Badboy Husband

Badboy Husband
22 – KEBENARAN



Sejak kejadian kemarin malam, Galaksi tidak kembali lagi ke rumah karena masih kepikiran dengan kata-kata Papa nya. Saat ini ia berada di kantin sekolah, menatap sepiring nasi goreng dengan hambar walaupun perut nya terasa sangat perih, ia tidak memakan apapun sejak kemarin.


"Udah tau punya fisik yang lemah kenapa maksa gak makan?"


Galaksi mendongak tipis mendengar suara yang tak asing lagi di dalam gendang telinga nya, saat ini tidak ada hal lain yang lebih menarik kecuali kehidupan Gamma yang belum dia ketahui.


"Gal, gue ngomong sama lo!"


"Ngomong sama tembok aja sana," jawab Galaksi malas.


Keyva berdecak, gadis itu duduk di sebelah Galaksi kemudian merebut sepiring nasi goreng yang belum tersentuh sama sekali, tangan nya yang lentik dengan telaten menyodorkan sendok ke depan bibir Galaksi.


"Lo harus makan, kata nya mau jadi pilot biar bisa terbang bareng sama Mama?" kata Keyva.


Galaksi masih belum memberikan respon membuat gadis dengan sebuah jepit merah di kepala itu jengkel sendiri. "Buka mulut lo atau kita pakai cara yang lebih ekstrim?"


"Gila lo," kesal Galaksi, ia membuka mulut kemudian kembali mengambil alih piring ditangan sahabat nya. "Ngapain, sih, lo disini?"


"Nemenin bestie gue yang lagi galau, mikirin pacar lo ya?" goda Keyva, dengan jahil ia mencolek dagu Galaksi membuat sang empunya menukikkan alis tajam.


"Apa sih," decak Galaksi. "Gak usah sotoy!"


Keyva terkekeh, lantas ia menyenderkan kepala nya di bahu besar Galaksi dengan nyaman. Mereka berteman dan memutuskan untuk menjadi sahabat setelah mengenal satu sama lain selama lima tahun.


"Gal, kenapa lo nggak satu sekolah sama Gamma?" tanya Keyva sambil meneguk jus mangga milik Galaksi.


"Gak di bolehin Papa," jawab Galaksi jujur, dada nya kembali sesak mengingat kata-kata Papa nya tadi malam. Benarkah saudara kembarnya itu tidak mendapat aset apapun dari Papa sejak kecil?


"Jadi kangen Gamma."


Sebelah alis Galaksi terangkat. "Kenapa? suka lo sama dia? jangan, Gamma udah nikah."


Byurr!!


Keyva menyemburkan jus yang belum ia telan dengan terkejut, gadis itu menatap tak percaya Galaksi yang sedang menatap nya jijik.


"Jorok banget, sih, lo!" kesal Galaksi, tangan nya mengambil beberapa lembar tissue untuk membersihkan muncratan jus yang ada di meja.


"Kok bisa?" pekik Keyva kaget. "Sama siapa? dia di jodohin? atau korban wasiat?"


"Sama Altheya."


Bibir Keyva mengatup sempurna mendengar jawaban dari Galaksi, kedua mata bulat nya menatap ke arah cowok itu dengan sendu, pantas saja akhir-akhir ini Galaksi sering menyendiri dan tidak memiliki semangat hidup.


"Lo masih suka sama Altheya?" tanya Keyva hati-hati.


Galaksi menunduk sambil memainkan ujung kuku jari nya. "Perlu gue jawab? bukan nya lo udah tau?"


"Sampai hari ini gue belum paham motif lo ngelakuin ini semua, Gal. Lo terlalu susah ditebak, mulai dari kejadian lo deketin Altheya sama dia–sorry, hamil terus ngelepasin dia gitu aja."


Keyva menerawang jauh dimana beberapa bulan yang lalu Altheya dikeluarkan dari sekolah dengan cara tidak hormat karena hamil di luar nikah.


"Gue mau bilang lo jahat tapi gue juga gak ada hak," tambah Keyva.


Keyva mengangguk. "Gue rasa lo udah keterlaluan setelah ngehamilin Altheya beberapa bulan yang lalu dan bohongin Om Rion soal nilai lo disekolah."


