
Gamma tak henti-henti nya berdecak kagum sekaligus mendengus setelah melihat penampilan Altheya malam ini. Dress selutut dengan motif vintage berwarna cream yang dipadukan dengan cardigan berwarna cream cokelat terlihat sangat menawan ditubuh nya yang mungil.
Apalagi wajah cantik nya diberi make up tipis ala douyin yang membuat Gamma kebakaran jenggot.
Mana rela dia melihat Altheya nya yang sedang cantik di lirik orang lain.
"Gak jadi berangkat, mau ke supermarket doang udah kek mau mangkal aja gaya lo!" kesal Gamma.
"Mangkal gimana? udah pas kok." Altheya berlari ke stiker cermin sambil menatap pantulan tubuh nya yang membuat Gamma menahan nafas.
"Jangan lari, Altheya!" tegurnya.
Wanita itu nyengir sambil mengelus perut nya yang sedikit membuncit. "Lupa."
Gamma hanya bergumam sambil melangkahkan kaki menuju walk in closet. Altheya hanya bisa mengernyitkan dahi saat cowok itu keluar sambil menenteng dress bermotif sama yang memiliki panjang sebatas mata kaki.
Kedua alis nya berkerut samar. "Buat apa?"
"Ganti!" Gamma melempar baju di atas ranjang dengan galak. "Lo jelek banget sumpah pakai baju gituan, risih gue."
Altheya menggeleng. "Bodo amat, gue mager ganti baju lagi."
"Ganti, Altheya. Lo suka kalau badan lo jadi bahan halusinasi cowok-cowok diluar sana?!"
"Ya santai dong, ngomong gitu doang segala pakai urat!" Altheya menyambar dress panjang di atas ranjang kemudian berjalan menuju walk in closet dengan kaki yang menghentak kesal membuat Gamma menahan gemas, bagaimana bisa wanita hamil muda yang baru berumur tujuh belas tahun itu masih terlihat seperti anak sekolah menengah pertama.
Sibuk melamun membuat Gamma tak sadar jika Altheya sudah berdiri di depan stiker cermin sambil membenarkan tas slempang nya. "Bengong mulu kesambet!"
Gamma melongo, detik kemudian ia mengusap wajah dengan kesal. "Anjing, percuma gue cariin lo baju jelek kalau gembel gini aja masih kelihatan cantik."
Altheya memundurkan badan saat Gamma mendekati nya dengan tatapan buas. Tak sempat berlari, wanita itu berontak karena Gamma memeluknya seperti boneka.
"Gak jadi berangkat, ya? rasanya pengen gue kekepin di apart aja sampai bangkotan."
"SINTING!!"
•••
Sesuai dugaan nya saat masih di apartemen, Gamma benar-benar dibuat kesal setengah mati karena penampilan Altheya yang mampu menyita banyak perhatian. Ingin rasanya ia kembali pada tiga puluh menit yang lalu karena bisa memeluk tubuh Altheya dengan puas.
Gamma pun akhirnya berfikir, menggunakan dress semata kaki saja membuat nya pusing, bagaimana jika tadi ia membiarkan Altheya menggunakan dress selutut?
"Lo kenapa, sih? jauhan dikit kek, engap!" rutu Altheya, terlihat ia mulai kesal karena Gamma terus menempel pada nya.
"Pulang aja yok, mau hug."
"Astaga, kita baru aja sampai disini lima belas menit yang lalu!"
"Bodoamat, nanti biar gue beli mall nya sekalian biar gak ada yang lihatin lo."
"Jangan gila!" peringat Altheya sambil menunjuk Gamma dengan pisang yang baru saja ia pilih. Cowok itu hanya bisa mendengus sambil merangkul pinggang Altheya posesif, tak lupa tatapan tajam nya menyorot pada sekumpulan remaja seumuran dengan nya yang terang-terangan membicarakan paras cantik Altheya.
"Gue congkel tuh mata lama-lama," gumam Gamma sebal.
"Gam, enak nya vanilla atau cokelat ya?" tanya Altheya mengangkat dua kotak susu ibu hamil ditangan nya, beberapa remaja yang membicarakan nya tadi terlihat melotot membuat Gamma terkekeh dalam hati.
Melihat Gamma hanya diam saja membuat Altheya menghela nafas berat. "GAM!"
"H-hah? borong semua aja." Gamma tersentak kemudian mengambil lima kotak susu ibu hamil dengan varian yang berbeda membuat Altheya menahan senyum sambil berjalan mengekori Gamma dari belakang.
Terlihat cowok itu memasukan beberapa daging, ayam, ikan dan sayur ke dalam troli tanpa lupa membeli bahan penyedap masakan yang lain dengan cekatan. Bibir Altheya tak henti berdecak kagum melihat nya.
"Lo gak alergi seafood, kan?" Altheya menggeleng, Gamma memasukan lagi beberapa udang dan menyeretnya menuju kasir. "Tambah apalagi? sekalian disini."
