
Detik silih berganti menjadi menit, menit menjadi jam. Angin malam berhembus menerpa kulit dengan lembut membuat wanita yang sedang menatap bulan itu buru-buru mengeratkan jaket bulu untuk menutupi tubuh nya.
"Tuhan terlalu baik," ujar nya lirih, bibir nya yang pucat terlihat membentuk segaris senyuman miris. Ada perasaan bersalah yang tiba-tiba hinggap di hati kecil nya saat mengingat tentang Gamma. "Gimana perasaan dia kalau tau ayah dari anak yang gue kandung ternyata kembaran nya sendiri?"
Tangan wanita itu terkepal, masih ingat dengan jelas bagaimana ia rela memberikan kesuciannya untuk pria brengsek yang tidak ingin memberikan bentuk pertanggungjawaban. Ia tak bisa menyalahkan orang lain, itu memang pilihan nya, namun rasanya sangat tidak adil jika ia harus membesarkan anak hasil perbuatan bejat nya sendirian dengan orang lain.
"Altheya?" sapaan yang terdengar serak dari ambang pintu kamar mampu membuat wanita di jendela balkon menoleh cepat, bibir nya yang pucat terangkat membentuk sebuah senyum manis, kedua kantung mata yang mulai menghitam terlihat menyipit, detik kemudian tubuh mungil itu melompat dari tempat nya berpijak membuat Gamma benar-benar menahan nafas.
"Kangen!" bisik Altheya lirih setelah masuk ke dalam dekapan Gamma, wanita itu menelusupkan wajah nya di antara jaket tebal Gamma mencari kehangatan.
"Tumben." Gamma terkekeh, ia menarik tubuh Altheya agar duduk di belakang jendela sambil melihat siluet bulan dari balik kaca. Bibir nya tersenyum, tangan besar itu bergerak mengusap kantung mata Altheya dengan lembut. "Udah jam satu kenapa belum tidur? baby gak boleh di ajak begadang sayang."
Kedua pipi Altheya memerah, tangan nya yang lentik mencengkram kuat ujung jaket yang di kenakan Gamma guna menyalurkan perasaan tidak tenang yang kini ia alami. Akhir-akhir ini Altheya selalu ingin berada di dekat Gamma namun ia tahan sejak bertemu dengan Galaksi tempo lalu.
Altheya ingin menghindar, ia tidak ingin terjebak dalam pesona Gamma terlalu dalam namun hati nya selalu berkata lain. Ia nyaman bersama Gamma, ia bahagia bersama Gamma, akan tetapi ia harus sadar jika kehadiran nya di kehidupan cowok itu hanya akan menambah masalah.
Bagaimana cara nya memberikan tau cowok itu jika ayah anak yang ia kandung ternyata saudara kembar nya sendiri?
"Gamma, boleh gue tanya sesuatu dari lo?" Altheya bertanya dengan hati-hati, wanita itu tak henti mengagumi visual sempurna di depan mata nya.
Gamma berdeham. "Anything for you, selagi gue bisa jawab bakal gue jawab jujur."
"Walaupun tentang keluarga atau masa lalu lo?" Gamma mengangguk.
Altheya menahan nafas, gigi nya tak henti menggigit bibir bagian bawah mencoba menahan gugup. "L-lo lagi ada masalah di keluarga?"
"Gue–"
"Kalau gak mau jawab gak masalah, gue cuma tanya doang jangan marah," ralat Altheya cepat membuat Gamma terkekeh kecil, ia mengecup singkat dahi wanita itu merasa gemas.
"Gue gak marah Altheya." Gamma tersenyum kecil. "Mama meninggal waktu gue masih kecil, Papa berubah karena belum terima dan bedain kasih sayang gue sama Galaksi."
"B-bedain sama Galaksi, maksudnya?"
Gamma mengambil nafas kemudian ia hembuskan dengan perlahan. "Awal nya gue punya mimpi jadi pemain basket internasional, tapi itu semua hancur sejak papa ngungkit nilai gue yang cuma dapet angka tujuh."
"Bukan gue gak mau usaha, gue udah nyoba ikut les sana-sini, kerja kelompok bareng kakak kelas, ngehafal rumus semalaman sampai lupa tidur. Tapi karena gue kurang mampu dibidang akademik jadi nya gue tetep dapet nilai dibawah Galaksi."
