Badboy Husband

Badboy Husband
15 - JEALOUS



Cahaya matahari baru menyusup lembut dari balik jendela balkon namun Altheya telah kembali merasa mual. Wanita itu bangkit dari berbaring nya, menutupi mulut hingga hidung dengan tangan kiri serta memindahkan tangan besar Gamma yang merengkuh tubuh nya semalaman dengan hati-hati, setelah berhasil akhirnya ia berjalan cepat menuju kamar mandi.


Huek!


Altheya duduk di atas closet dengan lemas usai memuntahkan cairan bening, kepala nya yang terasa pening ia sandarkan di dinding washtafel dengan seulas senyuman yang ia berikan untuk buah hati yang sedang ia kandung. "J-jangan rewel anak-anak Mama, jangan ganggu tidur nya Papa Gamma," bisik nya lirih sambil mengelus perut yang semakin hari semakin terlihat berisi.


"Kira-kira kamu baby boy atau baby girl?" monolog Altheya lalu terkekeh. "Apa aja boleh, Mama sama Papa tunggu kehadiran kamu di dunia."


Tiba-tiba wajah nya berubah mendung, netra nya melirik ke arah lengan kiri dimana banyak bekas goresan-goresan abstrak membentuk barcode yang mengerikan, ia baru berfikir bagaimana miris nya dulu saat ingin mencoba membunuh janin yang tidak berdosa ini. "Maafin Mama karena pernah berfikir buat bunuh kamu, tapi mulai hari ini Mama janji kalau kita bakal berjuang sama-sama ke depan nya, oke?"


Suara ponsel berdering yang terdengar samar dari dalam kamar mandi membuat Altheya bangkit dengan perlahan, tangan nya bertumpu pada dinding kemudian berjalan kembali menuju kamar. Kepala nya mengernyit melihat Gamma yang tak terusik meskipun ponsel nya tak henti berdering.


"Siapa sih," gumam Altheya, dengan ragu ia mengambil benda pipih berlogo apel itu kemudian menggesernya untuk menolak panggilan. Altheya berniat memberi tau Gamma setelah bangun nanti.


Tingg!


Ponsel kembali berdenting, dengan kesal Altheya duduk di atas nakas sambil membaca sang pengirim pesan.


...Cut Diva ...


|• send a picture


hari ini kosong ga?


gue ada dua tiket konser buat siang ini


mau yaa


Kening Altheya semakin berkerut bingung, tangan nya dengan gatal menekan profil kontak bernama Diva kemudian menggigit bibir bawah nya dengan kesal, gadis itu terlihat sangat sempurna saat tersenyum ke arah kamera menggunakan seragam SMA Abdi putih abu.


Tunggu, SMA Abdi?


Altheya melirik ke arah Gamma sejenak, Diva berarti teman satu sekolah nya. Oh, tunggu, Altheya ingat jika gadis ini yang memeluk Gamma di depan gerbang tempo lalu.


...Gammaliel_kngr...


^^^sma yg lain aj, gw sbuk. ^^^


Altheya menekan tanda kirim kemudian menghapus pesan pada layar ponsel sebelum mengunci nya kembali. Wanita itu mengambil tempat di sebelah Gamma sambil mendengus, entah mengapa ada perasaan tidak rela jika mengingat bagaimana gadis bernama Diva itu merangkul Gamma dengan mesra.


"Satu hal yang awal nya gue sesali yaitu suka sama lo Gam," bisik Altheya lirih kemudian ikut memasuki alam mimpi bersama Gamma.


••••


Gamma mengerjapkan mata nya berkali-kali mencoba menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retina nya, seingat cowok itu tidak menyalakan lampu semalaman tapi mengapa hari ini sangat terang?


Gamma lantas mengernyit, wajah nya memerah begitu sadar benda apa yang berada tepat di depan wajah nya. Pantas saja ia merasa jika udara hari ini terasa lebih hangat dan membuat tidur nya terasa sangat nyaman.


"Lucu banget, sih. Pengen gue ngap!" Gamma terkekeh kemudian menusuk dua gundukan berisi milik Altheya menggunakan jari hingga sang empunya mendesis kecil tanpa membuka mata.


Dua pesan tidak terbaca dan lima panggilan tak terjawab dari Diva membuat kening Gamma berkerut bingung, ada satu chat yang ditarik namun tidak ada di layar ponsel nya.


Cut Diva


|sma yg lain aj, gw sbuk.


yaahh, padahal cuma lo harapan gue siang ini


ga ada yg bisa, Chika juga udah balik ke Singapore


"Gue nggak ngerasa bales chat dari Div–" kalimat Gamma terpotong, bibir nya berkedut menahan senyum kemudian mengusap wajah nya menahan geli. Ia akhirnya paham setelah melihat posisi tidur Altheya yang semula berada di sisi kiri berubah menjadi sisi kanan membelakangi nakas.


"That's my girl!" bisik Gamma kembali naik ke atas ranjang.


Cup! Cup! Cup! Cup!


Tubuh Altheya hanya menggeliat kecil merasa geli saat Gamma mengecup seluruh wajah nya dengan gemas, wanita itu kembali terlelap ke alam mimpi tanpa terganggu membuat Gamma menaikkan baju nya sebatas dada dengan jahil.


"Bantu Papa bangunin Mama, ya sayang." Gamma terkikik sendiri setelah berbicara dengan janin di perut Altheya, lantas cowok itu kembali mengecup basah di beberapa area yang berhasil membuat Altheya bangun dengan wajah memerah.


"GAMM!" pekik Altheya kesal.


Gamma terkekeh. "Morning sayang," sapa nya tengil.


"Gue masih ngantuk," rengek Altheya sambil mengusap kedua mata nya yang berair.


Gamma menggelengkan kepala sambil terkekeh, cowok itu memperlihatkan room chat nya bersama Diva membuat Altheya memalingkan wajah dengan panik.


"Ulah lo, hmm?" goda Gamma.


Altheya mengipasi wajah nya yang terasa panas menggunakan telapak tangan. "A-apa sih, gak!"


"Yang bener?" goda Gamma lagi. "Muka nya merah banget, yang? kek tomat, hahaha!!"


Altheya berdecak dengan muka dongol, wanita itu menarik selimut sebatas dada kemudian melempar bantal ke arah Gamma dengan kesal. "Ketawa aja terus, ketawa. Kalau iya, kenapa?"


Gamma masih tertawa geli, ia menggeleng. "Gak ada, gue suka gaya lo."


"Gak usah kegeeran, gue bales dia gitu cuma karena kasihan lihat lo kek kecapekan," sinis Altheya, kedua mata nya merotasi malas melihat beberapa titik tubuh Gamma dihiasi oleh luka. "Biar apa kek gitu?"


"Biar lo perhatian," balas Gamma tertawa, ia menunduk untuk mengecup lama dahi Altheya kemudian tersenyum. "Ganti baju terus ikut gue ke dokter kandungan, gue pengen lihat perkembangan tuyul-tuyul di perut lo."


"Kalau anak gue tuyul terus lo apa? bekantan?"


Tawa Gamma langsung meledak begitu saja mendengar celetukan dongkol dari Altheya, wajah kesal wanita itu sungguh candu bagi Gamma. Entah sejak kapan, kini menjahili Mama muda yang tengah hamil itu menjadi hobi nya.


"Cuma lo cewek yang pertama bilang gue mirip bekantan, gila." Gamma menggelengkan kepala tak habis pikir, tangan nya menarik laci nakas kemudian menyelipkan sebuah benda kecil berkilau pada jari manis Altheya. "Sorry karena gue baru bisa kasih ini ke lo sekarang."