
Bugh!! Bugh!! Bughh!!
Adu jotos tak dapat terelakkan lagi setelah Gamma melampiaskan emosi di arena sirkuit. Bukan karena memang mencari lawan, namun karena Zaka yang kembali membuat masalah dengan mengeroyok anak buah nya hingga dilarikan ke rumah sakit.
"Anjing lo!" Gamma meludah ke samping sambil menginjak dada Zaka yang sudah terkapar di atas aspal.
Kedua tangan nya terkepal, netra setajam elang nya menyorot penuh benci sebelum kembali melayangkan pukulan telak ke arah perut hingga membuat Zaka sesak nafas.
"KALAU LO BUNUH DIA GUE GAK SEGAN BUNUH SODARA LO!" teriak Akbar dari kejauhan, cowok itu cukup kualahan menangkis serangan dari tiga anggota Akberios sekaligus.
Gamma berdecih, kaki nya menendang tulang kering Zaka hingga kembali terdengar teriakan nyaring di sepanjang arena.
Tempat yang seharusnya digunakan untuk balap liar beralih fungsi menjadi tempat tawuran, beberapa tetes darah segar terlihat jelas pada bagian aspal yang di cat putih. Sedangkan hal itu membuat para penonton dengan brengsek nya semakin memperkeruh keadaan.
"YANG MENANG BAKAL GUE TRANSFER SERATUS JUTA!"
"MASUK KE REKENING GUE!" teriak Gamma menyahuti sorakan penonton yang semakin menggila. "Lo denger itu, kan?!"
Zaka terbatuk saat Gamma mengangkat tubuh nya dengan cara mencengkram bagian kerah jaket, nafas nya seakan di tahan untuk beberapa detik karena Gamma mencekiknya.
"Gak ada satu pun di sini yang ada di pihak lo," ujar Gamma mengejek, tanpa aba-aba ia melepaskan cengkraman nya membuat tubuh Zaka terjatuh dan meraup udara rakus sebanyak-banyaknya.
Beberapa detik kemudian cowok itu mengangkat sebelah sudut bibir dan tertawa meski diselingi batuk ringan. "L-lo gak sadar kalau u-udah kalah satu langkah s-sama Coldos–"
Bughh!!
"Sorry," pekik Arsen meringis ke arah Gamma yang kini menatap nya tajam, sebenarnya ia memang sengaja karena geram dengan tingkah laku Zaka. Terbukti dengan ekspresi wajah puas setelah mendaratkan sebuah bogeman dari arah belakang.
"Sialan!" umpat Zaka.
"Bukan gue yang kalah, tapi lo." Gamma memandang nya tanpa emosi, kedua mata nya terlihat memerah menahan tangis membuat Zaka mengangkat kedua sudut bibir yang terluka dengan lebar.
"Really? kita lihat ke depan nya nanti, gue yakin kalau lo udah sadar kalau gue bukan leader Coldos yang asli."
Kedua tangan Gamma terkepal namun masih mencoba tenang. "Ya, karena gak ada leader yang lemah kaya lo."
Zaka hanya tertawa kemudian memberikan komando untuk pasukan nya agar mundur membuat para penonton sontak bersorak ramai menyerukan nama Akberios.
Gamma cukup diam, kedua mata nya terpejam sambil menghembuskan nafas berat mengingat info baru yang diberikan Ardhan secara empat mata beberapa jam yang lalu.
Seseorang terdengar menepuk bahu nya dengan ringan. "Ardhan bilang kalau informasi yang dia dapat belum akurat, gak usah terlalu di pikirin."
"Gue mau ke club, yang mau ikut silahkan, gue yang bayar!" seru Gamma menghiraukan kalimat Delta yang kini menatap ke arah nya dengan khawatir.
•••
Ruangan bernuansa klasik itu terdengar senyap, lampu utama di matikan hingga menyisakan lampu belajar di atas nakas. Puluhan buku tebal berisi latihan-latihan soal terlihat menghiasi satu rak besar dengan rapi, sedangkan sang empunya terlihat bersandar di tepi ranjang sambil menelungkup kan kepala di antara dua siku.
Keadaan benar-benar sepi seakan tidak berpenghuni, menyisakan suara ketukan ringan pada pintu kayu yang menjadi satu-satunya penghalang ruangan.
Rion tak henti mengetuk pintu kamar putra nya dengan sabar, perasaan nya mulai khawatir setelah mendapati Galaksi mengurung diri di dalam kamar seharian.
"Galaksi?" panggil nya sekali lagi, namun lagi-lagi tak mendapat sahutan membuat Rion benar-benar mulai overthinking. "Kalau kamu gak jawab, Papa bakal dobrak pintu ini!"
Galaksi memejamkan kedua mata nya erat, tangan kanan nya menekan kuat perut yang mulai terasa melilit sembari berkali-kali meringis. Cowok itu akhirnya memaksakan diri untuk berjalan tenang menuju pintu.
"Apa, Pa?" tanya Galaksi dengan mata sayu, ia mencoba menetralkan ekspresi nya agar seperti bangun tidur.
Rion menghela napas, tangan nya menyentuh lingkaran hitam di sekitar mata Galaksi dengan lembut.
"Kamu selama ini udah berusaha jadi yang terbaik buat Papa, jangan terlalu dipaksakan lagi."
Galaksi menggeleng lemah, itu tidak benar. "Kalau Galaksi tanya sesuatu, Papa bakal marah gak?"
"Apapun jika tentang kamu, Papa nggak akan marah."
"Janji?"
"Janji!" Rion menautkan jari kelingking nya dengan jari kelingking Galaksi, persis seperti seorang ayah sedang membuat janji dengan putra kecil nya.
"Papa nyesel nggak, udah ngeluarin banyak uang buat bimbel Galaksi?" Rion menggeleng, sedangkan Galaksi tersenyum kecil.
"Papa nyesel udah sekolahin Galaksi di sekolah mahal atau nggak?" Rion kembali menggeleng.
"Kalau gitu Galaksi tanya, Papa sayang sama Gamma atau nggak?"
Rion menggeleng tanpa ragu membuat jantung Galaksi seperti ditikam ribuan belati, kedua tangan nya terkepal, nafas nya mulai memburu dengan kedua mata yang memerah. Sebisa mungkin Galaksi mencoba menahan amarah meskipun rasa nya sangat menyesakkan.
"K-kenapa?"
"Gammaliel cuma sampah, dia tidak bisa dibanggakan sedikitpun meski hanya dilihat dari segi attitude," terang Rion datar.
"Gamma nggak seperti itu, Pa!" sangkal Galaksi.
Sebelah alis Rion terangkat. "Tidak seperti itu gimana maksud kamu?"
"Gamma selalu belajar mati-matian sama seperti Galaksi biar dapat nilai bagus buat Papa!"
"Kalian tidak sama," dingin Rion. "Gamma tidak pernah benar-benar serius dalam belajar mangkanya selalu mendapat nilai rendah."
"Papa cuma belum tau!" Galaksi mendesis kecil, dada nya terasa sangat sesak. "Apa bener Papa selalu pukulin Gamma dan pernah gak ngasih makan seharian cuma karena dapat nilai sembilan lima?"
Rion mengangguk ringan. "Bahkan sampai saat ini Papa tidak pernah memberikan anak badung itu uang sepeserpun, entah darimana dia mendapat uang yang pasti bukan urusan Papa."
"Brengsek!" kedua tangan Galaksi terkepal kuat, dengan marah ia berlari menuruni tangga tanpa menghiraukan Rion yang sedang menyerukan nama nya.