"Berapa nilai lo sama Galaksi?"
"Sembilan puluh lima sama seratus, cuma beda lima angka tapi fatal buat Papa. Gue sering gak dapet jatah makan malam dan kena pukul Papa."
Bibir Altheya terkatup rapat, otak nya mencoba mencerna kata-kata Gamma barusan. Ada beberapa pertanyaan yang terasa mengganggu, salah satu nya adalah Galaksi selalu mendapat nilai seratus?
"Lo udah coba cek nilai Galaksi itu bener atau nggak?"
Kening Gamma berkerut. "Maksud nya?"
"Darimana lo tau?"
Altheya menggigit bibir bawahnya panik. Sialan, bisa-bisa nya ia keceplosan disaat seperti ini.
"Altheya jawab gue!" desak Gamma.
"M-maksud gue kalau dilihat dari tampilan nya, Galaksi nggak sepintar itu. Dia cuma suka style tapi mangkanya mirip orang pinter," jawab Altheya gagap.
Tanpa curiga Gamma menggedikkan bahu. "Gue nggak peduli toh gue nggak haus pujian dari Papa." Bibir nya tertarik membentuk senyuman. "Karena itu gue bersyukur punya lo."
Jantung Altheya berdetak tidak beraturan. "K-kenapa?"
"Karena ada nya lo bikin gue bebas dari Papa dan ngajarin gue gimana rasa bahagia nya jadi seorang Papa."
Kedua mata Altheya berkaca-kaca, andai saja ia tidak gegabah memberikan kesucian nya kepada Galaksi, mungkin sekarang ia akan merasa bahagia karena memiliki kesempatan merawat buah hati pertama dengan Gamma.
Gamma tidak pernah mengungkit siapa Papa kandung anak yang ada di rahim nya. Gamma juga tidak pernah menyebut anak yang ada di rahimnya sebagai anak haram. Gamma memperlakukan nya dengan baik bahkan menganggap anak dikandungan nya sebagai anak kandung.
"K-kalau gue bilang ayah dari anak yang gue kandung ternyata orang yang lo kenal g-gimana?" lirih Altheya.
Gamma tersenyum simpul. "Gue masa depan lo sekarang, tapi gak menutup kemungkinan kalau gue bakal bunuh orang yang berani nyakitin lo."
"M-meskipun teman atau k-keluarga?"
Bahu Altheya merosot saat Gamma membalas nya dengan anggukkan. Mendengar cerita Gamma tentang keluarga nya mampu membuat emosi pada diri Altheya menguap. Galaksi yang dikenal orang-orang sebagai cowok perfect itu tak lebih dari bajingan.
"Andai lo tau kalau Galaksi itu manipulatif, Gam." Altheya hanya bisa berbisik dalam hati, mengatakan fakta kepada Gamma bahwa nilai Galaksi disekolah tidak pernah mendapat nilai sempurna itu saja mampu membuat nafas Altheya merasa sesak.
Seseorang tolong, bagaimana caranya menolong Gamma?
"But, gue anggap itu sebagai masa lalu karena masa depan gue sekarang lo." Gamma mengangkat dagu Altheya kemudian mengecup bibir nya sekilas. "Lo belum jawab pertanyaan gue, kenapa jam segini belum tidur?"
Pipi Altheya merona merah. "A-anak gue pengen minta peluk lo sebelum tidur."
Sebelah alis Gamma terangkat geli. "Oh, gitu. Debay nya atau Mami nya, nih?"
"A-apaan, sih." Wajah Altheya semakin memerah seperti kepiting rebus membuat tawa Gamma meledak, tanpa diminta dua kali cowok itu langsung menarik tubuh Altheya ke dalam rengkuhan nya dengan erat.
"Gak perlu minta, lo bisa peluk gue kapan pun yang lo mau," bisik Gamma lembut membuat Altheya diam-diam menyunggingkan senyum tipis.
Cup!
Gamma mematung sambil memegangi bibir nya bekas ciuman dari Altheya, cowok itu menepuk kedua pipi beberapa kali sebelum menahan senyum melihat wanita hamil muda yang kini berlari memasuki kamar sambil terbahak.
"ITU DEDE BAYI NYA JUGA YANG MINTA!!"