
Sejak tadi Altheya tak henti menggigit kuku jari dengan khawatir setelah melihat mobil Gamma melesat dari balik jendela balkon. Perasaan nya memburuk, cowok itu terlihat sangat berbeda setelah mendapatkan pesan dari Ardhan beberapa menit yang lalu.
"K-kenapa gue khawatir?" gumam Altheya, ia selalu menunggu momen dimana Gamma tau dalang dari penyebab kehamilan nya dan menjatuhkan keputusan cerai, dengan begitu ia bisa pergi atau memilih mengakhiri hidup seperti dulu.
Ponsel di dalam tas selempang berdering, Altheya hanya menatap nya sekilas sambil kembali merenung di atas ranjang. Namun lagi-lagi ponsel nya berdering untuk kelima kali nya membuat Altheya mengacak rambut kesal.
"Hallo?!" sahut Altheya dengan nada jengkel, kedua alis nya berkerut samar karena tidak ada suara apapun di seberang sana kecuali keheningan.
"Hallo?" ulang Altheya, mata nya melirik nomor tak dikenal yang baru saja menghubungi nya secara beruntun. "Kalau tidak ada keperluan akan saya tutup–"
Suara tawa terdengar memecah keheningan yang mampu membuat Altheya terdiam, tubuh nya mendadak kaku dengan pandangan kosong. Sejenak wanita muda itu mengepalkan kedua tangan sebelum mencengkram perut buncit nya dengan kuat.
"Buat apa lo hubungin gue?" tanya Altheya dengan nada rendah.
Seseorang diseberang sana kembali terkekeh. "Buat apa? jangan lo lupa kalau hubungan kita belum berakhir."
"Kenapa gue baru sadar sekarang kalau selain pengecut, lo juga bajingan, Gal!" desis Altheya menahan marah.
"Suatu saat lo juga bakal tau."
"Tau kalau lo bajingan?"
Galaksi diseberang sana hanya bisa terkekeh ringan. "Gue anggap itu suatu pujian. Btw, gue barusan lihat mobil Gamma keluar dari apartemen."
"Gak usah macem-macem!" peringat Altheya, perasaannya semakin berkecamuk.
"Cuma satu macem kok. Gue ke sana, ya? pengen jenguk tuyul-tuyul gue hahaha."
"Jangan gila lo, h-hallo? Galaksi?!"
Altheya mengusap wajah nya kasar setelah Galaksi memutus panggilan dengan sepihak, wanita itu mencoba menghubungi kembali nomor yang baru saja digunakan namun tak ada balasan karena Galaksi lebih dulu memblokirnya.
"ARGHHH, MATI AJA LO BANGSATT!" teriak Altheya menggema ke seluruh ruangan sambil menjambak rambut panjang nya dengan kuat.
...🥨...
Sedangkan di markas Akberios, keenam inti utama itu sudah berkumpul di ruang pertemuan dengan Ardhan yang menjadi pelaku utama, cowok itu duduk di bagian tengah dengan Gamma dan Arsen di bagian kanan, Mahen dan Jeno di bagian kiri, serta Delta yang duduk di atas sandaran kursi bagian belakang.
"Apa aja yang lo tau?" tanya Gamma dengan nada rendah membuat Ardhan membalas nya dengan mengangkat sebuah flashdisk kecil yang selalu ia gunakan khusus untuk menyimpan bukti-bukti penting seputar Akberios.
"Gue bakal jelasin tapi gue minta satu hal sama lo."
Gamma menaikan sebelah alis nya bermaksud bertanya. "Apa?"
"Jangan pernah gila sama seseorang," kata Ardhan datar.
Gamma hanya mampu terdiam lama, kedua mata nya mengikuti pergerakan Ardhan dari memasang flashdisk hingga mencari folder di bagian video, ada sebuah rekaman ulang CCTV di sebuah lorong hotel yang mampu membuat jantung Gamma berdegup kencang.
"Satu hal yang harus lo tau, Altheya berasal dari sekolah yang sama dengan Galaksi."
"Darimana lo simpulin itu? Galaksi sama Altheya pernah ketemu sewaktu gue ajak di resto dan mereka gak saling kenal–"
"Kalau semisal gue suka sama lo walaupun pacaran sama Altheya apa gue bakal sok akrab di depan dia?"
"Perumpamaan nya jangan cowok sama cowok juga lah anj, merinding gue," kesal Delta, tangan nya menonyor kepala bagian belakang Ardhan.
"Gak mungkin, Altheya bukan tipe cewek kek gitu."
