
Malam harinya jalan Cempaka sudah dipenuhi oleh anak-anak Akberios dan juga Coldos. Balapan liar kembali tak terelakkan, setelah sebelumnya Zaka mengamuk dan menantang Gamma di arena karena anggota nya ditusuk oleh Jeno.
Suara derum motor besar mulai terdengar sahur-sahutan, asap kendaraan membumbung tinggi ke udara saat Gamma datang memberikan akrobatik singkat guna memanasi lawan. Reflek, penonton bersorak meneriaki nama nya.
"Gue beneran dateng sesuai perjanjian," ujar Gamma tenang.
Zaka tersenyum sinis, ia memberikan kode kepada teman-teman nya untuk membawa bahan taruhan hasil buruan nya. Dua orang anggota datang membelah kerumunan sambil membawa seorang gadis berseragam biru putih membuat wajah Gamma berubah kelam.
"Gimana, Gam?" Zaka tertawa remeh melihat Gamma yang memalingkan wajah, ia dengan sengaja menarik rambut panjang yang terlihat mulai kusut itu hingga jatuh ke dalam pelukan nya. "Sea anak nya nurut, minus pemakaian dua kali hahaha!"
"Woi, gila aja lo taruhin bocah smp!" maki Ardhan.
"Kenapa, gak? smp gini bisa puasin lo pada sampai pagi." Zaka semakin tertawa kencang, terlihat bocah smp itu hanya bisa menangis dalam diam merasakan perih pada area kulit kepala nya.
"Binatang," ungkap Arsen dingin.
"Lebih buruk dari itu," sahut Gamma datar. "Gue bawa dua ratus juta tapi lepasin dia!"
"Gue gak butuh uang lo, gue mau taruhan yang sepadan sama Sea."
Gamma memiringkan kepala, tanpa aba-aba ia mendorong tubuh Delta hingga berdiri tepat di depan para anggota Coldos, cowok itu terdengar memaki.
"Lo apa-apaan, Gam?!" pekik Delta sebal.
"Delta taruhan gue."
"Deal!" Zaka melebarkan senyum membuat Delta mendelik, ia melayangkan tatapan tidak terima kepada Gamma yang kini sudah menurunkan kaca helm sambil menggeber motor nya mendekati garis start.
Tawa anak Akberios tak terbendung merasakan kepanikan Delta yang kini menjadi tatapan tajam oleh anggota Coldos.
"Perbanyak doa aja, Ta. Siapa tau Gamma kalah balapan kali ini."
"Mulut lo di gigit tuyul!" Delta melempar sepatu nya membuat Mahen tertawa sambil menghindar.
"Tidak kena wlee!!"
"Awas lo kalau Gamma menang," geram Delta, akhirnya ia duduk di tengah jalan dengan pasrah sambil berdoa agar Gamma tidak kalah malam ini, bisa jadi samsak jika dia benar-benar dibawa rombongan Coldos. "Gamma sinting!" decak nya berulang kali, jantung nya berdetak tak beraturan.
Keadaan di garis start semakin riuh, dua motor besar dengan penunggang berbeda jaket terlihat saling melayangkan tatapan tajam.
Akbar, cowok perwakilan dari Coldos yang memiliki tatapan setajam pisau itu terlihat menahan kesal di balik helm full face nya. Bukan tanpa alasan, meskipun Akbar adalah adik kandung Zaka, tak menutup kemungkinan jika karakter mereka tidak serupa.
"Kali ini gue bakal ngalah sama lo," kata Akbar dingin, dia muak mendengar tawa senang kakak nya di markas yang mempermainkan anak di bawah umur.
Gamma hanya tertawa saja. "Bukan nya lo selalu kalah dari gue?"
"Anjing!" umpat Akbar berdesis, tanpa menjawab ia pun beralih menurunkan kaca helm dan memilih fokus ke depan dimana seorang wanita mengangkat kain berwarna putih di udara. Detik-detik menjadi menegangkan saat wanita ditengah jalan itu mulai berhitung mundur.
"GO!"
Kedua motor dari masing-masing geng itu pun melesat secepat kilat setelah kain menyentuh tanah. Para penonton bersorak heboh, sedangkan dua manusia berbeda gender yang dijadikan bahan taruhan itu terlihat pucat di belakang garis.
"GO! GAMMA GO!"
"GUE PASANG LIMA PULUH JUTA BUAT AKBAR!"
Teriakan penonton pecah, suara mereka terdengar sahut menyahut untuk menyemangati dua belah pihak. Ditambah lagi tak ada aparat keamanan, mereka semakin menggila.
"BU TATA MAKAN PERMEN, KEREN MEN!" teriak Ardhan heboh, hanya cowok itu yang berdiri di atas motor dengan rusuh sambil mengibarkan bendera Akberios. "WOO GAMMA!"
"Berisik banget sih lo, turun!" tegur Arsen.
Ardhan nyengir kemudian turun. "Galak amat kek bapak tiri."
"Coba ulangi!"
"S-salah denger kali lo," elak Ardhan kelagapan.
"Ini oli siapa yang bocor, dah?" kedua mata Mahen menyipit saat menyadari area balapan terlihat kotor dengan oli.
Arsen berjongkok, ia mengikuti arah tetesan oli tersebut hingga kedua mata nya membola. "Sial, kita susul Gamma sekarang!"