Kedua mata Galaksi terpejam, kepala nya terasa pening mengingat semua perbuatan nya yang dilakukan selama ini. Ia selalu meminta uang dengan jumlah besar dan mengatasnamakan kegiatan bimbel kepada Rion walau kenyataannya uang sebesar itu ia gunakan untuk menyogok sekolah agar mendapat nilai baik.


Ya, itu semua adalah rahasia Galaksi untuk mendapat rangking pararel di setiap tahun. Tak ada yang tau kecuali Altheya, Keyva dan juga para guru yang kompak menutup mata maupun telinga karena kuasa uang.


Kepala Galaksi mendongak merasakan tubuh Keyva memeluknya erat dari samping, gadis itu tersenyum kecil. "Gue tau lo punya alasan dibalik itu semua. But, yaa... lo harus ingat kalau perbuatan lo salah dan berimbas ke Gamma. Kita sahabat, gak seharusnya lo pendam masalah lo sendirian."


•••


Gamma beberapa kali berdecak saat tak sengaja bersimpangan dengan Diva di area koridor kelas sepuluh, niat hati ingin mempercepat langkah menuju kelas namun terhalang oleh manusia centil berkedok maskot sekolah yang akhir-akhir ini gencar mencari nya.


"GAMMA!" teriak Diva.


Gamma menghela nafas, langkah nya terhenti dengan kepala yang menoleh ke belakang. "Berisik!"


"Bodoamat!" seru Diva, siswi yang menggunakan cardigan rajut itu terlihat berbinar. "Gue denger dari anak-anak Akberios, lo baru aja berantem sama si Teya-Teya itu, ya?"


Tatapan Gamma menajam. "Gak usah ikut campur," peringat nya dingin.


Diva menelan saliva nya susah, ia memilih mengikuti langkah Gamma yang mulai naik ke tangga kelas dua belas dalam diam. Ada berbagai pertanyaan yang bersarang di otak nya setelah mendengar pembicaraan Delta dan Mahen di belakang sekolah tadi, ia jadi penasaran.


"Lo punya waktu nggak?" tanya Diva pelan, kaki nya menginjak anak tangga terakhir.


"Gue selalu nggak ada waktu kalau buat lo."


"Parah," gumam Diva. "Ajarin gue trading dong."


Gamma membuka pintu kelas dengan tenang, sesaat cowok itu menatap Diva lama membuat gadis itu salah tingkah. "Gue tegasin sekali lagi, gue gak akan ada waktu buat lo, dan soal berantem sama Altheya atau gak itu gak ada urusan nya sama lo." Gamma menatap nya rendah. "Jangan kejar-kejar gue lagi."


Brakk!!


Gamma menutup pintu dengan keras meninggalkan Diva yang sedang shock di balik sana. Kepala nya mendadak terasa pusing, saat Diva mengatakan tentang trading tadi tiba-tiba otak nya mengingat tentang Altheya.


Gamma tak pernah mendapat maupun meminta uang sepeserpun kepada Rion, ia telah merasakan manis pahit nya kehidupan sendirian. Bermulai dari berjualan pulsa lalu mengumpulkan uang untuk membeli saham, kekayaan nya terus bertambah hingga bisa memberikan Altheya mahar kemarin dengan nominal yang tak biasa bagi seorang anak SMA.


"Gak ada salah nya buat suka ke Diva kali, Gam. Bukannya lo sendiri yang bilang bakal lepasin tuh cewek setelah lahiran?"


Gamma tak menoleh, ia memilih untuk menjatuhkan tubuh nya di kursi kelas yang masih sepi, membiarkan Manu menarik kursi di depan nya untuk di tempati. "Soal Coldos, gimana?"


"Gue lagi gak mood bahas itu," balas Gamma tidak minat, kepala nya masih terasa berat karena efek alkohol malam tadi ditambah masalah Diva yang mengingatkan nya pada Altheya benar-benar membuat kepala nya terasa ingin pecah.


"Gue denger dari Mahen kalau di markas ada satu mata-mata yang dicurigai?"


Gamma mengangguk. "Satu-satunya cewek di Akberios," ujar nya datar.


Manu ikut mengangguk, dia sudah menduga hal ini saat terjadi penyerangan mendadak oleh geng Coldos beberapa waktu lalu yang mengakibatkan nya masuk ke rumah sakit. Mengingat sesuatu, tubuh nya mendadak menegang.


"Eee, soal fake leader nya lo udah tau siapa leader asli... Coldos?"