
Memasuki area pedesaan, Altheya meremat kedua tangan nya dengan gugup. Berkali-kali ia meyakinkan diri nya sendiri untuk tidak takut namun bohong jika ia telah merasa tenang, kemarahan Papa nya beberapa waktu yang lalu jelas meninggalkan trauma.
Melirik pada kaca mobil, Gamma hanya mampu terdiam saat melihat respon Altheya akan seperti itu. Ditambah lagi wanita nya terlihat seperti tidak sadar menggigit bibir bawah kuat dengan kuku yang menancap pada perban bekas luka, cairan berwarna merah terlihat mulai merembes mengotori perban putih.
"Tunggu di mobil aja," ujar Gamma, cowok itu menarik tangan kanan Altheya untuk di genggam, mencegah nya agar tidak semakin melukai lengan kiri nya.
"Gue selalu bingung sama jalan pikiran lo, dikasih hidup tenang malah ngurusin cewek gak jelas kek gue." Altheya melirik Gamma dari kaca mobil, sial nya pandangan mereka bertemu membuat wanita itu buru-buru memalingkan wajah.
Sedangkan Gamma hanya terkekeh, ia kenaikan sebelah alis. "Kenapa, salah?"
"Salah, perjalanan lo masih panjang. Kalau pihak sekolah tau lo udah nikah mereka gak bakalan kasih toleransi lagi meski lo udah kelas tiga."
"Ya udah, sih. Gue gak peduli juga, mau gue dikeluarin juga gak pikir pusing. Sebelum lo dateng, kehidupan gue lebih buruk dari sekarang," jawab Gamma.
"Tapi ini beda, Gam!"
"Apa yang beda?"
Altheya terdiam, ia ragu untuk melanjutkan kata-kata nya. "L-lo gak bisa sebebas dulu, gue takut kalau ada nya gue ternyata bikin orang lain sakit hati–"
"Lo yang pertama," sela Gamma.
Kedua mata Altheya mengerjap lucu. "H-hah?"
"Lo pelabuhan pertama dan terakhir gue. Terserah mau lo anggap gue serius atau gak, yang pasti gue paling gak suka sama yang nama nya main-main, lo istri gue, lo masa depan gue. Ngerti?"
Altheya menelan saliva nya susah, bagaimana ia tega merusak masa depan seorang laki-laki baik seperti Gamma? jika diingat-ingat cowok itu terlihat kurang baik dalam keluarga nya atau bisa di bilang Gamma tidak berasal dari keluarga yang harmonis.
Awal pertemuan mereka Altheya pernah berfikir jika Gamma itu gila, berantakan dan suka berbuat onar. Namun berada satu atap dengan cowok itu selama dua hari mampu mengubah sudut pandang Altheya.
Gamma tidak seburuk yang ia kira.
"Ada satu hal yang perlu lo tau, apapun yang lo minta bisa gue turuti kecuali pergi dari Akberios," putus Gamma sebelum memasukan mobil nya ke dalam halaman perumahan berlantai dua sesuai alamat yang diberikan Altheya.
Suasana berubah hening, Altheya memandang bangunan di depan nya lama lalu menghela nafas panjang. Kedua mata nya terpejam singkat sebelum mengeratkan genggaman nya pada tangan Gamma.
"Janji cuma minta restu?"
Gamma menggedikkan bahu acuh. "Tergantung."
"Kok tergantung?"
"Lo pikir gue bakalan diem aja kalau mereka nyakitin lo?"
"Ya udah kita balik pulang aja."
Gamma berdecak, ia melepas seltbet nya kemudian membuka pintu menghiraukan tatapan Altheya yang menyiratkan perasaan khawatir. Tangan Gamma terangkat, cowok itu mengetuk pintu sekali.
Tak ada jawaban.
Gamma kembali mengetuk pintu untuk yang kedua hingga sahutan dari dalam mulai terdengar samar. Pintu kayu besar ditarik dari dalam menampilkan sosok wanita cantik yang memandang nya dengan ramah. Pandangan nya beralih ke kiri, seketika wajah nya menegang.
"Tunggu!" Gamma meringis merasakan ngilu pada kaki nya yang ia gunakan untuk mencekal pintu, disebelah nya Altheya sudah menunduk sambil menangis dalam diam. "Saya ingin bicara, tante!"
"Apa lagi yang ingin kamu bicarakan, hah?!" wanita itu terlihat marah, tangan nya masih mencoba mendorong pintu agar tertutup meskipun tak sebanding dengan tenaga Gamma.
"Mama..." lirih Altheya, tangan nya hendak menggapai tangan Mela namun ditepis kasar.
"Jangan berani memanggil saya dengan sebutan itu, saya bukan Mama kamu lagi!" bentak Mela, kedua mata nya terlihat memerah marah dengan tangan yang bergetar.
Gamma di sana hanya bisa membeku, mengingat perdebatan nya dengan Rion di rumah ternyata tak sebanding dengan sakit nya Altheya mendengar kalimat kasar dari Mama nya.
