Badboy Husband

Badboy Husband
16 - DUA NYAWA



Sejak tadi Altheya tak henti-henti nya menatap sebuah cincin berlian yang diselipkan Gamma beberapa menit yang lalu.


Kedua pipi nya terasa memanas, jantung nya berdebar tidak beraturan dengan perut yang menahan geli bak diterbangi ribuan kupu-kupu. Hanya perlakuan singkat, namun mampu membuat Altheya terbang di atas awan. Gamma benar-benar meratukan nya.


"Ayo!" Gamma menggenggam jemari nya yang terasa dingin saat seorang perawat memanggil nama nya, ini adalah kasi pertama Altheya menginjakkan kaki ke dalam dokter kandungan, ada perasaan aneh seperti berdebar dan juga senang yang menjalar ke seluruh tubuh nya.


"Selamat pagi, nyonya Altheya."


Kepala Altheya terangkat, terlihat seorang dokter muda dengan name tag Diana itu mengulas senyum sambil menuntunnya menuju hospital bed membuat Altheya perlahan ikut membalas senyum manis nya.


"Saya mau lihat tuyul-tuyul, Dok!" pekik Gamma semangat, beberapa saat kemudian ia mengaduh merasakan cubitan kuat pada lengan kiri nya. "Apa, sih?"


"Tuyul jidat lo, diem!"


Diana hanya terkekeh, ia hanya bisa menggelengkan kepala. "Permisi, ya, baju nya boleh di angkat sebatas dada untuk melakukan usg."


Altheya mengangguk, tangan nya mulai melipat kaos yang di kenakan dengan perlahan namun lagi-lagi ulah Gamma membuat nya jengkel.


"Apa lagi Gamma?" tanya Altheya sabar.


Gamma terkekeh kemudian menggeleng. "Jangan, aurat."


Altheya mengambil nafas. "Lo pikir bu dokter usg gue lewat kaos gitu? lama-lama gue tabok girang juga lo!" sungut nya berapi-api.


Gamma hanya bisa mendengus, ia akhirnya membiarkan Altheya mengangkat kaos sebatas dada sedangkan Diana dari tadi tak henti menahan tawa melihat ulah kedua nya yang unik.


Diana mengoleskan gel di atas perut Altheya kemudian meletakkan alat pendeteksi yang ia geser ke kanan dan ke kiri hingga terhenti pada satu titik, bibir nya tersenyum ke arah Altheya yang sedang tertegun.


"Ini tuyul nya ada dua, Mas." Diana terkikik melihat Gamma yang fokus ke monitor tanpa berkedip. Gamma terlalu speechless melihat dua gumpalan kecil yang memiliki ukuran seperti buah jeruk di rahim Altheya.


"K-kembar dok?"


Diana mengangguk. "Benar, nyonya Altheya mengandung bayi kembar."


"Serius?" tanya Gamma kembali memastikan, kedua mata nya memancarkan binar bahagia membuat Altheya hanya bisa menahan nafas merasa semakin bersalah.


"Duarius buat Mas, umur nya saat ini kurang lebih dua belas bulan jika saya hitung dari pertama kali nyonya Altheya mendapatkan haid," jelas Diana sabar.


Gamma mengulum senyum, ia menangkup kedua pipi Altheya dengan gemas kemudian mengecupnya bergantian. Cowok itu bahagia bukan main karena terlanjur mencintai anak yang tumbuh di rahim Altheya meskipun bukan anak kandung nya.


"Lo denger itu kan?" Gamma memperingati Altheya melalui tatapan nya. "Jadi gak usah banyak tingkah sampai ngebahayain tuyul-tuyul gue!"


"Anak gue bukan tuyul!" sungut Altheya.


Gamma berdecak. "Sama aja, botak-botak cumil hahaha!!"


Diana hanya bisa menggelengkan kepala, dokter muda itu membantu Altheya membenarkan kaos yang sebelumnya terangkat sebatas dada kemudian membantu wanita hamil muda itu untuk duduk. Lantas, setelah itu kedua nya di giring Diana menuju meja konsultasi.