"Gak ada yang gak mungkin di dunia, suka boleh tapi bodoh jangan. Gak seharusnya lo naruh hati secepat itu ke orang baru," tegur Arsen ikut-ikutan, hanya cowok itu yang mampu membungkam semua keraguan Gamma. "Ardhan punya bukti, dia rela gak tidur dua hari di markas cuma buat nyari bukti di masalah ini. Karena apa? karena lo!"
"B-bohong tuh si Hazelnut, gue cuma gabut gak ada kerjaan jadi sekalian nyelesain masalah lo."
"Gengsi seluas samudera lo, bilang aja lo perhatian sama si Gamma," sahut Delta.
Mahen menatap nya curiga. "Jangan bilang kalau soal lo suka sama Gamma itu beneran?"
"Gak lah kampret!" sungut Ardhan berapi-api, tangannya menempeleng kepala Delta dan Mahen secara bergantian yang ditatap lucu oleh Jeno, cowok itu bersandar di bahu Mahen dengan tenang.
"Ada kala nya manusia punya hak buat marah, buat nangis, kalau lo sok tegar gitu yang ada cuma matahin hak lo sebagai manusia." Jeno menunjuk Gamma dengan lolipop ditangan nya. "Gue udah anggap lo sebagai kakak, lo selalu bantu kita nyelesaiin masalah dan sekarang giliran kita yang bantu nyelesaiin masalah lo."
"Jen–"
"Gak ada penolakan, dengan senang hati gue bantu biar luka lo makin lebar," potong Jeno sambil memperlihatkan pisau kecil yang menjadi gantungan pada ponsel.
Mereka kompak menatap Jeno tak percaya sekaligus ngeri, sedangkan Delta yang melihat itu sontak melotot sambil merogoh saku jaket nya dengan gerakan tergesa.
"Darimana lo ambil pisau itu?" tuduh Delta karena cowok itu sempat menyita pisau milik Jeno sejak kedatangan Sea di markas.
"Aku punya lima," jawab Jeno polos.
Delta menahan nafas, ia akhirnya memilih kembali fokus kepada Ardhan menyuruh sahabat nya itu untuk masuk ke dalam inti cerita, masalah Jeno akan ia pikir belakangan.
"Gue tanya sekali lagi, kalau semisal dalang yang bikin Altheya hamil ternyata Galaksi–gimana?" tanya Ardhan hati-hati, sedangkan Gamma terlihat membeku sambil mengepalkan kedua tangan.
"Gue mau lihat bukti lo dulu," jawab nya tenang.
Ardhan mengangguk, ia memilih folder yang sudah di sendirikan kemudian memutar nya di depan Gamma. Terlihat pada rekaman tersebut hanya lorong hotel biasa sebelum dua orang berbeda gender yang postur tubuh nya dapat mereka kenali terlihat memasuki salah satu room hotel dengan mesra.
"Itu bukan–"
"Dia Altheya!" seru Arsen memotong ucapan Gamma. "Ar, coma zoom muka mereka!"
Ardhan mengangguk, ia menekan tombol pause kemudian memperjelas wajah dua orang yang sedang berjalan menghadap ke arah kamera. Tubuh Gamma seketika melemas, kedua mata nya terlihat berair dengan nafas yang memburu.
Kelima inti Akberios yang melihat itu pun merasa khawatir, tak terkecuali Jeno yang biasanya acuh dengan keadaan sekitar terlihat merangkul pundak Gamma.
"Lo–"
"Gue gapapa," potong Gamma, cowok itu berdiri mendekati lemari kaca di sebelah pojok lalu mengambil satu jaket bertuliskan nama 'Ethan' yang terlihat memiliki logo berbeda dari jaket yang mereka kenakan saat ini.
Sebuah kepala singa dengan mawar hitam kecil di setiap sisi pundak itu melambangkan jika jaket itu milik pendiri Akberios yang pertama kalinya.
"Mau lo apain jaket bang Ethan?" tanya Arsen khawatir.
Gamma tidak menjawab, ia melepas jaket Akberios milik nya dan membuang nya asal sebelum beralih mengenakan jaket milik almarhum Ethan. Gestur tubuh nya terlihat tenang, namun tak bisa dipungkiri jika jiwa kepemimpinan yang haus akan darah turut serta menyelimuti tubuh Gamma yang sedang menahan amarah.
"Kumpulin semua angkatan anggota Akberios kecuali Mela, kita serang Coldos malam ini juga!" titah Gamma tak terbantahkan.