
"Lo gak bisa gini, Gam!"
Tubuh besar Gamma mundur beberapa langkah karena ulah Arsen yang menarik punggungnya dengan kuat. Nafas cowok itu terdengar memburu, kedua mata hazel nya menatap jaket legendaris yang saat ini digunakan Gamma dengan pandangan nyalang.
Jaket milik Ethan adalah jaket yang terkenal dengan julukan sang iblis pada masa nya. Bukan tanpa alasan, namun Arsen dan juga Jeno tau betul bagaimana ganas nya siapa pun jika mengamuk sambil mengenakan jaket itu. Tak lagi darah, sang iblis selalu meminta balasan nyawa.
"Sadar bangsat!" geram Arsen, kedua tangan nya menampar masing-masing pipi Gamma dengan kuat hingga meninggalkan bekas lima jari kemerahan.
Gamma tertawa sinis, cowok itu menunjuk dada Arsen menggunakan telunjuknya. "Posisi gue disini adalah leader dan lo cuma bawahan, kroco gak pantes ngelawan raja."
"Bangsat banget bibir lo, Gam!" Delta berdiri namun Ardhan dan Mahen lebih dulu menahan pergerakan nya membuat cowok itu memberontak. "Apaan lo berdua njing, lepasin gue biar sekalian gue bonyokin muka nya disini!"
"Duduk!" titah Ardhan tertahan.
Delta masih saja berontak membuat Ardhan geram, cowok itu menarik menarik kuat tubuh Delta hingga kembali duduk pada posisi nya dengan perasaan marah.
"Lo gak waras, Ar!" marah Delta.
"Itu bukan Gamma," desis Ardhan lirih.
Meskipun Ardhan tak tau apapun tentang sejarah pertama kali berdiri nya Akberios, namun ia tau betul bagaimana perangai Gamma. Cowok itu tidak pernah memaki kasar kepada teman-teman nya meskipun sedang kecewa atau marah besar.
"Maksud lo?" tanya Delta tak mengerti.
"Iblis dari jaket punya almarhum bang Ethan," jawab Mahen singkat, ketiga cowok itu akhirnya hanya membiarkan Arsen dan Jeno yang kini berusaha keras untuk menyadarkan Gamma.
"Gue gak peduli mau lo jendral sekalipun kalau salah tetep bakal gue lawan. Lo gak waras, gue sahabat lo!" Arsen menahan kepalan Gamma yang hampir mengenai wajah tampan nya, sedangkan cowok itu masih setia dengan raut datar tanpa ekspresi.
"Gak ada sahabat di dunia." Gamma mengangkat sebelah sudut bibir nya membentuk sebuah senyum miring. "Mereka cuma sampah yang punya sisi kemanusiaan."
"Gak ada yang waras, kita semua gak waras!" Jeno mengeluarkan mata pisau kemudian memposisikan benda berkilau itu tepat di depan leher Gamma yang membuat ke-empat inti Akberios mendadak lemas.
"Jangan gila lo!" panik Mahen.
Jeno hanya memiringkan kepala, ia bisa merasakan jika pergerakan Gamma mulai berkurang meskipun raut wajah nya masih terlihat datar. Cowok itu tersenyum miring sambil mencondongkan kepala nya di dekat telinga Gamma sebelum berbisik.
"Kalau lo mau bunuh orang, pisau gue lebih dulu bunuh lo."
"Kalau lo mau bunuh orang, gue gak segan buat bunuh semua keluarga lo."
Terakhir, Jeno menggoreskan pisau lipat nya hingga mengakibatkan kulit leher Gamma tergores tipis hingga mengeluarkan darah segar. "Kalau lo mau bunuh orang, gue gak segan bunuh istri dan anak lo."
Brakkk!!
Seluruh inti Akberios terkejut setelah Gamma membalikkan keadaan, pisau kecil tajam kesayangan Jeno melompat begitu saja ke pojokan ruangan setelah tubuh pemilik nya membentur jendela kayu dengan kuat.
"Berani lo sentuh dia, gue bunuh lo disini sekarang juga!"
Alih-alih marah, Jeno justru terkekeh merasakan nyeri pada area rahang setelah Gamma mendaratkan sebuah bogeman. Lidah cowok itu menjulur keluar lalu menjilat darah segar yang berasal dari sudut bibir nya dengan gerakan sensual.