"Menurut pemeriksaan saya barusan, kondisi janin di rahim Bunda sangat sehat. Namun saran saya Bunda harus sering melakukan cek up ke dokter kandungan mengingat umur yang masih sangat muda beresiko terjadi nya pendarahan atau kelahiran prematur."


Diana menggeleng tidak setuju dengan pertanyaan Gamma. "Kehamilan usia muda atau remaja juga dapat meningkatkan resiko kematian Ibu dan anak."


Glek!!


Gamma menelan saliva nya dengan susah, lelaki itu tak lagi berkomentar dan fokus kepada Diana yang kini sibuk menulis pantangan makanan pada ibu hamil. Perasaan senang dan bahagia itu mulai meredup begitu mendengar resiko kehamilan di usia muda.


"Santai aja, resiko itu gak bakalan terjadi sama Mama kuat!"


"Benar, akan lebih baik kalau Mas nya bisa jaga mood dan membuat mbak nya selalu berfikiran positif." Diana mengangguk menyetujui guna membantu Altheya yang sedang meyakinkan Gamma, dokter muda itu menyodorkan selembar kertas. "Ini makanan dan minuman yang tidak boleh dikonsumsi ibu hamil dengan jumlah banyak dan vitamin yang harus di tebus di apotik."


Gamma menerima nya. "Terimakasih, kami pamit dok."


"Silahkan, hati-hati di jalan dan terimakasih kembali."


Gamma menuntun Altheya keluar dari ruang dokter kandungan dengan perasaan membaik, bibirnya tak henti menyunggingkan senyum manis membuat Altheya dongkol karena menjadi pusat perhatian.


"Gak usah sok ganteng," ketus Altheya.


Gamma mendongakkan dagu sombong. "Emang ganteng, semoga tuyul-tuyul ganteng nya nurun ke gue."


"Gam," tegur Altheya lirih. "T-tapi dia bukan anak lo–"


"Ngomong apaan sih lo, mau darimana aja asal nya si tuyul tetep anak gue karena lo istri gue," potong Gamma kesal, ia merangkul pinggang ramping Altheya dengan posesif serta memberikan tatapan tajam untuk beberapa pria yang terang-terangan memuji wanita itu. "Lama-lama gue colok tuh mata."


"Sok keren," cibir Altheya datar.


Gamma berdecak. "Biarin!" langkah cowok itu terhenti merasakan getaran pada ponsel nya, ada sebuah pesan masuk dari Ardhan yang mampu membuat kening Gamma berkerut dalam.


"Kenapa?" tanya Altheya setelah menyadari perubahan raut wajah Gamma, wanita yang tengah hamil muda itu entah mengapa akhir-akhir ini selalu takut dengan perubahan raut wajah Gamma. Sewaktu-waktu cowok itu akan tau kebenarannya dan Altheya tak siap dengan itu. "Gam!"


"Gak ada," balas Gamma tenang, sorot mata nya yang dalam terlihat tajam. "Gue anter lo pulang dulu ke apart, gue ada urusan di markas sama anak-anak."


••••


Bangunan besar dengan bendera-bendera khas dari Akberios terpampang jelas di halaman depan setelah Gamma memarkirkan motor besar nya di area khusus. Perlahan, kedua tangan nya mengangkat helm full face dari kepala hingga menunjukan wajah tegang yang sedari tadi ia tahan saat bersama Altheya.


"Gue harap kali ini lo gak ngamuk waktu denger berita kek beberapa tahun yang lalu."


Gamma menoleh ke belakang, Delta tau-tau berada di belakang motor nya sambil menghisap sebatang rokok yang tersisa setengah.


"Berita itu belum tentu akurat."


Klap!!!


Sebatang rokok yang tersisa setengah itu terlihat hancur di atas paving halaman ketika Delta menginjak nya. Tak lama kemudian suara tawa sinis terdengar bersamaan dengan pintu utama yang terbuka sambil menampilkan anggota inti yang tersisa.


"Ardhan bukan sekali dua kali nyari info beginian. Kita cuma bisa kasih lo dua pilihan, percaya sama temen yang udah lo anggap saudara atau orang baru yang belum jelas asal-usul nya."