
Dentuman suara musik keras khas milik club malam terdengar menggema di telinga setelah Altheya menginjakkan kaki melintasi pintu masuk. Tubuh nya bergetar hebat, hidung nya terasa tersumbat oleh bau alkohol yang begitu menyengat. Bermodalkan kartu tanda penduduk dari Arsen, ia bisa memasuki tempat haram ini.
"Jangan lo pikir gue nyuruh lo kesini karena setuju hubungan lo sama Gamma!" hardik Arsen, tatapan nya setajam pisau ia layangkan untuk Altheya namun seakan tidak takut, wanita itu berbalik membalas tatapan tajam Arsen dengan mata bengkak.
"Siapapun lo, gue gak takut. Tapi gue mau bilang thanks karena udah bawa gue kesini, gue pengen ketemu Gamma!" jawab Altheya mantap, jelas sekali wanita itu baru saja menangis dalam waktu yang cukup lama hingga kedua mata nya terlihat memerah.
Arsen berdecih, ini kali pertama ada seorang wanita yang berani menatap mata nya lebih dari sepuluh detik dan Arsen benci itu.
"Lo cuma orang baru di kehidupan Gamma, gak usah terlalu ikut campur. Gue cuma mau lo bujuk dia biar berhenti minum alkohol!"
"Gue emang orang baru." Altheya tersenyum kecut memandangi perut nya yang mulai membesar. "T-tapi gue mulai nyaman sama Gamma."
"Lo–"
"Gue tau gue gak pantas, tapi gue bener-bener tulus sama Gamma bukan karena harta nya," sela Altheya cepat setelah melihat Arsen hendak melayangkan protes, kedua mata nya kembali berair.
"Dia–Gamma selalu ada biar gue bangkit dari keterpurukan, gue sayang sama dia, gue nyaman sama dia, gue–" Altheya tak bisa melanjutkan kata-kata nya, wanita itu kembali menangis sambil menggigit lengan agar merendam suara isak kan nya.
"G-gue jahat, gue terlalu fokus sama ego gue sendiri sampai lupa kalau Gamma juga butuh sandaran, dia juga butuh dukungan, dia–"
"Bangun!" titah Arsen datar, wanita itu mendongak dengan mata sembab. "Lo bakal bantu lo kalau berhasil bujuk Gamma buat berhenti."
"L-lo serius?" tanya Altheya berbinar, tangan nya menghapus sisa air mata yang tersisa dengan segera kemudian berdiri cepat membuat Arsen hanya mampu menahan nafas.
"Lo lagi hamil gak usah banyak tingkah, kalau ada siapa pun termasuk anak Akberios yang tawarin minuman apapun disini jangan di ambil!" peringat Arsen.
Altheya mengangguk cepat, kening nya berkerut melihat Arsen menyodorkan sebuah jilbab pashmina ke arah nya.
"Ikat di tangan lo biar gak hilang," ujar Arsen datar seakan paham dengan kebingungan wanita itu.
Meskipun bingung, ia tak lagi melayangkan protes. Altheya langsung mengambil sisi jilbab dan mengikat kencang di pergelangan tangan kiri agar Arsen mudah membimbing nya ke tempat Gamma.
Tempat ini sungguh seram, beberapa orang yang mulai mabuk di tepi bar terlihat menatap nya dengan seringaian nakal. Altheya berjanji tidak akan memasuki tempat ini lagi.
Altheya langsung menoleh begitu Arsen menyebutkan nama Gamma, wanita yang sebelumnya sangat semangat untuk bertemu itu mendadak kaku setelah melihat keadaan nya. Beberapa anggota Akberios terlihat teler, sedangkan Gamma masih berusaha sadar dan meneguk alkohol kadar tinggi secara terus menerus.
"Gamma stop!" pekik Altheya, ia berjalan cepat ke arah Gamma hendak menarik botol wine di tangan cowok itu namun terhenti saat Arsen menarik tubuh nya cepat.
Sebuah botol wine melayang hampir mengenai kepala nya jika saja Arsen telat satu detik.
"Berapa kali gue bilang sama lo, jangan banyak tingkah!" marah Arsen frustasi. "Kalau lo mau deketin Gamma, jangan pakai cara kek gitu."
"Gue nggak peduli, lepas!" Altheya memberontak sekuat tenaga di dalam rengkuhan Arsen, cowok itu jengkel sendiri hingga akhirnya membiarkan Altheya lolos dari tangan nya. "GAMMA!"
"Wanita keras kepala," desis Arsen.
Altheya tidak peduli dengan celetukan Arsen, mata nya menatap ke sekitar dan baru sadar jika inti Akberios juga ada di sana dengan kondisi sepenuh nya sadar.
Tak seperti tadi, Altheya kini berjalan mendekati Gamma dengan gerakan perlahan, jantung nya berdegup kencang. Merasa mendapat kesempatan, Altheya menjatuhkan tubuh nya di pangkuan Gamma membuat cowok itu menyemburkan wine nya karena terkejut.
"Lo ngapain disini bangsat!" marah Gamma, mata hingga hidung cowok itu terlihat memerah.
"G-gue mohon, berhenti. Ayo kita p-pulang," bisik Altheya lirih, tangan nya semakin erat memeluk tubuh Gamma saat cowok itu berusaha untuk membuat nya berdiri.
"Lepas anjing, gue benci sama–cup!"
Delta, Arsen maupun Mahen dan juga Ardhan kompak memalingkan wajah saat Altheya dengan berani membungkam bibir Gamma dengan ciuman. Kedua mata Altheya yang berair mulai memejam, kedua tangan nya berpindah di belakang tengkuk Gamma dan mulai bergerak meskipun masih terlihat kaku.
"G-gue mohon pulang," bisik Altheya di sela-sela ciuman nya, Gamma tak membalas maupun menolak, cowok itu masih sepenuhnya sadar meskipun telah menghabiskan beberapa sloki wine dengan kadar tinggi.
Tak mendapat hasil yang jelas, Altheya mulai putus asa dan menjatuhkan kepala nya pada dada bidang Gamma dengan deraian air mata setelah melepaskan pangutan nya.
"Maaf, Gamma."