengatakan akan menargetkan Altheya pada pertandingan selanjutnya. Ia bingung, darimana Coldos tau tentang Altheya? sedangkan yang pernah bertemu dengan wanita itu hanya anggota Akberios dan juga Galaksi saja.


"Bisa aja karena Zaka suka main sama pelacur mungkin? dia kan sering ngajak kobam gratis anggota nya sampe gak tau waktu, mungkin karena itu anggota Coldos membeludak jumlah nya."


Gamma menggeleng merasa tidak setuju dengan usulan Mahen. Meskipun yang dikatakan cowok itu memang benar, rasa nya ada sedikit hal yang tidak masuk akal.


Kali ini Gamma mengangguk menyetujui Delta. "Yang tau tentang Altheya cuma anak-anak Akberios sama Galaksi, gue belum tanya sama Altheya dia pernah ketemu Coldos atau gak."


Semua nya terdiam, tatapan Gamma yang semula tenang terlihat menggelap, netra tajam nya menelisik satu per satu anggota yang ada di ruangan Manu. Rahang nya mengeras mencurigai satu orang yang ada di ruangan itu.


"Kalian tau kalau gue benci penghianatan, kan?" intonasi Gamma merendah. "JAWAB!" bentak nya marah.


Tak ada yang berani menjawab, bahkan trio bobrok yang biasa mencairkan masalah terlihat tidak ingin membuka mulut sama sekali. Mereka kompak menunduk kecuali Sea yang kini menatap Gamma dengan kedua tangan saling memilin gugup.


"A-aku pernah lihat ada kakak pakai jaket ini di markas Coldos waktu malam," cicit nya pelan sambil menunjuk jaket Akberios milik Jeno.


Arsen menutup novel nya. "Coba lo lihat satu per satu anggota kita," ujar nya tenang.


Sea menurut, bocah imut yang terlihat lebih baik daripada sebelum nya itu mengedar pandang ke seluruh anggota dengan seksama, kedua pipi nya terlihat memerah karena saat ini ia menjadi pusat perhatian.


Netra nya terhenti ke salah satu anggota, gadis itu reflek menunduk saat diberi kode melalui tatapan jika tidak ingin Sea mengatakan apapun. Sial nya hal itu lebih dulu ditangkap oleh Gamma yang kini mengepalkan kedua tangan menahan emosi.


"Gak perlu, gue gak mau ngelibatin lo ke masalah kita meskipun lo tau tentang fake leader Coldos."


"Lo apa-apaan, sih, Gam?" tanya Mahen tidak terima.


"Dia cuma pendatang, gue gak mau nyeret tuh cewek lebih masuk ke dunia kita. Dia masih punya masa depan, gak seharusnya terjerumus sama sisi gelap kita."


Sea menunduk dengan lemah, entah mengapa rasa nya ia begitu percaya pada Akberios meskipun sama-sama memiliki sisi gelap seperti Coldos. Setidaknya Akberios masih bisa memanusiakan manusia daripada Coldos yang memperlakukan nya sebagai budak nafsu semata.


"Thanks, kak."


Jeno menunduk, cowok itu menjilat pipi Sea kemudian menyesap nya. "Aku suka, manis."


"Jeno!" tegur Arsen. Jeno hanya mendengus kemudian memalingkan wajah meskipun tangan nya merangkul pinggang Sea posesif. "Terus lo mau nya gimana?" tambah Arsen pada Gamma.


"Gue yakin ada penyusup yang masuk di markas dan jadi anggota kita." Gamma menepuk punggung Ardhan. "Gue percaya sama lo buat cari info sebanyak mungkin, gue gak suka ada serigala berbulu domba di kawasan gue."


Ardhan mengangguk saja, itu memang sudah tugas nya di Akberios. Ardhan jarang terlihat di pertempuran karena bela diri nya paling lemah di antara anggota yang lain, namun ia memiliki keahlian seperti meretas data dan mencari informasi yang sangat detail. Anggota Akberios yang lain juga tidak mempermasalahkan dan menjadikan perbedaan mereka sebagai suatu keutuhan.


"Gue janji gak bakal khianatin Akberios," lirih Ardhan, mereka semua tersenyum dan saling merangkul.


"Gue percaya sama kalian semua." Gamma mengusap punggung Ardhan yang terlihat rapuh, tak ada yang tau tentang masalah keluarga Ardhan kecuali Gamma sendiri. "Akberios, we are family!"


Mereka semua tertawa setelah melakukan tos. Salah satu dari mereka berdiri membuat mata elang Gamma kembali menajam.


"Gue izin pulang duluan, bos. Ada acara keluarga." Gadis itu menepuk punggung Manu sekali. "Cepat sembuh, gue tunggu lo bisa tawuran lagi."


Gadis itu mendorong pintu ruang rawat membuat Jeno tertawa kecil sambil menggigit jari Sea seperti permen. "Boleh aku yang ngurus domba nya?"