Badboy Husband

Badboy Husband
10 - ONE KISS, ONE CIGARETTE!



Delta, Mahen dan Ardhan menahan tawa dari dalam gerbang melihat raut panik dari Gamma yang kini sibuk berdebat dengan satpam. Sedangkan Arsen yang baru datang dari ruang osis ikut bergabung meskipun tidak tau apa-apa.


"Pak, boleh ya? gini deh, besok saya traktir pecel nya mbak Yeni sampai mabok."


Darno, pria berumur kepala empat itu berdecak sinis. "Apaan pecel doang, kamu berkali-kali bikin saya kena omel Bu Sri gara-gara bolos, segala nitipin motor di mang Ujang. Kamu kira saya gak tau?"


Gamma berdecak. "Tambah kopi deh, tambah kopi. Boleh, ya?"


"Gak!" galak Darno. "Tambah rokok dua bungkus."


"Deal!" tanpa pikir panjang Gamma menjabat lengan Pak Darno kemudian bergegas membalikkan badan ingin mengambil motor. Seseorang menarik bahu nya kuat membuat cowok itu dongkol setengah mati.


"Apa sih anj–" Bu Sri menaikan sebelah alis nya membuat kalimat Gamma tersangkut di tenggorokan.


"Anj apa, Gamma?"


"Itu, anu–hehehe!"


Tawa trio kocak tak dapat dibendung lagi melihat wajah Gamma yang ngenes karena ditahan Bu Sri yang galaknya terkenal seantero sekolah. Wajah cowok itu benar-benar kusut, jika bukan karena melihat Altheya di warung depan sekolah nya mungkin ia tak sepanik sekarang.


"Mau alasan apa lagi?" tanya Bu Sri, intonasi nya rendah namun mampu membuat para murid terasa merinding sebadan badan.


"Mau pulang buk," jawab Gamma lesu. "Istri saya lagi ngambek."


"Hidup masih jadi anak kemarin sore gaya nya sudah seperti orang tua punya istri lima saja, gak ada!" balas nya galak.


"Hukum aja buk, si Gamma emang suka ngada-ngada otak nya!" teriakan Delta terdengar menggelegar di seluruh kantin, dari kejauhan terlihat Gamma mengacungkan jari tengah ke arahnya tanpa semangat yang disambut tawa oleh anak-anak Akberios.


Arghh, ingin rasa nya Gamma menenggelamkan diri di dasar laut setelah menyetujui paksaan sekolah untuk membuat video klip sialan itu.


"Santai aja kali, Gam. Kek gak ada cewek selain dia aja, cantik enggak, hobi ngambek iya." Diva, gadis yang menjadi maskot sekolah sekaligus partner nya dalam membuat video klip itu terlihat panas.


"Gak cuma dia terus siapa lagi? walaupun cantikan lo mana mau Gamma sama modelan serebu dapat tiga. Mahalan juga cilok gue lima ratus dapet satu," sahut Ardhan pedas, cowok itu tau-tau berdiri di samping Gamma setelah ikut melompati pagar demi membeli cilok, tak sadar saja jika Bu Sri sedang menatap nya dengan alis yang menukik tajam.


"Ardhan, siapa suruh beli jajan diluar!"


Mampus, Ardhan tertawa garing dan berlari kembali memasuki sekolah. Namun sebelum nya, cowok yang mengikat dasi di kepala itu masih sempat memberikan tatapan mengejek untuk Diva yang memberi nya tatapan permusuhan.


"Gws Dip, lama-lama gue kasihan juga sama lo. Suka sama Gamma dari kelas satu eh ternyata si doi pilih orang lain, hahaha!"


"Sialan!" Diva mengepalkan tangan menahan malu saat tawa Gamma berderai menanggapi ocehan Ardhan.


•••


Pukul empat sore Gamma baru saja sampai di apartemen setelah mengendarai motor bak orang kesetanan, bibir nya tak henti merutuki karena memilih apartemen di lantai enam yang kini baru ia rasakan jika banyak membuang waktu dan tenaga untuk berlari.


"Altheya!" seru Gamma dari lantai bawah, cowok itu benar-benar kalut karena tidak melihat tanda-tanda kehidupan di apartemen nya.


