Badboy Husband

Badboy Husband
23 – SERANGAN YANG SAMA



"Eee, soal fake leader nya lo udah tau siapa leader asli... Coldos?"


Keadaan menjadi hening membuat Manu menggaruk tengkuk nya yang tak gatal, harusnya ia tau jika pertanyaan ini sangat sensitif bagi Gamma, ditambah lagi ia baru mendengar jika ketua nya itu sedang bertengkar dengan seorang gadis yang ia ketahui sebagai kekasih Gamma.


"Sorry, bos. Gue gak bermaksud buat–" kening Manu berkerut melihat belasan anak Akberios berlari menuju ke kelas mereka, ia memilih untuk menggantung kalimat nya. "Ada apaan tuh rame-rame?"


"BANG GAMMA MANA, BANG GAMMA?!"


Heldan, siswa kelas sepuluh yang menjadi ketua barisan belakang itu masuk ke dalam kelas dengan rusuh, dahi nya terlihat berkeringat, wajah nya terlihat pucat dengan seragam yang terlihat kusut. Padahal sekolah belum saja dimulai namun penampilan nya sudah terlihat acak-acakan membuat Gamma berdiri dari duduk nya.


"Ngomong yang jelas kalau gak mau bibir lo gue robek!" tegas nya keras.


Anak kelas satu itu semakin gemetar, namun sebisa mungkin menetralkan emosi nya agar tidak membuat Gamma semakin marah.


Brakk!!


Asistensi mereka teralihkan pada sebuah tas gitar yang sengaja dibanting seseorang dengan kasar, terlihat dari pintu sosok Delta, Arsen, Mahen dan juga Jeno berdiri dengan wajah tidak enak.


"Ada apa?" tanya Gamma tak mengerti.


Delta menyentuh pundak nya seraya mengepalkan tangan. "Lo pernah bilang kalau mau bunuh ketua Coldos pake tangan lo sendiri kan?"


Tubuh Gamma menegang membuat kelima inti Akberios merangkul pundak nya dengan erat. "Kita bakal coba buat penawaran, kalau mereka gak mau bisa apa? siapa pun orang yang ngehalangin Akberios bakal jadi lawan."


Mahen membuka tas gitar berisi berbagai macam senjata lalu mengambil satu buah parang berkarat untuk diserahkan kepada Gamma. "Meskipun itu saudara lo sendiri."


•••


Berbagai umpatan kasar terdengar sahut-menyahut, suara senjata beradu terdengar memekakkan telinga. Gamma berdiri di tengah-tengah barisan sambil menatap nyalang dimana para anggota Coldos berusaha membobol pagar besi yang menjadi satu-satunya penghalang SMA Abdi.


"Mau apa kalian kesini? balik ke belakang sampai polisi datang!" Bu Sri menghadang Arsen dan juga Mahen yang berada di garis paling depan pasukan, wanita yang berumur tak lagi muda itu terlihat mendelik tajam meskipun nyaring nya senjata lawan telah beradu dengan gembok sangat keras.


"Mau ngandelin polisi? fine, tapi coba ibuk lihat gerbang kita." Arsen berkata tenang, sangat khas dengan pembawaannya sebagai wakil OSIS.


Bu Sri terdiam, wanita yang sebelumnya paling kekeh untuk menahan pasukan Akberios pun berubah pasrah saat Darno menarik nya menjauh dari kawasan rawan, beliau akhirnya bergabung dengan para siswa-siswi maupun staff dewan guru yang sudah berada dibangunan belakang.


"Mana yang kata nya Akberios raja jalanan? masa di jemput depan gerbang gak mau keluar, hahaha!!" seorang cowok dengan potongan rambut cepak terlihat tengil membuat Jeno dari kejauhan mulai memiringkan kepala yang berarti bahwa cowok itu sedang memilih siapa saja yang akan menjadi mangsa nya hari ini.


"Tiga orang," kata Jeno sambil membasahi bibir bawah nya menggunakan lidah, tak ada yang tau benda apa saja yang tersimpan di dalam saku hoodie kebesaran nya.


"Kalau aja bunuh orang di negara ini gak dapat hukuman besar bakal gue pastiin kepala lo lepas dari tempat nya," geram Mahen, hanya dia yang membawa senjata modifikasi seperti senjata gir.


"Gue kira keras, ternyata nama nya Gammasu cupu banget kek anak ayam!"


Delta mengeratkan cengkraman nya pada tongkat baseball yang dibawa, cowok itu justru terlihat sangat marah dengan rahang yang mengeras serta urat-urat leher yang mulai menonjol, sedangkan Gamma yang menjadi pusat ejekan terlihat hanya diam dengan pandangan kosong.


