
Suasana hati Altheya semakin memburuk sejak Gamma tidak kembali ke apartemen tiga hari yang lalu. Perasaannya mendadak was-was, takut jika cowok itu menyakiti diri sendiri seperti apa yang biasa ia lakukan dulu.
Self harm, Altheya yakin jika Gamma pasti pernah melakukan hal itu. Bukan dengan cara menggores lengan, Gamma suka melampiaskan kemarahan dengan alkohol dan rokok.
"Altheya?"
Seseorang memanggil dari belakang membuat nya tersentak kecil lalu menoleh sembari tersenyum tidak enak, buru-buru tangan nya yang mungil membawa dua gelas jus alpukat menuju ruang tamu.
"Sorry udah buat lo nunggu lama," kata Altheya.
"Ih, enggak!" Keyva menggeleng cepat. "Gue khawatir sama lo, tadi gue panggil karena lo lama banget takut kenapa-kenapa."
Kedua mata indah Altheya berkaca-kaca, tubuh nya berhambur memeluk tubuh sahabat nya dengan erat. Isak tangis mulai mengalun lembut ke seluruh penjuru apartemen membuat Keyva hanya bisa tersenyum sambil mengelus pundak sahabat nya yang terlihat rapuh.
"K-kenapa lo masih mau t-temenan sama gue, padahal g-gue udah nggak p-perawan, g-gue kotor."
Keyva menguraikan pelukan, kedua mata nya yang bulat menatap tidak suka ke arah Altheya lalu menghapus sisa air mata yang membasahi pipi sahabat nya.
"Gue temenan sama lo tulus sejak pertama kali kita ketemu, walaupun keadaan kita udah beda tapi itu bukan satu alasan buat gue ninggalin lo. Jangan nangis ya?" Keyva menangkup kedua pipi sahabat nya dengan gemas.
Namun, Altheya yang diberikan perilaku seperti itu bukan nya berhenti justru semakin menangis keras membuat Keyva memejamkan kedua mata nya yang ikut terasa panas.
Keyva kemari bukan tanpa alasan, selain ia rindu dengan sahabat nya sejak masuk SMA, ada hal lain yang turut penting di dalam hubungan Altheya.
"S-sorry Key," gumam Altheya berkali-kali, suara nya terdengar sangat lirih. "G-gue jahat sama lo–"
"Ngomong apaan, sih lo!" potong Keyva, tangan nya menarik tubuh Altheya agar kembali masuk ke dalam pelukan nya karena tak ingin Altheya melihat nya sedang menangis.
"Kenapa lo gak jujur sama gue dari awal?"
"Gue selalu jujur sama lo."
"Belum, lo belum jujur sama gue satu hal."
Keyva mendongakkan kepala nya ke atas guna mencegah air mata nya turun dan membasahi bahu Altheya. "Apa?"
"Kenapa lo gak bilang kalau suka Galaksi?"
Tubuh Keyva mematung, kedua mata nya menyorot lurus ke arah depan dengan gamang. Ia sudah menutup rapat rahasia itu dari siapapun termasuk Altheya, ia memang benar menyukai Galaksi sejak awal mereka memutuskan menjadi sahabat, namun sejak pengakuan Galaksi yang berkata tertarik dengan Altheya membuat nya mundur dengan perlahan.
Merasa tidak mendapatkan respon, Altheya menegakkan badan hingga dapat menatap wajah tegang sahabat nya dengan jelas, perasaan bersalah semakin menghantui jiwa nya begitu melihat jika tebakan nya memang benar.
"K-kenapa lo ngorbanin perasaan lo sendiri demi gue, Key?" Altheya menggoyangkan kedua bahu Keyva dengan air mata yang tak henti mengalir. "JAWAB!"
"Kita sahabat," jawab Keyva lirih pada akhirnya.
Altheya tertawa hambar. "Sahabat? gue jahat karena udah rebut Galaksi dari lo, kenapa lo gak bilang kalau waktu itu lo udah taruh perasaan ke Galaksi, kenapa lo cuma diem dan kasih ucapan selamat waktu Galaksi nembak gue padahal hati lo sakit, kenapa–"
"Karena lo sahabat gue, lo berharga bagi gue, lo lebih segala nya dari Galaksi, gue rela kehilangan apa aja di dunia ini kecuali Tuhan, orang tua dan lo!" potong Keyva dengan nada tinggi. "Gue sakit lihat Galaksi nembak lo, tapi gue lebih sakit kalau lo gak nikah sama Galaksi!" tambah nya menggebu dengan nafas yang memburu.
"G-gue marah," air mata yang mati-matian ia tahan sejak tadi akhirnya turun membasahi kedua pipi nya dengan deras, runtuh juga benteng pertahanan Keyva hingga membuat nya terlihat rapuh.
"Key–"
"G-gue marah waktu denger Galaksi ngehamilin lo, tapi gue lebih marah sama diri sendiri karena baru tau alasan Galaksi ngelakuin semua ini."
Nafas Altheya tercekat. "M-maksud lo?"
Keyva menarik tas punggung yang ia bawa kemudian mengeluarkan sebuah buku diary kecil dengan sampul hitam untuk di berikan kepada Altheya.
"I-ini apa?"
"Ambil!" suruh Keyva dengan suara yang kian menghilang.
