Badboy Husband

Badboy Husband
26 - TRANSPLANTASI



Beberapa kali Altheya terlihat mencubit kecil kulit lengan nya sambil meringis, kedua pipi wanita hamil itu terlihat memerah lantaran masih tak percaya jika pria yang menjadi imam nya saat ini adalah Gamma, cowok bad boy yang tak pernah ia bayangkan menjadi suami nya.


Jantung Altheya berdegup kencang, bibir nya tak henti menyunggingkan senyum tata kala Gamma menoleh sambil menyodorkan tangan. Tanpa diperintah dua kali, Altheya menyambar tangan kekar itu untuk ia cium telapak tangan nya.


Namun entah mengapa, tak berselang lama perasaan Altheya mendadak memburuk. Perut nya tiba-tiba merasa mual membuat wanita itu menutup mulut nya dengan kedua tangan kemudian berjalan cepat menuju kamar mandi untuk memuntahkan seluruh isi perut nya di dalam closet.


Sebulir air mata turun, wanita hamil itu mendadak teringat tentang Galaksi. "D-dia kenapa?" batin Altheya khawatir, otak nya masih terngiang tentang isi diary yang baru sempat ia baca beberapa halaman.


"Altheya?"


Tubuh tegap Gamma yang masih lengkap dengan busana muslim terlihat dari pintu kamar mandi dengan khawatir membuat Altheya yang fokus pada luka lebam di wajah nya kembali mual hingga memuntahkan cairan bening untuk kesekian kali.


"Masih mual?" tanya Gamma lirih.


Altheya mengangguk kecil membiarkan Gamma menarik mukena yang belum sempat ia lepaskan. "G-Galaksi dimana?"


Tubuh Gamma mematung, pergerakan nya terhenti begitu saja mendengar pertanyaan dari Altheya. Kedua tangan nya terkepal kuat, sorot mata tajam nya berubah sayu dengan air mata yang mulai menggenang di area pelupuk mata.


Melihat itu, perasaan Altheya semakin tidak beraturan. "Gamma, d-darah siapa yang ada di seragam lo?" tanya nya menggoyangkan lengan kekar Gamma. "Itu bukan darah G-Galaksi, kan?"


Gamma tetap bungkam membuat Altheya benar-benar diliputi perasaan khawatir, kedua mata nya yang indah mulai memerah hingga bulir-bulir bening itu jatuh dengan deras nya.


Bohong jika Altheya berkata benci dengan Galaksi. Bohong jika Altheya berkata tidak peduli dengan Galaksi. Nyata nya ikatan mereka masih kuat meskipun keadaan telah berubah, bayi yang ada dikandungan nya seakan bergerak liar hingga memicu rasa mual yang sangat menyiksa.


"Gamma, kenapa lo diem aja? jawab!" desak Altheya.


Gamma menggelengkan kepala, isak tangis lirih yang sengaja ditahan dengan susah payah itu membuat kedua lutut Altheya terasa lemas, tangis nya pecah begitu saja saat sadar jika tebakan nya memang benar. Darah yang mengotori seragam Gamma itu milik Galaksi.


"G-Gam, G-Galaksi k-kenapa?"


Gamma menangkap tubuh Altheya yang hampir terjatuh dan membawa nya ke dalam dekapan. Air mata cowok itu ikut terjatuh dengan deras karena isak tangis Altheya yang terdengar menyakitkan, tubuh nya kembali diselimuti perasaan bersalah saat mengingat Galaksi menghadang parang demi menyelamatkan nya.


"J-jawab gue, Gam!"


Gamma mendekap erat tubuh mungil Altheya dan membawa nya menuju kamar dengan hati-hati meskipun wanita itu masih terisak sambil terus memukuli dada nya dengan kuat.


"Cepet sadar?" beo Altheya. Jantung nya mencelos, bukan kah itu artinya keadaan Galaksi terbilang parah? tanpa sadar tangan kanan nya telah mencengkram perut buncit nya dengan kuat. "B-bawa gue ketemu Galaksi, Gam!"


Galaksi menggeleng, mata tajam nya terlihat sembab dengan hidung yang memerah. "Gue gak bisa bawa lo kesana sekarang."


"Gue gak p-peduli, gue harus ketemu G-Galaksi sekarang juga!"


Bibir Altheya terbuka hendak kembali mendesak Gamma namun suara dering ponsel yang tak jauh dari ranjang membuat nya mengurungkan niat.


Kedua mata nya mengikuti arah pergerakan Gamma yang terlihat tergesa, tubuh nya ikut menegang setelah Gamma memutuskan sambungan telepon yang Altheya duga dari anggota Akberios.


"Oke, lo boleh ikut jenguk Galaksi sekarang."


***


Jantung Altheya mencelos melihat keadaan Galaksi dari kaca jendela ruang rawat. Tubuh yang senantiasa terlihat tegap berwibawa di hadapan nya kini dipenuhi oleh perban dan ditempeli berbagai alat medis, suara monitor EKG yang berbunyi lemah membuat air mata nya tak dapat dibendung lagi.


"Gak seharusnya lo bentak-bentak Gamma kaya tadi."


Altheya hanya diam tak bergeming saat Arsen mendekati nya dengan gestur tubuh yang sedang menahan amarah, cowok itu merasa geram karena Altheya sempat mengamuk saat Gamma menghalangi nya masuk ke dalam ruang rawat Galaksi.


"Kalau lo pikir lo paling sedih di sini, lo salah." Arsen menyandarkan punggung ke dinding. "Gamma lebih hancur lihat saudara nya koma walaupun dari luar dia kelihatan baik-baik aja."


"B-bukan nya mereka gak akur?"


Arsen terkekeh sinis. "Buta mata lo? kalau mereka emang benci satu sama lain gak bakalan mungkin Galaksi rela pasang badan buat ngelindungi–lo kenapa Gam?" Arsen terbelalak dan sontak berlari ke arah Gamma yang baru saja keluar dari ruangan dokter dengan wajah nya pucat pasi, seluruh tubuh nya pun terlihat lunglai tak bertenaga membuat kelima inti Akberios berdiri dan membantu menahan tubuh Gamma yang hampir terjembab.


"Apa yang dokter bilang?" seru Delta, ia membantu Arsen untuk menuntun tubuh Gamma agar duduk di kursi tunggu depan ruang rawat.


"Lo kenapa, apa kata dokter sampai lo kaya gini?" desak Ardhan ikut-ikutan, raut wajah nya sangat khawatir melihat kondisi Gamma yang jauh dari kata baik.


Bibir Gamma mengatup rapat, cowok itu menyandarkan tubuh nya ke tembok sambil menutupi kedua wajah nya dengan kedua tangan, bahu besar nya terlihat bergetar dan disusul suara isak tangis yang terdengar putus asa.


"G-Galaksi gagal jantung. Kata dokter dia b-butuh transplantasi jantung secepatnya," ungkap Gamma lirih yang sontak membuat mereka semua menegang, tak terkecuali Altheya yang hampir hilang sadar.