"Gak ada, udah semua."
"Lo sering kesini?" tanya Altheya.
Kepala Gamma menoleh tipis sambil membaca menu makanan di atas meja. "Dulu sering, sekarang jarang karena lebih sering dimasakin Arsen di markas."
Mulut Altheya terbuka membentuk huruf 'o' saja, ia ikut mengintip menu masakan sambil menahan tawa karena Gamma sengaja menutup menu masakan pedas dengan sebelah tangan.
"Pengen seblak," canda Altheya, sesuai dugaan cowok itu melotot garang.
"Gak ada!"
Tawa Altheya berderai, wanita itu menutup mulut nya dengan tangan melihat ekspresi wajah Gamma yang terlihat lucu hingga seorang pelayan cantik datang ke meja mereka menghentikan tawa nya.
"Bisa saya bantu pesanan nya, kak?"
"Seafood nya aja porsi besar, sayur nya pakcoy, salad buah minum nya air mineral."
"Baik, tambah apa lagi kak?"
Gamma memperingati Altheya melalui tatapan nya saat wanita itu hendak angkat bicara meminta seblak. "Gak ada makanan pedas, Altheya!"
"Ih, level satu aja kok."
Alis Gamma menukik kesal. "Gak ada!"
"Ada!" keukeuh Altheya.
"Tidak terlalu pedas kok, kak. Kalau makanan nya kurang manis nanti Mas nya bisa lihat saya," potong pelayan itu sambil kesemsem menatap wajah tampan Gamma.
Tiba-tiba Altheya merasa gerah, wanita itu jengkel sendiri karena baru sadar melihat banyak gadis lain yang tebar pesona pada mereka. Tidak-tidak, lebih tepat nya tebar pesona ke arah Gamma.
"Gak jadi mbak, itu aja udah. Saya sama suami udah laper!" ujar nya sedikit keras sambil menekan kata suami.
Gamma yang tadi nya masih berurat karena seblak itu pun mendadak menundukkan kepala menahan senyum. Cowok itu mudah salah tingkah, terbukti saat Altheya menyebutnya sebagai suami cowok itu langsung gelagapan memalingkan wajah.
"O-oh, baik kak. Saya permisi!" pelayan itu pun pergi dengan malu menjadi pusat perhatian.
Tak hanya Gamma, wajah Altheya saat ini juga tak kalah merah nya sambil terus merutuki diri sendiri yang asal bicara. Mereka terjebak canggung tanpa ada yang berniat membuka suara.
"S-sorry gue tadi–" kalimat Altheya terhenti di tenggorokan saat netra nya menangkap sosok tinggi yang sedang duduk tak jauh dari tempat nya berada.
Tatapan mata dingin, wajah teduh yang menghanyutkan dan juga bibir tebal yang sedang tersenyum miring ke arah nya itu reflek membuat Altheya menundukkan kepala dengan jantung berdebar tak karuan.
"Lo disini, Gam?"
Sial, suara berat itu tau-tau terdengar di depan nya membuat Altheya hanya bisa menggigit bibir sambil memejamkan kedua mata dengan erat. Berbagai doa ia rapal namun seakan sedang kurang beruntung, lelaki yang ia hindari terdengar menarik kursi di depan nya.
"Lo sendiri ngapain disini, Gal? tumben banget gak nyosor buku kimia."
Galaksi menggedikkan bahu acuh, tatapan nya tak henti menyorot ke arah Altheya dengan seringaian tipis di wajah nya. "Kata Papa lo habis hamilin anak orang sampai nikah siri, right? sorry, gue gak bisa dateng waktu itu gara-gara dapet jadwal les malem."
Gamma tak menjawab, justru cowok itu menunjuk ke arah Altheya yang masih setia menundukkan kepala. "Dia istri gue."
"Cantik," puji Galaksi tenang, tak sadar saja jika wanita yang ia puji mati-matian menahan tangis sambil mengepalkan kedua tangan.
"Bilang gitu sekali lagi gue bakar buku-buku lo!"
Galaksi tertawa kecil, kedua tangan nya ia masukan ke dalam saku sambil beranjak dari posisi duduk nya. "Santai aja kali, Gam. Gak mungkin juga gue rebut istri kembaran sendiri."
Tunggu dulu, otak Altheya mendadak tak berfungsi. Wanita itu mendongak dengan nafas yang tercekat saat sadar jika wajah mereka terlihat mirip. Jadi, selama ini ia hidup dengan saudara kembar dari ayah bayi yang ia kandung.
Kedua tangan Altheya terkepal kuat, bibir pucat nya bergetar dengan hebat. Pandangan nya tiba-tiba mengabur sebelum merasakan tangan seseorang menahan kepala nya dari belakang.
"Gue gak nyangka kalau lo bakal pertahanin bayi sialan ini dan hidup sama kakak kembar gue," ujar Galaksi berbisik yang mampu di dengar Altheya sebelum kehilangan kesadaran nya.