Kedua mata Altheya memanas, tangan nya dengan gemetar menerima benda pemberian Keyva serta membaca judul diary yang ditulis dengan spidol putih di bagian depan cover.
"Zeo yang bilang ke gue kalau Galaksi gak sengaja jatuhin diary itu waktu balik dari ruang OSIS."
•••
Nafas Galaksi mulai terengah-engah karena meladeni power Gamma yang tidak ada habis nya. Seluruh bagian wajah kedua nya terlihat dihiasi banyak luka lebam merah keunguan yang terlihat kontras pada kulit mereka yang putih pucat, namun hal itu tak membuat salah satu dari mereka menyerah.
"Sejahat apapun perlakuan Papa ke gue gak bakalan bikin gue benci sama lo," kata Gamma, cowok hanya terlihat sedikit berkeringat walau wajah nya sama lebam nya dengan Galaksi.
Galaksi tersenyum kecil disela-sela ringisan nya, cowok itu kembali bangkit setelah merasakan punggung nya remuk redam menghantam tembok sekolahan. "G-gue pengen kita kaya dulu, makan bareng, main bareng, mandi bareng sampai nangis bareng."
"Gue gak bisa," jujur Gamma, ia tau betul niat Galaksi mengatakan hal itu karena ingin mengajak nya kembali pulang. "Gue juga pengen kita kaya dulu tapi gak bakalan bisa karena Papa benci gue."
Tak dapat menahan rasa sakit di sekujur tubuh nya, kedua mata Galaksi berkaca-kaca. Detik kemudian cowok itu menangis dengan keras membuat Gamma tertegun. Anggota Coldos dan Akberios tak ada yang menyadari karena kuat nya suara senjata yang beradu.
"Gal–"
"Bang, s-sakit," isak Galaksi yang membuat mata Gamma ikut berkaca-kaca, tanpa pikir panjang cowok itu berlutut kemudian menarik tubuh Galaksi ke dalam pelukan nya dengan erat.
"Sorry," bisik Gamma lirih, tangan nya yang besar terangkat tanpa ragu untuk mengelus punggung Galaksi yang baru saja menabrak dinding sekolah.
Hal itu membuat Gamma dejavu, kejadian hari ini membuat memori nya berputar pada hari dimana ia memeluk Galaksi kecil yang menangis karena jatuh dari sepeda.
"A-ayo pulang, g-gue mohon ayo pulang!!"
Gamma memejamkan kedua mata nya merasakan air mata Galaksi membasahi seragam putih yang ia kenakan. Ada rasa sesak saat mengingat masa kecil nya dengan Galaksi dulu, namun rasa kecewa pada Rion membuat nya harus menutup mata, ia terlanjur kecewa.
"Lo bisa main ke apartemen gue," kata Gamma.
Galaksi menggeleng, ia masih memeluk erat tubuh Gamma seakan melepas rindu yang selama ini ia tahan. "Ada Altheya."
Tangan Gamma memukul bahu Galaksi dengan keras membuat cowok itu kembali meringis. "Lo yang hamilin dia setan, itu anak lo!" maki Gamma kesal.
Galaksi tertawa kecil, perlahan ia menegakkan tubuh nya agar bisa menatap wajah Gamma dengan jarak dekat, seulas senyum tulus tercipta pada wajah tampan nya, tangan kanan yang dihiasi beberapa luka goresan kecil itu terangkat untuk mengelus pipi Gamma yang lebam.
"Gue pengen titip Altheya sama anak gue ke lo."
"Ngomong apaan sih lo, gue bakal ceraiin dia beberapa bulan lagi dan mulai hari itu bakal jadi tanggungjawab lo!" kata Gamma mencak-mencak.
Galaksi mengerucutkan bibir nya lucu. "G-gue nggak bisa, gue pengen nyusahin lo sekali lagi."
"Gak mau gue!" tolak Gamma.
"Harus mau!" kekeh Galaksi serius. "Dia anak gue dan gue cuma mau lo yang ngasuh dan jagain dia."
"Emang lo mau kemana, sih?" heran Gamma.
Galaksi tersenyum cerah, ia menggenggam kedua tangan Gamma dengan erat membuat Gamma tertegun, hati nya terasa di remat dengan kuat melihat Galaksi seperti itu.
"Ke tempat yang bakal bikin lo iri di dunia."
"Gak, lo jangan kemana-mana!" peringat Gamma tajam, kini jantung nya berdegup dengan kencang.
Galaksi tertawa lagi, ia menarik tubuh Gamma ke dalam dekapan nya membuat cowok kembar itu saling berpelukan dengan erat tanpa menyadari bahwa bahaya sedang mengintai.
Sebuah parang panjang meluncur kencang dari belakang Gamma membuat Delta yang baru saja terjatuh karena pukulan lawan sontak membelalakkan mata panik. "GAMMA AWAS BELAKANG LO!" teriak nya kuat.
Galaksi mengecup pipi Gamma secepat kilat kemudian tersenyum tipis. "Lo adalah kakak terbaik sepanjang masa bagi gue, thanks abang!" ujar nya lirih.
Tenaga nya yang tersisa ia gunakan untuk mendorong tubuh Gamma ke samping membuat parang panjang yang meluncur secepat angin itu mendarat pada tubuh nya dari dada hingga ke perut. Darah segar mencuat dari segala arah hingga mengotori wajah Gamma yang terlihat tegang.
"GALAKSI!"