
"MINGGIR ATAU GUE BUNUH LO SEMUA!" teriakan menggelegar Gamma mampu membuat seluruh pengunjung rumah sakit yang berada di lobby kompak menyingkir dengan tunggang langgang.
Keadaan cowok itu terlihat kacau, tangan nya turut membantu perawat untuk mendorong brankar yang ditempati Galaksi meskipun kaki nya terasa lemah tak berdaya.
Tak peduli dengan tatapan ngeri orang-orang pada seragam putih abu nya yang berubah menjadi merah darah, Gamma mengusap wajah frustasi lantaran perawat menahan nya agar tidak ikut masuk ke dalam ruang operasi.
"Mohon maaf, anda tidak bisa ikut masuk ke dalam."
"G-gue mohon tolong sembuhin adik gue," lirih Gamma.
Perawat tersebut mengangguk seraya tersenyum tipis. "Kami akan berusaha semaksimal mungkin, silahkan anda bantu dengan doa."
Tubuh Gamma merosot ke bawah setelah pintu ruang operasi tertutup dengan sempurna. Penampilan nya kacau, seluruh tubuh nya bergetar hebat setelah menyadari bahwa Galaksi mengeluarkan terlalu banyak darah.
"Gue pengen titip Altheya sama anak gue ke lo."
Gamma mengusap wajah nya gusar. "Gue mohon jangan, Galaksi..." lirih nya terdengar menyakitkan, beberapa detik kemudian cowok itu menyembunyikan wajah nya diantara lipatan lengan kemudian menangis dalam diam.
Penyesalan selalu datang di akhir cerita, rasanya saat ini Gamma ingin menangis dan berteriak sekuat tenaga namun ia tidak bisa. Seandainya ia memilih bertahan untuk tinggal di rumah mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini, Galaksi tidak mungkin bergabung dengan geng Coldos hanya demi mencari perhatian kepada nya.
"Lo adalah kakak terbaik sepanjang masa bagi gue, thanks abang!"
"M-maafin gue Galaksi." Gamma menggigit bibir bawah nya menahan isak tangis yang semakin kuat, dada nya benar-benar terasa sesak mengingat luka terbuka milik Galaksi yang melintang dari dada hingga ke perut.
"Lo harus pulang!"
Sepasang sepatu berwarna hitam dan juga suara berat yang terkesan datar itu mampu membuat Gamma mendongakkan kepala dengan kedua mata yang hampir membengkak.
Arsen berdiri di depan nya, tersenyum tipis sambil mengulurkan sebelah tangan yang hanya ditatap tanpa minat oleh Gamma. Cowok itu terlihat kehilangan semangat hidup nya.
"Nangis nggak bakalan bikin Galaksi bangun sambil ngerengek manggil nama lo," kata Arsen sambil membantu Gamma berdiri meskipun cowok itu terlihat enggan. "Pulang, mandi, ganti baju terus berangkat ke masjid buat minta tolong sama Tuhan!"
"M-masjid?" beo Gamma, bibir nya terasa kelu saat mendengar kata Tuhan dari Arsen, hati nya kembali teriris begitu mengingat bahwa ia sangat jauh dengan Tuhan nya.
Arsen mengangguk. "Iya, masjid. Saat ini yang Galaksi butuhin cuma doa dari lo," ujar nya tenang.
"Tapi Gal–"
"Gue ingetin kalau Altheya masih istri sah lo kalau lupa, walaupun anak yang dia kandung anak nya Galaksi tapi itu masih jadi tanggung jawab lo."
Seseorang menepuk pundak nya pelan dari belakang membuat Gamma menoleh dan mendapati sosok Ardhan yang kini tersenyum tipis, cowok itu baru datang setelah mendengar kabar jika Galaksi terluka akibat melindungi Gamma. "Sorry gue baru datang, gue kira nggak bakalan sampai kaya gini kejadian nya."
"Lo pulang sekarang keburu adzan dzuhur," suruh Arsen mendorong pundak Gamma agar menjauh dari ruang operasi. "Kalau lupa cara nya wudhu gue ajarin."
"Lo kan nonis sialan!" maki Ardhan yang hanya dibalas tatapan datar oleh Arsen.
Gamma tersenyum kecil, hati nya menghangat karena ulah teman-teman nya. Benar kata Arsen, saat ini bukan lah hal yang tepat untuk menangis.
"Gue titip Galaksi, hubungi gue secepatnya kalau ada info apa-apa dari adek gue!" pinta nya yang di angguki oleh Arsen dan juga Ardhan.
Gamma langsung berlari menuju resepsionis untuk menyelesaikan biaya administrasi menggunakan uang pribadi yang ia dapatkan dari hasil tranding, setelah nya cowok itu berlari menuju parkiran dan melajukan mobil nya dengan kecepatan penuh membelah jalanan ibu kota yang tengah ramai.
Mobil Gamma sampai di basement apartemen setelah tiga puluh menit berkendara dengan kecepatan tinggi. Seragam putih abu nya yang berubah menjadi warna darah membuat beberapa penghuni apartemen yang tak sengaja melintas terlihat bergerak ngeri. Gamma tak peduli, ia terus melangkah lalu membuka pintu apartemen menggunakan kartu dan tertegun merasakan tubuh mungil menabrak dada bidang nya dengan erat.
"G-Gamma, lo kenapa?" Altheya terlihat shock saat menyadari seluruh tubuh Gamma dipenuhi dengan darah yang masih segar, aroma nya tercium sangat amis membuat Altheya hampir mual.
Gamma tak menjawab, otak nya benar-benar terasa penuh dan membayangkan hal yang tidak-tidak jika ia memberitahukan keadaan Galaksi kepada Altheya.
"Lo udah makan?" tanya Gamma mengalihkan pembicaraan.
Altheya menggeleng tegas, kedua mata nya berkaca-kaca. "Gue khawatir sama lo, gue minta maaf, gue t-takut, gue memang salah karena belum jujur tentang Galaksi. Lo boleh marah, lo boleh hukum gue sesuka lo, tapi jangan pergi lagi hiks."
Kedua mata tajam Gamma memejam, ia mulai merasa bersalah hingga mengesampingkan ego nya untuk tetap marah. Ia memang kecewa karena Altheya tidak jujur tentang Galaksi, namun ia tak bisa berbuat lebih. Isak tangis yang terdengar penuh penyesalan itu membuat nya luluh hingga berjalan mendekat dengan perlahan.
"Gue gapapa," kata Gamma lirih hampir tidak mendengar, tangan nya menarik tengkuk Altheya mendekat kemudian menyesapnya dengan lembut membiarkan wanita itu menikmati sentuhan nya meskipun air mata tak henti membasahi kedua pipi nya.
Detik-detik berlalu, Gamma melepaskan pangutannya begitu merasa Altheya kehabisan oksigen. Nafas kedua nya terdengar memburu membuat Gamma terkekeh kecil sambil mengangkat ibu jari nya untuk mengusap sisa saliva nya yang ada pada bibir Altheya.
Tangan besar nya perlahan turun ke bawah hingga terhenti pada perut Altheya yang terlihat mulai membesar, seulas senyum tipis tercetak pada wajah nya yang lebam. "Jangan bikin Mama capek, oke?"
Kedua pipi Altheya memerah malu, perut nya kembali terasa diterbangi ribuan kupu-kupu merasakan tangan besar Gamma mengelus puncak kepala nya dengan pelan. "Gue mau bersih-bersih dulu sekalian sholat dzuhur, mau jadi makmum gue?"