"Maniss," desis Jeno sedikit mendeesah.
"Aku sedang membayangkan jika Altheya akan menjerit setelah aku memasuki nya–"
Bugh!!
Jeno belum sempat menyelesaikan kata-kata nya saat Gamma lebih dulu menerjang tubuh nya bak orang kesetanan, kedua mata nya menyala penuh emosi dengan urat-urat yang menonjol di sekitar area leher.
"Lo bener-bener pantes mati!" hardik Gamma, cowok itu pun mengangkat kerah kaos yang dikenakan Jeno kemudian membanting nya ke arah dinding dan kembali melayangkan pukulan bertubi-tubi ke arah perut.
Sontak hal itu membuat Arsen, Delta, Mahen dan juga Ardhan kompak berlari untuk memisah kedua nya.
"Lepas anjing!" bentak Gamma.
Ardhan yang merasa geram pun menampar kuat pipi Gamma hingga kepala cowok itu menoleh ke bawah. "SADAR GOBLOK!" maki nya kasar. "Lo gini cuma karena cewek sialan yang belum jelas asal usul nya. Lo mikir, lebih lama mana lo kenal kita atau dia bangsat!!"
"Ar, udah." Mahen hendak menarik Ardhan menjauh namun lagi-lagi dihempaskan begitu saja.
"Kita temenan bukan setahun dua tahun apalagi Jeno sama Arsen, dan lo hampir bunuh dia cuma karena belain cewek munafik yang hamil di luar nikah? Anjing lo!"
Ardhan meludah ke samping melihat Gamma yang hanya diam membisu. Tubuh cowok itu menegang mencermati setiap umpatan kasar yang keluar dari bibir Ardhan, kedua mata nya mulai memanas.
"Lo harus sadar, Gam. Jangan mau-mau nya di begoin cewek, dia buat anak sama saudara lo tapi dengan gak tau diri nya hidup nyaman sama lo. Waras?"
"Lo gak boleh ngomong gitu," tegur Arsen mencoba melunakkan otak kamu Ardhan.
Cowok itu berdecak, ia mengusap wajah dengan kasar. "Sorry, gue kelepasan–"
"Gak, lo bener."
Mereka semua terdiam, Gamma tersenyum tipis. "Gue minta maaf sama kalian," ujar nya lirih, perlahan tangan nya melepas jaket milik almarhum Ethan dan meletakkan nya kembali di lemari. "Gue terlalu naif."
"Gam, nggak gitu maksud gue." Ardhan kini merasa bersalah. "G-gue cuma gak mau lo berubah karena cewek–"
Tubuh Ardhan menegang merasakan Gamma yang kini sedang mendekap nya erat seakan tak ingin kehilangan, tubuh nya kaku, bibir nya kelu dan tangan nya mulai gemetar tata kala hendak membalas pelukan Gamma.
"Maaf, gue minta maaf!" gumam Gamma berkali-kali, suara nya terdengar serak hingga Ardhan mampu merasakan basah pada kaos yang dikenakan.
Ardhan terkekeh. "Gam, lo nangis?"
"Gak usah lawak lo babi, udah jelas nangis segala bacot lo!" sentak Gamma marah.
Ardhan kembali tertawa, tangan nya terangkat pasti untuk membalas pelukan Gamma tak kalah erat sebelum mendekatkan bibir nya ke arah cowok itu. "Seenggak nya selama gue hidup bisa bersyukur karena bisa ketemu orang sebaik lo dan temen-temen yang lain," bisik Ardhan, lantas beberapa detik kemudian ia melepaskan pelukan nya.
"Maksud lo?" tanya Gamma curiga.
Lagi-lagi Ardhan tak menjawab dan hanya membalas nya dengan seulas senyum yang membuat jantung Gamma berdebar tidak beraturan, ia mulai mengkhawatirkan Ardhan.
"Kita susun rencana buat Altheya dan Galaksi ngaku sama apa yang mereka buat." Ardhan membenarkan letak jaket nya kemudian memiringkan kepala ke arah tembok dimana Jeno hanya diam sambil melambaikan tangan membuat mereka semua mendadak panik.
"ANJING, BISA-BISA NYA JENO KELUPAAN!"