Sedangkan disisi lain, pertandingan semakin sengit karena dua belah pihak terlihat ambisius mencapai titik finish lebih dulu dengan Gamma yang memimpin. Cowok itu tersenyum miring dari balik helm full face nya melihat kemenangan di depan mata.
"Terima aja kekalahan lo!" teriak Gamma dari motor.
Alih-alih tersulut emosi, Akbar justru tersenyum miring dari balik helm full face nya. "Taruhan gue bukan Sea, tapi nyawa lo. Good luck!" cowok itu menurunkan laju motor hingga Gamma mampu menangkap suara bising beberapa motor dari belakang.
"TURUN GAM! MESIN LO ADA YANG GAK BERES!" teriak Arsen cukup kuat.
Gamma tertegun,ia mencoba menarik rem belakang namun tidak terjadi apa-apa membuat jantung nya berpacu tidak beraturan mengingat laju kendaraan nya terbilang kencang.
Mencoba untuk tetap tenang, Gamma memaksa untuk melintasi garis finish lebih dulu sambil terus menekan klakson, memaksa para penonton menyingkir dengan tunggang langgang.
Brakkk!!
"Sial!" desis Gamma sembari meringis merasakan ngilu pada seluruh tubuh nya. Cowok itu baru saja membanting stir ke kiri hingga tubuh nya terpental karena menabrak pohon besar.
"Minggir anying, diem bae lo kek anak kadal!" Delta turun dari boncengan Arsen dengan panik, ia menarik tubuh Gamma menjauh dari motor besar nya yang terlihat mulai mengeluarkan asap.
Selang berapa detik setelah Delta berhasil mengamankan Gamma, motor besar itu terbakar hingga mengakibatkan ledakkan besar.
"Gila lo, untung sempet gue tarik." Delta menonyor kepala Gamma tanpa takut, ketua nya itu masih terlihat shock.
"Coldos bener-bener perlu kita kasih paham!" Rahang Mahen mengeras, cowok itu menurunkan kaca helm berniat menyusul Akbar yang menatap nya tenang dari kejauhan sembari menyulut rokok namun lebih dulu di tahan Arsen.
"Gak perlu," ujar nya berat.
"Lo apa-apaan, sih. Mereka udah bikin bahaya nyawa Gamma!" kesal Mahen, ia menepis kasar tangan Arsen di pundak nya.
"Justru itu, lo gak lihat Gamma posisi nya gini? masih mau nyerang tanpa pimpinan?"
Mahen bungkam, benar juga. Cowok itu akhirnya kembali tenang dan duduk di samping Gamma yang terlihat mencak-mencak.
"Anjing banget si Akbar bikin Samsul gue meledak."
"Baru selamat dari kecelakaan mulut nya udah jahanam," sahut Delta, cowok itu masih dongkol mengingat Gamma mempertaruhkan nyawa nya di tangan Coldos.
Kening Ardhan berkerut. "Samsul sape?"
Menghela nafas berat, Gamma menunjuk motor nya yang masih terbakar dengan dagu. Para penonton terlihat bergerombol di area ledakkan sembari mengambil gambar. Melihat nya, Gamma tidak peduli, ia masih bersyukur bisa menghindari ledakan, masalah Samsul bisa ia pikir belakangan.
"Bagus juga reflek lo, hahaha."
Tangan Arsen terkepal, cowok itu berjalan menghampiri Zaka yang tertawa puas melihat keadaan Gamma yang dipenuhi luka gores. Tubuh nya memberontak tata kala Jeno menahan nya dengan bibir mengerucut.
"Lepas!" bentak Arsen, habis sudah kesabaran nya untuk ketua geng pengecut itu.
"Gue laper, ayo pulang." Jeno menarik lengan Arsen manja karena hanya cowok itu yang rela memasak makanan untuk nya di markas.
Arsen mengusap wajah nya kasar, cowok itu menepis lengan Jeno sambil menatap penuh permusuhan ke arah Zaka yang menaikan sebelah alis seakan mengejek.
"Sesuai perjanjian, Sea buat lo." Zaka mendorong punggung lemah itu hingga hampir menyentuh aspal jika saja Jeno tidak menangkap pinggang nya dengan erat.
"Harus nya gue tau dari awal kalau pengecut kaya lo gak pernah berani nyerang gue secara langsung," ejek Gamma tertawa sinis.
Zaka hanya menggedikkan bahu acuh terlihat tak ambil pusing. Tangan kanan nya terangkat di udara memberi kode, disusul puluhan geberan motor yang terdengar sahut-sahutan.
"Sok banget lo anjing!" maki Delta kesal.
Mereka tertawa lalu pergi, menyisakan Akbar yang baru saja datang dengan wajah tembok nya. "Setelah ini kita bakal lebih sering ketemu, gue bakal main serius kalau taruhan nya cewek di apartemen lo."
Melihat tubuh Gamma yang menegang mampu membuat Akbar tertawa dengan keras. "Berarti tuh cewek berharga banget buat lo, ya? padahal gue tertarik sama dia," ujar Akbar menambahi.
"Gue gak paham maksud lo," bohong Gamma, ia masih mencoba tenang meskipun dalam hati menyimpan emosi yang ingin sekali ia luapkan ke wajah musuh nya.
Akbar menggedikkan bahu. "Next, gue bakal menang dari lo." Cowok itu pergi meninggalkan arena dengan motor besar nya membuat seluruh tubuh Gamma menegang hebat.
Darimana Coldos tau tentang Altheya?