Di dapur, kamar bawah, perpustakaan bahkan lemari kayu yang hanya muat dimasuki oleh kucing pun dibuka Gamma lantaran panik.


Baru saja melangkahkan kaki masuk, tubuh nya yang lemas mendadak kembali tegak melihat wanita yang sedari tadi ia cari terlihat tidur di bath up tanpa air dengan nyaman, wajah nya yang terlihat damai saat tertidur membuat Gamma akhirnya bisa menghela nafas tenang dan memilih mandi di kamar mandi bawah tanpa mengganggu tidur wanita itu.


Usai dengan kegiatan nya membersihkan diri, Gamma pun kembali memastikan keberadaan Altheya lalu beranjak menuju balkon. Cowok itu mengeluarkan satu batang rokok dari kotak lalu menyulut nya dengan korek. Gamma menghembuskan asap nya ke atas dengan perlahan hingga suara pintu yang menghubungkan kamar dan balkon terdengar dibuka dengan pelan membuat nya menoleh.


"Lo udah lama pulang?" Gamma mengangguk, cowok itu menarik lengan Altheya hingga wanita itu oleng dan duduk di pangkuan nya. "Gamma!" pekik nya kesal.


Gamma terkekeh, ia memeluk pinggang Altheya dengan posesif. "Kenapa tadi lo kabur?"


"Siapa yang kabur," elak Altheya mencoba menyembunyikan degup jantung nya yang tidak beraturan.


"Jangan bohong, lo tadi beli bakso di depan sekolah gue kan?" Altheya mengangguk. "Terus kenapa lari? cemburu?"


Altheya menggelengkan kepala. "Gue gak cemburu," jawab nya bohong yang tak sadar membuat Gamma merasa kecewa, cowok itu memilih menyedot asap rokok nya kembali sambil meniup nya ke atas dengan hambar.


"Cewek tadi nama nya Diva, gue gak ada hubungan apapun sama dia. Kita disuruh buat video klip sama sekolah dengan tema kenakalan remaja," jelas Gamma tanpa diminta.


Sedangkan Altheya hanya diam merasa canggung. Benar juga, karena melihat Gamma tertawa dengan seorang gadis membuat nya merasa panas dan memilih pergi dari sana tanpa melihat ke arah sekitar.


"Kalau lo gak percaya bisa tanya anak-anak Akberios," tambah Gamma yang dibalas gelengan oleh Altheya.


"Gak perlu, gue percaya." Wanita itu tersedak asap dari Gamma. "Sejak kapan lo ngerokok?"


"Tiap hari," jawab Gamma singkat.


"Berapa batang sehari?"


"Dua bungkus."


Kedua mata Altheya mendelik. "H-hah? d-dua bungkus sehari?"


Gamma mengangguk. "Kenapa? biasa aja kali kek gak pernah lihat cowok ngerokok aja."


"Bukan kek gitu, cowok yang suka ngerokok bisa susah punya anak karena asap nya bisa mempengaruhi kualitas ******."


Alih-alih takut, Gamma terkekeh sambil mematikan rokok yang masih tersisa setengah di atas asbak. Cowok itu menarik kepala Altheya hingga menatap nya dengan sempurna. "Kebetulan gue perokok nih, mau coba?"


"H-hah?" otak Altheya mendadak blank, beberapa detik kemudian ia menjauhkan diri dari Gamma yang kini tertawa dengan keras karena sukses mengerjai nya. "Rese banget, sih, lo!"


"Kalau gak dicoba gak bakalan tau, kan?" Gamma terkekeh geli, cowok itu kembali menarik Altheya ke dalam pangkuan nya dengan nyaman. "Gue bisa berhenti merokok tapi ada syaratnya."


Kepala Altheya mendongak. "Apa?"


"Satu ciuman, satu batang rokok. Gimana?" Gamma menaikan turunkan kedua alis nya seakan menggoda. Namun jauh dari dugaannya yang mengira Altheya akan berteriak kesal, wanita itu justru tertawa sebelum mendaratkan sebuah kecupan dengan gerakan super kilat lebih dulu pada bibir nya.


"Who's scared? Deal!"