"Masih sore udah ribut aja, sama siapa sih–" sosok tinggi besar muncul dari belakang Mela, pria setengah baya itu ikut terlihat menegang dengan kedua alis menyatu sinis. "Oh, pantes. Ternyata ada ****** disini."
"Kenapa? mau jadi sok jagoan kamu belain ****** kecil ini di depan orang tua nya? kamu gak tau kalau dia udah bikin satu keluarga malu?" Seno menunjuk Gamma dengan telunjuk nya. "Atau kamu orang yang ngehamilin dia?"
"Kalau iya kenapa?" tantang balik Gamma.
Mereka semua bungkam, kedua mata Altheya sudah menatap was-was ke arah Gamma yang berani membalas tatapan tajam dari Papa nya. Seperti yang ia khawatir kan, wanita itu berteriak keras setelah Seno berhasil melayangkan pukulan telak mengenai rahang Gamma.
"ALTHEYA AWAS!" Gamma bangkit dengan segera kemudian menarik Altheya ke dalam pelukan nya. Sebuah bogem mentah kembali menghantam punggung nya dengan keras membuat kedua mata Gamma memejam.
Jantung nya berdegup dengan cepat, andai ia telat satu detik mungkin pukulan itu telah mengenai perut Altheya yang hendak melindungi nya.
"Lo gak kenapa-kenapa?" bisik Gamma berat.
Altheya menggeleng shock dengan deraian air mata, kedua tangan wanita itu terangkat menangkup bekas pukulan Papa nya. "B-bukan gue, tapi lo yang kenapa-kenapa!"
"It's okey, cuma luka kecil." Gamma terkekeh kemudian meniup mata sembab Altheya. "Suami lo ketua geng Akberios masa kena pukul mertua sekali udah letoy," tambah nya percaya diri yang semakin membuat tangis Altheya pecah.
Seno berdecih. "Saya kira ayah dari anak haram itu adalah seorang pengusaha atau pegawai, ternyata seorang bocah ingusan yang tidak bisa apa-apa dan tidak berpendidikan," ejek nya tertawa sinis.
"Coba ulangi perkataan anda!" Gamma menoleh dingin.
"Apa? benar kan jika itu anak haram?"
"Dasar orang tua bajingan!"
"GAMMA STOP!"
Kedua tangan Gamma terkepal di udara, cowok itu sudah berdiri hendak melayangkan pukulan untuk Seno namun terhenti saat Altheya lebih dulu memeluknya dari depan. Suara tangis yang terdengar memilukan itu membuat hati Gamma terasa seperti di remat dengan kuat.
"G-gue mohon Gam, g-gue mohon buat kali ini aja tolong b-berhenti," bisik Altheya berkali-kali menggumamkan kata maaf.
"Kenapa berhenti?" sinis Seno. "Kamu lihat itu ******? ayah dari anak mu bahkan berani dengan mantan ayah mu."
"Mulut Anda benar-benar belum pernah dirobek dengan paksa–"
"GAMMA!" bentak Altheya, wajah penuh deraian air mata itu menggeleng dengan tatapan memohon.
Gamma mengusap wajah nya kasar, cowok itu menghela nafas berat sebelum menatap tajam ke arah Seno dan juga Mela yang terlihat seperti tidak bersalah. Andai saja ia tidak mengajak Altheya mungkin Gamma benar-benar merobek paksa mulut jahanam mereka yang berani mengatai Altheya sebagai ******.
"Niat saya kemari adalah untuk meminta restu menikahi Altheya." Gamma menggeleng. "Bukan meminta karena setuju atau tidak nya kalian saya akan tetap menikahi Altheya."
"Bawa saja, dia sudah bukan bagian dari keluarga kami. Mati pun saya tidak peduli."
"Anjing!" maki Gamma benar-benar muak. "Suatu saat wanita yang kalian sebut ****** ini bakal buat kalian menyesal!"
"Kami tunggu kabar baik nya."
Kedua mata Gamma menyorot penuh dendam dengan tangan terkepal saat Altheya menarik nya kembali ke dalam mobil dengan paksa. Bibir nya tak henti mengabsen penghuni kebun binatang dengan emosi yang belum reda.
"Lo kenapa baik banget, sih? mereka udah keterlaluan!" kesal Gamma setelah berada di dalam mobil, isak tangis itu masih saja terdengar meskipun Altheya berusaha menutup mulut guna meredam suara.
"G-gue cuma gak mau lo di rendahin sama Papa."
"Lo itu tolol atau terlalu baik? setelah perlakuan mereka kek gitu masih lo anggap Papa? perlu gue ruqiyah biar otak lo fungsi." Gamma menggeleng tak habis pikir meskipun sudut bibir nya berkedut menahan senyum. "Tapi gue rela kalau di jelekin Papa lo tiap hari."
"M-maksud lo?"
"Kalau gak gini lo gak bakalan peduli sama gue."
Kedua mata Altheya menggelap penuh amarah. "SINTING!"