"Lo dijelek-jelekin kenapa cuma diem kek orang bego, sih, bangsat!" kesal Delta sambil mengusap wajah kasar.


Gamma tetap tidak bergeming, pandangan nya lurus ke depan tanpa ekspresi hingga Akbar membelah kerumunan sambil membawa parang besar yang diayunkan ke arah gembok.


Trakk!!


"Banyak bacot doang padahal gak pernah menang," sahut Manu enteng, ia meludah ke samping membuat emosi Akbar tersulut.


"Lo mau gue buat masuk rumah sakit lagi?!"


Manu tersenyum sinis. "Gamma gak bakal biarin itu terjadi karena–"


"Gue yang bakal bunuh dia," sambung Gamma memotong kalimat Manu membuat seluruh anggota Akberios menegang melihat sosok yang baru datang dari balik tubuh besar Zaka.


Kedua sudut bibir Gamma terangkat membentuk senyum menyeringai, tangan nya semakin mencengkram erat parang berkarat yang memiliki ukiran nama Ethan di bagian tengah nya.


"Ternyata skenario lo lebih mulus dari apa yang gue duga selama ini, Galaksi."


Galaksi tertawa. "Kapan terakhir kali kita berantem?" tanya nya.


Gamma nampak berfikir kemudian menggeleng. "Gak pernah."


Galaksi mengangguk. "Kalau gitu, hari ini adalah pertama kali kita berantem. Bukan sebagai saudara tapi bertemu sebagai lawan!" ia menyeringai sambil mengayunkan golok di tangan nya ke arah gembok hingga benda yang kokoh itu pecah.


Trakk!! Brakk!!


"COLDOS, MAJU!"


Seruan keras dengan aura kepemimpinan itu mampu membuat puluhan siswa berseragam SMA Danuarsa bergerak serentak setelah berhasil merobohkan gerbang kokoh yang menjadi satu-satunya penghalang di SMA Abdi.


Tawuran tak terelakkan, suara benda tajam yang saling beradu memekakkan telinga, teriakan penuh semangat dan juga kobaran emosi yang tak kunjung padam dari dua belah pihak semakin memperkeruh keadaan.


Ditengah pusaran puluhan anggota Akberios dan juga Coldos berdiri dua orang laki-laki yang saling bertukar pikiran dalam diam, pada tangan dan juga kepala mereka terikat satu kain yang sama bertuliskan leader.


"Gak mau pakai cara saudara?" tawar Gamma.


Galaksi mengangguk menyetujui, cowok itu membuang senjata yang sejak tadi ia pegang ke belakang tanpa ragu yang disusul Gamma dengan melempar parang berkarat bertuliskan nama Ethan ke sembarang arah, parang berkarat itu bukan sembarang parang karena pernah dimiliki oleh Ethan yang otomatis memiliki julukan yang sama dengan jaket nya–sang iblis terlalu berbahaya.


Kedua nya saling tatap kemudian tersenyum miring bersamaan, tanpa aba-aba kedua nya berlari memberikan serangan yang aneh nya memiliki pola dan cara bertarung yang sama.


"Peniru," ejek Gamma sambil menghempaskan tangan Galaksi yang hendak mengenai kepala nya, cowok itu terkekeh kecil karena pola serangannya dengan Galaksi sama persis.


Galaksi berdecak kecil. "Kan emang kembar," jawab nya sedikit tersendat lantaran merasa sedikit kualahan dengan power Gamma yang tak main-main.


Meskipun Galaksi kuat, ia masih belum bisa mengimbangi kekuatan Gamma karena cowok itu lebih berpengalaman untuk bertarung.


Gamma memberikan serangan acak, pukulan terakhir nya berhasil mengenai perut Galaksi membuat tubuh kembaran nya itu mundur beberapa langkah. Raut wajah yang semula santai dihiasi oleh senyuman itu mendadak keruh dengan tatapan yang menusuk tajam.


"Apa maksud lo ngelakuin ini semua?" tanya Gamma dingin.


Galaksi terbatuk kecil. Alih-alih menjawab pertanyaan Gamma, cowok itu justru memberikan segaris senyum tulus sebelum bangkit untuk memberikan serangan balik.


"Gak ada yang perlu gue jawab disini, satu yang perlu lo tau kalau–" Galaksi menangkis serangan Gamma kemudian mendaratkan sebuah bogem mentah yang berhasil mengenai pipi kiri Gamma dengan telak, cowok itu tersenyum tipis. "Gue bener-bener sayang gak mau kehilangan seorang kakak di dunia ini."